Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 36: Serangan Balik


__ADS_3

Keesokan paginya, Feng Shang tersadar saat dirinya berada di ruang perawatan. Semalam, Shen Yi yang panik langsung membawanya ke rumah sakit. Dokter sempat heran karena beberapa jam sebelumnya keduanya baru saja keluar dari rumah sakit. Namun, dokter itu segera memberikan pertolongan pertama kepada Feng Shang.


Ia mengerjapkan mata dan mendapati tangannya terasa berat. Ketika ia menoleh, tangan kirinya itu sudah dibungkus kain berwarna putih. Rasa sakitnya tidak seberapa, tetapi gulungan kain itu membuat tangannya terasa diikat tali. Sesak.


“Direktur Feng! Akhirnya Anda siuman!” seru seseorang.


Jingjing langsung menghampiri ranjang perawatan. Persis seperti seorang pelayan, gadis itu hampir saja menangis. Feng Shang berkata diam, jadi gadis itu langsung diam. Tangan gadis itu membawa sekantung buah-buahan segar yang dibeli dari minimarket.


“Kenapa aku di sini?”


“Pukul dua pagi Presdir Shen menelepon, menyuruhku menemani Direktur Feng di sini. Katanya tanganmu terluka dan berdarah. Direktur Feng, Anda sebenarnya dari mana saja dan mengapa tanganmu bisa terluka?”


“Hanya masalah kecil. Tidak perlu seribut itu. Di mana pria itu sekarang?”


“Presdir Shen baru pergi dua jam yang lalu. Katanya, ia harus menyelesaikan urusan bisnis dengan klien.”


“Bagaimana dengan Xiang Sun? Apa dia terus-terusan datang?”


Jingjing berhenti mengupas apel. Benar, bagaimana bisa dia melupakan itu?


“Presdir Xiang beberapa kali datang. Tapi, sejak ia bertengkar dengan Nona Feng Ling di lobi tempo hari, dia tidak datang lagi. Saya hampir dibuat gila karena susah menahannya. Direktur Feng, dari mana Anda tahu masalah ini?”


Feng Shang tidak menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang yang sudah diganjal bantal empuk. Ia berada di ruang naratama yang sama dengan kemarin. Pria itu pasti terlampau panik sampai-sampai tidak sadar menempatkannya di kamar bekas kemarin.


Identitas asli Shen Yi sebagai Dewa Agung Yongheng masih harus disembunyikan. Di dunia ini, tidak dikenali siapa musuh dan siapa kawan. Belum lagi hawa iblis yang tersembunyi di dalam tubuh Xiang Sun, tidak menutup kemungkinan masih ada hawa iblis lain di hati para manusia fana ini. Sampai waktunya tepat, ia baru akan memberitahu pria itu.


“Jingjing, jangan biarkan Shen Yi bertemu dengan Xiang Sun,” ucap Feng Shang.


“Direktur Feng, mereka berdua adalah musuh. Mana mungkin bertemu?”


“Aku tidak mau tahu. Kau harus mencegah pertemuan di antara mereka dan segala kemungkinannya.”


Jingjing berpikir sejenak. Sikap Feng Shang membuatnya menarik kesimpulan kalau rumor yang tersebar perihal hubungan atasannya dengan presdir Perusahaan Xize benar-benar nyata. Di satu sisi adalah pemilik Perusahaan Xize, yang satu sisi lagi adalah pemilik Perusahaan Xiang. Jingjing bergidik ngeri. Hubungan cinta para direktur benar-benar mengerikan.


Kini, Feng Shang punya sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan. Ia turun dari ranjang, lalu bergegas keluar. Namun, Jingjing mencegahnya dan mengatakan kalau dia belum bisa pulang. Lukanya baru saja dibalut dan jika tidak hati-hati, mungkin akan terbuka dan berdarah lagi.


“Sudah kubilang ini hanya masalah kecil. Aku mau pulang!” elak Feng Shang.


“Direktur Feng, tubuhmu sangat berharga. Kalau sampai terjadi apa-apa, apa yang harus saya katakan kepada Ketua Feng dan Presdir Shen?”

