
Setiap jam sembilan sampai jam dua pagi, Feng Shang menghabiskan waktunya di taman bunga. Feng Shang harus memulihkan diri dengan mengumpulkan energi spiritual sebelum membuat cermin Baihuang. Jika tidak, jangankan cermin ajaib itu, menggerakkan guci saja ia tak akan mampu.
Cermin Baihuang adalah senjata dewa. Di Alam Sembilan Langit, wujudnya adalah air terjun yang mengalirkan mata air dewa, mengairi Tiga Alam.
Cermin ini merupakan cermin pembuka kehidupan seseorang dari masa lampau, yang hanya bisa digunakan oleh dewa dengan kekuatan yang sangat tinggi.
Bahan dasar pembuatan cermin ini adalah benda-benda berkekuatan spiritual disertai sihir dewa tingkat tinggi. Cermin Baimeng yang waktu itu didapatkan oleh Feng Shang adalah salah satunya. Feng Shang masih memerlukan tiga benda lain, yakni anggrek dewa, giok roh dan bulu makhluk abadi.
Meski tak yakin benda-benda spiritual itu ada di bumi, namun ia pastikan ia akan menemukannya. Pecahan cermin Baimeng memberinya keyakinan baru bahwa bahan yang lainnya juga pasti bisa ia dapatkan. Feng Shang tidak peduli seberapa banyak uang yang harus ia habiskan.
Shen Yi sempat marah-marah padanya karena memakai helikopternya dan meninggalkannya sendirian. Di rumah, Shen Yi mencak-mencak dan terus mencari masalah dengannya.
Feng Shang terpaksa menggunakan sihir tidur agar pria itu tidak lagi berisik. Dengan begitu ia juga bisa berkultivasi dengan tenang.
Ini adalah malam kedelapan. Kekuatan Feng Shang sudah pulih sebanyak 40%. Tubuhnya yang semula terasa lesu berenergi kembali.
Wajah Feng Shang juga tampak lebih cerah dan bersinar. Kecantikannya memancar sebagai seorang Maharani Langit, bukan sebagai manusia setengah dewa. Sayang, tidak ada orang yang bisa melihat keindahannya.
Feng Shang mengeluarkan cermin Baimeng. Bingkainya berlikat, cerminnya membiaskan cahaya biru yang sewarna dengan kekuatan feniks api biru milik Feng Shang. Kekuatan sihir di dalam pecahan ini masih utuh.
Meski terlempar ke dunia manusia, sepertinya seseorang telah menyegel kekuatannya sebelum hancur. Jika tidak, di dunia yang tidak memiliki kekuatan spiritual ini, cermin tersebut pasti sudah lama meledak.
“Sebenarnya mengapa benda langit seperti ini bisa sampai di sini?”
Feng Shang masih belum menemukan jawaban atas misteri di dunia ini. Perihal mengapa ia sampai di sini, perihal siapa sebenarnya Shen Yi dan mengapa ada roh dewa dalam ingatannya, perihal hawa iblis di tubuh Xiang Sun, juga perihal keanehan benda langit seperti pecahan cermin Baimeng yang tiba-tiba saja ditemukan di sini. Feng Shang merasa ada suatu jalan spiritual yang melintasi ruang dan waktu, menembus dimensi yang berbeda.
Alam di bumi berbeda dengan alam manusia fana di Tiga Alam. Jika Feng Shang berhasil menemukan jalan itu, mungkin ia bisa pulang dan menyelidiki sebab keterhubungan Alam Langit dengan tempat bernama bumi.
Tetapi sebelum itu, ia harus menemukan jati diri Shen Yi terlebih dahulu agar ia tahu keterhubungan takdir apa yang membuatnya terjerat bersama pria itu.
Ponsel Feng Shang tiba-tiba berdering. Tangan Feng Shang mengangkat ponsel itu, lalu suara di seberang sana terdengar, “Shang’er, kudengar kau menghabiskan sepuluh milyar untuk sebuah cermin kecil?”
