
“Dia menghabiskan sepuluh milyar untuk sebuah cermin kecil setelah membuatku tertidur selama berjam-jam?” tanya Shen Yi dengan nada tak percaya.
Shen Yi menatap ke arah kerumunan orang di ruang pameran. Ia juga datang pada pameran tersebut dan ikut menyaksikan pertarungan Feng Shang dengan orang-orang yang menindasnya.
Ia juga menyaksikan bagaimana Feng Shang membuat Xin Lan dan Xiang Sun tak berkutik dalam penawaran harga. Shen Yi juga menyaksikan bagaimana perempuan itu berhasil mengejutkan semua orang dengan identitas aslinya, yang tanpa ia bicarakan pun sudah dibicarakan oleh orang lain.
“Tuan, Nona Feng ini sepertinya pendendam juga,” ucap Zhang Bi.
“Apa dia masih hidup di posisi ini kalau sifatnya tidak seperti itu?” ucap Shen Yi, membuat Zhang Bi kebingungan dengan pertanyaannya.
Kalau Feng Shang tidak pendendam, ia sudah lama ditindas oleh sepupu-sepupunya. Feng Shang tidak mungkin menjadi lemah karena posisinya di Keluarga Feng tidak akan sekuat itu.
Meski Feng Zheng begitu menyayanginya, namun masih ada anak dan cucu Feng Zheng yang lain, yang mungkin saja iri padanya. Kalau Feng Shang tidak arogan dan begitu lemah, perempuan itu mungkin sudah lama mati atau menjadi gelandangan.
Shen Yi bertanya-tanya mengapa Xiang Sun juga ikut-ikutan bertaruh harga. Seorang pengusaha ambisius sepertinya tidak mungkin menginginkan benda seperti itu tanpa alasan.
Melihat Xiang Sun menawar harga hingga satu setengah milyar membuktikan kalau pria itu memiliki niat lain pada cermin ini, atau cermin ini memiliki keistimewaan yang membuat orang-orang terpikat padanya.
Tetapi syukurlah, cerminnya tidak jatuh ke tangan Xiang Sun. Sebagai musuh bebuyutan, Shen Yi tidak senang kalau saingannya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mengetahui Feng Shang berhasil membawa cermin itu, Shen Yi cukup senang. Ternyata perempuan itu cukup hebat juga.
“Direktur Feng, sungguh saya tidak tahu kalau itu Anda. Maaf atas kelancangan saya,” ucap salah seorang tamu yang tadi ikut mengatai dan meremehkan Feng Shang. Habislah sudah, setelah ini ia pasti akan mendapat masalah.
“Saya juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya keliru karena terpengaruh ucapan Nona Xin tadi,” ucap yang lain.
Begitu dan begitu terus, satu persatu meminta maaf padanya dan menunjukkan postur tubuh membungkuk yang dipenuhi ketakutan.
“Apa buktinya kalau wanita ini Direktur Feng? Dia mungkin hanya seorang wanita yang menyamar saja! Wanita yang satunya lagi pasti dibayar! Benar, keduanya pasti bekerja sama!” seru Xin Lan tidak percaya. Bagaimanapun, dia masih tidak menerima kekalahan. Wanita itu pasti hanya mengada-ngada dan ingin pamer saja.
“Nona Xin, dia adalah Nona Jingjing, yang sebelumnya merupakan sekretaris Ketua Feng dari Lingjing. Beberapa bulan lalu kami mendengar Ketua Feng menyerahkan perusahaan kepada pewaris sahnya, Nona Feng Shangyue. Saya rasa nona ini benar-benar Direktur Feng,” ucap yang lain memastikan. Terserah jika Xin Lan tak percaya kalau wanita yang ditindasnya adalah Direktur Utama Lingjing, tetapi menurutnya Jingjing sudah bisa membuktikan keaslian identitasnya.
“Tidak….Tidak mungkin!” Xin Lan masih menyangkal.
Feng Shang jadi jengah. Dua jam miliknya terbuang gara-gara meladeni wanita tidak tahu diri ini. Sudah kalah, tetapi masih ingin memojokkannya.
Menurutnya ini benar-benar memuakkan. Bahkan para dewi menyebalkan di Alam Sembilan Langit saja tidak begini. Manusia benar-benar menyebalkan.
“Jingjing, berikan sepuluh milyar pada pengurus besar Keluarga Meng. Antarkan cermin ini ke kediama Shen Yi,” ucap Feng Shang.
Ia tak mau meladeni Xin Lan lagi. Feng Shang butuh istirahat dan ingin memulihkan kekuatan di taman bunga.
