
Sore itu, Xiang Sun meminta Feng Ling untuk bertemu dengannya di kafe. Xiang Sun dan Feng Ling sudah lama berhubungan dan kedua keluarga sudah mengetahuinya. Mereka sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan asmara sejak tujuh tahun lalu sejak mereka masih duduk di bangku sekolah.
Pada awalnya, hubungan mereka terlihat begitu harmonis. Xiang Sun dan Feng Ling di mata semua orang adalah sepasang kekasih yang serasi dan saling mencintai. Keduanya rukun, tidak pernah bertengkar. Namun, empat tahun lalu entah mengapa segalanya menjadi berubah. Ada banyak hal yang terlihat berbeda, banyak yang telah berubah.
Mungkin, kejadian itu berawal saat Xiang Sun gagal mendapatkan kontrak kerja sama karena didahului oleh Perusahaan Xize. Xiang Sun dimarahi habis-habisan oleh ayahnya, dikatai anak yang tidak berguna dan bodoh. Karena tidak ada yang bisa ia marahi, Xiang Sun melampiaskannya pada Feng Ling.
Dia membentaknya dan mengatakan beberapa perkataan kejam pada Feng Ling. Bukannya menangis, Feng Ling justru balik memarahi Xiang Sun.
Sejak itulah keduanya kerap bertengkar, beradu mulut bahkan untuk hal-hal sepele. Namun, hubungan mereka tetap bertahan hingga sekarang. Saat ini, Xiang Sun tengah menunggu kedatangan Feng Ling dengan kesal. Wanita itu terlambat satu jam dari waktu yang telah dijanjikan.
Xiang Sun melihat Feng Ling memasuki restoran, lalu mengamatinya hingga wanita itu sampai di mejanya. Feng Ling khawatir akan sesuatu, firasatnya mengatakan sore ini tidak akan dilalui dengan baik. Tidak biasanya kekasihnya mengajak bertemu secara mendadak.
“Semakin lama kau semakin lambat!” gerutu Xiang Sun.
“Cih… Siapa yang meyuruh bertemu secara mendadak?”
Xiang Sun memalingkan mukanya. Pelayan kafe datang menanyakan menu. Sepasang kekasih yang seperti musuh memesan menu yang sama. Sambil menunggu makanan mereka datang, Xiang Sun langsung bertanya pada Feng Ling perihal tindakan Feng Zheng yang tiba-tiba memutuskan kontrak dengan perusahaannya.
Dugaan Feng Ling benar. Kekasihnya memanggilnya untuk membicarakan masalah pemutusan kontrak kerja sama. Gadis muda itu bingung harus menjelaskan apa, karena kakeknya tiba-tiba mengubah keputusan.
Dia juga bukan tidak berusaha mencegah, namun semua orang di kota ini tahu seperti apa temperamen Feng Zheng, sang pemilik Perusahaan Lingjing.
“Mempertahankan hal kecil saja begitu sulit. Feng Ling, apa kau benar-benar sudah berusaha?” tanya Xiang Sun yang tidak puas dengan jawaban Feng Ling.
“Aku sudah membantumu membujuk kakek agar dia mau bekerja sama denganmu. Di luar itu, semuanya bukan urusanku.” Feng Ling melawannya.
“Bodoh. Kapan kau akan bertindak pintar? Apa harus menunggu kakak sepupumu mengusirmu dulu baru kau akan berpikir?”
Mendapat provokasi dari Xiang Sun, Feng Ling yang belum dewasa langsung marah. Dirinya tidak terima dikatakan bodoh. Sudah empat tahun lamanya dia berusaha bertahan dengan hubungan yang tidak sehat ini.
Xiang Sun semakin lama semakin semena-mena terhadapnya. Tidak jarang pria itu memukulinya ketika pertengkaran mereka berlangsung sangat sengit.
Feng Ling ingin mengakhirinya hari ini. Masa bodoh dengan kenangan tujuh tahun yang sudah terukir itu. Kalau begini terus, dia bisa mati bunuh diri.
Feng Ling pikir Xiang Sun akan berubah seiring waktu, nyatanya itu hanya khayalan yang dia buat untuk menghibur dirinya sendiri. Satu hal yang pasti, Xiang Sun tidak akan berubah sampai dia mati.
