Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 14: Kembali Berulah


__ADS_3

“Siapa wanita itu?” tanya seorang pria berjas warna krem dengan dasi merah yang rapi pada manajernya. Pria itu berdiri di lobi gedung Perusahaan Lingjing, lalu matanya menatap seorang perempuan cantik yang dibalut busana serba putih yang elegan.


“Saya tidak tahu,” jawab sang manajer.


Pria itu kemudian naik ke lantai 100. Ia datang untuk bertanya pada pemilik perusahaan ini yang tiba-tiba memutuskan kontrak setelah ditandatangan beberapa hari yang lalu. Di lantai 100, pria itu mencari keberadaan Ketua Feng, namun karyawan di sana mengatakan bahwa Ketua Feng baru saja pergi.


Xiang Sun, pria berjas krem itu dongkol. Bagaimana tidak, dia sudah jauh-jauh datang dari Perusahaan Xiang ke Perusahaan Lingjing hanya untuk menanyakan ini, tetapi orang yang ingin ia berikan pertanyaan malah tidak ada di tempatnya. Sebagai pemilik Perusahaan Xiang, Xiang Sun tidak terima.


Kemudian, terdengar suara tawa yang familier. Xiang Sun melihat Ketua Feng baru saja keluar dari lift bersama beberapa orang direktur. Xiang Sun kemudian bertanya kembali pada karyawan tadi, “Kau bilang Ketua Feng baru saja pergi? Lalu mengapa dia ada di sini?”


Si karyawan gelagapan. Oh, bagaimana menjelaskannya.


“Presdir Xiang?” tanya Feng Zheng saat melihat Xiang Sun berdiri di dekat ruangan cucunya.


“Ketua Feng, saya ingin bertanya padamu. Mengapa Anda membatalkan kontrak tiba-tiba?”


Feng Zheng tertawa renyah. Kakek tua itu sebelumnya sudah menduga kalau pihak Perusahaan Xiang pasti datang kemari. Feng Zheng membawa Xiang Sun ke ruangan Feng Shang, lalu mempersilakan duduk padanya. Feng Zheng melihat kilatan emosi tertahan di mata Xiang Sun.


“Seharusnya kau menanyakan itu pada cucuku. Presdir Xiang, perusahaan ini tidak berada di bawah kendaliku lagi.”


“Apa Ketua Feng tidak berencana untuk memberiku penjelasan?” tanya Xiang Sun lagi.


“Presdir Xiang, ini bukan pertama kalinya Lingjing membatalkan kontrak,” jawab Feng Zheng dengan tegas. Karena sudah memutuskan, maka harus berani menghadapi.


Xiang Sun kembali ke perusahaannya dengan kecewa. Feng Zheng rupanya memilih untuk tidak membeberkan alasan mengapa pihak Lingjing membatalkan kerja sama dengannya. Xiang Sun sebelumnya sudah berhasil mengalahkan saingannya, Shen Yi dari Xize dengan menggaet Lingjing dan Fengling. Tidak disangka hari ini Lingjing malah membatalkan kontrak kerja sama dan membuatnya memarahi dewan direksi.


“Suruh wanita itu untuk menemuiku sore nanti!” seru Xiang Sun pada manajernya. Si manajer yang sudah tahu tabiat Xiang Sun hanya mengangguk patuh.


...***...


“Jika tidak bisa menyetir mobil, maka naik taksi saja.”


Feng Shang mengucapkan itu pada dirinya. Merasa bosan dengan ruangan kerja, perempuan itu keluar gedung. Urusannya sudah selesai di sini. Ia ingin segera pergi ke rumah Shen Yi untuk berkultivasi, tetapi tidak tahu jalan mana yang harus ia lewati.


Alhasil, Feng Shang hanya berdiri di pinggir jalan raya. Sudah setengah jam berlalu, tetapi Feng Shang masih kebingungan. Padahal, di depannya banyak mobil taksi yang melintas.


