
Feng Shang ditarik dari kerumunan ke sebuah kedai malam yang banyak digantungi lentera. Yongheng terus menerus menarik tangannya tanpa mau melepaskannya meskipun dia berkali-kali memberontak. Perkataan pria itu membuatnya sedikit linglung, antara percaya dan tidak percaya. Tapi, tidak mungkin juga jika Yongheng berdusta kepadanya.
"Feng Shangyue?" gumamnya. Feng Shangyue adalah dirinya di dunia bernama bumi. Jika Yongheng berkata seperti itu, bukankah itu artinya pria itu mengingat semuanya? Lalu mengapa ia tidak menyadarinya?
"Kenapa? Apa kau merasa familiar dengan nama itu?" goda Yongheng.
"Tunggu dulu. Mengapa kau ikut kemari?"
Yongheng berpikir bahwa kemampuan mengalihkan pembicaraan yang dimiliki Maharani Langit sangatlah luar biasa. Yongheng tadinya hendak membicarakan perihal kisah mereka di bumi, tetapi tampaknya Feng Shang masih belum siap dan begitu enggan membahasnya. Wanita itu mengalihkan pembicaraan dengan cepat dan Yongheng mungkin harus mengimbanginya dan menemaninya bermain saja. Dia bukan orang yang terburu-buru untuk mengungkapkan sesuatu.
Tapi, terhadap wanita yang tangannya dipegang olehnya kini, bisakah ia melakukan itu? Yongheng terkenal sebagai Dewa Agung yang tenang dan sangat elegan. Kalau wanita ini, Feng Shang, mampu membuatnya mengkhianati karakternya, maka wanita ini hebat. Yongheng juga mulai merasa dirinya berubah kini. Sedikit demi sedikit dia merasakan perbedaan antara dirinya sebelum mengenal Feng Shang dan setelah mengenal wanita itu. Sudahlah, lagipula sekarang mereka ada di waktu dan tempat yang sama.
"Bukankah sudah jelas kukatakan? Aku datang mengejar istri."
"Bicaralah yang serius!"
Ada selingan tawa yang kecil sesaat setelah Feng Shang menjawabnya dengan ketus. Yongheng membuatnya duduk di sampingnya tanpa melepaskan tangannya. Feng Shang agak gerah, karena interaksinya dengan Yongheng tidak pernah sedekat ini sebelumnya. Lima ratus tahun yang lalu mereka hanya berbicara dengan jarak, namun kini pria itu malah membuatnya terkunci di tempat yang sama dan jarak yang sangat dekat. Apalagi tangan keduanya saling bersentuhan.
"Baiklah, aku tidak bercanda lagi. Yah, kira-kira tujuanku sama dengan tujuanmu," ucap Yongheng.
"Kau juga merasakannya?"
"Aku ini Dewa Agung, orang yang menyegel Raja Iblis menggunakan nyawaku sendiri. Getaran sehebat itu tidak mungkin tidak kurasakan."
"Teruslah bicara dengan pangkat. Kau Dewa Agung yang menyebalkan," ketus Feng Shang.
__ADS_1
"Tapi, kau meninggalkan petunjuk kepergianmu sampai aku menemukanmu. Apa kau tidak tahu kalau alam fana bisa begitu berbahaya? Mengapa kau pergi sendirian dan tidak menungguku?"
"Kalau aku menunggu, bayangan Raja Iblis mungkin sudah menghancurkan sebuah negara."
"Lalu, apa kau sudah menemukannya?"
Feng Shang menggelengkan kepala. Memang, sejak dia datang ke alam fana, dia kehilangan jejak bayangan Raja Iblis. Dia malah terjebak di kerumunan manusia, di tengah festival yang sangat meriah dan begitu ceria. Kalau di Alam Sembilan Langit, suasana seperti itu hampir tidak ada. Setiap hari hanya ada ketenangan karena setiap istana memiliki tuan yang tidak terlalu urakan dan tidak suka keributan.
"Tidak apa-apa. Lagipula dengan kekuatannya yang lemah itu, dia tidak akan mampu menghancurkan setengah dari negara," ujar Yongheng.
"Kau begitu memahami Raja Iblis rupanya."
Yongheng tersenyum remeh. Baginya, Raja Iblis itu sama dengan dewa agung, tapi dengan hati yang jahat. Kalau saat itu dia tidak menyegelnya, Raja Iblis mungkin akan menjadi Dewa Kejahatan Purba yang melegenda dengan kisah-kisah kejamnya pada dunia. Kalau mereka bertemu lagi, ingin sekali Yongheng menghancurkannya, membuatnya lenyap selamanya dari dunia.
"Tidak. Itu kekanak-kanakkan," tolak Feng Shang.
