
Yongheng ditempatkan di Istana Kongming selama ia berada di Istana Langit. Istana itu cukup luas dengan dominasi warna putih gading, yang tampak bercahaya ketika disinari matahari. Peraduannya empuk dan perabotannya lengkap.
Pelayanan untuk dewa agung cukup bagus, pikirnya.
Dia duduk di dekat meja belajar marmer, lalu bermeditasi sebentar. Tubuhnya baru bangkit dan kekuatannya belum sepenuhnya pulih. Ditambah lagi ia menggunakan banyak tenaga untuk memperbaiki segel Raja Iblis di Lembah Shansui. Itu juga sudah membuat kekuatannya terkuras banyak, apalagi hari ini dia berkelahi dengan Maharani Feng dan mendapat satu pukulan darinya.
Mana dia tahu kalau dewi itu adalah maharani. Yongheng tidak akan melawannya kalau tahu lebih awal. Dia hanya tidak menyangka kalau maharani adalah orang yang seperti itu. Selain usil, dia juga menyebalkan.
Yongheng belum tahu mengapa wanita itu kurang senang terhadap Laut Timur. Ia telah tertidur ratusan ribu tahun, banyak kejadian yang tidak diketahui setelah masa évolusinya. Mungkin penyebab maharani seperti itu juga salah satunya.
"Dewa, Dewi Yue Ming mengirimkan sepasang teratai surgawi kembar sebagai permintaan maaf atas perkelahian tadi," ucap pelayan peri. Yongheng kemudian menerima teratai kembar itu, lalu menyimpannya di dalam kekuatannya.
"Tunggu!"
"Apa Dewa Agung memiliki perintah lain?"
"Aku ingin tahu mengapa Maharani Feng tidak terlalu suka pada Laut Timur. Bisakah kau memberitahuku?"
Pelayan peri tampak ragu.
"Katakan saja. Aku yang menjaminmu."
Setelah mendapat jaminan dari Yongheng, barulah dia berani berbicara. Pelayan peri kemudian memberitahu Yongheng tentang kisah hidup Maharani Feng sebagai pelayan peri kecil sebelum identitas aslinya diketahui. Juga, tentang perlakuan para pelayan peri lain terhadapnya, termasuk kejadian ketika Feng Shang dikirim ke Laut Timur karena mereka iri padanya. Perlakuan tidak ramah penduduk Laut Timur menjadi penyebab Feng Shang tidak menyukai tempat itu dan segala sesuatunya.
Yongheng kini tahu alasannya. Ia pikir, yang seharusnya meminta maaf adalah penduduk Laut Timur. Rakyatnya di sana telah semena-mena terhadap dewi kecil, padahal dulu itu tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Setelah pelayan peri pergi, Yongheng keluar dari Istana Kongming. Tujuannya adalah Istana Fengyun, menemui Feng Shang secara langsung. Di taman Istana Langit, dia dicegat beberapa dewi cantik sampai dia harus memutar jalan. Setelah itu, barulah ia sampai di depan gerbang Istana Fengyun yang megah.
Pelayan peri kemudian menyampaikan pesan kedatangannya kepada Feng Shang. Feng Shang berdecak malas, lalu menyuruh pelayan untuk memberitahu kalau dia sedang sibuk dan tidak ingin diganggu. Pelayan peri menurut dan menyampaikan pesan Feng Shang pada Yongheng.
"Katakan bahwa aku ingin bicara padanya. Jika dia masih menolak, aku akan menerobos masuk," ucap Yongheng. Ketika Feng Shang mendengarnya, dia semakin malas.
Feng Shang lalu menyelinap keluar dari aula samping untuk menghindari pertemuan dengan Yongheng. Biarkan Yongheng memaksa masuk, yang penting tujuannya tidak tercapai. Feng Shang begitu malas bertemu dengannya, apalagi setelah perkelahian kemarin.
Jujur saja, semua ekspektasinya terhadap Dewa Agung Yongheng sirna saat tahu seperti apa dia sebenarnya. Feng Shang pikir dia adalah dewa berhati dingin dan kharismatik. Tapi nyatanya tidak. Di matanya, Dewa Agung Yongheng itu seperti Yue Ming, yang sangat kepo dan terkadang merepotkan.
