
Xiang Sun menerima laporan mengenai kebakaran di rumahnya lima jam setelah api berhasil dipadamkan. Pria itu terlihat panik, memasang ekspresi menyedihkan dan marah. Polisi yang menanyainya jadi ragu apakah Xiang Sun ada kaitannya dengan kejadian ini atau tidak.
Dengan tabiatnya yang tempramental, pihak kepolisian akhirnya melepaskannya dari kecurigaan, lalu berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut. Diperkirakan kerugiannya mencapai ratusan milyar. Rumah terbakar itu tidak hanya membakar para pelayan, tetapi surat-surat berharga perusahaan.
Di rumahnya yang lain, ia tengah menyelesaikan permasalahan yang timbul akibat kebakaran itu. Pihak keluarga pelayannya menelepon tak henti-henti, menanyakan dan ada pula yang meminta pertanggungjawabannya sebagai bos mereka.
"Tuan, seseorang melihat Direktur Feng dan Presdir Shen memasuki rumah Tuan malam-malam," lapor bawahannya.
"Apa yang mereka lakukan?"
"Saya tidak tahu persis. Saksi mengatakan kalau keduanya baru keluar lima jam kemudian."
Xiang Sun dahinya berkerut. Hatinya bertanya-tanya untuk apa kedua orang itu datang ke rumah terbakarnya. Tidak mungkin jika mereka ingin mengambil sesuatu dari rumah sudah tidak berupa, bukan?
Dia juga tidak berpikir kalau mereka mengetahui sesuatu. Orang-orang yang tahu akan kegilaannya sudah mati semua, dan mereka berakhir tragis dengan terbakar menjadi arang. Lalu apa alasan mereka?
Mungkinkah Feng Shang mencari buku pusaka keluarganya? Ah, lagipula, Xiang Sun juga sudah tidak membutuhkannya. Buku bobrok itu sekarang hanya sebuah buku lama yang usang saja di matanya, karena semua isinya sudah ia hafal di luar kepala. Orang yang dicarinya juga sudah ia ketahui. Kalau buku itu hilang pun, tidak apa-apa.
"Bereskan semuanya. Aku tidak ingin mendengar keluhan apapun lagi dari orang-orang tidak berguna itu!" tukas Xiang Sun pada bawahannya. Ia ingin orang-orang yang menyusahkannya dengan mempermasalahkan kejadian ini mati agar telinganya tidak berisik lagi.
Bawahannya mengangguk patuh, lalu pergi. Xiang Sun bersandar di kursinya, memutar rodanya kemudian memindahkannya ke dekat jendela kaca. Ia melihat pemandangan Kota Cheng dari sini. Dari sini pula sebenarnya ia mencari mangsa.
Ah, sudah berapa banyak manusia yang mati karena energinya diserap habis olehnya?
Xiang Sun sudah tidak ingat. Mungkin puluhan, mungkin ratusan. Dulu kematian mereka dibuat seperti kematian biasa hingga tidak menimbulkan masalah yang merembet.
Situasinya berbeda dengan sekarang. Dirinya sudah dikuasai dan jiwanya sudah menyatu dengan dirinya yang lain. Setiap kali menginginkan energi hidup, korbannya pasti mati dalam kondisi mengerikan. Ia sendiri terkadang tidak tahan menahan hasrat itu.
__ADS_1
Seolah-olah, tubuhnya adalah sebilah pedang yang sangat tajam, yang digunakan untuk membunuh siapapun dan membasahi bilahnya dengan darah segar. Efeknya memang luar biasa, ia merasa seperti muda kembali setiap kali selesai menghisap energi hidup.
Xiang Sun hampir frustasi karena keinginannya belum terpenuhi. Beragam cara sudah ia lakukan untuk menarik perhatian Feng Shang, bahkan dengan cara memaksa. Alih-alih terpikat, perempuan itu malah semakin menjauh dan Xiang Sun tidak bisa menggunakan Feng Ling untuk memanfaatkannya.
"Tuan," panggil manajernya.
"Apa?"
