Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 6: Tanda-Tanda Identitas


__ADS_3

Tinggal di rumah Shen Yi dan berkultivasi di taman bunga selama beberapa hari membuat kekuatan Feng Shang mulai pulih sepenuhnya. Dia merasakan tubuh dewanya telah kembali, meskipun hanya setengahnya saja.


Ini mungkin berkaitan dengan kemunculannya ke dunia ini. Feng Shang tidak tahu di mana setengah bayangannya yang lain berada.


Hari ini, dia menyelinap masuk ke dalam mobil Shen Yi. Beberapa hari ini, pria itu mendiamkannya seperti patung karena masih marah atas insiden laptop tempo hari.


Setiap pulang, Shen Yi tidak berbicara padanya. Feng Shang tidak heran, tetapi lama kelamaan dia merasa bosan juga. Akhirnya, dia diam-diam masuk ke mobil Shen Yi dan duduk di kursi paling belakang.


Zhang Bi dan Shen Yi yang baru masuk langsung terkejut.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Shen Yi.


"Aku bosan. Bisakah kau membawaku keluar dari rumah itu?"


Setelah mengatakan itu, Feng Shang langsung membenarkan posisi duduknya. Ada semacam aroma eucalyptus menguar ke seisi mobil ketika Feng Shang duduk di sana, membuat Shen Yi mau tidak mau terpengaruh.


Aroma tersebut begitu menenangkan, membuat seluruh syaraf Shen Yi yang sering menegang menjadi rileks. Di belakangnya, Feng Shang duduk dengan tenang.


Sepanjang jalan, Feng Shang hanya terdiam sambil menatap ke jendela, melihat pemandangan asing yang baru dilihatnya. Kota Cheng ini sebuah kota besar dengan segala keunikannya. Gedung-gedung tampak menjulang menantang langit.


Feng Shang menyamakan gedung-gedung ini dengan Menara Yinmeng, sebuah menara di dunia fana yang menjadi jalan untuk roh manusia terbang ke langit karena ketinggiannya cukup menjulang.


Mobil Shen Yi sampai di halaman gedung Perusahaan Xize. Turun dari mobil, dia lupa kalau Feng Chang masih duduk di dalam. Shen Yi memutar tubuhnya, mendapati perempuan itu sedang berusaha keluar dari sana.


Tingkahnya membuat Shen Yi menyunggingkan senyum tipis. Ada-ada saja tingkah perempuan hilang ingatan itu.


"Zhang Bi, aturkan ruangan untuknya," ucap Shen Yi.


Zhang Bi membawa Feng Shang masuk ke dalam gedung, lalu memintanya menunggu di pantry. Setelah ditinggalkan Shen Yi dan Zhang Bi, Feng Shang mulai tidak patuh. Dia keluar dari pantry, berjalan tak tentu arah.


Feng Shang menyaksikan banyak orang sedang bekerja di tempat masing-masing. Jam pagi adalah jam sibuk. Ada banyak pekerjaan yang menguras tenaga di jam seperti ini.


Feng Shang tidak tahu di mana dia berada. Yang jelas, dia sudah berjalan cukup jauh. Dia hanya mengikuti naluri dan ke mana langkah kakinya pergi. Feng Shang sampai di sebuah lorong panjang yang lantainya licin. Ia hampir tergelincir, namun seseorang menahannya.


Feng Shang mendongak. Orang yang menahannya ternyata seorang wanita. Ia berwajah cantik dan berpakaian rapi. Dilihat dari penampilannya yang menawan, wanita ini pasti salah satu pekerja yang penting di sini.


Feng Shang menyeimbangkan tubuhnya, lalu melepaskan diri dari wanita itu. Dia selalu waspada terhadap semua orang, termasuk orang yang menolongnya ini.


"Nona, apa kau tersesat?" tanya wanita itu. Feng Shang mengangguk.

__ADS_1


Wanita itu - Jiang Li, lantas membawa Feng Shang kembali ke dalam kantor. Ia menyuruhnya menunggu di dekat dapur agar tak menyita perhatian banyak orang. Jiang Li harus kembali ke ruangannya untuk mempersiapkan berkas laporan pemasaran produk terbaru dari salah satu perusahaan yang ditanami modal oleh Perusahaan Xize. Wanita itu tahu kalau Feng Shang adalah wanita yang dibawa pulang oleh Shen Yi.


Feng Shang duduk di sofa. Meskipun ini disebut dapur, tetapi furniturenya tidak jauh berbeda dengan ruang tamu. Entah apa alasannya wanita tadi membawanya kemari. Dia pikir dia bisa duduk menunggu dengan tenang di sini.


Sayang, hari itu adalah jam makan siang dan para pekerja sedang beristirahat. Sekelompok wanita tiba-tiba muncul sambil membawa cangkir kopi.


Mereka melihat Feng Shang dan memperhatikannya. Salah seorang dari mereka kemudian menghampirinya.


"Kau adalah wanita yang dibawa pulang oleh Presdir Shen?" tanya wanita asing itu.


Feng Shang hanya melirik sekilas tanpa ada niat menjawab. Prinsip pertama yang dia pelajari ketika sampai di sini adalah: Jangan berbicara dengan orang asing, terutama wanita.


Feng Shang yang telah hidup puluhan ribu tahun telah bertemu berbagai jenis orang. Tetapi kebanyakan yang buruk berasal dari hati wanita yang iri. Dengan melihat saja, dia sudah tahu kalau sekelompok wanita ini tidak memiliki niat yang baik padanya.


Tidak mendapat respon dari Feng Shang, wanita itu menjadi marah.


