Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 56: Nyonya Yin


__ADS_3

Shen Yi dikejutkan dengan kedatangan Feng Shang ke kantor Xize tanpa pemberitahuan sebelumnya. Apalagi, perempuan itu membawa banyak bungkusan makanan mahal yang sangat memanjakan cacing di perut. Jam makan siang telah tiba, kebetulan sekali.


"Jingjing bilang kau sibuk. Lalu mengapa kau datang kemari?"


"Aku sudah memarahinya. Dia berani mengambil keputusan tanpa sepengetahuanku."


Shen Yi tertawa kecil. Dia menyuapkan sesendok makanan ke mulut Feng Shang dan menyuruhnya mengunyahnya. Jam makan siangnya jadi terasa panjang karena Feng Shang menceritakan bagaimana dia memarahi Jingjing beberapa waktu lalu. Sudah ia duga, Feng Shang yang keras kepala ini tidak akan mendengarkan orang yang tidak sependapat dengannya.


"Katakan, mengapa kau ingin membawaku pergi bersamamu?" tanya Feng Shang yang sempat lupa pada tujuannya datang kemari.


"Karena aku akan melakukan perjalanan bisnis. Kau mungkin akan bosan tingal di rumah sendirian."


Feng Shang menatapnya. Shen Yi tidak bisa berbohong di depannya. Ekspresinya jelas menggambarkan kalau dia menyembunyikan sesuatu. Tidak mungkin pria ini tiba-tiba mengajaknya keluar kota. "Katakan yang sejujurnya."


Shen Yi tahu dia tidak bisa membohongi Feng Shang. Perempuan itu punya kemampuan hebat karena bukan manusia biasa. Sebaik apapun dia menyembunyikan sesuatu, pasti Feng Shang akan mengetahuinya. Jadi, untuk apa dia menutupinya dari perempuan itu?


"Ibuku akan datang. Aku tidak ingin kau bertemu dengannya."


"Ibumu? Kau punya ibu?"


"Tentu saja! Jika tidak, dari mana aku lahir? Aku bukan makhluk abadi yang bisa terbentuk dari tumbuhan atau benda yang memiliki entitas jiwa dan kekuatan spiritual."


Shen Yi tidak tahu kalau dirinya yang sebenarnya juga seorang dewa. Feng Shang melanjutkan sesi makannya. Tidak sia-sia dia mengantri untuk mendapatkan makanan ini. Harganya sepadan dengan rasa yang memanjakan lidahnya.


"Mengapa kau melarangku bertemu dengan ibumu?" tanya Feng Shang.


"Karena urusannya bisa sangat merepotkan."


"Benar juga. Wanita memang merepotkan," ujar Feng Shang.


"Ck. Padahal kau sendiri juga wanita."


"Aku seorang dewi, tidak sama dengan wanita lain."


"Ya, ya, ya. Terserah padamu. Lalu, apa kau sudah memutuskan?"


"Aku mengikuti keputusanmu," ucap Feng Shang.


Syukurlah, pikir Shen Yi. Dia akhirnya bisa tenang karena Feng Shang memilih mengikutinya ke luar kota untuk mencegah kemungkinan bertemu dengan ibunya. Dia kemudian menyuruh Zhang Bi mempersiapkan segalanya.


Meski Feng Shang tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Shen Yi tidak ingin ia bertemu ibunya, Feng Shang tetap tidak bisa membiarkan Shen Yi pergi seorang diri. Dia masih harus melindunginya sampai dia membulatkan tekad untuk membangkitkannya. Sampai saat itu, keselamatan Shen Yi adalah tanggungjawabnya. Shen Yi harus selalu dalam jangkauan pengawasan Feng Shang.


Feng Shang belum menentukan kapan ia akan membangkitkan Dewa Agung Yongheng. Rasanya sangat berat dan tidak rela. Untuk beberapa waktu ini, dia ingin menghabiskan waktu bersama pria itu sebelum menuntaskan takdirnya yang aneh itu.


Beberapa menit kemudian, Zhang Bi masuk dengan wajah panik.


