Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 54: Memaknai Alam Mimpi


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Feng Shang tidak langsung tidur. Ia berdiam diri di taman bunga sambil menyegarkan tubuhnya dengan aliran energi spiritual. Ada sesuatu yang harus ia lakukan. Feng Shang menutup matanya, memfokuskan pikirannya pada suatu tempat. Cahaya biru dari tubuhnya melayang, mengelilinginya. Kemudian, sebagian kesadaran jiwanya keluar, melayang lantas menghilang di suatu tempat.


Feng Shang kembali memasuki Alam Ketiadaan. Istana Ketiadaan menyambutnya hangat dengan kekuatan spiritual tingkat tinggi. Kakinya melangkah menapaki lantai marmer spiritual yang sangat halus dan berkilau. Sampai di aula utama, ia memberi salam pada roh langit Dewa Chang Yuan. Roh langit yang masih punya wujud itu tersenyum padanya.


"Maharani Langit yang ditakdirkan, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?"


Feng Shang menggelengkan kepala. Ia mengernyitkan dahi ketika ia melihat roh langit Dewa Chang Yuan justru tersenyum kepadanya. Ini bukan reaksi yang biasa.


"Aku tidak mengerti satu hal. Aku datang kemari untuk bertanya padamu."


"Apa yang ingin kau ketahui?"


"Mengapa Raja Iblis ada di bumi?"


Feng Shang tidak bercerita kalau hawa iblis mengerikan di tubuh Xiang Sun adalah hawa milik Raja Iblis. Ia juga baru mengetahuinya belakangan ini dan baru memastikannya siang tadi. Xiang Sun adalah Raja Iblis, tetapi bisa dikatakan tidak sepenuhnya. Pria itu memiliki karakteristik yang sama dengan Feng Shang, hanya berupa separuh kekuatan dan inti jiwa saja.


"Takdir telah mengatur demikian. Itulah takdirmu, takdirnya, dan juga takdir Raja Iblis," jawab roh langit Dewa Chang Yuan.


"Apa dia ikut masuk bersamaku ke bumi?"


Roh langit Dewa Chang Yuan diam. Feng Shang menganggap berarti 'ya'.


"Rupanya benar. Semuanya terkait denganku."


"Kau adalah Maharani Langit yang ditakdirkan, pemilik jiwa murni dan darah suci. Melihatmu saat ini, kau seharusnya sudah mengambil milikmu yang tertinggal di tubuh orang lain, bukan?" tanya roh langit Dewa Agung Chang Yuan.


"Ya. Aku sudah mengambilnya."

__ADS_1


"Kekuatanmu telah sempurna. Gunakan darahmu untuk mengatasi kekacauan itu dan menemukan kembali jalan ke Alam Sembilan Langit."


Feng Shang mencoba memahami arti perkataan roh langit Dewa Chang Yuan. Memakai darahnya untuk mengatasi kekacauan? Itu artinya, dia harus menggunakan darah sucinya untuk melindungi manusia bumi dan mengatasi kekacauan yang dibuat oleh Raja Iblis Xiang Sun.


Ia berpikir sejenak. Dengan kondisinya saat ini, meski ia mampu menghadapi Raja Iblis sendirian, tetapi ia tidak bisa memperkirakan seberapa besar kerusakan yang akan timbul dari pertarungan itu. Feng Shang tidak bisa membelah dirinya jadi dua yang bisa berada di dua tempat sekaligus.


Pertarungan makhluk abadi bukan pertarungan sembarangan. Bukan hanya hidup dan mati kaum abadi itu yang dipertaruhkan, tetapi juga hidup semua makhluk yang ada di sekitarnya. Pertarungan Feng Shang dengan Raja Iblis akan menjadi pertarungan yang sangat besar, yang menentukan nasib hidup dan mati manusia bumi, terutama penduduk Kota Cheng.


Ia butuh seseorang yang bisa membantunya. Orang itu harus bisa berbagi tugas dengannya, melindungi makhluk bumi saat ia bertarung sendirian. Satu-satunya orang yang ia pikirkan adan sangat mungkin adalah Shen Yi. Hanya pria itu yang bisa membantunya.


