
Feng Shang masih memikirkan kejadian yang ia lihat semalam. Hatinya bertanya-tanya mengapa ada hawa iblis di muka bumi ini. Setahunya, karena tidak ada sihir, manusia bumi tidak tahu bahwa ada hawa iblis yang bisa membahayakan kehidupan manusia. Jika hawa iblis itu mengenai tubuh manusia fana, maka jiwa murninya bisa hancur dan manusia tersebut akan mati.
Padahal jelas-jelas ini bukan Alam Sembilan Langit, bukan alam dewa ataupun alam siluman. Kehidupan di muka bumi berbeda dengan kehidupan di alam dewa.
Manusia di sini begitu realistis, tidak mempercayai adanya kekuatan-kekuatan yang tidak terlihat. Aneh, pikir Feng Shang. Mungkinkah ada iblis yang ikut tersesat ke dunia ini?
Jika itu betul, maka tugas Feng Shang bertambah lagi. Selain harus mencari jalan pulang, mencari jati diri, dia juga harus menggunakan kekuatannya untuk menyelidiki asal hawa iblis tersebut dan segera memusnahkannya.
Feng Shang tidak ingin tragedi puluhan ribu tahun lalu terulang, ketika dunia kacau akibat pengaruh hawa iblis dan peperangan antar klan.
"Perempuan bodoh itu sedang apa?" tanya Shen Yi dari lantai dua. Sedari tadi ia terus memperhatikan Feng Shang yang duduk termenung di lantai bawah.
Berpikir untuk mencari tahu, pria itu melangkahkan kakinya menuruni tangga. Walau langkahnya tanpa suara, pendengaran tajam Feng Shang masih bisa menangkapnya.
Menganggu, pikirnya. Pasti pria itu tidak memiliki niat yang baik. Diam-diam Feng Shang menjentikkan jarinya, berpikir untuk menjahili pria menyebalkan itu.
Kaki Shen Yi menuruni tangga terakhir. Tetapi, tangga itu terasa sangat licin dan ia langsung terpeleset. Tubuh Shen Yi mendarat di lantai putih marmer yang dingin.
Terdengar ringisan ngilu karena pria itu jatuh terlalu keras. Feng Shang berpura-pura tidak tahu, menoleh lalu mendapati pria itu tengah memegangi bagian belakang tubuhnya.
"Mengapa Presdir Shen bisa terjatuh?" tanyanya.
"Kalimatmu itu seperti sedang menyindirku," ucap Shen Yi.
Feng Shang menahan tawanya. Menurutnya, Shen Yi yang meringis itu sangat lucu. Wajah yang sedikit tampan di matanya seperti bola nasi kecil yang siap dimakan. Feng Shang merasa tidak sia-sia dia menjahili pria itu sepagi ini. Pikirannya yang tadi sempat berkelana dan kalut perlahan mulai menemukan sisi lain.
"Benarkah?"
Shen Yi mengangkat tangannya. Ia duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Feng Shang. Pria itu menatap Feng Shang dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sebelumnya, ia tidak menyadari kalau perempuan ini ternyata cukup cantik dengan balutan busana rumahan yang sederhana. Ia rasa, sekarang ia memiliki kesan pada perempuan yang telah memaksanya menjadi seperti pria brengsek yang memanfaatkan wanita.
"Kau tidak pergi ke kantor?" tanya Shen Yi. Ia melihat jam dinding, jarumnya menunjuk angka delapan.
"Apakah aku harus?"
"Nona Besar Feng, kau adalah Direktur Utama Lingjing, penerus baru perusahaan Keluarga Feng. Apa kau tidak merasa konyol saat menanyakan itu?" heran Shen Yi.
"Oh. Biarkan mereka saja yang bekerja."
__ADS_1
Memang benar perempuan bodoh, pikir Shen Yi. Ia kira perempuan ini akan berubah setelah dijadikan pewaris, nyatanya semua itu hanya ada dalam khayalan di benak Shen Yi. Feng Shang tetaplah perempuan hilang ingatan yang bodoh meski sudah bertemu keluarga.
Di dunia ini, mungkin hanya perempuan ini yang berpikir membiarkan perusahaan berjalan sendiri tanpa kehadiran seorang pemimpin.
"Direktur Feng, jika kau tidak bekerja, perusahaanmu akan bangkrut."
Mendengar itu, Feng Shang tertegun. Bangkrut? Bukankah itu suatu kondisi ketika perusahaan mengalami kerugian dan harus gulung tikar? Kalau perusahaan bangkrut, Shen Yi yang otaknya dipenuhi dengan untung rugi ini pasti mengusirnya.
Jika Feng Shang diusir, dia tidak akan bisa berlatih berkultivasi. Jika tidak mengumpulkan kekuatan dari kultivasinya, dia tidak bisa pulang. Jika dia tidak bisa pulang....
Feng Shang bergidik memikirkan kemungkinan saat dirinya harus terjebak di dunia ini selamanya. Konsentrasinya pecah akibat dering ponsel yang berbunyi di dekatnya. Benda itu selalu berbunyi dari kemarin siang, membuat Feng Shang emosi dan ingin menghancurkannya. Feng Zheng bilang, benda ini bisa digunakan untuk menghubungi orang dari jarak jauh.
"Mengapa tidak kau angkat?"
"Aku tidak tahu cara mengoperasikannya," ujar Feng Shang polos.
Segera, Shen Yi mengambil ponsel tersebut. Saat hendak diangkat, deringnya mati. Ada puluhan panggilan tak terjawab di riwayat panggilan ponselnya.