Feng Zheng sangat heran mengapa cucunya sampai rela mengeluarkan buzzet sebesar itu untuk sebuah cermin kecil. Meskipun benda kuno, tetapi sepuluh milyar rasanya kurang pantas untuk sebuah cermin. Feng Zheng meskipun tidak akan bangkrut, tetap merasa heran. Ia berasumsi harga cermin kecil kuno itu sudah pantas berada di harga tiga milyar saja.
“Ya. Memangnya kenapa?” tanya Feng Shang.
__ADS_1
“Haish! Cermin sekecil itu apakah pantas harganya segitu?”
“Pantas. Usia cermin ini lebih tua dari yang dikatakan pengurus besar Keluarga Meng,” ucap Feng Shang.
“Oh ya? Dari mana kau tahu? Apa selama di luar negeri kau juga belajar menjadi sejarawan dan pengamat museum?”
Museum? Apa itu?
Feng Shang tidak tahu apa itu museum. Yang Feng Shang tahu cermin ini umurnya setara dengan umur penyegelan Raja Iblis. Museum itu mungkin sebuah kata benda atau kata sifat yang merujuk pada penggunaan atau deskripsi atau tempat penyimpanan cermin ini.
“Aku tahu. Itulah sebabnya aku membelinya,” Feng Shang menjawab ala kadarnya.
Terdengar helaan napas dari seberang sana. Feng Zheng masih heran, rasa penasarannya masih belum tuntas.
Akan sangat hebat jika cucunya itu ternyata belajar sejarah, karena Feng Zheng bisa memberitahu rahasia Keluarga Feng kepadanya suatu saat nanti. Feng Shang adalah cucu kesayangannya, rahasia Keluarga Feng hanya dia, sang pewaris sah yang berhak mengetahuinya.
Cucunya tidak memberi penjelasan apapun lagi. Feng Zheng menyerah, sudahlah jika cucunya menginginkan benda seperti itu.
Lagipula, ia sebagai seorang kakek tentu tidak akan menentangnya. Feng Shang sudah kehilangan orang tua, mengalami kecelakaan dan hilang ingatan, hidupnya tidak boleh sengsara lagi.
“Ya sudahlah jika kau menyukainya. Kelak, jika ingin membeli sesuatu seperti itu lagi, beritahu aku. Biar aku yang membelikannya untukmu,” ujar Feng Zheng.
Ia langsung berpikir, kakeknya mungkin bisa membantunya.
“Kakek, apa kau bisa mencarikan aku anggrek dewa dan giok roh?”
“Ah? Benda apa itu? Mengapa namanya terdengar aneh?”
Feng Shang lalu menjelaskan kalau anggrek dewa adalah sejenis tumbuhan anggrek langka yang mekar sepuluh tahun sekali. Keberadaannya tidak diketahui, tetapi belakangan ia mendengar ada seorang pedagang obat yang menemukan sebuah tumbuhan berbunga biru di puncak gunung. Anggrek dewa juga berwarna biru dan tumbuh di tempat yang sulit dijangkau. Mungkin saja tumbuhan itu adalah anggrek dewa.
Tetapi karena tumbuhan itu begitu unik, si pedagang obat menjualnya kepada seorang pengusaha kaya. Katanya, tumbuhan itu akan dipamerkan pada acara ulang tahun Pemimpin Kota Cheng tiga hari lagi. Karena dipamerkan di acara orang penting, pasti banyak orang yang mengincarnya. Akan ada prosesi tawar menawar harga yang tinggi untuk tumbuhan itu.
Feng Shang meminta Feng Zheng agar kakek tua itu bisa mendapatkan tumbuhan itu, tidak peduli berapapun harganya. Yang jelas, Feng Shang sangat menginginkan tumbuhan biru tersebut.