__ADS_1
Jingjing menurut. Sang sekretaris mengeluarkan sebuah kartu ATM yang saldonya lebih dari lima puluh milyar. Kartu itu hanya satu dari sekian banyak kartu ATM kepunyaan Feng Shang, yang diberikan oleh Feng Zheng. Di kartu yang lain, isi saldonya jauh lebih besar. Pengeluaran kartu ATM super itu membuat mereka tercengang.
Pengurus besar Keluarga Meng lalu mempersilakan Jingjing untuk mentransferkan dana sebesar sepuluh milyar sebagai bentuk transaksi atas cermin kuno berbentuk daun.
Setelah menekan pin dan menandatangan dokumen pemindahan kepemilikan, cermin berbingkai putih tersebut sudah resmi menjadi miliki Feng Shang.
“Ah, satu lagi. Periksa kamera pengawas dan lihat siapa saja yang ikut mengataiku tadi. Putuskan segala kontrak jika mereka mengadakan kerja sama dengan Lingjing,” tukas Feng Shang. Mereka yang tadi sempat ikut mengatai Feng Shang langsung lesu. Gawat, hidup mereka telah berakhir.
Double kill, ucap Shen Yi dalam hati. Perempuan itu benar-benar menunjukkan siapa dirinya. Hanya dengan satu pukulan, ia sudah berhasil menumbangkan puluhan orang.
Shen Yi menjamin masa depan para penindas akan hancur, karena begitu berurusan dengan Lingjing, hidup mereka akan sulit.
Feng Shang meninggalkan ruang pameran. Ada urusan yang belum ia selesaikan. Feng Shang pergi ke toilet, lalu mendapati Xin Lan sedang membasuh wajahnya dengan air dan mematut dirinya di cermin. Saat mata Xin Lan melihat Feng Shang sudah ada di belakangnya, ia berteriak kaget.
“Kenapa? Tidak berani berbicara lagi?” tanya Feng Shang dingin.
Sungguh, seluruh badan Xin Lan gemetar. Aura itu muncul kembali, bahkan kini begitu dekat dan lebih kuat. Xin Lan tidak bisa bergerak, seluruh syarafnya terasa mati. Ia sudah mendatangkan masalah besar untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya. Xin Lan benar-benar ketakutan.
“Kau mau apa?” tanya Xin Lan memberanikan diri.
“Memang didikan perempuan murahan. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau hanyalah anak seorang simpanan?”
Feng Shang menyeringai. Ia tahu kehidupan Xin Lan yang sebenarnya. Saat wanita tidak tahu diri ini menghinanya tadi, Feng Shang melihat sorot kebencian yang begitu dalam dibalut keserakahan yang begitu besar.
Orang seperti itu memiliki kehidupan dinamis yang mengerikan. Pencari perhatian. Feng Shang saat itu tertawa dalam hatinya, mengetahui kalau ada iblis kecil di sudut hati Xin Lan. Jika tidak, untuk apa wanita itu repot-repot menghinanya dan mengatainya di depan semua orang.
“Xin Lan, kusarankan agar kau lebih banyak bercermin. Aku bisa mengampunimu hari ini, tetapi tidak dengan lain hari,” tegas Feng Shang sambil mendorong tubuh Xin Lan ke dekat cermin.
Setelah itu, ia pergi, meninggalkan ketakutan dan aura dingin yang membuat Xin Lan semakin membeku.
“Direktur Feng, tunggu!”
Feng Shang menghentikan langkahnya saat seseorang memanggilnya dari belakang. Feng Shang sudah sampai di landasan parkir, bersiap kembali ke kantor. Helikopternya sudah siap menjemputnya. Ia menoleh, lalu ia melihat Xiang Sun berlari menuju tempatnya berdiri.
“Direktur Feng, apa kau tidak berencana merundingkan kerja sama dengan Perusahaan Xiang lagi? Aku melihat kau begitu luar biasa,” ucap Xiang Sun langsung pada intinya.
“Aku tidak tertarik,” Feng Shang menjawab singkat.
Niat hati Xiang Sun sudah ditebak Feng Shang sejak awal mereka bertemu. Kalau bukan karena penasaran akan hawa iblis yang menyelimuti pria ini, Feng Shang sangat tidak ingin berada di dekatnya. Hawa iblis berbau busuk, membuat hidung Maharani Langit-nya perih dan gatal.