Inikah inti dari tugasnya itu? Dia bukan hanya harus membangkitkan Dewa Agung Yongheng, tetapi juga menghadapi Raja Iblis dan kembali melindungi dunia.


"Jika aku membangkitkannya, bukankah dia akan hilang?" tanya Feng Shang. 'Dia' yang dimaksud adah Shen Yi dan segala ingatannya saat menjadi manusia.


"Kau sudah menemukan inkarnasinya?"


"Ya."


"Apa hatimu telah tergerak, Maharani Langit? Apa kau telah memiliki perasaan pada manusia itu?"


"Dia bukan manusia biasa!" teriak Feng Shang. Ia geram karena takdir mempermainkannya sampai seperti ini.


"Dia hanyalah inkarnasi. Kau harus ingat, bagi makhluk abadi, kehidupan sebagai manusia hanyalah selingan dalam kisah panjang mereka. Begitu pula dengannya. Shen Yi hanyalah sebuah mimpi dalam kehidupan Dewa Agung Yongheng. Bagaimanapun, ia akan tetap kembali kepada takdirnya sebagai Dewa Agung. Kehidupannya sebagai Shen Yi hanyalah sebuah mimpi baginya, juga mimpi bagimu," jelas roh langit Dewa Chang Yuan.


"Bagaimana mungkin ada mimpi yang sepanjang dan serumit ini. Bagaimana mungkin ada mimpi yang mengandung rasa pahit dan manis dalam satu waktu seperti ini," gumam Feng Shang. Tatapannya justru terasa kosong.


Hatinya bimbang. Haruskah ia benar-benar membangkitkan Dewa Agung Yongheng dan menghilangkan Shen Yi? Otaknya mengatakan ya, namun hatinya tidak. Feng Shang bergelut dengan perasaannya sendiri di dalam aula Istana Ketiadaan tersebut. Dewa Chang Yuan memberinya ruang untuk berpikir.

__ADS_1


Siapkah ia kehilangan Shen Yi? Tetapi bila dibandingkan dengan keselamatan dunia, rasa kehilangannya bukanlah apa-apa. Namun, hatinya tetap tidak bisa tenang. Ia takut. Feng Shang takut sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Ia juga takut masalah akan menjadi semakin rumit jika ia tak segera menyelesaikannya.


Kehidupan yang dijalaninya, juga kehidupan yang dijalani Shen Yi, hanyalah akan menjadi mimpi ketika keduanya kembali ke Alam Sembilan Langit. Semua ingatan hilang, dan mungkin kelak mereka tidak akan saling mengenal jika bertemu kemudian. Karena ia tahu, Dewa Agung Yongheng adalah penguasa kedua, yang memegang kendali atas seluruh lautan. Kelak jika kembali, sang dewa mungkin akan kembali ke wilayahnya dan akan sangat jarang berkunjung ke Istana Langit.


Feng Shang menatap roh langit Dewa Chang Yuan dengan saksama. Apa semua ini sudah direncanakan oleh takdir sebelumnya? Feng Shang kemudian berbalik meninggalkan Istana Ketiadaan. Roh langitnya kembali ke tubuhnya yang tengah bersemedi di taman bunga. Saat itu, hari sudah hampir pagi.


Feng Shang membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Shen Yi yang wajahnya sangat dekat dengannya. Feng Shang terkejut, kemudian refleks mundur dan hampir terjatuh ke belakang. Untung saja, Shen Yi menahannya.


"Mengapa kau ada di sini?" tanya Feng Shang.


"Aku tidak bisa tidur. Kulihat kau diam di sini, jadi aku datang untuk menemani. Aku ingin bertanya, cahaya biru yang tadi masuk lewat keningmu itu apa?"


"Kau melihatnya?"


"Ya."


"Itu adalah roh langitku."


"Roh langit? Semacam jiwa?"


"Bisa dibilang begitu."


"Kau pergi ke mana?"


"Alam Ketiadaan."


Shen Yi tak lanjut bertanya. Ia sangat yakin kalau alam itu adalah alamnya dewa yang tidak dimengerti oleh manusia sepertinya.

__ADS_1


__ADS_2