__ADS_1


Sekeras apapun Jingjing menahan, Feng Shang tetap melawan. Ia harus keluar dari tempat bernama rumah sakit ini. Feng Shang sangat membenci jarum suntik. Dia tidak mau bertemu dokter atau kejadian beberapa waktu lalu akan terulang. Mungkin, kali itu Jingjing yang akan menjadi korban.


Selain itu, Feng Shang benar-benar punya urusan penting. Liontin giok roh yang semalam meninggalkan jejak yang familier, mungkin saja bisa membawanya kepada pelaku aslinya. Aroma dari liontin itu pernah tercium dari tubuh seseorang. Saat Feng Shang mencoba mengingatnya, pikirannya langsung tertuju pada satu orang: Feng Ling!


Indera penciumannya tidak akan salah. Aroma yang menempel pada liontin itu menunjukkan pemilik sebelumnya. Feng Shang harus membalasnya. Ia paling tidak suka seseorang mengusik hidupnya. Tidak peduli pada ikatan keluarga, orang yang tidak tahu diri seperti Feng Ling tetap harus diberikan pelajaran.


Di dekat pintu keluar rumah sakit, ia berpapasan dengan Shen Yi. Pria itu langsung ikut mencegah dengan mencekal tangan kanannya. Tenaga laki-laki memang berbeda, jauh lebih besar daripada perempuan. Feng Shang meringis, ia ingin mendorong pria ini dengan sihir, namun di sini terlalu banyak orang.


“Lepas! Aku harus memberi pelajaran pada Feng Ling!” ucap Feng Shang berapi-api.


“Untuk apa?” tanya Shen Yi.


“Apa kau akan membiarkan seseorang yang berusaha mencelakaimu hidup dengan damai?”


Shen Yi tertegun. Mungkinkah pelaku kejahatan semalam adalah adik sepupunya?


“Maksudmu, dia pelakunya?”


“Ya! Sekarang lepaskan aku!”


“Baiklah. Aku akan ikut denganmu!”


Jingjing melihat kedua orang itu keluar bersama-sama dari rumah sakit. Pelan ia berujar, “Kisah para atasan memang rumit.”


Kebetulan, Feng Ling sedang berada di dalam rumah. Wanita berumur dua puluh tahun itu terkejut melihat Feng Shang datang bersama Shen Yi. Ia menggeram, rencananya pasti gagal. Pantas saja orang-orang suruhannya tidak memberinya kabar. Ternyata inilah alasannya.


“Kakak sepupu, kau kenapa? Kenapa tanganmu terluka?” tanyanya begitu sedih.


Feng Shang mual. Ingin sekali ia muntah di hadapan wanita yang bermuka dua seperti Feng Ling. Apa perempuan itu berpikir dirinya bodoh? Tidak, Feng Shang tidak tertipu wajah polos dan sok imutnya. Di matanya, ekspresi Feng Ling begitu menjijikan.


“Sampah kecil, kau sungguh pandai bersandiwara rupanya!”


“Kakak, apa maksudmu?”


Malas meladeni kepura-puraan Feng Ling, Feng Shang mengulurkan tangannya, mencekik leher Feng Ling lalu mendorongnya ke tembok. Sorot mata membunuhnya menyala, membakar seluruh kepercayaan diri Feng Ling.


Ketika gadis itu menatapnya, ia seperti melihat seseorang yang lain yang begitu agung bersemayam di diri Feng Shang. Seolah-olah, mata yang menatapnya kini bukanlah mata kakak sepupunya.


Ganjaran bagi orang yang menyinggung Maharani Langit adalah kebinasaan. Shen Yi yang terkejut melihat aksi Feng Shang sekuat tenaga menghentikannya. Pria itu dibuat jantungan dengan tindakan Feng Shang yang tiba-tiba dan begitu berani.

__ADS_1


Bagaimana bisa perempuan ini terlihat begitu menyeramkan?


“Uhuk…uhuk… Kakak, kenapa kau ingin membunuhku…uhuk..uhuk…”


Napas Feng Ling tersengal-sengal. Cekikan di lehernya begitu kuat, hampir memutus saluran pernapasannya. Suaranya tercekat, ia ingin berteriak minta tolong namun Feng Shang tak memberinya kesempatan itu. Sebaliknya, cekika di lehernya kian menguat.