__ADS_1
Xiang Sun yang licik ini bukan hanya sekadar ingin bekerja sama, namun lebih daripada itu. Pria ini memiliki maksud lain yang tidak baik, yang membuat Feng Shang tidak ingin dekat-dekat. Tetapi, targetnya kali ini adalah dirinya. Jelas sekali kalau Xiang Sun ini menginginkan dirinya.
“Tapi, aku tertarik padamu,” ujar Xiang Sun tanpa rasa malu.
“Oh? Lalu apakah kau bisa memberitahukan berapa banyak wanita yang sudah kau tiduri kepada sepupuku? Atau, berapa banyak uang yang kau habiskan untuk membiayai perawatan rumah sakit setelah mereka menggugurkan kandungan mereka?” tanya Feng Shang.
Xiang Sun terkesiap. Dirinya tak menyangka Feng Shang mengetahui hal ini juga. Setahunya, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu kalau Xiang Sun berkali-kali menyuruh wanita yang pernah tidur dengannya untuk aborsi. Bahkan sebagian ada yang mati. Feng Ling saja hanya tahu ia suka bermain wanita, tetapi tidak tahu perbuatan keji apa yang telah ia lakukan setelahnya. Wanita ini, mengapa bisa tahu?
“Apa Direktur Feng bercanda? Aku tidak pernah melakukan itu,” elak Xiang Sun.
Feng Shang tertawa remeh. Hawa iblis sebesar itu mana mungkin datang hanya karena pria ini meniduri dan menodai banyak wanita. Selain bau busuk, Feng Shang juga merasakan aura kesedihan dan dendam, juga suara tangisan samar-samar yang bercampur dengan hawa iblis itu. Selain cabul, iblis yang ada di diri Xiang Sun ternyata tidak bertanggungjawab juga.
“Entahlah. Direktur Xiang, kau jalani saja hubunganmu dengan baik. Jangan biarkan kakekku kembali marah karena masalah kalian berdua,” pungkas Feng Shang. Setelah itu, ia tak lagi menghiraukan Xiang Sun.
Ada dua helikopter yang terparkir di landasan gedung. Satu helikopter adalah milik Feng Shang, sedang yang satunya lagi adalah helikopter yang pernah dinaiki Feng Shang. Feng Shang berdecak tak percaya.
“Dia ada di sini tetapi tidak membantuku sama sekali? Shen Yi si bodoh menyebalkan itu, akan kuberi kau pelajaran kembali!”
“Jingjing, kau bawa helikopter ini kembali ke kandangnya!”
Pilot helikopter Shen Yi terkejut ketika penumpangnya berubah menjadi seorang wanita. Namun, pilot
tersebut lalu merubah ekspresinya ketika ia melihat wajah wanita itu. Sang pilot berpikir mungkin presdirnya menyuruh wanitanya naik lebih dulu. Benar-benar romantis.
“Nyonya, kita akan pergi ke mana?” tanya pilot.
“Kembali ke rumah!”
“Apa tidak akan menunggu Tuan Shen kembali dulu?”
“Dia sudah pergi.”
Pilot tidak bertanya lagi. Baling-baling helicopter berputar dan terbang ke langit, meninggalkan gedung pameran yang semakin terlihat kecil dari ketinggian sekian ribu kaki. Feng Shang anteng melihat dari jendela, membiarkan dirinya menikmati pemandangan kota yang sibuk di bawah sana.
Sementara itu, Shen Yi kebingungan saat ia tak melihat helikopternya terparkir di landasan gedung. Aneh, jelas-jelas tadi ia menyuruh pilotnya diam di sini.
“Di mana helikopterku?” tanya Shen Yi pada Zhang Bi. Zhang Bi kemudian menggeleng tak tahu. Seorang petugas keamanan kemudian berlari menghampirinya, lalu memberitahukan kalau seorang wanita telah naik dan helikopternya sudah terbang beberapa menit lalu.
“Tuan, sepertinya Nona Feng balas dendam padamu,” ucap Zhang Bi. Ekspresi Shen Yi berubah drastis. Ia berteriak, “Apa dia tidak punya pekerjaan selain mengerjaiku terus menerus?”
__ADS_1
...***...
...Haloo pembaca kesayangan! Otor balik lagi! Hehehe... Oh ya, performa cerita yang satu ini emang nggak sebagus cerita sebelumnya. Mungkin, ada yang bosen kali ya dengan cerita yang itu-itu terus, hehe. Tapi tenang, Otor nggak akan ngegantung cerita ini kok, karna digantung itu kan nggak enak ya wkwk. Jadi, enjoy with this story, dan stay tune terus ya! Salam hangat dari Otor yang suka plin-plan nulis ini! ...