
Shen Yi baru tiba di kantor Xize dengan helikopter setelah melakukan perjalanan dinas mendadak dari luar kota. Helikopternya langsung kembali ke kandangnya begitu sang pemilik masuk ke gedung utama. Hari itu, cuaca begitu cerah. Langit terlihat biru jernih tanpa awan. Udara juga tidak sepanas biasanya.
Zhang Bi mengikutinya dari belakang. Selang beberapa langkah, ia berhenti karena atasannya juga menghentikan langkah. Shen Yi terpaksa mengurungkan langkah kakinya ketika dadanya tiba-tiba terasa sakit. Begitu sakit seperti ditusuk ribuan jarum.
"Tuan, ada apa?"
"Tidak apa-apa. Kau pergilah dulu," ucap Shen Yi.
Zhang Bi tidak menurut. Atasannya jelas-jelas sedang merasakan sesuatu. Shen Yi bisa saja mengatakan ia baik-baik saja, tetapi raut wajah dan nada bicaranya begitu bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Atasannya itu sedang merasakan sakit di dadanya.
Ponsel Shen Yi kemudian berdering. Setelah merogoh saku jas dan mendapatkan ponselnya, Shen Yi langsung menekan tombol hijau panggilan tersebut dan menempelkannya ke telinga. Suara di seberang sana terdengar begitu panik. Shen Yi termangu, menyimak baik-baik penjelasan dari si penelepon.
"Presdir Shen! Direktur Feng batuk darah dan tidak sadarkan diri! Tolong Anda cepat kemari!"
Tanpa basa-basi lagi, Shen Yi langsung memutar tubuhnya, kemudian berlari menuju basement tempat mobilnya terparkit. Zhang Bi terkejut melihat atasannya mengemudikan mobil sport dengan kecepatan penuh, meninggalkan gedung Xize menuju tempat yang tidak ia ketahui. Ia tak tahu hal apa yang membuat atasannya pergi dengan terburu-buru.
Tidak butuh waktu lama, Shen Yi memarkirkan mobilnya di halaman gedung Lingjing. Ia memarkirnya sembarangan, membuat beberapa orang berteriak marah. Shen Yi tidak peduli. Langsung saja ia menggunakan lift tercepat khusus petinggi perusahaan, naik dari lantai dasar menuju lantai 100 tempat ruangan Feng Shang berada.
"Apa yang terjadi?" tanyanya panik.
Ia melihat Feng Shang tidak sadarkan diri di pangkuan Jingjing. Bajunya ternoda darah. Mulut itu begitu merah dan matanya terpejam. Feng Shang dikerumuni karyawan yang sama-sama panik, bingung dengan kejadian apa yang telah menimpa atasan tertinggi mereka sampai sebegitunya.
"Beberapa saat yang lalu, Nona Feng datang. Dia juga keluar dalam keadaan payah, kemudian saya melihat Direktur Feng sudah seperti ini," ucap Jingjing sambil terisak.
"Bodoh! Mengapa kalian malah diam saja?"
Shen Yi berteriak memaki karyawan yang malah menjadikannya tontonan. Seharusnya mereka membawanya ke rumah sakit, bukan membiarkannya seperti itu. Apa para karyawan ini benar-benar ingin melihat atasan mereka mati di depan mata mereka? Darah keluar dari mulut, itu jelas menandakan adanya luka dalam yang serius!
"Minggir!"
Shen Yi menggendong tubuh Feng Shang, lalu membawanya turun ke lantai dasar. Setelah memasuki mobil, ia segera menancap gas menuju rumah sakit. Panik. Ia tidak pernah sepanik ini. Darah merah itu begitu terang, menodai pakaian formal Feng Shang yang selalu terlihat rapi dan berwarna cerah.
"Uhuk..."
__ADS_1
Feng Shang perlahan membuka matanya. Ia menangkap sosok Shen Yi yang tengah menyetir dengan kepanikan yang luar biasa. Rasa sakit di dadanya sudah berkurang. Ini bukan luka fisik, melainkan luka karena ia menggunakan sihir murni.
"Xiao Shang, bertahanlah! Kita akan segera sampai di rumah sakit!"
"Shen Yi.... Aku ingin pulang..."
"Pulang? Kau terluka begitu parah, bagaimana bisa kau pulang?"
"Aku ingin pulang... Aku benar-benar mati jika pergi ke rumah sakit..." lirih Feng Shang.
Tidak ada gunanya pergi ke rumah sakit. Yang Feng Shang butuhkan saat ini adalah energi spiritual untuk menyembuhkan luka dalamnya. Rumah adalah tempat terbaik untuk menyembuhkan luka semacam ini. Ada banyak energi spiritual yang terkumpul akibat formasi feniks biru, dan itu akan sangat berguna untuk pemulihan lukanya.
"Xiao Shang, jangan keras kepala!" tolak Shen Yi.
"Tidak. Aku hanya perlu pulang."
Tidak tahan dengan lirihan lemah perempuan itu, akhirnya Shen Yi terpaksa menurut. Ia memutar stir mobilnya, berbelok arah menuju rumahnya. Beberapa menit kemudian, mobilnya sudah terparkir di halaman depan mansion miliknya. Shen Yi menggendong Feng Shang ke dalam setelah ia mematikan mesin mobilnya.
Meski tidak tahu apa tujuan perempuan ini, Shen Yi saat ini seperti anjing yang penurut. Dibawanya tubuh Feng Shang ke taman bunga, kemudian mendudukkannya di kursi ayunan. Ada semilir angin yang berhembus secara misterius begitu mereka memasuki area rumah kaca tersebut, memberikan sensasi nyaman dan menyegarkan.
