Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 44: Trik


__ADS_3

Kediaman Xiang Sun.


Feng Ling terbangung dalam keadaan linglung. Keadaan di sekitarnya tampak familier, tetapi yang jelas ini bukan di Kediaman Feng. Ia melirik pakaian, semuanya masih lengkap. Kemudian, Feng Ling melirik ke samping, tampak Xiang Sun tengah duduk di kursi menghadap cermin. Saat itu pula, Xiang Sun berbalik, menyunggingkan senyumnya kepada Feng Ling.


"Apa yang terjadi?" tanya Feng Ling bingung. Seingatnya, ia sedang menandatangani kontrak kerja sama dengan sebuah perusahaan atas nama ayahnya. Mengapa ia berakhir di sini?


"Kau pingsan. Aku membawamu kemari karena kau terus berteriak memakiku dan kakak sepupumu," jawab Xiang Sun.


Feng Ling mencoba mengingat. Apa dia mabuk? Barusan Xiang Sun berkata kalau ia memakinya dan Feng Shang. Itu tidak akan terjadi jika ia dalam keadaan sadar. Tetapi, ia tidak ingat kapan ia minum.


"Benarkah?"


"Benar. Ah, kita sudah sepakat. Kau bantu aku mendapatkan Feng Shang, aku akan membantumu mendapatkan Lingjing."


"Caranya?"


Xiang Sun kemudian menerangkannya pada Feng Ling. Sesekali Feng Ling mengangguk, lalu menatap curiga pada kekasihnya. Pasangan gila itu berdiskusi tentang Feng Shang. Feng Ling tidak menginginkan Lingjing, ia hanya tidak suka melihat Feng Shang menjadi yang pertama. Kalau Lingjing jatuh ke tangannya, ia akan mengembalikannya pada Feng Zheng, lalu menikmati hidupnya sendiri dengan membuang marga Feng.


Sedangkan bagi Xiang Sun, tidak peduli bagaimana akhirnya, ia hanya harus memastikan Feng Shang jatuh ke tangannya. Dengan begitu, ia bisa memulai penyempurnaan tubuh dan membangkitkan kekuatannya, hingga ia menjadi yang terkuat. Nanti, ia akan membuat Feng Ling menjadi pelayannya setelah mendapatkan darah sucinya.


Xiang Sun menyerahkan sebuah botol kecil berwarna hitam pada Feng Ling. Pria itu mengatakan bahwa Feng Ling harus membukanya ketika bertemu Feng Shang nanti. Ia berjanji bahwa mulai saat itu, Feng Shang pasti tidak akan memiliki hari yang baik. Xiang Sun berpesan ketika sudah ada pengaruh, Feng Ling harus membujuk Feng Shang agar datang kepadanya.


Feng Ling dengan senang hati menerimanya. Apapun yang bisa menghancurkan Feng Shang, ia pasti akan menerimanya.


Setelah bersiap, ia segera meninggalkan Kediaman Xiang dengan gembira.


Sementara itu, Feng Shang tengah menikmati waktu luangnya di ruangan kerjanya. Ia sebenarnya tidak perlu datang, tetapi rasanya sungguh membosankan berada di rumah terus menerus. Shen Yi tidak membiarkannya berkeliaran sembarangan. Pria itu hanya memberinya izin berdiam di rumah, ke kantor, atau ke Kediaman Feng. Sisanya, ia tidak diperbolehkan keluar.


Feng Shang menerbangkan beberapa peralatan di ruangannya dengan sihir, memutarnya seperti mainan. Tidak lupa sebelum itu ia sudah mematikan kamera pengawas dan mengunci pintu. Feng Shang tidak mengizinkan siapapun mengganggunya.


"Alam Sembilan Langit tetap yang terbaik. Tidak ada pagoda langit atau hewan spiritual yang bisa kuajak bermain," keluh Feng Shang. Ia tiba-tiba sangat merindukan rumahnya.


"Sebenarnya kapan aku bisa kembali?"


