
Feng Shang sangat ingin menemui roh langit Dewa Chang Yuan di Alam Ketiadaan untuk menanyakan mengapa kesadaran dewa milik Shen Yi bisa masuk ke sana. Namun, itu harus terhalang karena ada urusan yang lebih mendesak. Ketimbang memuaskan rasa penasarannya akan misteri takdir, dia lebih memilih menyelesaikan urusan di bumi terlebih dahulu.
Pagi-pagi sekali, Zhang Bi sudah datang mengetuk pintu. Katanya, terjadi masalah di perusahaan. Setelah badai besar yang memporak-porandakan Kota Cheng kemarin mereda, sebagian besar karyawan Xize mengalami luka akibat badai tersebut. Kebetulan, mereka sedang berada di kantor ketika badai terjadi, dan tidak sempat menyelamatkan diri. Setelah dilihat, ternyata beberapa bagian gedung terdampak badai hebat tersebut.
Orang yang seharusnya khawatir adalah Shen Yi. Namun, Zhang Bi justru merasa kalau atasannya itu acuh tak acuh. Ini tidak seperti biasanya. Atasannya seringkali marah jika terjadi suatu masalah, apalagi yang berkaitan dengan keselamatan karyawan dan perusahaan. Kali ini, atasannya justru hanya melihat tak peduli, seolah-olah itu semua tidak ada hubungannya dengannya.
"Direktur Feng, sebenarnya ada apa dengan Presdir Shen? Mengapa tuanku itu sepertinya berbeda dengan yang sebelumnya?" tanya Zhang Bi. Ia berharap Feng Shang tahu jawabannya, karena hanya dia yang berada di dekat atasannya selama ini.
"Sudah kubilang dia tidak sehat. Otaknya mungkin sedang sedikit bermasalah," jawab Feng Shang.
"Aneh. Padahal Presdir Shen tidak punya riwayat penyakit aneh. Direktur Feng, apa Anda yakin dia baik-baik saja?"
"Apanya yang terlihat tidak baik?"
"Presdir Shen tidak banyak bicara akhir-akhir ini. Dia lebih banyak diam. Apa setelah memulangkan Nyonya Yin dia jadi merasa bersalah?"
"Urus saja pekerjaanmu. Biar aku yang mengurus atasanmu," tegas Feng Shang.
"Perlukah saya memanggil dokter untuk memeriksa Presdir Shen?"
"Tidak perlu."
"Tapi..."
"Urusi pekerjaanmu, atau aku akan meminta dia memecatmu."
Bisa dimengerti jika Zhang Bi kebingungan, karena orang yang berdiri di hadapannya kini bukan lagi Shen Yi. Pria itu bukan lagi sosok presdir yang mendominasi dan hobi memarahinya, tapi seorang dewa agung yang baru saja bangkit di tempat yang tidak seharusnya. Feng Shang tidak bisa menceritakannya, karena Zhang Bi tidak akan percaya. Dia hanya akan merepotkan jika mengetahuinya.
Feng Shang mengurus beberapa dokumen pengajuan cuti untuk para karyawan Xize yang terluka dan memerlukan perawatan. Sementara itu, Zhang Bi sudah memanggil petugas untuk membereskan kembali gedung dan memperbaiki beberapa bagian yang rusak akibat badai. Sedangkan Shen Yi alias Yongheng malah asyik memperhatikan pemandangan Kota Cheng dari ruangannya.
Dari sana, Yongheng bisa melihat seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan badai kemarin. Banyak gedung yang rusak dan rumah-rumah yang roboh. Papan reklame berisi iklan produk dengan model aktris dan aktor terkenal juga rusak. Pepohonan penghijau kota yang ditanam di pinggir jalan banyak yang tumbang, menimpa beberapa kendaraan yang ada di bawahnya,
__ADS_1
Kemarahan Maharani Feng berdampak dahsyat. Gara-gara provokasi dan permainan Raja Iblis Xiang, Kota Cheng menjadi korban. Kota ini tidak seharusnya menjadi kambing hitam atas pertarungan ketiga makhluk abadi sepertinya. Kalau sampai Raja Iblis Xiang Sun berhasil membuat Maharani Feng kembali marah, tanpa disentuh pun dunia ini akan hancur. Manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa akan menanggung kesialannya.
"Maharani Feng," ucap Yongheng. Feng Shang yang saat itu baru masuk ke ruangan seketika menjawab, "Ya?"
"Jika kita berhasil mengalahkan Raja Iblis, apakah Shen Yi akan kembali kepadamu?"
Pada saat itu, Feng Shang hanya terdiam. Dia tidak tahu jawabannya.
"Aku bukan orang yang egois. Aku selalu tahu tujuanku dilahirkan ke dunia. Bahkan jika aku harus mati lagi kali ini, itu adalah takdirku yang sesungguhnya. Pada saat itu, kau bisa mengumpulkan kesadaran dewaku untuk membangkitkan Shen Yi," ucap Yongheng. Feng Shang menatapnya dengan tajam.
"Siapa yang bilang kau akan mati?"
