Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 101: Misteri Takdir yang Terungkap


__ADS_3

Istana Langit kembali geger. Feng Shang mengumpulkan semua dewa di Aula Fuyao untuk membahas masalah yang ditimbulkan Raja Iblis dan komplotannya. Para dewa itu baru saja pergi, namun terpaksa kembali karena kekacauan sungguh di luar kendali.


"Raja Iblis sepertinya tidak bisa menunggu lagi," ucap Feng Shang. Para dewa mengangguk setuju. Mereka berusaha berpikir barangkali ada cara. Namun nihil.


"Maharani, Tiga Alam berada di ambang kehancuran. Jika tidak mengalahkan Raja Iblis sekarang, maka Tiga Alam akan dipenuhi kegelapan," ucap Dewa Gu Yu.


"Baik. Aku berjanji pada kalian, aku akan melindungi Tiga Alam ini bahkan jika aku harus kehilangan nyawa!" tegas Feng Shang.


Tepat pada saat itu, Yongheng datang dan menentang semua keputusan Feng Shang. Yongheng marah karena wanita itu jelas-jelas ingin melanggar janjinya lagi. Dia juga marah karena para dewa ini begitu bodoh dan penakut.


Ditatapnya satu persatu dewa di Aula Fuyao dengan tajam dan menusuk. Melihat kemarahan Dewa Agung Yongheng, semua menjadi terdiam dan menunduk layaknya babi yang dipukul sampai mati. Mereka tidak berani memandang Dewa Agung Yongheng.


"Tiga Alam bukan hanya tanggungjawab Maharani Langit seorang! Apa kalian dungu? Dia seorang wanita, dan kalian membiarkannya menanggung kematian demi menyelamatkan semua orang sendirian?" ucap Yongheng dengan nada marah.


Feng Shang terdiam. Tidak ada gunanya jika ia menyela Yongheng, karena pria itu tidak akan mendengarkannya. Feng Shang tidak bermaksud membuatnya marah, tetapi situasi yang telah memaksanya melakukan ini.


Sebagai Maharani Langit, betapapun beratnya itu, tetap harus ia tanggung. Meski sudah berjanji pada Yongheng, namun ia takut jika pria itu mati bersamanya. Feng Shang tidak mau orang yang dia bangkitkan dengan susah payah kembali mati.


"Tiga Alam adalah tanggungjawab semua orang! Apa kalian bahkan melupakan jati diri kalian sendiri?" Yongheng kembali berucap.


"Dia, Maharani Feng, pernah terluka parah oleh Raja Iblis dan terpaksa memulihkan diri di dunia lain. Hidup sendirian, setelah kembali ia masih harus menyelesaikan kembali pertarungannya. Kalian menyebut diri kalian dewa? Konyol sekali!"


Kemarahan Dewa Agung Yongheng membuat Alam Sembilan Langit bergetar. Para dewa semakin menunduk dalam. Mereka juga buntu.

__ADS_1


"Dewa Agung Yongheng, mohon tahan kemarahanmu dulu!" seru seseorang. Suaranya membuat suasana sedikit tidak tegang.


Si Ming berjalan masuk bersama Yue Ming setelah menyela pembicaraan Yongheng. Ia datang untuk menyampaikan ramalan takdir yang baru saja datang. Sekalian, ia juga ingin meluruskan sesuatu, dan barangkali saja sesuatu itu bisa memberikan jawaban akan kebuntuan yang dialami Maharani Langit dan Tiga Alam.


"Aku ingin bicara dengan Dewa Agung Yongheng dan Maharani Feng," ucap Si Ming.


Feng Shang lantas menyuruh para dewa menunggunya di Aula Fuyao, sementara ia dan Yongheng pergi bersama Si Ming. Mereka sampai di Istana Fengyun yang seluruh pelayan perinya sudah pergi.


Di taman istana, ketiganya duduk melingkar. Feng Shang dan Yongheng sama-sama penasaran akan alasan mengapa Si Ming tiba-tiba menyela pembicaraan dan meminta mereka untuk ikut bersamanya. Feng Shang dan Yongheng sama-sama menunggu.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Feng Shang. Si Ming menghela napas sejenak, mempersiapkan dirinya selama beberapa saat.


"Maharani, bukankah selama ini kau selalu penasaran mengapa takdirmu tidak bisa ditulis?"


"Kau juga sering bertanya apakah aku mengetahui alasan keterikatanmu dengan Dewa Agung Yongheng?"


"Ya. Beritahu aku jika kau punya jawabannya," jawab Feng Shang.