Feng Shang menghela napas berkali-kali. Meskipun kekuatannya pulih, ia masih tidak bisa membuka jalan menuju alam dewa. Setiap kali mencoba, sihirnya membias dan menyerap kembali ke dalam tubuh. Bahkan setelah ia memusatkan pikiran dan mengubungkan jiwanya dengan tubuh aslinya di Alam Sembilan Langit, jalan menuju ke sana tetap tidak terbuka.


Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Shen Yi?


Saat di Alam Ketiadaan, roh Dewa Chang Yuan mengatakan bahwa ia harus menjalani takdirnya, membawa kembali Dewa Agung Yongheng dan membangkitkannya. Tetapi, jika ia melakukannya, maka Shen Yi akan mati. Dewa Agung Yongheng yang bangkit tidak akan mengingat siapa dirinya sebelum ia terbangun. Nama Shen Yi mungkin hanya sebuah ilusi.

__ADS_1


Telepon berdering saat ia asyik melamun. Semua pemikirannya buyar, lalu ia menggeram kesal. Feng Shang mengangkat telepon, terdengarlah suara Jingjing dari luar ruangan.


"Direktur Feng, Nona Feng Ling ingin bertemu denganmu. Apa kau akan menemuinya?"


"Tidak."


Feng Shang menutup teleponnya. Kemudian, telepon itu berdering lagi.


"Direktur Feng, Nona Feng ingin bertemu. Dia tetap akan menunggu sampai Anda mau menemuinya," terang Jingjing.


"Aku tidak peduli."


Telepon ditutup kembali. Beberapa detik kemudian, telepon itu berdering lagi untuk yang ketiga kalinya.


"Direktur Feng, Nona Feng tetap memaksa," ucap Jingjing frustasi.


"Masa bodoh."


Telepon ditutup lagi. Lima detik kemudian, telepon berdering lagi. Feng Shang mengangkat dengan kesal, lalu berteriak, "Biarkan dia masuk!"


Setelah itu, ia membanting teleponnya. Barang-barang melayang kembali ke tempatnya. Lima menit kemudian, Feng Ling masuk diantar Jingjing. Raut wajah perempuan itu begitu aneh di mata Feng Shang. Ia yakin Feng Ling datang untuk mencari masalah dengannya.


"Satu menit. Katakan apa yang mau kau sampaikan," tegas Feng Shang.


Feng Ling mendecih. Kakak sepupunya benar-benar sombong. Aura permusuhan menguar di ruangan itu. Aura gelap memenuhi udara, membuat siapapun akan lari ketakutan. Dua cucu Feng Zheng tengah beradu pengaruh di ruangan yang sama, saling melempar emosi lewat tatapan dan ekspresi wajah.


"Kakak sepupu, bagaimana kabarmu?" tanya Feng Ling basa-basi.


"Katakan untuk apa kau datang kemari. Aku tidak punya waktu meladeni rubah betina kecil sepertimu," cibir Feng Shang.


"Kenapa begitu? Apa kakak masih marah padaku?"


Feng Shang tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya ke samping, menghindari kontak mata dengan sampah kecil itu. Entah mengapa firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Aku kemari untuk mengantarkan ini. Seseorang memberitahu kalau akhir-akhir ini kau sangat sibuk bekerja. Tubuhmu mungkin kelelahan. Isi dari benda ini mungkin bisa memulihkan energimu," ucap Feng Ling. Ia menyodorkan botol kecil hitam pemberian Xiang Sun.


"Tidak perlu. Aku punya tubuh cukup kuat untuk menahan energiku," Feng Shang menolak.


"Benarkah? Kakak sepupu belum mencobanya. Bagaimana kau tahu khasiat dari isi botol ini jika tidak membukanya?"

__ADS_1


Feng Shang menatap curiga.


"Apa yang mau kau lakukan?"


"Membantu kakak sepupu."


Dengan gerakan cepat, Feng Ling membuka tutup botol itu. Kepulan kabut berwarna hitam keluar dari mulut botol, kemudian menyebar ke udara. Feng Shang menatap marah pada Feng Ling, ia tidak menyangka perempuan sampah kecil itu membawa benda tersebut untuk mencelakainya.


"Hawa iblis," desis Feng Shang.


