Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 85: Dunia Ini Milik Manusia


__ADS_3

Mata Yongheng berkilat marah. Siapapun yang berani menyakiti Feng Shang harus mati!


Tidak peduli di dunia manapun, orang yang berani menyentuh dan menyakiti Feng Shang tidak akan dibiarkan hidup. Yongheng bersiap untuk menyerangnya dengan kekuatan dewa, akan tetapi tangannya langsung ditahan oleh Feng Shang. Meskipun amarahnya belum mereda, namun tatapannya belum meredup sama sekali.


"Dunia ini milik manusia. Dewa tidak diperbolehkan membunuh hanya karena kesal," bisik Feng Shang. Ia tahu betul konsekuensi bagi seorang makhluk abadi yang membunuh manusia fana hanya karena nafsu sesaatnya. Banyak dewa-dewa dihukum di Neraka Terdalam dan Menara Qiankun hanya karena ceroboh dan dikendalikan emosi hingga menyakiti makhluk fana yang tidak berdosa.


Mereka baru saja datang ke alam fana dengan tujuan mencari dan menangkap bayangan Raja Iblis. Kalau berbuat onar di saat seperti ini, hari-hari ke depan akan terasa sulit. Dunia manusia yang ada di sini berbeda dengan dunia manusia yang pernah mereka pijaki di bumi kala itu. Segala sesuatunya sangat berlainan.


"Siapapun yang berani menyakitimu, harus mati!" ucap Yongheng. Suaranya tertahan dan sedikit serak.


"Tidak! Jangan berbuat onar atau kita akan kesulitan nantinya!"


Yongheng tampaknya tidak peduli. Dalam pikirannya berkumpul segala macam cara untuk memberi pelajaran pada manusia kurang ajar itu. Tangannya sudah patah, tapi tampaknya dia tidak akan mengakui kesalahan. Yongheng tidak jadi menggunakan kekuatan dewa, tapi menggunakan kekuatan fisiknya sebagai manusia. Dia menghajar orang itu sampai babak belur tanpa bisa dihentikan oleh Feng Shang.


Orang-orang opera dan yang ada di sana semuanya terkejut menyaksikan keganasan dan kebrutalan Yongheng. Pria itu memukul orang itu dengan keras, menghajarnya seperti samsak hidup. Feng Shang berkali-kali menarik tangan Yongheng dan memintanya berhenti, tapi pria itu tidak mau dengar. Terjadilah aksi tarik menarik di malam yang ramai itu. Pemain musik malah menjadikan perkelahian tersebut sebagai pertunjukan tambahan.


Alhasil, orang itu tidak hanya patah tangan. Tubuhnya juga tidak bisa bangkit dan semua tulangnya terasa remuk. Bibirnya sobek dan pipinya bengkak. Mungkin saja tulang kepalanya retak dan rahangnya bergeser. Sejak dipukuli, orang itu tidak henti-hentinya meringis dan memohon ampun. Mayat pemain opera perempuan dibiarkan begitu saja, terlupakan karena semua orang fokus pada pertunjukan baru di depan mereka.


"Berhenti!" teriak seseorang. Semua orang langsung menyingkir begitu beberapa orang petugas keamanan berseragam prajurit dan bersenjata berlari membelah kerumunan. Wajah mereka tampak sangat garang dan menakutkan. Yongheng membuang napas, lalu menepuk-nepuk pakaiannya seperti sedang membersihkan debu yang menempel. Orang kurang ajar yang dipukulinya sudah terkapar di tanah tak sadarkan diri.


"Apa yang kalian lakukan? Berkelahi di tengah keramaian adalah pelanggaran hukum!" petugas itu berkata kembali. Yongheng tidak menanggapi. Ia cukup puas pada hasil karyanya.


"Kalian berdua! Ikut kami ke kantor!"

__ADS_1


"Tunggu! Dia yang berkelahi, mengapa aku harus ikut?" sanggah Feng Shang. Enak saja, pikirnya.


"Nona, apa kau menganggap kami bodoh? Kekasihmu berkelahi karenamu. Jadi, kau juga harus ikut!" seru petugas.


Feng Shang belum sempat menjelaskan, namun tangannya langsung diikat. Yongheng juga sama. Sejak tadi pria itu tidak berbicara. Feng Shang tidak bisa menggunakan kekuatan dewinya di sini karena ini bukanlah alam yang tepat. Kalau dia mengeluarkan sihir, itu sama saja dengan mengakui tuduhan orang yang sudah dihajar oleh Yongheng tadi. Lagipula, Maharani Langit tidak bisa sembarangan menyakiti manusia.


Para petugas keamanan itu membawa Feng Shang dan Yongheng ke Biro Keamanan Kota. Di sana, mereka dimasukkan ke dalam penjara yang jerujinya terbuat dari kayu yang besar dan kuat. Feng Shang berteriak kesal karena menurutnya ini tidak adil. Petugas itu tidak bertanya lebih lanjut perihal kejadian tersebut dan malah langsung memasukannya ke dalam penjara. Seharusnya prosedurnya tidak seperti ini. Feng Shang jadi merasa kalau hukum di alam manusia sangat kacau dan berantakan.