“Cukup! Aku sudah tidak tahan lagi! Mengapa tidak kita akhiri saja hubungan ini?” ucap Feng Ling dengan emosi yang meledak-ledak.
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
“A-Sun, kau terus menerus memanfaatkanku. Tapi apa kau pernah berpikir apa yang aku rasakan? Kau memarahiku dan mengataiku setiap kali kau marah. Apa kau pernah menghargai kerja kerasku untuk mempertahankanmu?”
Xiang Sun mengusap wajahnya dengan kasar. Rasanya, selalu seperti ini setiap kali bertemu. Xiang Sun tidak pernah berpikir mengakhiri hubungan ini. Ia punya alasan tersendiri mengapa dirinya bersikeras mempertahankan hubungan yang tidak sehat tersebut.
Baginya, masalah kebahagiaannya nomor sekian. Yang terpenting bisnisnya berjalan lancar dan dia bisa menjadi raja bisnis di Kota Cheng, mengalahkan Shen Yi dari Xize.
Ia dan Shen Yi sudah lama bermusuhan. Xiang Sun kerap bersaing dengan Shen Yi, berlomba-lomba menampilkan siapa yang terbaik. Dunia bisnis itu kejam, cara licik dibilang wajar. Xiang Sun ingin tahu apakah pembatalan kontrak ini ada hubungannya dengan saingannya atau tidak.
"Baik. Kau tenanglah," ucap Xiang Sun mencoba menenangkan Feng Ling yang sudah emosi.
"Ling'er, apa Lingjing sengaja memutuskan kontrak dengan Xiang dan bekerja sama dengan Xize?"
Feng Ling mengatur napasnya. Dia mengangguk.
Xiang Sun sudah menduganya. Feng Zheng si ketua tua itu begitu menyayangi cucu pertamanya. Di Kota Cheng, sudah bukan keasingan jika tersiar kabar bahwa Feng Zheng menggunakan segala cara untuk membahagiakan cucu pertamanya, Feng Shang.
Setelah Xiang Sun mendapat kabar kalau Feng Zheng menyerahkan perusahaan kepada Feng Shang, ia sudah yakin bahwa ini ada hubungannya dengan Xize. Xiang Sun tahu beberapa hari lalu, Shen Yi mengembalikan Feng Shang kepada Feng Zheng.
"Jika kau menginginkannya, pergi kepada kakak sepupuku saja! Aku tidak peduli lagi!" Entah mengapa emosi Feng Ling kembali meledak begitu ia mengingat Feng Shang.
Kembalinya cucu kesayangan kakeknya itu membuatnya kesal setengah mati. Bagaimana tidak, dia dan seluruh keluarganya selalu menjadi sasaran kemarahan sang kakek ketika Feng Shang tidak ada. Sekarang sudah ada pun dirinya masih menjadi objek sasaran kemarahan.
Bagi Feng Ling, Feng Zheng terlalu pilih kasih. Apapun tentang Feng Shang selalu lebih penting ketimbang yang lain, padahal dia dan Feng Shang sama-sama cucunya.
"Mengapa kau begitu keras kepala?" bentak Xiang Sun.
"Karena kau tidak pernah menghargai kerja kerasku!"
Pertengkaran mereka terdengar sampai ke lantai bawah. Satpam penjaga hendak naik untuk melerai, namun entah mengapa Feng Ling tiba-tiba tidak sadarkan diri. Selalu seperti ini.
Setiap kali emosi Feng Ling meledak dan ingin mengakhiri hubungannya dengan Xiang Sun, dia akan pingsan setelah beberapa detik. Ketika terbangun, dia akan melupakan perkataannya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Satpam penjaga tidak jadi naik karena Xiang Sun menggendong tubuh Feng Ling menuruni tangga, lalu keluar dari kafe dengan tergesa. Dia menyuruh manajernya mengantar Feng Ling kembali ke rumah.
Sebelum itu, Xiang Sun mengusap wajah Feng Ling terlebih dahulu, lalu membiarkan manajernya membawanya pergi.
"Jangan pernah berpikir untuk berpisah denganku."
Ia sendiri pergi ke klab untuk bersenang-senang. Tipikal laki-laki sepertinya, yang memiliki harta kekayaan dan posisi, memang tidak pernah puas hanya dengan satu wanita. Di klab itu, Xiang Sun menghabiskan waktunya bersama dua orang wanita cantik, menikmati musik sambil minum minuman keras.
