Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 73: Pertarungan Pembuka


__ADS_3

Setelah Yue Ming memberitahu perihdal kedatangan para dewa dari Laut Timur, Feng Shang langsung pergi ke istananya sendiri. Hari di Alam Sembilan Langit masih panjang, dan para pelayan peri sibuk mempersiapkan perjamuan langit. Yue Ming juga sudah kembali menghilang, mempersiapkan daftar tamu. Hanya Feng Shang yang tidak punya pekerjaan.


Saat ini, Feng Shang tidak bisa pergi sembarangan lagi. Istana Langit memiliki agenda penting yang mengharuskan dewa-dewa dari Tiga Alam berkumpul di satu tempat, sehingga penjagaan pun diperketat. Meski tidak seperti di dunia manusia, namun tidak menutup kemungkinan ada makhluk lain yang menyamar menjadi dewa dan mengacaukan keadaan.


Di mejanya yang dipenuhi dengan kuas-kuas lembut dan kertas, Feng Shang menggambar sesuatu yang asbtrak. Ketika ia sedang melukis, ia teringat akan perkataan dewi-dewi yang tadi. Bukan perihal kritikan yang disampaikan padanya, namun pada seseorang yang disebut dewa agung yang baru bangkit. Entah dorongan apa yang membuatnya mengingat hal itu.


"Dewa Agung Yongheng?" gumamnya. Menurut pustaka yang dibaca olehnya, dewa itu adalah dewa yang menyegel Raja Iblis dengan inti jiwanya. Itu artinya, dia sudah tiada ratusan ribu tahun yang lalu. Sungguh aneh jika sang dewa tiba-tiba bangkit begitu saja.


"Aku ingin tahu seperti apa sebenarnya dewa agung itu," ucapnya. Feng Shang kemudian melupakan ketidaksukaannya terhadap Laut Timur dan memilih memuaskan rasa penasarannya.


Sang Maharani keluar dari istananya, lantas menyamar menjadi dewi biasa. Istana Langit yang cerah itu membuatnya tampak bersemangat, menyusuri setiap istana yang sering dijadikan tempat persinggahan tamu. Itu karena dia tidak tahu di mana Yue Ming menempatkan mereka. Ketidakpeduliannya ternyata menyusahkan dirinya sendiri.


Sampai di Aula Fuyao ia berhenti. Itu adalah aula besar yang dijadikan tempat perjamuan berlangsung, sekaligus tempat pertemuan rutin para dewa. Letaknya di Istana Fuyao, sebelah timur Istana Fengyun dan berjarak hampir satu kilometer. Di Aula Fuyao, Feng Shang menatap singgasananya yang megah dan berkilau dari bawah, tepat dua meter dari anak tangga pertama.


Cukup lama ia terdiam menatap singgasana itu. Dulu, dia hanya bisa menatap singgasana serta orang yang mendudukinya diam-diam. Kini, singgasana itu adalah miliknya dan ia sudah mendudukinya selama puluhan ribu tahun. Pencapaiannya terhadap kekuasaan di Tiga Alam besar, karena ia memiliki takdir sebagai maharani. Feng Shang tersenyum kecil mengingat saat-saat itu.


Dia malah berjalan menuju singgasananya dan melupakan niat awalnya. Saat menaiki anak tangga pertama, seseorang tiba-tiba berteriak dari belakang, "Tunggu! Itu kau!"


Feng Shang menoleh dan berbalik. Seorang dewa muda berpakaian putih berdiri di ambang pintu Aula Fuyao, menatapnya tajam sambil menunjukknya dengan tangan. Feng Shang menatapnya kembali dan dahinya mengernyit. Perasaannya memberitahunya kalau dia tidak mengenal dewa muda itu. Lalu mengapa dewa tersebut memanggilnya sembari menunjuknya dengan jari?


"Kau yang menyebabkan Laut Timur bergejolak! Aku melihatnya dengan jelas!" seru dewa muda tersebut. Feng Shang menyimpulkan kalau dewa itu adalah dewa dari Laut Timur, yang dendam padanya karena dia telah membuat Laut Timur bergejolak beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Seluruh penduduk Laut Timur jadi cemas. Mengapa ada dewi yang tidak tahu malu sepertimu? Apa kau ingin menghancurkan reputasi Maharani Langit karena ulahmu? Biarpun Maharani tidak menyukai Laut Timur, dia tidak akan mengganggu tanpa sebab!"


Feng Shang malah menatapnya terus menerus. Pikirnya, siapa dewa ini, begitu berani dan seperti mengenal maharani. Melihatnya saja belum pernah, tapi malah sudah bertingkah seolah-olah ia tahu kepribadian dirinya. Mengingat ini, Feng Shang ingin tertawa, namun ia masih penasaran sampai mana dewa muda ini akan meneruskan perkataannya.


"Mengapa kau diam? Apa kau bisu? Aku akan mencari Maharani dan meminta keadilan, membalaskan kecemasan penduduk Laut Timur!"


