
Jika di dunia ini tidak ada hukum dan manusia adalah makhluk terlemah yang mudah ditaklukkan, maka sudah sejak awal bumi ini hancur dikuasai. Hukum rimba berlaku, ketika yang kuat menang melawan yang kalah.
Xiang Sun melemparkan cermin tua berusia ratusan tahun yang biasa dipakai untuk mematut diri. Pecahan kacanya berserakan di lantai, sebagian ada yang mengenai kakinya dan menggores kulitnya hingga berdarah.
Karena kegagalan rencana itu, ia harus mengalami kesakitan luar biasa. Hawa iblis yang kian menguat kini telah bersatu dengannya, membuat dia benar-benar seperti seorang iblis sejati. Aura menyeramkan turut menyertainya.
Akibatnya, ia menggila. Kini, kediamannya yang bak istana kristal berubah menjadi kuburan masal. Semua pelayan di rumahnya tewas akibat kegilaannya. Mayat mereka ada yang mengering, ada pula yang masih basah.
Lantai marmer putih kini berwarna merah. Bau anyir menempel kuat, membuat siapapun bisa muntah saking mualnya. Karena letaknya yang cukup jauh dari komplek pemukiman warga dan sangat luas, bau itu tidak sampai tercium dalam jarak lima puluh meter.
Tangan Xiang Sun masih berlumuran darah. Sesekali ia berteriak marah, kemudian tertawa tanpa sebab. Pikirannya dipenuhi oleh keinginan menuntaskan hasrat menjadi sempurna, yang mendorongnya ke sisi tergelap hati manusianya yang tersisa sedikit lagi.
Tadinya ia juga ingin membunuh Feng Ling setelah tahu rencananya gagal dan wanita itu menjadi cacat. Xiang Sun marah ketika tidak mendapati aura darah suci di tubuh Feng Ling. Satu-satunya harapannya kini adalah Feng Shang. Ia harus sesegera mungkin menangkap wanita itu.
Xiang Sun sungguh tidak tahu siapa lawannya yang sebenarnya. Dia terlalu fokus pada perebutan darah suci, tanpa tahu siapa sebenarnya sosok yang ia incar dan kekuatan apa yang tersembunyi padanya. Pikirannya yang sempit membuatnya hanya tahu kalau Feng Shang tidak lebih dari macan kertas, yang tampak menyeramkan namun sebenarnya sangat jinak.
"Aku pasti akan mendapatkanmu!" serunya tegas.
Namun sebelum itu, ia harus mencari kediaman baru. Tempat ini sudah tidak bisa ditinggali lagi. Xiang Sun tidak punya waktu untuk membereskan mayat-mayat pelayannya yang bertumpuk di dalam rumah. Akan sangat mencurigakan jika petugas keamanan bertanya padanya mengapa pelayan di rumah ini tidak ada.
Tentu saja, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Hukum di dunia manusia memang terbilang ringan, akan tetapi begitu ribet. Orang lain pasti akan curiga dan menyelidikinya.
Kecuali, ia membuat skenario untuk merekayasa kematian mereka. Polisi tidak akan mencurigai ketika kejadian besar menimpa rumah ini dan seluruh isinya. Xiang Sun tidak hanya bisa pindah, tapi bisa lolos dari kecurigaan.
Xiang Sun tertawa nyaring. Pria itu keluar dari ruang bawah tanah, kemudian ia mencuci tangan dan kakinya di kran air. Setelah dirasa bersih, Xiang Sun membakar kediamannya dengan kekuatan hawa iblis. Rumah mewah tersebut dilalap api, seluruh isinya terbakar si jago merah.
Ia meninggalkan kediaman terbakar itu tanpa diketahui siapapun. Xiang Sun lantas merekayasa jadwal kegiatannya, memanipulasinya agar seolah-olah ia sedang berada di luar kota untuk perjalanan bisnis. Padahal, jelas-jelas ia sedang berusaha menghindar setelah membakar rumahnya sendiri.
__ADS_1
Usai meninggalkan rumah, terdengar bunyi sirine dari mobil pemadam kebakaran yang pelahan mulai mendekati rumah yang terbakar.