Ini pertama kalinya ia pergi seorang diri. Waktu itu ia bisa sampai ke rumah Shen Yi karena diantar si penjaga garasi, kali ini tidak bisa.


“Lambaikan tangan pada mobil bertuliskan taksi, lalu aku akan bisa pergi,” gumamnya lagi. Setelah lama menimbang-nimbang, Feng Shang akhirnya melambaikan tangan.


Sebuah taksi kemudian berhenti di depannya. Feng Shang seperti seorang penumpang yang baru pertama kali naik taksi. Padahal, di zaman ini, taksi biasanya bisa dipesan secara online lewat ponsel.


Si supir taksi yang agak keheranan lalu bertanya, “Nona, ke mana saya harus mengantarkan Nona?”

__ADS_1


“Rumah Shen Yi,” jawab Feng Shang.


“Shen Yi yang mana? Apa Nona tahu nama jalan atau kawasan komplek perumahannya?”


“Aku hanya tahu nama pemiliknya Shen Yi.”


Sopir taksi berpikir perempuan muda ini pasti tidak waras. Di Kota Cheng yang besar dan padat ini, ada berapa ribu orang bernama Shen Yi? Ia tidak mungkin mengelilingi kota hanya untuk mengantarkan seorang gadis mencari rumah pria bernama Shen Yi.


“Apa Nona bercanda? Ada berapa ribu orang bernama Shen Yi di Kota Cheng yang luas ini?” si sopir kembali bertanya.


“Pokoknya rumah Shen Yi!” tukas Feng Shang.


“Lebih baik Nona turun dan pikirkan lagi alamatnya.”


Si sopir hendak menurunkan Feng Shang di pinggir jalan. Feng Shang segera bertindak, ia menggunakan sihir tidur hingga si sopir taksi tertidur.


Dengan kekuatannya, Feng Shang menukar posisinya. Kini ia duduk di kursi stir mobil, sementara si sopir ada di kursi belakang.


Feng Shang tidak peduli seperti apa kerusakan yang ia timbulkan saat mencoba mengendarai mobil di garasi kakeknya beberapa hari lalu. Hari ini, dia ingin mencobanya lagi.


Karena dia tidak tahu nama kawasan perumahan tempat rumah Shen Yi berada, Feng Shang mengubah tujuannya ke kantor pria itu. Seingatnya, jalannya hanya tinggal lurus sejauh delapan kilometer lalu belok ke kanan sejauh lima ratus meter dari sini.


“Bukankah hanya menyetir? Aku, Maharani Langit tidak mungkin tidak bisa mengendalikan benda bernama mobil ini.”


Feng Shang berkendara ugal-ugalan di jalan raya. Ia memutar stir ke kiri dan ke kanan sambil terus menginjak pedal gas, membuat kendaraan-kendaraan di sekitarnya terpaksa menyingkir untuk menghindari kecelakaan. Feng Shang tidak memperhatikan rambu-rambu lalu lintas dan menerobos lampu merah.


Di sepanjang jalan Kota Cheng, orang-orang yang kebetulan melihat merekam kejadian itu dengan kamera ponsel mereka dan mengirimnya ke media sosial.


“Sial! Orang-orang itu mengapa terus mengejarku?” umpat Feng Shang.


“Taksi bernomor XXXXXX, berhenti! Anda membahayakan pengguna jalan lain!”


Alih-alih berhenti, perempuan itu menginjak gas dan menambah kecepatan. Taksi melaju kencang dengan kecepatan di atas 100 km per jam, kecepatan yang hampir menyamai pembalap mobil Formula 1. Delapan kilometer dilalui seperti beberapa detik, sementara di belakangnya, polisi lalu lintas terus mengejar.