"Semua ini gara-gara kau!" ketus Feng Shang pada Yongheng.


"Aku tidak peduli. Lagipula, kita tidak akan mati hanya karena terkurung di sini," ucap Yongheng. Dengan santainya ia berbaring di atas tumpukan jerami yang berfungsi sebagai alas tidur bagi para tahanan, berbantal jerami kering tanpa penutup kain dan sebagian sudah lapuk. Di sekelilingnya terdapat pecahan piring dan mangkuk, mungkin bekas tahanan sebelumnya. Ruangan ini tidak memiliki pencahayaan yang baik dan baunya cukup menyengat karena terdiri dari campuran kotoran tikus dan air kencing tahanan lain.


"Aku datang untuk menangkap Raja Iblis, bukan untuk tidur di penjara kumuh bersama pria menyebalkan sepertimu."


"Xiao Shang, terkadang kau harus hidup sedikit lebih santai. Lihat, kau masih muda, jangan terlalu memikirkan segala hal dengan serius. Gunakan waktu ini untuk bersantai sebentar."


Di sini tidak ada orang. Para tahanan yang lain sudah tidur. Feng Shang menatap mereka dan berpikir mengapa mereka begitu pulas tertidur, padahal tempat ini jelas-jelas sangat buruk dan bau. Mungkinkah mereka sudah terbiasa? Atau bisa jadi karena mereka terlalu lelah berteriak dan berharap akan sebuah arti kebebasan, yang membuat mereka menyerah dan memilih tidur meski tahu tidak nyaman.


Feng Shang akhirnya melepaskan ikatan tali di tangannya dan melemparnya ke sudut penjara. Ada bekas merah yang melintang, lalu dengan segera ia menghapusnya dengan sihir spiritualnya. Feng Shang lantas berdiri, membersihkan pakaian dan bersiap untuk kabur. Jeruji kayu yang besar dan kuat itu sudah dipegang dan Feng Shang bersiap untuk melapukkannya.


Melihat wanita itu bersiap menghancurkan penjara, Yongheng juga bangkit dan melepaskan diri. Dia kembali menarik tangan Feng Shang dan membawanya sedikit menjauh dari jeruji.


"Kau mau menghancurkan tempat ini?" tanyanya kesal.

__ADS_1


"Aku tidak mau bermalam di tempat buruk ini," jawab Feng Shang.


"Kau sendiri yang bilang dunia ini milik manusia. Kalau kau menghancurkannya, bagaimana kau akan menghadapi permasalahan selanjutnya?"


"Lalu apa kau punya cara untuk melarikan diri dari sini?"


"Ada. Mengapa kita tidak menggunakan kekuatan kita saja?"


Benar juga. Mereka jelas-jelas punya kekuatan untuk melarikan diri dengan mudah. Tidak akan ada yang sadar kalau mereka kabur sekarang. Waktu sepertinya sudah menuju tengah malam, dan para petugas itu pasti sudah tidur sebagian besarnya.


"Ah, benar," ujar Feng Shang.


Tidak lama kemudian, Feng Shang dan Yongheng sudah ada di luar penjara. Sebelum pergi, Feng Shang melemparkan obor penerang di dinding ke dalam ruangan sel tempatnya dikurung tadi. Apinya langsung membakar jerami kering dan berkobar cepat. Seketika, penjara yang gelap itu menjadi terang.


"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau dunia ini milik manusia dan kita tidak bisa sembarangan membunuh?" Yongheng bertanya dengan heran terhadap apa yang telah dilakukan oleh Feng Shang.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Penjara ini hanya terlalu dingin dan gelap."


"Padamkan!"


"Tidak. Apinya tidak akan keluar ke sel yang lain. Sudahlah, masih ada urusan yang harus diselesaikan."


Yongheng dibuat heran dengan tingkah laku Feng Shang. Maharani Langit bisa-bisanya bermain dengan api di dalam penjara, juga masih berkata seolah-olah itu hanya candaan saja. Keduanya kemudian menyusuri lorong penjara, berjalan dengan cepat dan sesekali bersembunyi karena langkah-langkah kaki yang lebar sepertinya sedang bergegas menuju kemari.

__ADS_1


Suara-suara yang berteriak "Kebakaran!" mulai bergema. Tampaknya para petugas itu sudah mengetahui kalau jerami di salah satu sel telah terbakar. Mereka datang dengan masing-masing membawa dua ember berisi air di tangah mereka, lalu menyiramkannya ke dalam api. Wuss.... Api itu memang padam, namun asapnya malah terbang ke setiap sel yang lain. Alhasil, para tahanan yang tadinya tertidur nyenyak terbangun dan batuk.


Sementara itu, Feng Shang dan Yongheng justru memasuki sebuah pintu rahasia yang membawa mereka ke sebuah tempat yang tidak pernah disangka-sangka.


__ADS_2