
Feng Shang mematikan televisi besar di ruang keluarga dengan kesal. Sejak awal benda itu dihidupkan, isinya hanya pemberitaan mengenai perkembangan bisnis Kota Cheng dalam beberapa minggu terakhir. Saat ia memindahkan salurannya, yang lainnya hanya memberitakan perihal penyakit aneh yang menjangkiti sebagian penduduk Kota Cheng.
Untung saja Nyonya Yin tidak ada di sini. Orang tua cerewet itu pasti bosan bertengkar dengannya karena tidak pernah menang. Benar juga, di dunia ini siapa yang bisa mengalahkannya?
Feng Shang terdiam sesaat. Pikirannya melayang jauh ke Alam Sembilan Langit. Sudah lama sekali rasanya ia meninggalkan tempat itu, meninggalkan segala kemakmurannya sebagai Maharani Langit. Apa di sana baik-baik saja? Apakah Yue Mi dan Si Ming sudah tahu kalau ia tidak pergi ke alam fana yang ada di sana?
Entahlah. Ia tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Saat ini, Feng Shang masih tidak ingin membangkitkan Dewa Agung Yongheng, karena ia merasa dirinya belum siap. Feng Shang belum siap, bahkan tidak siap jika harus kehilangan Shen Yi. Seperti kata pepatah, jatuh cinta untuk pertama kalinya akan membekas lama. Apalagi, bagi dewi langit sepertinya. Kaum abadi hanya jatuh cinta sekali seumur hidup mereka, yang berlangsung dalam kurun waktu ratusan ribu tahun.
Kebanyakan dewa di Alam Sembilan Langit takut kepadanya. Mereka merasa bahwa Maharani Langit adalah wanita terdingin di Tiga Alam. Ia hanya memandang mereka tidak lebih dari lima detik, juga sering mengakhiri pembicaraan di luar topik tugas Tiga Alam. Siapa yang tahu kalau di sini, tembok es yang dingin itu justru mencair oleh seorang inkarnasi yang tidak pernah disangka sebelumnya.
Lelah memikirkannya, Feng Shang kemudian memejamkan matanya. Di sofa itu, ia tertidur pulas seperti bayi yang kelelahan setelah bermain seharian. Hari sudah malam, lampu-lampu di rumah itu otomatis menyala. Nyonya Yin sepertinya tidak akan pulang hari ini. Dalam sekejap, rumah tersebut kembali sepi.
Lima belas menit kemudian, Shen Yi tiba. Pria itu tersenyum sesaat kala melihat Feng Shang yang tengah tertidur di sofa. Meski tubuhnya agak lelah, Shen Yi memaksakan diri untuk menggendongnya, membawanya ke tempat tidur. Malam ini biarkan ia tidur di kamarnya lagi untuk menghindari perkelahian dengan ibunya.
Usai membersihkan diri, dia juga merebahkan tubuhnya di ranjang. Di bawah selimut yang sama, dan dengan pembatas guling yang sama, keduanya berkelana ke alam mimpi. Seisi kamar temaram diterangi lampu tidur. Malam begitu sunyi. Cahaya keemasan dari tubuh Shen Yi dan cahaya biru dari tubuh Feng Shang keluar dengan sendirinya, lalu menyatu membentuk imajinasi galaksi di udara.
Tengah malam, indera pendengaran Feng Shang yang sensitif menangkap suara sesuatu. Suara itu seperti sedang bergerak kepadanya. Dengan insting Maharani Langitnya, ia langsung membuka matanya. Cahaya dari imajinasi galaksi cukup untuk membuatnya melihat siapa yang sudah menimbulkan keributan dan mengganggu tidurnya itu.
Feng Shang terkejut kala ia melihat Nyonya Yin masuk ke kamar dan mengarahkan sebuah belati kepadanya. Ketika Nyonya Yin hendak menusukkan belati itu ke dadanya, tangannya refleks menahan belati tersebut dan mencoba mendorong Nyonya Yin. Namun, entah mengapa tenaga Nyonya Yin begitu besar sampai ia kesulitan mendorongnya. Belati itu menggores telapak tangannya, membuat luka terbuka di sana dan membuat darahnya menetes.
"Shen Yi, bantu aku!" ucap Feng Shang.
"Shen Yi!" ulangnya.
Shen Yi yang tengah berkelana di alam mimpi seketika terjaga. Matanya membulat sempurna kala ia melihat ibunya tengah mengarahkan belati tajam dalam keremangan cahaya temaram. Tangan Feng Shang yang berdarah terus berusaha menahannya, hingga tetesan darah itu mengenai selimut.
"Xiao Shang! Ibu, apa yang kau lakukan?"
"Dia bukan ibumu. Bantu aku menyingkirkannya!"
Shen Yi mencoba menarik Nyonya Yin untuk menjauh. Namun, tenaga ibunya tiba-tiba menjadi besar dan ia kesusahan menariknya. Setelah berjuang, tubuh ibunya baru bisa dibawa menjauh dari Feng Shang. Belatinya berdentang dan terjatuh di lantai yang juga ternoda tetesan darah.