"Entah siapa yang lima ratus tahun lalu berkata tidak mau pergi ke Hutan Yinshen, tapi malah bahagia sampai membebaskan mereka. Maharani, apa kau tahu siapa dia? Aku lupa namanya," sekali lagi Yongheng menggodanya. Feng Shang merengut.
"Main ya main saja. Tidak perlu sampai memegang tanganku seperti ini, aku bukan anak kecil," ucap Feng Shang. Dia menghempaskan tangannya sampai cekalan Yongheng terlepas dan tangannya kini kembali menikmati kebebasan bergerak setelah ditawan selama beberapa waktu.
"Kalau begitu, biar aku yang menjadi pemandumu. Baiklah, Nona Feng, silakan," Yongheng memperagakan gerakan persis seperti seorang pelayan tamu di hotel-hotel di bumi. Feng Shang menggelengkan kepala heran, kemudian berjalan meninggalkan kedai tersebut diikuti Yongheng.
Keduanya melihat sebuah opera yang diperagakan oleh manusia. Pemainnya berjumlah empat orang, seorang perempuan dan empat orang laki-laki. Keempatnya bermain di atas panggung yang terbuka dan memikat banyak penonton. Yah, siapa manusia yang tidak menyukai opera terbuka seperti ini. Penyajiannya cukup terampil dan busana serta riasan yang digunakan juga sangat khas.
Opera itu menceritakan sebuah kisah dari masa lalu, yakni masa kejayaan dinasti sebelumnya. Katanya, tempat atau kota ini merupakan sebuah ibukota dari sebuah kekaisaran yang telah berdiri lebih dari lima abad. Konon, leluhur pendiri kekaisaran merupakan seorang dewa yang turun ke bumi ratusan ribu tahun lalu, kemudian menciptakan kedamaian dan peradaban baru. Tidak jelas siapa nama dewa yang dimaksud karena nyanyian dari penyanyi opera tiba-tiba terhenti di tengah jalan.
__ADS_1
Semua orang juga memperhatikannya. Rupanya, pemain perempuan tergeletak di lantai dan kejang-kejang. Orang-orang langsung panik dan berkerumun. Pemain yang perempuan itu lalu dibawa ke belakang panggung oleh rombongannya. Feng Shang merasa aneh, kemudian menyelinap di antara kerumunan. Dia berhasil masuk ke belakang panggung dan melihat pemain itu sedang diberikan pertolongan pertama.
"Jangan menyentuhnya!" teriaknya. Orang langsung tertuju padanya dan melemparkan tatapan tanya.
"Kalian bisa mati juga!" seru Feng Shang. Tidak percaya pada perkataan wanita itu, seorang pemain kemudian berteriak kesal kepadanya.
"Kau yang mati! Orangku hanya pingsan, dia bukan mati!"
Feng Shang tidak tahu kalau manusia di alam fana begitu menyebalkan dan keras kepala. Ia lupa kalau di bumi ada manusia yang lebih menyebalkan dari ini. Pemain opera perempuan itu sudah mati beberapa saat yang lalu. Feng Shang melihat cahaya kehidupannya perlahan memudar. Sebagai Maharani Langit, kematian manusia di hadapannya merupakan hal yang lumrah.
"Kalau kau tidak percaya, periksalah denyut nadinya!" seru Feng Shang ketus. Manusia itu sudah mati, tapi teman-temannya tidak percaya. Salah seorang di antara mereka memeriksa denyut nadinya, lalu matanya terbelalak dan mulutnya menganga.
"Kau! Kau penyihir! Kau pasti pembunuhnya!" teriak orang itu pada Feng Shang.
"Aku bukan penyihir."
"Bohong! Jika bukan, mengapa kau tahu kalau dia mati tanpa menyentuhnya?"
Feng Shang memutar bola mata malas. Kalau tahu begini, lebih baik tadi dia diam saja. Kalau bukan karena pertunjukan bagus yang terputus di tengah jalan, Feng Shang juga tidak akan penasaran. Manusia ini bodoh dan tidak tahu apa-apa. Alih-alih segera mengurus pemakaman, justru malah menyalahkan dan memfitnahnya. Sungguh tidak berguna.
Feng Shang berbalik, namun orang itu mengambil sebalok kayu sisa pembuatan panggung dan hendak memukulnya. Untung saja Yongheng datang, dia mencekal lengan orang itu dan mematahkannya. Terdengar lengkingan sakit yang berkepanjangan, dan semua orang menyingkir ketakutan. Ada kemarahan yang terasa begitu besar ketika mereka melihat Yongheng datang.
"Kau berani menyakitinya?"
Suara Yongheng tertahan dipenuhi amarah. Orang itu masih meringis karena tangannya patah dan langsung bengkak, namun ia tidak tahu bahwa bahaya yang lebih besar sebentar lagi akan datang.
__ADS_1