"Direktur Feng datang untuk menemui Anda," terang manajernya.
Xiang Sun seketika bangkit. Ia bertanya sekali lagi untuk memastikan apakah itu nyata atau tidak. Manajernya kembali berkata yang sama, bahwa pemilik Lingjing ingin bertemu dengan pemilik Xiang.
"Tidak kusangka dia malah berinisiatif datang sendiri," ucap Xiang Sun diiringi seringaiannya yang khas.
"Apa saya perlu menyiapkan tempat?" tanya manajernya.
Xiang Sun keluar dari ruangannya. Matanya langsung tertuju pada seorang wanita berjas abu-abu dengan celana panjang senada tengah berdiri di dekat meja kerja salah satu karyawannya. Tubuh wanita itu semampai berambut panjang nan hitam yang digulung di belakang. Sekilas saja, ia penuh dengan aura anggun dan mulia.
Pria itu tersenyum licik. Mangsanya berinisiatif datang sendiri ketika ia tidak mencarinya. Karena sudah datang, Xiang Sun tidak akan membiarkan wanita itu pergi dengan mudah.
"Angin apa yang membawa Direktur Feng kemari?" tanya Xiang Sun saat dirinya sudah ada di hadapan Feng Shang.
Feng Shang sedikit terkesiap. Ia merasakan aura iblis di tubuh Xiang Sun menjadi lebih kuat dibandingkan terakhir kali. Namun, ia berusaha tetap bersikap normal layaknya manusia biasa.
"Ekspresimu terlalu aneh untuk seseorang yang rumahnya baru saja terbakar," ujar Feng Shang datar. Jelas sekali kalau ia sedang menyindir Xiang Sun.
Wanita ini! Mengapa mulutnya begitu pedas?
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana? Mereka bekerja untukku. Seharusnya aku yang menuntut tanggungjawab kepada keluarganya karena anggota keluarganya telah membuatku rugi ratusan milyar."
Feng Shang berdecih. Selain serakah, pria ini ternyata sama sekali tidak punya hati. Kalau bukan karena Feng Shang ingin mengetahui kebenaran, ia mana sudi menyambangi tempat sarang kejahatan iblis.
Ingin sekali Feng Shang menggunakkan kekuatannya untuk membungkam mulut pria itu. Kata-katanya sungguh tidak pantas terucap dari mulut seorang presdir pemilik perusahaan besar sepertinya.
"Presdir Xiang sungguh tidak rendah hati," sindir Feng Shang.
"Kalau aku rendah hati, perusahaan ini sudah bangkrut dan aku sudah lama mati, Direktur Feng," balas Xiang Sun.
"Tidak tahu apa maksud kedatangan Direktur Feng kemari? Tetapi karena sudah datang, Xiang pasti akan menyambutmu dengan baik."
Xiang Sun hatinya begitu gembira. Orang yang dikerjarnya ada di depan matanya. Kali ini, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Ia akan memastikan mangsanya tidak bisa kabur lagi.
Feng Shang menatap datar Xiang Sun. Jauh di lubuk hatinya, ia sangat ingin menyihir pria itu dan menyegelnya di Sungai Tanpa Batas sampai tidak bisa keluar seumur hidup. Sayang sekali, itu hanya angan-angannya saja.
"Tuan, tempatnya sudah siap," ucap manajer Xiang Sun beberapa saat setelah percakapan terakhir.
"Direktur Feng, mari. Lihat apakah penyambutanku sempurna atau tidak."
"Predir Xiang begitu menyukaiku rupanya. Aku sungguh terkesan."
"Tentu saja. Aku tidak pernah bermain-main dengan tindakanku."
...***...
...Haloo pemirsa setia Feng Shang & Shen Yi, Author balik lagi! Hehe, beberapa hari ini frekuensi updatenya emang kurang banyak. Bukan apa-apa, Author cuma lagi repot sama tugas di sana-sini. Tapi, Author usahain kok buat terus update, kasih kisah buat ngehibur kalian. Hihi. So, jangan lupakan dulu ceritanya, ikuti terus ya!...
__ADS_1