
Lima kilometer dari lokasi gedung Xize, terdapat sebuah sirkuit pribadi milik Xize yang dikelola oleh sebuah perusahaan. Sirkuit itu memiliki standar internasional, namun tidak dibuka untuk umum. Tempat itu hanya digunakan husus untuk orang-orang dari Xize, atau dari keluarga Perusahaan Xize yang ingin melakukan hobinya di sana.
Feng Shang memiliki akses ke sirkuit itu karena ia mengambil sebuah kartu akses dari Shen Yi saat pria itu sedang tertidur. Dengan adanya kartu tersebut, ia bebas keluar masuk sirkuit sesuka hati, juga bebas menggunakan semua fasilitas yang ada di sana. Para pengurus sirkuit memanggilnya "Nyonya Muda" karena melihat ia memiliki kartu Shen Yi.
Feng Shang memilih sebuah mobil balap berwarna hijau muda, sementara Jiang Li memilih mobil balap berwarna merah cerah. Kali ini, Feng Shang yakin sudah menguasai teknik menyetir setelah belajar beberapa saat. Baginya, ini hal mudah. Di Alam Sembilan Langit, ia adalah penunggang hewan spiritual tercepat di Tiga Alam, tidak ada yang bisa menandinginya.
"Direktur Feng, Direktur Jiang, apa kalian sudah siap?" teriak si petugas. Feng Shang dan Jiang Li serentak menjawab, "Ya!"
Begitu bendera dijatuhkan, keduanya melaju bagaikan kilat. Angin yang ditimbulkan akibat kecepatan tinggi tersebut membuat si penjaga sempoyongan sambil mengedipkan matanya. Ia tidak menyangka kalau kedua direktur yang dekat dengan Presdir Shen begitu hebat, berani beradu balap di sirkuit ini.
Mobil Feng Shang sudah melaju sejauh seratus kilometer dalam waktu kurang dari empat puluh detik, meninggalkan Jiang Li yang masih ada di jarak lima puluh kilometer. Ia melewati setiap tikungan dengan lancar, lalu menancap gas saat melewati jalan yang lurus. Deru mesin berdengung di telinga, suara gesekan ban dengan aspal seperti alunan kecapi.
Feng Shang sudah melewati satu putaran dalam waktu yang sangat singkat. Si petugas berdecak tak percaya. Rupanya, wanita kerabat presdir mereka begitu hebat. Andai saja dia laki-laki, mungkin sudah menjadi pembalap F1 yang hebat, yang selalu juara di setiap pertandingan. Feng Shang seperti setan jalanan, melanglang aspal seperti berenang di sungai berair jernih.
"Di mana Direktur Feng?" tanya seseorang. Si petugas terkejut.
"Presdir Shen?"
"Di mana perempuan itu?"
"Itu... Direktur Feng baru saja melewati satu putaran sirkuit," jawab si petugas ragu.
Shen Yi mengusap wajahnya dengan kasar. Wanita ini! Tidak bisakan ia membuatnya tenang satu hari saja?
Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi? Bagaimana kalau dia mengalami kecelakaan yang hebat? Apa perempuan itu benar-benar ingin mati?
Beberapa saat yang lalu ia sedang rapat, lalu Zhang Bi memberitahunya kalau Direktur Feng dan Direktur Jiang pergi ke sirkuit untuk balapan dengan alasan bosan. Shen Yi menggebrak meja, mengejutkan dewan direksi dan membuat mereka bertanya-tanya. Pada akhirnya, ia menyerahkan rapat tersebut pada Zhang Bi dan bergegas kemari.
Tapi perempuan itu ternyata benar-benar sudah turun ke jalan!
Shen Yi hendak menyusul. Si petugas menghalangi, mengatakan kalau resiko mengalami kecelakaan sangat tinggi jika ia masuk secara mendadak. Lagipula, setelah ia masuk, memangnya ia bisa mengejar Feng Shang? Perempuan itu bukan perempuan sembarangan dengan kemampuan abal-abal. Dia bukan anak kemarin sore yang pamer kehebatan, tapi seseorang yang terlahir dengan keistimewaan.
Shen Yi akhirnya memutuskan menunggu sampai selesai. Ia pergi ke bagian dalam sirkuit, tempat istirahat para pembalap. Di sana, ia dilayani dengan sangat baik. Sambil menonton di layar besar, ia memperhatikan laju mobil Feng Shang dan Jiang Li yang saling berkejar-kejaran.
__ADS_1
Sementara itu di arena, Feng Shang sudah melewati putaran kedua. Tinggal satu putaran lagi, maka balapan ini akan selesai. Hatinya berteriak gembira karena sudah lama sekali ia tidak merasakan sensasi menantang seperti ini. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia beradu kehebatan dalam hal kecepatan dengan orang lain. Rasanya ini begitu menyenangkan!
Kemudian, putaran ketiga selesai. Feng Shang turun dari mobil sebagai pemenang. Ketika ia membuka helm, rambutnya yang terurai bergerak terbawa angin. Feng Shang membuang napas, merasakan sisa-sisa menantang dari arena. Beberapa menit kemudian, Jiang Li menyusul sebagai pemenang kedua. Saat sudah turun dari mobil, Jiang Li menghela napas.
"Direktur Feng, Anda benar-benar hebat!" puji Jiang Li. Feng Shang tersenyum bangga. Ia menyimpan helmnya, lalu menyerahkan kunci mobil pada petugas diikuti Jiang Li.