...***...
Feng Shang dan Shen Yi sedang menikmati makan siang mereka di sebuah restoran. Hari ini keduanya memutuskan tidak pergi ke kantor, karena pemilik seharusnya tidak terlalu ketat pada diri sendiri.
Sepanjang perjalanan, suasan hati keduanya begitu baik. Usai menceritakan siapa dirinya, beban di hati Feng Shang seolah terangkat. Ia tak lagi bersikap sedingin es, karena bongkahan itu mulai mencair perlahan.
Shen Yi juga merasa lega setelah ia tahu identitas asli Feng Shang. Mimpi-mimpi anehnya semalam tidak datang, mungkin karena suasana hatinya sedang baik. Hari ini dia juga tidak mengomeli Zhang Bi, justru menyuruh pria itu meliburkan diri atau mengambil cutinya sesekali.
"Bagaimana rasanya?" tanya Shen Yi sembari mecubit secuil daging ikan bakar yang sangat mahal dan lezat ke piring Feng Shang.
"Lumayan. Masakan manusia bumi tidak terlalu buruk dengan yang ada di Istana Langit," jawab Feng Shang dengan mulut yang masih mengunyah.
"Apa makanan di alam dewa punya kekuatan sihir juga? Misalnya, seorang bayi manusia fana bisa langsung berjalan setelah makan makanan langit?"
"Aku hanya bertanya. Siapa tahu kelompok seperti kalian bisa tumbuh cepat sesuka hati."
Feng Shang menggelengkan kepapa. Malas meladeni pria itu, ia melanjutkan sesi makan siangnya. Pengunjung restoran hari itu tidak terlalu banyak, jadi dia bisa lebih santai.
Ponsel Shen Yi berdering. Pria itu memberi isyarat kalau ia akan menjawab telepon itu. Shen Yi pergi ke sudut ruangan. Dari seberang sana, Zhang Bi memberikan suatu informasi yang membuat raut wajah Shen Yi berubah seketika.
Melihat ekspresi pria itu yang begitu aneh setelah menerima telepon membuat Feng Shang sangat gatal jika tidak bertanya. Ia ingin tahu siapa penelepon dan apa yang dikatakannya hingga membuat pria itu memiliki ekspresi buruk.
"Xiao Shang, Kediaman Xiang Sun kebakaran. Semua pelayan di sana terjebak di dalam dan mati terbakar," ucapnya dengan ekspresi yang sulit.
Feng Shang refleks menjatuhkan alat makannya di piring.
__ADS_1
"Semuanya mati?" tanyanya memastikan.
"Ya. Apinya baru bisa dipadamkan setelah dua jam."
"Lalu bagaimana dengan Xiang Sun?"
"Dia sedang dalam perjalanan bisnis di luar kota."
Bukan karena khawatir ia menanyakan Xiang Sun. Feng Shang curiga kebakaran itu bukan kebakaran biasa. Kejadiannya pasti disengaja dan direncanakan. Normalnya, meskipun rumahnya begitu besar, selalu ada jalan darurat yang membuat beberapa orang bisa meloloskan diri dari api.
Mustahil jika semua pelayannya terjebak bersama dalam satu waktu. Apakah tidak ada pelayan yang sedang ada di luar kediaman atau di taman?
"Itu tidak sederhana," ujar Feng Shang.
"Maksudmu, kau curiga ini ada hubungannya dengan Xiang Sun?"
Feng Shang mengangguk. Sangat mencurigakan.
"Terlalu tidak masuk akal. Shen Yi, apa kau mau membantuku?"
"Kau ingin menyelidikinya?"
"Ya. Malam ini juga."
Shen Yi mengangguk setuju walau sebenarnya ia khawatir. Shen Yi khawatir kalau itu hanya jebakan yang sengaja dibuat Xiang Sun untuk menangkap Feng Shang. Ia takut Feng Shang dilukai lagi oleh hawa iblis.
Alih-alih membiarkan itu terjadi, lebih baik ia pergi bersamanya sambil mengawasinya. Kalau pun mereka harus mati, maka keduanya akan mati bersama.
__ADS_1
"Baiklah. Malam kita pergi ke sana."