Dewa muda tersebut berbalik, namun Feng Shang menjatuhkannya. Dewa tersebut marah, lalu menghampirinya. Dari gelagatnya, dia ingin mengajak Feng Shang bertarung. Feng Shang melayaninya, lalu terjadilah pertarungan antara Maharani Langit yang menyamar dengan seorang dewa muda dari Laut Timur di Aula Fuyao. Feng Shang berhasil menghindari semua serangan. Dia hanya menggerakkan jarinya, lalu dewa muda tersebut tersungkur hingga ke ambang pintu masuk.


Dia mendarat di depan kaki seseorang. Saat melihatnya, dewa muda itu langsung berusaha bangun. Orang itu menolongnya, lalu menanyakan apa yang terjadi. Feng Shang agak terkejut saat melihat siapa orang itu. Dia adalah orang yang sama dengan dewa yang berdiri di Lembah Shansui beberapa hari yang lalu, yang sempat berdebat dengannya.


"Dewa Agung, dewi itu yang membuat Laut Timur bergejolak. Dialah pelakunya!" ucap dewa muda.


"Apapun alasannya, tidak ada hubungannya denganmu," ucap Feng Shang. Rupanya, dewa yang berdiri di lembah itu adalah Dewa Agung Yongheng yang belakangan menjadi topik perbincangan hangat para dewi. Pantas saja auranya terasa berbeda, karena jejak keagungannya masih ada.


Yongheng mendongak dan menatap Feng Shang. Ada kejutan di matanya, karena dewi yang menyerang bawahannya adalah wanita yang berdebat dengannya di Lembah Shansui. Yongheng langsung menangkap ketidaksukaan di raut wajah Feng Shang. Aura dinginnya menyebar ke seluruh aula. Yongheng turut merasakan aura dingin itu, seperti sebuah bongkahan es disimpan di segala penjuru.


"Dewi, kita bertemu lagi. Aku sungguh ingin tahu alasan mengapa kau melakukan itu," ujar Yongheng.


"Bukan urusanmu," tukas Feng Shang. Ia berbalik, namun Yongheng langsung mencegatnya dengan berdiri di hadapannya.


"Laut Timur adalah wilayah kekuasaanku. Kau membuatnya menjadi kacau, aku tidak bisa diam saja."

__ADS_1


"Menyingkir dari hadapanku!" perintah Feng Shang.


"Aku bukan orang yang bisa kau perintah, Nona Dewi."


Feng Shang geram, lalu berbaik ke arah lain. Yongheng mencegatnya di segala arah, hingga ia benar-benar marah. Karena sudah tidak tahan, Feng Shang menyerangnya. Terjadilah pertarungan antara Dewa Agung Yongheng dari Laut Timur dengan Maharani Langit yang menyamar. Dewa muda yang tadi bertarung menyaksikan pertarungan itu dari kursi tempat duduk, seperti menonton pertunjukkan.


Kekuatan Feng Shang dan Yongheng seimbang. Belum ada tanda-tanda akan ada yang kalah karena kedua pihak sama-sama kuat. Saat keduanya asyik bertarung, Yue Ming tiba-tiba datang dan melihat adegan itu. Dia langsung membelalak dan berteriak meminta mereka berhenti. Teriakan Yue Ming membuat Yongheng lengah, dan Feng Shang memanfaatkannya untuk menyerang. Alhasil, Yongheng mundur beberapa langkah sambil batuk.


"Aku tahu kau memiliki ketidakpuasan pada Laut Timur, tapi tidak berarti kau bisa berkelahi dengan Dewa Agung Yongheng, bukan? Aku sudah mencarimu ke mana-mana, kau malah ada di sini. Ada yang mau kudiskusikan denganmu," ucap Yue Ming. Wajahnya terlihat lelah. Dia kemudian mengalihkan atensinya pada Yongheng.


"Dewa Agung, mohon jangan tersinggung. Ini hanya sebuah kesalahpahaman. Aku akan memberikan penjelasan untuk Laut Timur nanti," tambah Yue Ming. Dia menarik tangan Feng Shang dan hendak meninggalkan Aula Fuyao. Yongheng mencegahnya kembali, lalu bertanya, "Dewi Yue Ming, siapa dewi ini?"


"Kau tidak mengenalinya?"


Yongheng menggelengkan kepala. Yue Ming lalu melihat penampilan Feng Shang, dia menghela napas. Pantas saja Dewa Agung Yongheng tidak mengenali Feng Shang, karena dia menggunakan sihir penyamaran untuk menyembunyikan identitas Maharani Langit dan berpenampilan seperti dewi biasa. Yue Ming lalu menghilangkan sihir itu, meski Feng Shang tampak tidak menyetujuinya. Kini, penampilan Feng Shang kembali seperti semula.


"Dia Maharani Langit, Maharani Feng."


Yongheng sangat terkejut. Dewa muda yang duduk sebagai penonton lebih terkejut lagi, bahkan sampai pingsan. Feng Shang malas melihatnya, ia pikir lebih baik segera pergi dari sini. Feng Shang melengang keluar dari Aula Fuyao tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, diikuti Yue Ming di belakangnya. Setelah Feng Shang tidak ada, Yongheng yang masih terpaku tersadar dari keterkejutannya.


"Maharani Langit....Ternyata orang yang menyebalkan," gumamnya. Ia kemudian menolong dewa muda yang pingsan dan menyuruhnya kembali ke istana.

__ADS_1


__ADS_2