Aksi itu berubah menjadi balapan di mata orang-orang. Headline berita siang itu berubah menjadi: Aksi Balapan Sebuah Taksi dengan Polisi di Jalan Raya. Feng Shang, si pelaku utama tidak tahu bahwa dirinya sudah menjadi buronan polisi lalu lintas dan menjadi topik berita utama.


“Bagaimana cara menghentikan benda ini?” ucapnya ketika sudah memasuki kawasan perkantoran Xize.


Feng Shang terpaksa menabrakkan taksi itu ke tembok sampai lajunya berhenti. Tabrakan disengaja itu menimbulkan suara benturan yang sangat keras sampai beberapa orang keluar dari lobi, sebagian lagi menyaksikan dari jendela kaca ruangan mereka. Feng Shang keluar dari taksi tanpa terluka, sementara si sopir masih tertidur. Dia tidak akan bangun selama tiga jam ke depan.


Shen Yi yang kebetulan berada di lantai dasar juga ikut keluar. Matanya terbelalak saat melihat sosok perempuan bodoh itu keluar dari taksi yang penyok.


Cara berjalannya sedikit tidak normal. Berkali-kali dia melihat Feng Shang menggelengkan kepalanya. Saat perempuan itu hendak menabrak tiang, Shen Yi buru-buru menahannya.

__ADS_1


“Ah, pria bodoh. Akhirnya aku menemukanmu,” ucap Feng Shang. Shen Yi menghela napas.


“Ikut aku!” ujar Shen Yi. Dia memapah Feng Shang ke dalam kantornya. “Zhang Bi, bereskan kekacauan yang sudah dibuat perempuan bodoh ini!”


Ada luka memar di kaki dan tangan Feng Shang setelah Shen Yi memeriksanya. Aneh, benturan sekeras itu seharusnya membuat penumpang berdarah-darah, mengalami luka berat. Namun, Feng Shang justru hanya mendapatkan luka memar yang bisa sembuh dalam waktu dua hari.


Shen Yi mengoleskan salep obat di tangan dan kaki perempuan itu. Feng Shang beberapa kali meringis. Terluka sedikit saja di dunia ini ternyata rasanya cukup sakit. Sama seperti gigitan kepiting merah kala itu. Tubuh manusia setengah dewanya ternyata cukup rentan juga, pikir Feng Shang.


Padahal dulu tubuhnya sering mengalami luka yang lebih parah, tetapi Feng Shang tidak pernah merasakan sakit. Tubuh Maharani Langit-nya telah dikultivasi menjadi tubuh yang tahan terhadap rasa sakit. Selain luka akibat kekuatan spiritual dan luka dalam, luka luar seperti memar atau robek bukanlah apa-apa.


“Mengapa kau kemari?” Shen Yi bertanya sambil terus mengoleskan salep.


“Sudah kubilang aku akan tinggal di rumahmu,” tukas Feng Shang.


“Kupikir kau hanya tidak tahu nama kawasan rumahku hingga terpaksa datang kemari.”


Feng Shang melengos.


“Aku sudah memenuhi persyaratan yang kau ajukan. Shen Yi, jangan pernah berpikir mengajukan syarat tambahan!”


Mendengar itu, Shen Yi terkekeh.


“Apa aku terlihat seperti orang yang tidak tahu diri?” tanyanya. Feng Shang mengedikkan bahu.


Zhang Bi kemudian datang dengan napas terengah-engah.


“Tuan, di luar ada polisi lalu lintas yang ingin bertemu dengan Nona Feng,” tutur sang sekretaris.


Shen Yi menatap Feng Shang, namun perempuan itu malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Feng Shang, kau benar-benar pembuat onar!”


...***...


...Psstt... Bidadari bikin ulah lagi🤭...


...Saatnya kuis! ...


...Apa yang akan dilakukan Xiang Sun? ...


...a. Balas dendam pada Shen Yi...


...b. Mendekati Feng Shang...

__ADS_1


...c. Memarahi karyawan...


......d. Diam seperti emas......


__ADS_2