"Maharani, kau mau ke mana?"
Feng Shang seketika berhenti melangkah. Sial, Yongheng ternyata memergokinya. Niatnya yang hendak kabur jadi sia-sia. Mata dan telinga dewa agung itu cukup tajam juga untuk mengetahui rencananya. Feng Shang mencoba bersikap biasa, lalu diam di sana sementara Yongheng berjalan menghampirinya.
"Aku mewakili rakyat Laut Timur meminta maaf padamu atas kejadian beberapa ribu tahun yang lalu. Juga, atas kejadian kemarin," kata Yongheng.
"Oh, lihat suasana hati saja. Melupakan kisah tidak menyenangkan dalam hidup, Dewa Agung Yongheng pasti sangat tahu."
"Aku tidak tahu kalau dewi yang bertemu denganku di Lembah Shansui adalah Maharani Langit. Kuharap kau tidak tersinggung karena aku tidak mengenalimu."
"Tidak apa, kau juga telah memperbaiki segelnya terlebih dahulu. Aku sedang sibuk, jadi, mari kita berpisah."
Feng Shang hendak meninggalkan Yongheng, namun angin kencang telah membuat sepasang kipas bulu feniks di tangannya terlepas. Kipas itu jatuh di antara Feng Shang dan Yongheng. Keduanya refleks ingin mengambil, lalu tanpa sengaja bersentuhan.
Terjadi adu mata antara Feng Shang dan Yongheng. Sebuah kilatan aneh muncul di mata keduanya, membuat mereka langsung berkedip. Kipas itu berhasil diambil Feng Shang, dan dia pergi sambil menahan rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
Yongheng masih berada di halaman Istana Fengyun. Di gazebo istana, dia duduk sambil memegangi kepalanya. Tiba-tiba ada bayangan ingatan aneh muncul di kepalanya, berkelebat seperti lembaran film. Adegan demi adegan itu datang padanya silih berganti, membentuk sebuah fragmen yang tidak terpisahkan.
Ingatan itu membuat dia melihat dirinya sendiri, juga Feng Shang. Mereka seperti di dunia lain karena segala sesuatunya terlihat aneh. Yongheng merasakan momen deja vu. Sepertinya dia pernah mengalami adegan yang sama, tapi dia tidak yakin.
"Mengapa aku ada di sana?" tanya Yongheng. Kemudian, ingatan lainnya datang lagi dalam jumlah yang banyak.
Yongheng masih menahan sakit di kepalanya. Ingatan itu miliknya, tapi seperti bukan. Dia bagai menjelma menjadi sosok lain. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kebangkitannya dan Maharani Feng?
"Aku harus bertanya pada Si Ming," ucap Yongheng. Sejenak kemudian dia sudah meninggalkan Istana Fengyun.
Sementara itu, Feng Shang lari ke dalam Aula Fuyao. Dia duduk di atas singgasananya sambil memegangi kepalanya. Sentuhan itu mengundang ingatan samar yang familier. Sama seperti Yongheng, dia juga melihat dirinya bersama sosok Yongheng di dunia lain.
"Sebenarnya apa yang kulupakan?" tanyanya lirih.
"Ini pasti ada hubungannya dengan kepergianku ke dunia fana."
Feng Shang menenangkan dirinya. Dia duduk sambil bermeditasi. Namun tanpa sadar, air matanya menetes ke pipinya, lalu jatuh di pakaiannya yang indah. Ingatan samar yang datang padanya membawanya ke sebuah ruang waktu yang tidak diketahui. Perasaan sakit itu datang tanpa sebab, sampai dia tidak bisa fokus.
"Mengapa aku ada di sana?"
Feng Shang tidak kuasa menahan tangisnya. Matanya langsung terbuka dan air bening itu menetes kembali. Dia menekan dadanya yang terasa sesak. Ini sungguh aneh, ini tidak masuk akal.
Bagaimana bisa seorang Maharani Langit menangis tanpa sebab di singgasananya? Tetapi, rasa sakit itu sungguhan. Feng Shang bisa merasakannya. Itu tandanya, ada sesuatu yang telah mencairkan salju abadi di dalam hatinya.
"Tidak bisa seperti ini! Aku harus menemui Si Ming!"
__ADS_1