Hawa iblis pemberian Xiang Sun memiliki karakteristik yang sama dengan hawa iblis yang tertinggal di tubuh mayat salah satu karyawannya yang terbunuh tempo hari. Hawa iblis itu begitu kuat, membuat Feng Shang merasa sedikit sesak. Aura membunuh menguar, matanya menyala menatap Feng Ling. Perlahan, Feng Shang menghampiri Feng Ling yang sepertinya juga terkejut.


"Xiang Sun benar. Isi botol ini mampu mempengaruhimu," ucap Feng Ling sambil tersenyum puas.


"Sampah kecil! Berani kau mempermainkanku?"


Dengan kekuatannya, Feng Shang mengangkat tubuh Feng Ling ke udara. Feng Ling terkejut saat mendapati kakinya tidak menapak di tanah. Ia melirik Feng Shang, ada aura membunuh yang begitu besar muncul dan mata itu begitu menyala seterang matahari. Tubuh Feng Ling bergetar, ia mulai ketakutan.


Feng Shang melempar tubuh Feng Ling ke pintu. Terdengar suara benturan yang lumayan keras saat punggung Feng Ling menabrak pintu itu. Ia tersungkur sambil batuk, seluruh tubuhnya terasa nyeri. Tak jauh darinya, Feng Shang masih berdiri, menatapnya dengan mata menyala.


"Ternyata benar! Kau bukan Feng Shangyue! Kau bukan kakak sepupuku!" teriak Feng Ling. Sebenarnya, ia sangat ingin melarikan diri.


Feng Shang melempar Feng Ling sekali lagi. Kali ini perempuan itu tersungkur di dekat meja. Semakin lama, aura membunuh semakin besar. Feng Ling hampir tidak punya tenaga untuk bangun.


"Keluar!" seru Feng Shang.


Dengan sisa tenaganya, Feng Ling berjalan lambat. Tubuhnya sangat nyeri, ia seperti terjatuh dari tempat yang tinggi. Tetapi, ia puas karena berhasil membuktikan kalau Feng Shang bukan kakak sepupunya. Jika ia bisa keluar, ia akan memberitahukan ini kepada Feng Zheng dan semua orang.


Tetapi, Feng Ling sama sekali tidak tahu kalau itu tidak akan terjadi. Yang ada dia bisa terbunuh jika menyebarkan hal tersebut. Hal terpenting untuk Feng Shang saat ini adalah menyingkirkan hawa iblis ini agar tidak menyebar keluar ruangan, atau manusia-manusia yang ada di Lingjing akan mati. Hawa iblis bisa membunuh manusia fana ketika mengenai tubuh.


Karyawan-karyawan terkejut saat melihat Feng Ling keluar dari ruangan direktur mereka dalam keadaan payah. Ia berjalan terseok-seok. Seseorang menawarkan bantuan, tetapi Feng Ling menolaknya dengan tegas. Dengan langkah yang sangat berat, ia berusaha mencapai pintu dan menuju lift.


Di dalam ruangan, Feng Shang mengeluarkan sihir Maharani Langit-nya untuk memurnikan hawa iblis dan menyingkirkannya. Meskipun dadanya terasa sesak, tetapi menyelamatkan nyawa manusia lebih penting. Sihir murninya keluar, menembus gumpalan kabut hitam yang hanya terlihat di dalam ruangannya, membubarkannya dan menyatukannya ke dalam udara.


Ketika hawa iblis perlahan sirna, Feng Shang batuk. Mulutnya mengeluarkan darah. Penggunaan sihir murni akan melukai tubuhnya. Ia tidak sadar ketika ia menggunakan sihir murni, tanda feniks di dadanya menyala dan menyerang tubuhnya. Feng Shang berjalan tertatih-tatih keluar.


"Direktur Feng!"


Jingjing berteriak panik kala ia melihat Feng Shang keluar dengan darah di mulut dan bajunya. Feng Shang mengisyaratkan agar semua orang tidak ribut. Jingjing melompat dari kursinya, lalu menghampiri Feng Shang. Tubuh Feng Shang hampir jatuh jika ia tidak menyangganya.

__ADS_1


"Jangan ribut...." lirih Feng Shang.


Tidak lama setelah itu, Feng Shang tidak sadarkan diri di pangkuan Jingjing.


__ADS_2