Feng Shang langsung menggunakan sihirnya dan membuat Nyonya Yin kehilangan kesadaran. Tubuhnya tergeletak di lantai yang dingin. Ada aroma iblis tertinggal di tubuh manusia fana itu.
__ADS_1
Setelah ruangan menjadi terang, Shen Yi langsung mengambil kotak P3K dan mengobati luka Feng Shang. Shen Yi ketar-ketir karena masih terkejut, tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Ibunya mencoba membunuh wanita miliknya!
"Mengapa bisa begini?" tanya Shen Yi. Apa kebencian di hati ibunya terlalu besar hingga membuatnya ingin menyingkirkan Feng Shang untuk selamanya?
"Ada jejak iblis di tubuhnya. Dia kehilangan kendali," jawab Feng Shang. Kalau saja Nyonya Yin bukan ibunya Shen Yi, dia tidak akan membuatnya pingsan, tapi kehilangan akal sehatnya dan membuatnya gila selamanya.
Shen Yi tertegun. Mengapa harus ibunya?
"Apa dia berinteraksi dengan seseorang akhir-akhir ini?" tanya Feng Shang.
"Pengurus rumah berkata dia sering kedatangan seorang biksu muda. Aku sudah menyelidikinya. Biksu itu mungkin orang suruhan Xiang Sun," jawab Shen Yi.
Pantas saja bunga-bunga di taman layu. Pantas saja temperamen Nyonya Yin berubah. Bahkan kehilangan kendali. Rupanya di tubuhnya terdapat hawa iblis yang mengerikan. Xiang Sun benar-benar keterlaluan!
"Apa kau bisa menyembuhkannya?" tanya Shen Yi lagi dan lagi.
"Bawa dia ke tempat tidur," pinta Feng Shang.
Luka di tangan Feng Shang berdarah lagi. Tenaga dan kekuatan yang dikeluarkan saat terluka membuatnya agak kelelahan. Ia masih mencoba memurnikan hawa iblis dan menyingkirkannya. Beberapa saat kemudian, hawa iblis itu musnah.
"Kirim dia kembali ke rumahnya dan jangan biarkan dia bertemu dengan orang asing," ucap Feng Shang.
"Malam ini?"
"Malam ini juga."
"Tidak bisa besok pagi?"
"Tidak bisa. Kau mau dia membunuhku lagi? Atau kau ingin melihat dia mengacungkan belatinya padamu?"
"Kau yakin ibuku sudah baik-baik saja?"
__ADS_1
Feng Shang mengangguk meyakinkan Shen Yi.
"Aku sudah menyegel inti jiwanya. Hawa iblis tidak akan bisa masuk."
"Apa akan berdampak pada kehidupannya?"
"Mungkin. Ibumu akan punya umur panjang karena hatinya bisa lebih dingin dari biasanya," jawab Feng Shang. Dia tidak yakin, tapi dia pernah mendengar kalau inti jiwa manusia fana disegel, hati mereka akan dingin karena pohon perasaannya membeku.
Shen Yi pasrah. Lebih baik ibunya menjadi dingin daripada harus dikuasai oleh iblis. Dia menelepon Zhang Bi, menyuruhnya membeli tiket pesawat yang akan segera berangkat ke luar Kota Cheng. Dia juga menyuruhnya menjemput ibunya kemari dan mengantarkannya.
"Jangan lewat bandara!" sergah Feng Shang.
"Mengapa?"
"Petugas keamanan di sana akan mempermasalahkannya. Aku menggunakan sihir tidur yang kuat padanya, dan dia tidak akan bangun dalam sepuluh jam. Lebih baik gunakan pesawat pribadi," saran Feng Shang.
Shen Yi kembali menelepon Zhang Bi dan menyuruhnya membatalkan pemesanan tiket pesawat. Ia memintanya membawakan helikopternya kemari. Meskipun kesal, Zhang Bi tetap menurut.
Satu jam kemudian, helikopter pribadi Shen Yi tiba di atap rumahnya yang luas. Shen Yi menggendong Nyonya Yin, memindahkannya ke kursi penumpang dan memasangkan alat kemananan padahya. Shen Yi menarik Zhang Bi, memasukkannya ke dalam helikopter.
"Kau ikut. Pastikan dia tiba di Kediaman Shen dengan selamat," ucap Shen Yi sekenanya. Zhang Bi terlihat pasrah.
Helikopter lepas landas. Shen Yi kembali ke dalam rumah, hendak membersihkan noda-noda darah di lantai kamar dan selimutnya. Tapi, noda darah itu justru sudah menghilang.
Dia mencari Feng Shang. Perempuan itu ternyata ada di taman bunga, mengintipi proses mekarnya kuntum yang siap merekah. Dia berjalan menghampirinya, berdiri di sampingnya.
"Lukamu sudah membaik?"
Feng Shang mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Maaf. Aku tidak tahu kalau ibuku akan menyakitimu."
Feng Shang tidak menjawab. Ada kebimbangan menyelimutinya, tapi ini mungkin sudah saatnya.
__ADS_1
"Shen Yi, mau kuberitahu suatu rahasia?"