"Kalian akan mengetahuinya setelah melihat ini," Si Ming berkata sambil mengeluarkan bola kristal takdir yang bisa memperlihatkan sisi kehidupan seseorang. Cara kerjanya hampir mirip dengan cermin Baihuang.


Si Ming lantas memperlihatkan sebuah kilasan kehidupan ratusan ribu tahun lalu, ketika Tiga Alam baru terbentuk dan kekuatan Dewa Leluhur masih sangat kuat. Di dalam kristal itu, tampak sebuah tempat yang dulunya dikenal sebagai Menara Qiankun, menara tempat kelahiran dewa sejati.


Ketika Dewa Leluhur menggunakan esensi kekuatannya, terbentuklah jiwa lima Dewa Sejati yang bertugas mempersiapkan kehidupan Tiga Alam dan menjaganya pada masa-masa mendatang. Empat dari Dewa Sejati itu adalah laki-laki, dan salah satunya adalah Yongheng yang kini menjadi Dewa Agung Yongheng.

__ADS_1


Dewa Sejati kelima adalah perempuan, yang akan menjadi pemimpin para dewa di masa mendatang. Karena kekuatannya sangat besar, setengah jiwanya disegel dan dikirim ke dunia lain, lalu setengahnya lagi disimpan di dalam kristal roh.


Dewa Sejati yang kelima ini tidak langsung terbentuk dalam wujud manusia, dan seluruh kesadaran dewanya terkunci bersama jiwanya. Kemudian, beberapa ratus tahun kemudian, datanglah ramalan akan Maharani Langit yang ditakdirkan.


Jiwa Dewa Sejati kelima beserta kesadarannya keluar dari kristal roh dan lahir sebagai putri dari suku feniks api biru. Dewa Leluhur memilih suku ini karena fenik api biru merupakan esensi lain dari kekuatannya.


Sayang, kemudian terjadi perang besar antara Alam Sembilan Langit dan Suku Iblis yang dipimpin Raja Iblis. Dewa Sejati Yongheng yang tinggal satu-satunya di Tiga Alam gugur. Akan tetapi, semua orang tidak pernah menyadari bahwa separuh inti jiwa dan kesadaran dewanya telah dikirim ke dunia yang sama dengan separuh inti jiwa Dewa Sejati kelima, jauh sebelum peperangan besar terjadi.


Mungkin, itulah sebabnya ada Shen Yi dan Feng Shangyue di dunia bernama bumi. Keduanya adalah separuh inti jiwa dua Dewa Sejati, yang lahir sebagai manusia biasa. Mereka tidak menyadari jati diri mereka, sebelum separuh inti jiwa Dewa Sejati kelima - Feng Shang yang telah sampai pada takdirnya datang ke tempat itu.


"Itu sebabnya kalian terikat satu sama lain. Kalian berdua adalah Dewa Sejati, yang terbelah dan lahir di dua dunia yang berbeda dengan Alam Sembilan Langit. Pada dasarnya, kalian saling mencari dan saling menemukan," tutur Si Ming setelah bola kristal takdir itu berhenti mengungkapkan kebenaran.


Feng Shang akhirnya mengerti mengapa dia menjadi Maharani Langit, memiliki takdir tak tertulis, dan selalu terikat dengan Yongheng. Dia adalah Dewa Sejati yang 'diendapkan' oleh Dewa Leluhur. Misteri tentang kedatangannya ke dunia bernama bumi juga sudah terungkap berkat bola kristal takdir itu.


Reaksi Yongheng tidak seperti Feng Shang. Yang dia pikirkan hanyalah jawaban mengenai keterikatan itu sendiri. Itu karenw Yongheng sudah melupakan banyak ingatan perihal tahun-tahun mudanya, yang telah berlalu ratusan ribu tahun.


"Maharani, kau adalah Dewa Sejati. Namamu seharusnya adalah Dewi Agung Feng," tambah Si Ming. Feng Shang tidak terlalu peduli dengan gelar, ia hanya mementingkan keselamatan dunia.


"Karena ada dua Dewa Sejati, maka kemungkinan mengalahkan Raja Iblis memiliki peluang lebih besar. Dewa Agung Yongheng, Maharani Feng, masa depan Tiga Alam bergantung pada kalian berdua."


Otak Yongheng berputar mencari akal. Ia akan melakukan segala cara untuk melindungi dunia dan juga Feng Shang. Dua-duanya harus selamat. Akan tetapi, ia ditampar kenyataan karena di sini, ia hanya punya satu pilihan saja.


"Aku tahu. Tapi, ini mungkin akan merubah Tiga Alam selamanya," ucap Yongheng ragu. Ia bersitatap dengan Feng Shang, tanpa bahasa dan tanpa kata namun keduanya sudah saling menget

__ADS_1


__ADS_2