"Kau yakin kau tidak apa-apa?"
Feng Shang mengangguk. Shen Yi ragu pada anggukan kecil kepala perempuan itu. Darahnya begitu banyak keluar dari mulut, bagaimana bisa dikatakan baik-baik saja. Tidak bisa, pikir Shen Yi. Dia tetap harus memanggil dokter untuk memastikan keadaan Feng Shang. Shen Yi beranjak, sebelum pergi ia berkata, "Aku akan memanggil dokter dan mengambil air untuk membersihkan darahmu."
Usai Shen Yi pergi, Feng Shang segera memusatkan pikirannya. Inti jiwanya terhubung dengan mata formasi, kemudian energi spiritual yang terkumpul segera membentuk gumpalan cahaya kristal biru yang memukau. Gumpalan itu perlahan masuk ke dalam tubuhnya, memperbaiki luka dalam dan menyembuhkannya dalam waktu yang singkat.
Energi murninya sudah pulih. Efek dari penggunaan sihir murni untuk pemurnian dan pemusnahan hawa iblis hanya bersisa sedikit. Efek itu akan hilang dalam waktu satu jam. Setelah satu jam, Feng Shang sudah tidak apa-apa. Dia bisa kembali seperti sedia kala, lalu memikirkan cara untuk membalas Feng Ling.
Shen Yi terkejut setengah mati saat melihat Feng Shang bangkit dari duduknya. Ada aura istimewa memancar, tetapi ia tidak mengetahui apa itu. Kedua mata Shen Yi memicing memperhatikan perempuan yang beberapa saat lalu tampak sekarat dan hampir mati, yang kini justru terlihat sangat sehat dan bugar. Seolah-olah, noda darah di mulut dan pakaiannya itu hanyalah sebuah pewarna makanan dan tidak sungguh-sungguh keluar dari tubuhnya.
"Kau... Benar-benar baik-baik saja?" tanya Shen Yi ragu.
"Sudah kukatakan kalau aku tidak apa-apa. Lihat, kau tidak perlu membawaku ke rumah sakit."
__ADS_1
"Xiao Shang, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Hanya perkelahian biasa. Sampah kecil itu mencoba menyingkirkanku."
Mata Feng Shang menyala. Dendam ini pasti dibayar tuntas. Pertama-tama, dia harus memberi pelajaran pada Feng Ling terlebih dahulu. Kemudian, dia akan menyingkirkan sumber hawa iblis yang jahat itu dari bumi ini. Akan sangat berbahaya jika hawa iblis seperti itu terus menyebar. Itu akan masuk ke dalam hati, melukai tubuh kemudian menjadi sebuah noda hitam yang menggelapkan hati manusia. Pada akhirnya, manusia itu akan menjadi kosong tanpa jiwa, bahkan bisa mati mengering seperti korban terakhir kali.
Shen Yi tidak menduga pemulihan tubuh Feng Shang begitu luar biasa. Tidak sampai satu jam, perempuan itu sudah pulih sepenuhnya. Pelan-pelan ia mendekati Feng Shang, memastikan kalau apa yang dilihatnya adalah kenyataan. Shen Yi menghembuskan napas lega setelah tahu perempuan ini tidak apa-apa.
"Apa yang Feng Ling lakukan padamu?"
"Dia memberiku hawa iblis."
"Hawa iblis? Apa itu?"
"Kalau kau ingin tahu, kau harus berlatih dahulu dan mempercayai ucapanku. Apa kau berani?"
Shen Yi berdecak. Kekhawatirannya sirna. Syukurlah, semuanya baik-baik saja. Shen Yi benar-benar kalut, perasaannya kacau setiap kali melihat perempuan itu dalam bahaya. Rasa sakit di dadanya beberapa saat yang lalu, apakah berkaitan dengan kejadian yang menimpa Feng Shang?
Apakah darah suci itu benar-benar ada, dan dia telah terikat takdir dengan Feng Shang? Mungkinkah terjadi ikatan misterius yang membuat keduanya bisa merasakan sakit dan suka satu sama lain?
"Jujur saja, aku belum berani. Aku masih tidak tahu harus bersikap bagaimana jika apa yang kau ucapkan adalah kenyataan," seloroh Shen Yi. Ia duduk di samping Feng Shang.
"Aku akan menunggumu. Pada saat itu tiba, kuharap kau tidak akan terkejut."
Feng Shang menatap Shen Yi, begitu pula sebaliknya. Kontak mata berlangsung beberapa detik. Sudah tidak ada rasa sakit seperti dulu. Mereka menyelam begitu dalam, menelusuri isi hati masing-masing. Ada semacam perasaan yang sulit dikatakan, namun keberadaannya begitu jelas. Entah itu karena takdir atau karena hidup bersama cukup lama, mereka sama-sama tidak tahu.
"Permisi, Tuan. Di mana pasien yang harus saya periksa?"
Kontak mata terputus. Shen Yi dan Feng Shang sama-sama menoleh ke sumber suara. Seorang dokter berjas putih membawa sekotak peralatan medis berdiri dengan tatapan tanya.
Shen Yi kembali menatap Feng Shang. Tanpa menoleh kepada dokter, ia berkata jujur, "Pasiennya sudah sembuh. Kau bisa kembali sekarang."
Dokter itu pun menggaruk kepalanya bingung.
__ADS_1