Feng Shang yang sudah diliputi kemarahan tak menghiraukan Shen Yi meskipun pria itu sudah memanggilnya berkali-kali. Ia terlalu marah karena manusia fana bernama Feng Ling ini terlalu banyak menyinggungnya. Permasalahan ketika gadis itu mencelakai Feng Shangyue yang asli belum ia ungkapkan, sekarang siluman itu sudah berani berulah yang lain.


“Xiao Shang, hentikan!”


Barulah ketika Shen Yi memanggilnya seperti itu, Feng Shang mengedipkan matanya. Api kemarahan di mata maharaninya perlahan padam. Ia seperti sedang tersihir. Panggilan “Xiao Shang” seperti sebuah mantra pengendali yang menghentikannya.


“Kau tidak boleh membunuhnya sendiri! Tanganmu nanti jadi kotor!” seru Shen Yi. Meski ia juga marah, tapi membunuh Feng Ling bukanlah pilihan terbaik. Itu hanya mendatangkan kepuasan sesaat, ditambah lagi mereka bersaudara. Semuanya hanya akan memperumit masalah.


Cekikan Feng Shang perlahan mengendur. Napas Feng Ling sudah lancar kembali walau jantungnya masih berdegup kencang. Wajah takutnya berusaha ia sembunyikan. Tangannya memegangi leher, yang sudah memerah dan terdapat bekas jari Feng Shang.


“Kau pikir aku bodoh? Jangan pernah mengira kalau kau akan berhasil menyingkirkanku hanya dengan beberapa sampah kecil!” ucap Feng Shang. Tekanannya pada Feng Ling begitu besar.


“Jadilah nona keluarga Feng dengan baik. Aku masih belum memperhitungkan masalah kau mencelakaiku di kapal tempo hari,” bisik Feng Shang diiringi seringaian menyeramkan, yang membuat semua bulu di tubuh Feng Ling meremang.


“Nona Feng Ling, karena saya mengingat hubungan kerja sama dengan Keluarga Feng, saya tidak akan memperhitungkan masalahmu yang mengutus beberapa penjahat untuk mencelakaiku dan Feng Shang. Tetapi jika ada lain kali, saya pastikan kau tidak akan bisa menghirup udara dengan bebas keesokan harinya!” seru Shen Yi, tegas dan begitu mendominasi.


Feng Ling semakin tersudut. Dia ditekan oleh dua orang yang sama-sama memiliki aura menakutkan. Tubuhnya yang bergetar menunjukkan kalau dia benar-benar ketakutan. Baik Feng Shang maupun Shen Yi, keduanya bukanlah orang yang mudah dicelakai. Jika sampai kakeknya mengetahui hal ini, ia pasti akan celaka. Kakeknya sangat membenci orang licik yang suka mencelakai sesama saudara.


Meskipun Shen Yi berhasil menghentikan Feng Shang, kemarahan perempuan itu belum mereda. Keinginannya adalah menghancurkan Feng Ling hingga berkeping-keping. Namun, satu hal yang mau tak mau harus diakui Feng Shang, Feng Ling secara tidak langsung telah membantunya menemukan giok roh.


Ia pergi setelah memberi ancaman besar untuk Feng Ling. Semakin lama ia berada di rumah itu, maka emosinya akan semakin besar. Feng Shang menyadari di sini ia tidak bebas melakukan apa yang ia mau. Mungkin hanya ketika bersama Shen Yi, ia bisa menunjukkan sifatnya yang asli.


“Dari mana kau mengetahui kalau Feng Ling yang mengutus orang-orang itu?” tanya Shen Yi.


“Dari liontin.”


“Kau bisa menemukan pelaku hanya dari sebuah liontin jelek itu? Kenapa kau tidak jadi detektif saja?”


“Jelek? Kau bilang itu jelek?”


“Benar. Modelnya sangat kuno.”


“Apa kau tidak tahu nilai dari liontin itu?”

__ADS_1


Shen Yi mengedikkan bahu tak peduli. Lagipula, ia tidak suka hal-hal berbau kuno.


...***...


__ADS_2