Semuanya berasal dari nama kontak yang sama: Feng Zheng dan Jingjing. Oh, nama yang kedua ini mungkin salah satu bawahannya, atau bisa jadi manajernya.
"Kau benar-benar tidak tahu?" Feng Shang menggeleng. Shen Yi tidak habis pikir mengapa ada manusia seperti Feng Shang di dunia ini. Zaman sudah modern, bahkan jika perempuan ini kehilangan ingatan pun, seharusnya ia masih bisa mengingat cara mengoperasikan ponsel dengan mudah.
Anak kecil saja butuh waktu beberapa jam untuk bisa menguasai seluruh fitur di dalamnya. Perempuan ini, kurang dari lima menit sudah bisa menguasainya. Shen Yi tidak tahu, bahwa sebelum ini pun Feng Shang sebenarnya sudah tahu cara memakainya.
Feng Shang hanya terlalu malas dengan benda-benda asing yang terkadang membuatnya pusing. Sama seperti mobil taksi yang ia tabrakkan ke tembok kemarin.
"Aku akan menagih uang ganti rugi yang kukeluarkan untuk mengatasi masalahmu kemarin," pria itu tiba-tiba berujar.
"Aku harus menggantinya?"
"Tentu saja!"
Feng Shang pergi ke kamarnya. Ia mengeluarkan sekantung kepingan perak, lalu memberikannya pada Shen Yi. Mata pria itu seperti hendak melompat keluar melihat kepingan perak yang begitu banyak.
Padahal, dia hanya bercanda. Uang yang ia keluarkan untuk mengganti rugi kerusakan taksi kemarin tidak seberapa jika dibandingkan dengan nilai kepingan perak ini.
"Apa itu cukup?" tanya Feng Shang.
"Dari mana kau mendapatkan kepingan perak sebanyak ini?"
__ADS_1
Shen Yi tidak habis pikir mengapa perempuan yang tinggal di rumahnya ini bisa memiliki begitu banyak kepingan perak berkualitas tinggi. Sebelumnya Shen Yi masih berpikir wajar ketika Feng Shang memberikan beberapa keping perak untuk membayar sosis bakar di kedai pinggir jalan. Tetapi yang ini, rasanya ia tidak ingin percaya.
"Cukup terima saja. Terkadang, rasa ingin tahu yang terlalu banyak bisa membunuhmu," ucap Feng Shang ringan, namun di telinga Shen Yi, ucapan itu terlalu serius ketika keluar dari mulut seorang perempuan muda sepertinya.
Feng Shang tersenyum kecil. Mudah saja, kepingan perak itu memang merupakan bagian dari kehidupannya. Baik di sini maupun di Alam Sembilan Langit, selama inti jiwanya masih seorang maharani, ia bisa mempunyai kepingan perak sebanyak yang ia mau.
Shen Yi terlalu naif untuk mengetahui asal kepingan perak ini. Tunggu sampai ia menemukan siapa Shen Yi yang sebenarnya, ia baru akan memberitahunya.
Shen Yi malah merasa terprovokasi. Ia mendekat, mencondongkan tubuhnya hingga jarak antara dirinya dengan Feng Shang terkikis. Ada kilatan dingin di mata Feng Shang yang tampak indah di mata Shen Yi, sekaligus tatapan ragu dan waspada. Jarak ini adalah jarak terdekat sejak ia dan Feng Shang bertemu. Manik hitam itu menerobos manik hitam milik Feng Shang.
Feng Shang ingin mengindarinya, karena setiap kali mata mereka bertemu dengan tatapan tajam, matanya akan terasa sakit. Namun, ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Jarak Shen Yi yang terlalu dekat mematikan pergerakannya, menguncinya ke titik ketika ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Feng Shang hanya bisa membalasnya dengan tatapan tajam yang serupa, tetapi rasa sakit yang sering datang itu malah berpindah ke bagian tubuhnya yang lain.
Dada Feng Shang terasa nyeri hingga pandangannya refleks meredup, kepalanya sedikit menunduk dan matanya mengarah ke arah lain. Dahi manis perempuan itu berkerut, menahan gejolak rasa sakit yang timbul di dadanya.
Celaka, pikirnya. Tanda feniks biru di dadanya sepertinya bereaksi. Feng Shang mendorong pria itu dengan tenaga, membuat Shen Yi seketika mundur.
Hal yang mengejutkan adalah bahwa pria itu juga seperti menahan rasa sakit. Shen Yi memegangi kepalanya yang sakit seperti ditusuk ribuan jarum.
Tetapi, Feng Shang justru melihat sebuah tanda teratai berwarna emas muncul samar-samar di dahi Shen Yi, lalu menghilang setelah beberapa saat. Ada kilatan berwarna serupa muncul di manik hitam pria itu, lalu hilang.
"Ah, kepalaku sakit lagi," ucap Shen Yi sambil menahan tubuh agar tidak limbung. Pria itu naik ke lantai atas, mengambil obatnya untuk meredakan rasa sakitnya.
Sementara itu, Feng Shang masih memegangi dadanya. Tanda feniks biru itu bercahaya. Khawatir Shen Yi melihat keanehan ini, ia segera pergi ke taman bunga dan menutup pintu kacanya. Dengan rasa sakit yang masih bersisa, lamat-lamat ia berucap, "Mengapa ini bisa terjadi?"
...***...
...Saatnya kuis! ...
...Mengapa keduanya kesakitan? ...
...a. Feng Shang terlalu gugup...
...b. Shen Yi punya penyakit di kepalanya...
...c. Tidak ada jawaban yang benar...
...Ini adalah awal dari pencarian jati diri yang sebenarnya. Ikuti terus keseruan petualangan mereka ya! ...
__ADS_1