"Kau juga hebat. Kau cukup sepadan bersanding dengan Shen Yi," ucap Feng Shang.
Jiang Li tertegun. Apa katanya tadi? Cukup sepadan?
"Bukankah kau menyukai Shen Yi sejak lama?"
Jiang Li terdiam. Entah mengapa rasanya atmosfer berubah dengan cepat. Ia merasakan perubahan suasana hati dan emosi yang begitu besar terpancar dari diri Feng Shang, yang menatapnya dengan riang dan penuh senyuman. Hatinya mengatakan kalau perempuan itu memiliki maksud lain dalam ucapannya, sesuatu yang mungkin akan mempengaruhi kehidupannya.
"Tujuanmu membawaku kemari bukan untuk sekadar balapan, bukan?" Jiang Li memberanikan diri bertanya.
Feng Shang menggelengkan kepala tanpa melepas senyumannya.
"Tidak. Aku benar-benar bosan. Direktur Jiang, apa kau berpikir berlebihan?" tanya Feng Shang.
"Lalu, apa maksud pertanyaanmu tadi?"
"Sederhana saja. Kau menyukai Shen Yi. Aku hanya ingin memberitahumu, jangan pernah mencoba melakukan apapun padanya. Menyukai dia adalah urusanmu, tetapi jika kau sampai mengganggu kehidupannya, maka itu menjadi urusanku," tegas Feng Shang.
Petugas lain yang melihat mungkin akan berpikir: Istri sah sedang memperingati selir!
"Beberapa waktu lalu, kau menemui Feng Ling dan menceritakan keadaanku padanya. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Tetapi kalau itu berdampak pada Shen Yi, aku tidak yakin akan bisa menolongmu. Jadi, Direktur Jiang, jangan pernah berbuat macam-macam. Jadilah rekan dan sahabat yang baik untuk Shen Yi," tambah Feng Shang.
Jiang Li menghela napas. Ia sudah salah menilai rupanya. Tindakannya yang menemui Feng Ling ternyata diketahui. Padahal, ia hanya menceritakan bagaimana Feng Shang saat berada di kantor saja, karena saat di rumah ia tidak mengetahuinya. Ia juga bukan orang kurang kerjaan yang menguntit Shen Yi ke mana-mana meskipun menyukainya.
"Direktur Feng, kau benar-benar hebat," ucap Jiang Li. Ia mengagumi kemampuan Feng Shang.
"Aku juga belum berterima kasih atas pertolonganmu tempo hari. Direktur Jiang, terima kasih."
__ADS_1
Jiang Li terkejut. Seorang direktur Lingjing berterima kasih padanya setelah sedikit memperingatkannya?
"Kau masih mengingatnya?" tanya Jiang Li.
Feng Shang mengangguk masih dengan senyum yang sama. Ia bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Meskipun posisinya begitu tinggi, ucapan terima kasih dan kata maaf bukanlah sesuatu yang mahal yang pantang diucapkan. Jauh dari itu, ia tahu betul kalau Jiang Li benar-benar tulus pada Shen Yi. Feng Shang hanya ingin mengujinya saja.
"Direktur Feng, kau sungguh orang yang sangat menarik. Lain kali, jika kau bosan, kau masih bisa mengajakku balapan seperti ini," tukas Jiang Li.
"Tentu."
Kemudian, keduanya dikejutkan dengan suara teriakan seseorang yang begitu menggelegar di sirkuit yang sepi. Keduanya menoleh ke sumber suara, lalu mendapati Shen Yi berjalan cepat dengan wajah merah padam.
"Xiao Shang! Apa kau benar-benar sudah bosan hidup?" tanya Shen Yi dengan suara tertahan.
"Aku bilang aku bosan. Jadi, aku kemari."
"Perempuan bodoh, kapan kau akan pintar? Apa kau pikir nyawamu ada sembilan? Apa kau pikir balapan seperti ini adalah sesuatu yang bisa kau lakukan sembarangan? Bagaimana jika kau mengalami kecelakaan? Bagaimana jika kau terluka parah, apa kau masih bisa menyunggingkan senyum seperti tadi?" tanya Shen Yi bertubi-tubi.
Feng Shang merasa dirinya sedang dimarahi. Ia menatap Shen Yi dengan tajam, tapi tatapan pria itu juga tak kalah tajam. Keduanya saling bertatapan. Jiang Li memperhatikan, merasa kalau perang dunia akan terjadi. Ia bergerak mundur, hendak menjauh dari Feng Shang dan Shen Yi. Namun, pergerakannya terhenti karena mobil balapnya menghalangi.
"Kau...Mengkhawatirkanku?" tanya Feng Shang setelah ia berpikir beberapa saat.
"Tidak. Aku hanya tidak punya penjelasan yang harus kuucapkan jika Ketua Feng menanyaiku nanti," elak Shen Yi. Feng Shang berdecak. Mengakuinya mengapa begitu susah?
"Sekarang, pulang!" seru Shen Yi.
"Tidak mau!"
"Xiao Shang, pulang!"
"Oh. Baiklah."
Shen Yi menggamit pergelangan tangan Feng Shang, lalu perlahan menghilang di balik pintu keluar. Jiang Li masih memperhatikan mereka. Ia heran mengapa Feng Shang yang begitu galak bisa berubah seperti harimau kertas yang penurut setelah berdebat dengan Shen Yi.
__ADS_1
"Mereka berdua barulah pasangan yang sepadan," ucapnya sambil meninggalkan arena sirkuit.