"Ada apa?" tanya Shen Yi.

__ADS_1


"Tuan... Nyonya Besar sudah tiba di Kota Cheng!"


Shen Yi refleks berdiri.


"Bukankah tadi kau bilang dua hari lagi?"


"Nyonya memang bilang dua hari lagi, tapi..."


"Di mana dia sekarang?"


"Di lobi. Mungkin sekarang sedang menuju kemari."


"Bodoh! Mengapa tidak bilang dari tadi?"


Shen Yi kelabakan. Bagaimana dia tidak panik? Ibunya tiba-tiba datang hari ini! Semua rencananya untuk kabur berakhir sia-sia! Sial!


"Xiao Shang, cepat sembunyi! Zhang Bi, tahan wanita cerewet itu! Cepat!"


Feng Shang yang sedang asyik mengunyah makanan terpaksa disembunyikan di bawah meja kerja Shen Yi. Tidak lama kemudian, seorang wanita cantik berusia empat puluh tahunan masuk ke dalam ruangan Shen Yi. Shen Yi menghela napas, hampir saja tidak sempat!


"Yi'er! Mengapa kau tidak datang menyambutku?" tanya Nyonya Yin begitu melihat putranya sedang duduk menikmati makan siang seorang diri.


"Kau datang dengan mendadak. Mana kutahu Ibu akan tiba hari ini," jawab Shen Yi acuh tak acuh.


"Dua tahun tidak bertemu, temperamenmu tidak berubah sama sekali. Haish, mengapa sifatmu harus sama dengan ayahmu?"


Nyonya Yin mendengus. Di matanya, putranya sama sekali tidak pernah berubah. Setiap kali bertemu, mereka pasti akan bertengkar bahkan hanya karena hal sepele. Putra tunggalnya meski usianya sudah kelewat matang, namun terkadang masih kekanak-kanakkan jika berdebat dengannya dan selalu bisa membalikkan kata-katanya.


"Kalau Ibu datang untuk mengurusi masalah pernikahan, sebaiknya kau kembali. Aku sama sekali tidak berminat menikahi gadis-gadis pilihanmu. Berhentilah mengirimiku sekumpulan wanita yang tidak menarik itu!" tegas Shen Yi.


"Tapi, ada apa dengan wajahmu? Apa itu adalah trend baru riasan wajah?" tanya Shen Yi.


Nyonya Yin kemudian melihat wajahnya di cermin dan ia membelalak. Sial, umpatnya. Bekas lipstik yang memanjang ke pipinya belum dibersihkan. Ternyata dia memakai riasan seperti ini sepanjang perjalanan! Pantas saja beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menahan tawa di mulut mereka.


Nyonya Yin segera membersihkan wajahnya dengan micellar water sampai bekas lipstiknya memudar. Lipstik itu tidak hilang sepenuhnya karena ia menggunakan lipstik yang matte dengan merk terkenal berharga fantastis.


"Semuanya gara-gara wanita muda itu! Kalau saja aku bertemu dengannya lagi, aku akan memberinya pelajaran!" gerutu Nyonya Yin.


"Kau juga bisa diganggu seorang wanita? Ibu, sejak kapan kau kalah dari wanita lain?"


"Dia masih muda tapi sangat menyebalkan. Yi'er, kau tahu? Dia menabrak kap belakang mobilku sampai penyok lalu pergi begitu saja!"


"Dia tidak akan berbuat seperti itu kalau kau yang tidak memulainya duluan."


"Aku hanya berdandan sebentar. Tapi wanita itu sangat tidak sabaran!"


"Kudengar kau membiarkan seorang gadis Keluarga Feng tinggal di rumahmu selama beberapa bulan. Apa dia masih ada di sana? Jika ya, kau harus segera mengusirnya pergi," tambah Nyonya Yin.

__ADS_1


"Mengapa?"


"Dia itu gadis pembawa sial! Kudengar dia membuat saudara sepupunya cacat seumur hidup. Kalau kau terus bersamanya, kau juga akan sial. Pantas saja selama ini kau tidak mau menikah."