__ADS_1
Sesekali tangannya menyelinap ke dalam rok mini kedua wanita, atau beralih menjelajahi bagian tubuh yang lain. Xiang Sun adalah tipikal laki-laki brengsek, namun Feng Ling malah terjerat dengannya. Seakan lupa pada masalahnya hari ini, Xiang Sun malah semakin larut dalam kesenangannya.
...***...
Malam ini, Shen Yi dan Feng Shang duduk di sofa, memandangi lembaran kertas putih berisi perjanjian yang harus ditandatangani keduanya. Sebagai pemilik rumah, Shen Yi berhak menentukan batasan yang tidak boleh dilanggar oleh Feng Shang selama perempuan itu tinggal di sini. Feng Shang juga berhak memberikan batasan kepada Shen Yi agar keduanya tidak saling mengganggu di masa depan.
“Sepakat?” tanya Shen Yi. Feng Shang mengangguk setuju.
“Sepakat.”
Masing-masing dari mereka menyimpan satu salinan. Karena hari sudah malam, Shen Yi langsung naik ke lantai dua. Pria itu tidak ingin bekerja lembur malam ini.
Tubuh dan pikirannya lelah karena harus mengurusi hasil perbuatan Feng Shang yang melanggar lalu lintas dan berkendara dengan cara yang tidak benar.
Feng Zheng sempat menelponnya karena melihat headline berita. Kakek tua itu menanyakan bagaimana kondisi cucu kesayangannya. Setelah dijelaskan dengan detail bahwa perempuan itu tidak apa-apa, barulah Feng Zheng berhenti merecokinya. Lalu, dia kemudian mendapat kiriman dana untuk mengganti kerusakan mobil dan kerugian lainnya.
Sementara itu, Feng Shang menikmati malamnya di taman bunga. Aura spiritual taman ini begitu menyegarkan hingga Feng Shang merasa seperti pulang ke Alam Sembilan Langit.
Meski tidak terlalu kuat, namun itu cukup untuk memulihkan kekuatannya yang sempat hilang. Perempuan itu duduk di hamparan rumput hijau yang tumbuh subur.
Jelmaan Maharani Langit memusatkan pikirannya. Karena sekarang ia tinggal di sini, dia harus memaksimalkan performa spiritual taman ini dengan menambah energi.
Sebuah sinar biru memancar dari tubuhnya ke langit malam, lalu membentuk sebuah lingkaran biru raksasa yang di tengahnya terdapat corak bintang dan corak sayap feniks beraturan.
Lingkaran biru raksasa tersebut berputar perlahan, lalu sumber energi spiritual dari segala tempat di Kota Cheng ini mulai berkumpul mengitarinya. Itu adalah sebuah formasi pengumpul energi spiritual yang dibuat oleh Feng Shang agar kestabilan aura spiritual di taman bunga tetap terjaga.
Dengan adanya formasi, bukan hanya taman bunga yang memiliki aura spiritual, tetapi seluruh tempat di rumah ini menjadi tempat yang nyaman digunakan untuk berkultivasi.
Feng Shang juga menambahkan formasi tambahan. Corak sayap feniks di dalam formasi lingkaran biru adalah formasi pelindung, yang mencegah hawa buruk. Dengan begitu, rumah ini akan terasa sangat nyaman ditempati.
Hanya Feng Shang yang dapat melihat dan mengendalikan kedua formasi itu. Jika kekuatannya sudah sepenuhnya pulih, Feng Shang bahkan bisa membuat formasi di atas Kota Cheng.
Pembuatan formasi membuat tubuhnya sedikit lelah. Memang, tubuh manusia setengah dewanya selemah itu. Feng Shang naik ke lantai dua, menikmati sejenak suasana malam di Kota Cheng yang ramai. Cahaya bulan saat itu sedang terang. Mata Feng Shang tiba-tiba menangkap sesuatu yang sangat mengejutkan.
Di bawah cahaya bulan, dia melihat seberkas cahaya hitam terbang ke sebuah tempat yang sangat ramai dan berisik. Feng Shang tidak bisa memprediksi tujuan cahaya itu karena kekuatannya baru saja digunakan untuk membentuk formasi. Satu hal yang pasti, cahaya hitam itu bukan sesuatu yang baik.
Feng Shang bergumam,
“Hawa iblis?”
__ADS_1
...***...