"Maharani, aku adalah dewa agung. Aku sama sepertimu, menganggap dunia lebih penting. Lihatlah, kekacauan ini tidak seharusnya terjadi. Manusia-manusia ini tidak seharusnya menanggung akibat dari pertarungan kita."
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku akan kembali memenuhi takdirku."
"Dewa Agung Yongheng, kutegaskan padamu. Jika kau berani mati atau berbuat macam-macam, aku akan menghancurkan Laut Timur dan membuat seluruh rakyatmu menjadi pelayan peri. Kau pasti tidak akan membiarkan itu terjadi, bukan?"
Mendengar ancaman maharani yang melarangnya mati, Yongheng langsung teringat. Benar, dia adalah Dewa Agung Yongheng, penguasa Laut Timur. Dulu dia belum sempat berpamitan pada semua rakyatnya ketika hendak menyelesaikan peperangan dan berakhir dengan mengorbankan diri. Mengapa ia bisa lupa akan hal itu?
"Kalau begitu, Maharani Feng, bisa kita saling berjanji satu hal?"
Feng Shang mengerling, tatapan matanya menyiratkan kalau ia sangat penasaran akan janji itu.
"Jika kita berhasil mengalahkan Raja Iblis dan kembali ke Alam Sembilan Langit, kau tidak boleh menaruh dendam padaku. Jangan pernah menyentuh Laut Timur, dan aku akan mencari cara untuk mengembalikan Shen Yi kepadamu."
"Mengapa aku harus menyetujuinya?"
"Karena kau adalah orang yang memiliki hati."
__ADS_1
"Kau yakin aku punya hati?"
"Jika tidak, kau tidak akan mementingkan dunia dan mengorbankan orang yang kau kasihi. Maharani, mari bekerja sama. Kalahkan Raja Iblis terlebih dahulu, lalu kita berdamai."
"Sepakat."
Feng Shang baru melepaskan Yongheng setelah ia menyetujuinya. Sebenarnya tidak penting apakah Shen Yi kembali atau tidak, karena Yongheng adalah sosok yang sama. Hanya ingatannya saja yang hilang. Jika suatu saat ingatan dari Shen Yi melebur ke dalam ingatan dewa Yongheng, pria itu akan menyadari bahwa dialah Shen Yi, sesuai dengan perkataan Dewa Chang Yuan di Alam Ketiadaan. Kalau pun tidak terjadi, maka itu sudah menjadi takdirnya sendiri.
Feng Shang menatap kekacauan di Kota Cheng dari jendela yang sama. Dia memijat kepalanya, merasa kalau kemarahannya kemarin benar-benar sudah berlebihan. Dia seharusnya memperhatikan Kota Cheng, seharusnya ia memperhatikan tempatnya berada. Dunia ini sama seperti alam fana, bukan dunia dewa yang segala kerusakannya bisa diperbaiki dalam satu malam oleh sihir spiritual.
"Maharani, efek kemarahanmu benar-benar luar biasa. Lain kali kau harus mengontrolnya," ucap Yongheng seakan mengerti pemikiran Feng Shang.
"Aku tidak pernah semarah itu."
"Seperti katamu, dunia ini berbeda. Kita tidak bisa menggunakan sihir dan memperlihatkan kekuatan kita kepada manusia."
"Aku akan melindungi mereka. Makhluk sialan itu harus segera dimusnahkan."
Yongheng tersenyum tipis.
"Zhang Bi!" panggil Feng Shang lewat telepon kantor Shen Yi. Tidak lama kemudian, Zhang Bi masuk ke ruangan, memenuhi panggilan Feng Shang.
"Direktur Feng, apa yang bisa saya bantu?"
Feng Shang melemparkan kunci mobilnya pada Zhang Bi. Asisten itu menangkapnya dengan tepat.
"Ambil beberapa barang di dalam mobilku. Gunakan untuk memperbaiki sebagian kekacauan di Kota Cheng. Jika tidak cukup, kau boleh menjual mobil itu."
Dia segera mematuhi perintah Feng Shang setelah memberi hormat pada Yongheng. Zhang Bi menganga saking terkejutnya ketika ia melihat apa yang ada di dalam mobil Feng Shang. Perempuan itu membawa dua karung kepingan perak asli kualitas tertinggi untuk disumbangkan. Tangan Zhang Bi bergetar ketika menyentuh kepingan perak itu. Jika dihitung, kepingan itu setara dengan harga sepuluh gedung di kawasan elit. Kalau dijumlahkan dengan harga mobil ini, jumlahnya jauh lebih fantastis.
"Direktur Feng benar-benar dermawan," gumamnya sembari mengendarai mobil. Sepanjang perjalanan, Zhang Bi tak henti-hentinya melihat ke belakang, memastikan kalau dua karung perak itu tidak hilang. Dia juga bersikap waspada terhadap kendaraan-kendaraan yang ada di sekitarnya, berjaga-jaga dari kemungkinan perampokan. Kalau hilang, dia tidak akan bisa menggantinya.
__ADS_1