Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 58: Membias


__ADS_3

Feng Shang membawa Nyonya Yin ke lantai 100, tempat ruang kerja direktur berada. Karyawan yang melihat direktur mereka datang bersama seorang wanita asing menatap heran. Ingin menyapa, tapi diisyaratkan untuk diam oleh Feng Shang. Mereka melihat keduanya masuk ke dalam ruangan kerja direktur dengan masih bertanya-tanya.


Nyonya Yin wajahnya masih dipenuhi kekesalan dan emosi. Sialan, pikrinya. Direktur Lingjing benar-benar menyebalkan! Bagaimana bisa dia menempatkan ruang kerjanya di lantai setinggi ini? Lift super cepat yang digunakannya beberapa waktu lalu membuatnya hampir muntah! Rasanya lebih baik menaiki helikopter yang berisik saja!


"Katakan! Apa yang ingin kau lakukan padaku?" tanya Feng Shang.


Melihat wanita itu duduk di kursi Direktur Feng, Nyonya Yin terkesiap. Matanya membelalak tak percaya. Wanita penabrak mobilnya ini...adalah Direktur Feng? Dia bahkan memarahinya di depannya tadi!


"Rupanya kau! Mengapa kau berpura-pura?"


"Aku tidak berpura-pura. Nyonya Yin mungkin terlalu lambat berpikir," ucap Feng Shang.


"Kau!"


"Aku sudah berjanji pada putramu untuk tidak melakukan apapun padamu. Jadi, Nyonya Yin, kau sebaiknya tidak mengkhianati kerja keras putramu dengan datang mencari masalah padaku," tegas Feng Shang. Untuk saat ini, dia ingin membuat Nyonya Yin menyerah dengan perkataannya.


"Mobilmu bisa kuganti. Berhentilah mencari gara-gara. Silakan, Nyonya Yin, pintu keluarnya ada di sebelah sana," ujar Feng Shang.


Sesuai ucapan wanita itu tadi, Nyonya Yin memang tidak bisa berbuat apa-apa setelah bertemu dengan direktur perusahaan ini. Perkataannya begitu tajam dan penuh intimidasi, membuat Nyonya Yin kehabisan kata-kata. Dia bahkan tidak bisa membalas perkataannya walau hanya satu kalimat saja. Feng Shang terlalu mendominasi, kekuatan dalam dirinya benar-benar tidak bisa dilampauinya.


Nyonya Yin bertanya-tanya apa yang sudah dilalui wanita muda di hadapannya hingga punya kemampuan seperti ini. Sebelum pertanyaannya terjawab, ia sudah lebih dulu disuruh keluar oleh Feng Shang.


Nyonya Yin tidak mau menyerah, tapi ia sadar ini bukan wilayah kekuasaannya. Ini kantor Lingjing, jika ia melanjutkan, ia hanya akan kalah. Terlebih, Feng Shang telah menyebut-nyebut putranya. Kalau begini, dia akan sulit untuk menyingkirkannya.


Nyonya Yin terpaksa menunda sementara rencananya untuk memarahi Feng Shang. Dia pikir ini akan mudah, nyatanya tidak sama sekali. Sosok perempuan yang telah mempengaruhi putranya tidak sembarangan.


Feng Shang mengantar kepergian Nyonya Yin dengan tatapan dingin. Tepat di ambang pintu, dia menjentikkan jarinya. Sepatu hak tinggi Nyonya Yin tiba-tiba selip dan membuatnya terjatuh. Para karyawan yang kebetulan melihat seketika menahan tawa.


Karena malu, Nyonya Yin buru-buru pergi dari sana. Dia menggunakan lift super cepat yang hanya digunakan untuk para petinggi perusahaan. Yang dia inginkan sekarang adalah mencari tempat untuk melampiaskan emosinya.


Beberapa menit kemudian, Nyonya Yin keluar agak sempoyongan akibat efek dari lift tersebut. Setelah menyeimbangkan diri, dia buru-buru masuk ke mobil mewahnya yang penyok dan meninggalkan kawasan gedung kantor Lingjing.


Sepanjang jalan, Nyonya Yin tidak berhenti menggerutu. Dia bahkan mengumpati Feng Shang, menyebutnya tidak tahu malu, perebut anak orang, sok berkuasa, dan juga beberapa umpatan lain. Kalau Feng Shang mendengarnya, Nyonya Yin pasti sudah dikutuk jadi batu.

__ADS_1


Nyonya Yin tidak sadar kalau dia sedang diikuti seseorang yang misterius di belakang mobilnya.


...***...


Malam harinya, rumah Shen Yi yang biasanya sepi berubah seperti pasar tradisional. Betapa tidak, Feng Shang dan Nyonya Yin terus-terusan ribut beradu mulut sejak Shen Yi pulang sore tadi.


"Keluar dari kamarku!" kesal Feng Shang sambil mencoba mendobrak pintu kamarnya yang tertutup.


Nyonya Yin tidak memesan hotel dan tidak ingin tidur di kamar tamu. Nyonya Yin merebut kamarnya dengan alasan itu adalah kamar milik putranya. Padahal, itu adalah kamar Feng Shang, sudah menjadi miliknya sejak dia tinggal di situ. Akibatnya, Feng Shang mencak-mencak dan menggedor pintu dengan keras.


Shen Yi memijat pelipisnya karena pusing. Dia baru saja pulang dari kantor, kini harus menghadapi situasi ini. Jangankan istirahat, Shen Yi bahkan tidak bisa duduk dengan tenang karena ibunya dan Feng Shang terus ribut.


"Ini kamar putraku. Bukan kamarmu!" balas Nyonya Yin dengan suara yang tak kalah kerasnya.