"Lihat, dia angkuh sekali! Jangan berpikir karena PresdirĀ  Shen mempedulikanmu, kau bisa bertindak sombong. Hei, wanita tidak jelas, kau harus tahu tempatmu!" hardik wanita itu.


"Benar. Dia mungkin menggoda Presdir Shen hingga bisa tinggal di sisinya begitu lama," sambung yang lain.


"Apa kita harus memberi dia pelajaran?"


Benar, bukan?


Feng Shang jengah. Sekelompok wanita ini begitu berisik. Mereka iri karena Feng Shang mendapat perhatian dari Shen Yi. Padahal, apa yang bagus dari itu?


Shen Yi hanyalah seorang manusia di mata Feng Shang, yang bahkan tidak punya kemampuan untuk berkultivasi. Di Alam Sembilan Langit, manusia seperti Shen Yi sudah pergi ke Kolam Reinkarnasi berkali-kali karena dijebak oleh dewa atau peri lain.


Di mata mereka, sosok Shen Yi mungkin seperti dewa. Mengingat ini, Feng Shang ingin sekali tertawa. Selera manusia bumi ternyata cukup aneh. Mereka menyukai seseorang berwajah tampan dan berposisi tinggi. Bagi Feng Shang, jika tidak punya kekuatan, apa gunanya?


Wanita tadi hendak mendorong Feng Shang, namun Feng Shang membuatnya jatuh tersungkur dengan trik sihirnya. Wanita itu telungkup di dekat kaki Feng Shang.


Si wanita bangun dibantu teman-temannya. Merasa terprovokasi, wanita-wanita itu menyerang bersamaan. Feng Shang menghindar secepat kilat, membuat mereka menyerang angin.


"Sialan! Gerakannya cepat juga!" ucap si wanita kesal.


Feng Shang kemudian berbalik. Dia pikir tidak ada gunanya bertarung melawan sekelompok sampah yang bahkan tidak layak untuk membawa sepatunya. Dia adalah Maharani Langit, tidak akan merendahkan diri melawan sekelompok manusia yang buta dan hatinya buruk.


"Hanya sekelompok semut saja, tidak layak berbicara denganku!" ucap Feng Shang.

__ADS_1


Seketika, ruangan dapur perkantoran menjadi dingin. Mereka merasakan aura aneh yang menakutkan menguar dari diri Feng Shang. Nyali mereka menciut, tetapi mereka tetap berpendirian dan mencoba membodohi diri mereka sendiri dengan keyakinan bahwa ini hanyalah pengaruh cuaca dan AC.


Feng Shang berjalan anggun, mengeluarkan gaya Maharani Langit-nya. Sebelum pergi, dia menatap sekelompok wanita itu dengan sudut mata dan membuat mereka menyiram diri mereka sendiri dengan kopi.


Feng Shang melewati area pekerja dengan santai. Tidak peduli seberapa banyak orang yang menatap dan membicarakannya di belakang, Feng Shang hanya ingin segera pergi dari sini.


Tempat ini begitu buruk. Ia menyesali keputusannya yang telah pergi bersama Shen Yi dengan harapan bisa menghilangkan kebosanannya di rumah.


"Kenapa wajah wanita itu tampak familiar?" tanya seorang karyawan laki-laki ketika Feng Shang lewat di ruangannya.


"Apa kau mengenalnya?" tanya temannya.


"Entahlah. Tapi sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat," jawab karyawan itu.


Feng Shang sampai di lobi kantor. Resepsionis yang sedikit senggang bertanya padanya apa ada yang bisa dia bantu. Sama seperti pada wanita sebelumnya, Feng Shang tidak bicara sampai membuat resepsionis kesal dan kembali ke tempatnya. Feng Shang hanya berdiri di bibir lobi, menyaksikan banyak orang keluar masuk gedung dengan berbagai keperluan.


Seseorang menarik tangannya dari belakang hingga membuat Feng Shang terkejut dan seketika berbalik. Shen Yi melepaskan tarikan itu lalu menghela napas lega, seolah-olah dia telah menemukan benda penting miliknya yang hilang. Itu membuat Feng Shang heran, ekspresinya menampakkan kebingungan.


"Bukankah aku menyuruhmu menunggu di pantry?" tanya Shen Yi.


"Aku bosan," jawab Feng Shang.


"Apa kau tahu betapa berbahayanya jika kau sampai hilang? Perempuan bodoh, jangan biarkan aku mencarimu lagi!"


"Beraninya kau menyebutku perempuan bodoh!"


Feng Shang masih belum terbiasa dengan dunia barunya hingga seringkali lupa menggunakan gaya Maharani Langit-nya saat berbicara dengan orang lain.


Shen Yi menatapnya tajam, membuat mata Feng Shang merasakan kembali rasa sakit seperti saat bertemu di Pulau Yonghe. Mata indah itu seperti serpihan kaca yang tajam, mengeluarkan aura yang misterius dan Feng Shang tidak dapat menebaknya.


Melihat Feng Shang menunduk dan menutup kedua matanya dengan tangan, Shen Yi mau tidak mau jadi sedikit panik. Dia berusaha menahan tubuh Feng Shang agar tidak jatuh, meletakkan tangannya di pinggang wanita itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.


"Mataku sakit."


Shen Yi kemudian membawa Feng Shang keluar dari lobi.


...***...

__ADS_1


...Halo! Terima kasih sudah menjadi pembaca kisah sang Maharani. Jangan lupa sukai, tambahkan ke favorit, dan bagikan rekomendasi ke teman, ya! Sampai jumpa di episode berikutnya! ...


__ADS_2