Feng Zheng tak kuasa menolak, jadi ia terpaksa menyetujui permintaan cucu kesayangannya. Setelah itu, Feng Shang melanjutkan dengan menjelaskan perihal giok roh.
__ADS_1
“Anggrek dewa mungkin aku bisa membantu. Tetapi perihal giok roh, sebaiknya kau saja yang mencarinya, Shang’er,” tukas Feng Zheng.
“Baiklah. Kakek dapatkan saja anggrek dewa, yang lainnya aku sendiri yang akan mencarinya.”
“Kau mengumpulkan semua ini, sebenarnya untuk apa?” Feng Zheng tiba-tiba penasaran akan tujuan cucunya mengumpulkan benda-benda langka itu.
Feng Shang terkesiap, lalu berdalih dengan mengatakan bahwa ia menyukai benda-benda langka yang memiliki aura magis dan jernih seperti itu.
Usai teleponnya ditutup, Feng Shang memusatkan konsentrasinya. Taman bunga yang dipenuhi kekuatan spiritual kemudian bereaksi, cahaya biru mengambang di udara, berputar lalu masuk ke dalam tubuh Feng Shang. Formasi pengumpul energi spiritual berputar, menarik energi spiritual dari berbagai tempat hingga jarak sepuluh mil jauhnya.
Sungguh tidak disangka, sayap feniks birunya tiba-tiba terbentuk. Sayap itu begitu indah, terbentang di taman bunga yang luasnya tidak seberapa.
Sekilas, sayap feniksnya terlihat seperti sebuah sketsa di atas kertas. Namun, sayap inilah yang ia miliki, sayap terindah di Tiga Alam.
Feng Shang juga terkejut dengan kemunculan sayapnya yang tiba-tiba. Padahal tubuhnya hanya manusia setengah dewa, namun sudah mampu menumbuhkan sayap hanya dengan setengah kekuatan spiritual. Feng Shang semakin yakin kalau tubuhnya ini juga aneh dan punya rahasia, semakin istimewa saja.
“Cahaya apa itu?” suara seorang pria yang familier terdengar begitu dekat.
Feng Shang terkesiap. Di dekat pintu masuk ke taman bunga, Shen Yi berdiri dengan wajah bantalnya. Ia mengucek kedua matanya, menyesuaikan cahaya biru yang masuk di tengah keremangan lampu taman.
Mengapa pria itu bisa bangun? Padahal Feng Shang sudah memberinya sihir tidur yang kuat. Ia tak tahu apakah sihir tidurnya sudah habis atau kekuatannya yang tidak berfungsi.
Urusannya bisa gawat kalau sampai Shen Yi mengetahui cahaya biru itu adalah sayap feniks yang membentang di malam hari.
“Feng Shang? Apa kau melihatnya? Ada cahaya biru di taman bunga yang kau sukai!” seru Shen Yi. Jelas sekali kalau pria itu sedang setengah sadar.
Shen Yi masih linglung. Apa yang ia lihat seperti nyata dan seperti mimpi. Cahaya biru itu begitu terang, membuat matanya sedikit silau. Samar-samar, ia melihat bentuk aneh terbentang di taman bunga.
“Sayap? Apa ada malaikat di rumahku?” tanyanya entah pada siapa.
Shen Yi berjalan masuk ke taman bunga. Feng Shang terdiam, berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan pada pria ini. Keadaannya masih setengah tidur, mungkin tidak terlalu berbahaya baginya. Besok, pria ini pasti akan menganggap ia sedang bermimpi saja.
Sihir tidur Feng Shang kembali menyerap ke dalam tubuh Shen Yi. Saat pria itu berbaring di rerumputan taman bunga, ada cahaya keemasan muncul dari tubuhnya, lalu menyatu dengan formasi pengumpul energi spiritual. Sayap Feng Shang yang semula terbentang ia sembunyikan.
“Hampir saja ketahuan!”
__ADS_1
Setelah itu, Feng Shang meninggalkan Shen Yi sendirian.
...***...