"Dia bukan gadis pembawa sial."


"Terserah. Sebagai ibumu, aku bertanggungjawab atas keselamatanmu. Usir wanita itu segera."


Feng Shang yang sedang bersembunyi di bawah meja kerja Shen Yi tersadar. Ia bergumam, "Mengapa aku harus bersembunyi di sini? Aku bukan tikus pencuri, aku adalah Maharani Langit!"


"Tunggu! Mengapa suara wanita itu sepertinya pernah kudengar?"


Feng Shang menggunakan sihir penyamaran yang membuat tubuhnya tidak terlihat. Dia merangkak dari bawah meja, lalu berdiri. Feng Shang ingin melihat seperti apa sosok ibu Shen Yi yang meremehkannya dan mengapa suaranya begitu familiar.


"Rupanya wanita cerewet itu," gumam Feng Shang.


Ternyat, wanita menor yang mobilnya ditabrak olehnya tadi adalah Nyonya Yin. Melihatnya membuat Feng Shang jadi kesal. Ia berjalan ke belakang Nyonya Yin, kemudian mengangkat sebuah bantal sofa.


Melihat bantal melayang, Shen Yi seketika mengambil bantal itu dan meletakkannya kembali sebelum ibunya menoleh ke belakang dan menyadari ada yang aneh. Shen Yi menggeram karena perempuan itu malah berulah ketika dia mencoba menyembunyikannya mati-matian.


Tidak menyerah dengan bantal sofa, Feng Shang beralih ke jas Shen Yi yang tersampir di dekatnya. Kini jas itu melayang, siap menutupi kepala Nyonya Yin. Sekali lagi Shen Yi mengambilnya, kemudian menjatuhkannya ke lantai belakang sofa tempat ia duduk.


Tidak selesai dengan itu, Feng Shang mengambil papper bag makanan dan melayangkannya kembali. Shen Yi merebut kembali, meletakkannya di posisi semula.


"Mengapa kau terus bergerak dan menoleh ke belakang? Apa ada sesuatu?" tanya Nyonya Yin sembari menoleh ke belakang. Dia tidak melihat ada yang aneh.


"Tidak ada. Mungkin hanya perasaanmu saja."


"Ngomong-ngomong, mengapa ada dua porsi? Yi'er, kau makan siang bersama siapa?"


"Ini porsiku. Semuanya milikku," elak Shen Yi.


"Benarkah? Hm, sejak kapan kau punya nafsu makan yang begitu tinggi."


Shen Yi tidak bisa menahan ibunya lama-lama. Feng Shang berulah, dia tidak akan berhenti sampai keinginannya terkabul atau hatinya merasa puas. Nyonya Yin yang masih keheranan kemudian melontarkan kembali perkataannya yang lain.


"Ngomong-ngomong, aku melihat mobil wanita penabrak itu di basement. Apa mungkin dia salah satu karyawanmu? Tapi, mengapa mobilnya sangat mewah? Itu mobil langka yang hanya ada lima buah di dunia."


Shen Yi tersedak. Apa? Mobilnya ada di parkiran bawah? Shen Yi terbatuk-batuk cukup lama. Setelah diberikan air, barulah ia mereda. Satu-satunya orang yang mobilnya mewah setelah dirinya adalah... Feng Shang!


Jadi, wanita yang dimaksud ibunya adalah Feng Shang? Tidak dapat dipercaya! Pantas saja Feng Shang berulah, karena ia ternyata melihat ibunya sebagai penghalang jalannya!


"Sebaiknya kau segera pulang. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku," ucap Shen Yi pada ibunya. Dia kemudian memanggil Zhang Bi, lalu menyuruhnya mengantarkan Nyonya Yin.


Nyonya Yin yang masih tidak ingin pergi terpaksa keluar dari ruangan putranya. Setelah ibunya pergi, Shen Yi mengunci pintu dan berkacak pinggang.


"Xiao Shang, apa kau sudah puas bermain? Keluar sekarang!"

__ADS_1


Feng Shang menampakkan dirinya dengan wajah kesal.


__ADS_2