Feng Shang sangat kesal, ia hendak mengeluarkan kekuatannya namun Shen Yi menahan tangannya.


"Kau tidur di kamarku," ucap Shen Yi.


Feng Shang menurut. Dia berjalan memasuki kamar Shen Yi yang besarnya dua kali lipat dari kamarnya. Meski bukan pertama kali, tapi baru kali ini dia masuk ke sana dengan cara baik-baik. Jika diperhatikan, kamar ini memang lumayan bagus.


"Mengapa kau tidur di sini?" tanya Feng Shang.


"Ini kamarku. Apa aku tidak boleh tidur di kamarku sendiri?"


"Tapi malam ini aku tidur di sini!"


"Aku tidak mengatakan kalau aku akan tidur di luar. Kau boleh tidur di sini, dan aku juga akan tidur di sini."


Feng Shang yang waspada kemudian menggunakan kekuatannya untuk membuat Shen Yi menjauh. Alhasil, pria itu terjatuh ti lantai dalam posisi telentang. Shen Yi segera bangun, lalu memegang tangan Feng Shang dan membuatnya terjebak dalam kungkungannya.


"Apa tangan ini selalu kau gunakan untuk menjahili orang lain?" tanya Shen Yi sambil menatap manik mata Feng Shang.


"Lepaskan!" Feng Shang meronta. Ia ingin menggunakan kekuatannya untuk mendorong pria itu, namun jantungnya malah berdetak cepat dan malah membuatnya terdiam. Feng Shang seperti terhipnotis.

__ADS_1


"Kalau aku melepasnya, apa kau akan membuatku terbang ke lantai bawah?"


"Selama kau tidak macam-macam, itu tidak akan terjadi," ucap Feng Shang.


"Kenapa? Aku bahkan pernah menciummu di depan publik. Bagaimana jika aku mengulanginya lagi?" goda Shen Yi. Feng Shang langsung membelalak. Apa pria ini gila?


"Kau berani!" sungut Feng Shang. Tubuhnya terasa terkunci dan tak dapat bergerak leluasa. Tubuh kekar Shen Yi mengurungnya.


Semakin Feng Shang memberontak, Shen Yi semakin bersemangat untuk menggodanya. Jarang-jarang mereka berdua ada dalam situasi yang sangat dekat seperti ini. Shen Yi mendekatkan wajahnya ke wajah Feng Shang, kemudian beralih ke samping kepalanya. Shen Yi memainkan rambut Feng Shang dengan mulutnya, sembari menghembuskan napasnya di sisi telinga Feng Shang. Feng Shang bergidik geli.


"Baiklah, aku menyerah. Aku tidak akan menjatuhkanmu lagi. Menyingkirlah dari sana sekarang," ucap Feng Shang. Dia tak tahan jika Shen Yi mempermainkannya seperti itu.


"Janji?"


"Janji."


Shen Yi melepaskan kungkungannya pada Feng Shang. Sebuah guling kemudian diletakkan di tengah sebagai pembatas antara wilayah tidur Feng Shang dan dirinya sendiri. Hal itu sengaja ia lakukan untuk menghindari sesuatu yang tidak disadari ketika mereka sedang tidur nanti.


Setelah memposisikan diri, Shen Yi langsung memejamkan mata. Pria itu langsung terbang ke alam mimpi dalam waktu yang sebentar. Sementara itu, Feng Shang justru masih terjaga.


Saat Shen Yi tertidur pulas, cahaya keemasan dari keningnya menyebar keluar. Dengan gerakkan tangannya, Feng Shang mencampurkan cahaya keemasan itu dengan cahaya biru miliknya, lalu ia melukisnya di udara. Perpaduan kedua cahaya itu membentuk ilustrasi galaksi yang sangat indah.


Andai Shen Yi melihat ini. Semua rasa kesalnya akibat ulah Nyonya Yin langsung hilang. Malam ini ia berbaring di samping Shen Yi, seorang manusia yang di dalam dirinya terdapat inti jiwa seorang dewa agung yang belum bangkit. Rasanya sangat nyaman, tapi juga waswas.


"Xiao Shang.... Jangan pergi..."


Feng Shang menatap lekat wajah tidur Shen Yi yang tampak damai. Saat pria itu gundah dan menggumamkan dirinya, dahinya sedikit berkerut dan itu adalah hal lucu bagi Feng Shang. Dia mengusap dahi Shen Yi dengan telapak tangannya sambil memberikan sedikit kekuatan kepadanya.


Entah apa yang sedang dimimpikan Shen Yi. Yang jelas, mimpi itu pasti tentang Feng Shang karena Shen Yi terus menerus memanggil namanya.


"Xiao Shang... Tetaplah di sini... Jangan kembali ke sana..." Shen Yi kembali gundam.


Feng Shang menahan senyumnya. Mendengar kalimatnya yang ini, hati Feng Shang seperti mengecil. Dia merasakan betapa tidak relanya Shen Yi, juga betapa tidak inginnya pria itu melihat kepergian Feng Shang yang kembali ke alam dewa. Sama seperti dirinya yang tidak rela kalau Shen Yi bangkit menjadi Dewa Agung Yongheng.

__ADS_1


"Seandainya bisa, aku tidak ingin membangkitkanmu. Rasanya sangat sempurna jika waktu berhenti pada saat ini," gumam Feng Shang. Namun, itu tidak akan terjadi karena bagaimanapun, dia pada akhirnya harus membangkitkannya entah kapan.


Berada di bawah ilustrasi sihir galaksi, Feng Shang kemudian mencoba memejamkan matanya. Siapa tahu dia bisa bertemu Shen Yi di mimpi yang sama.


__ADS_2