
Anggrek dewa yang diinginkan Feng Shang berhasil didapatkan. Demi tumbuhan yang daunnya hanya bejumlah tiga helai itu, Feng Zheng menghabiskan lima miliar untuk membelinya. Selain itu, kakek tua itu juga harus bermusuhan dengan beberapa kepala keluarga besar.
Anggrek itu sudah tiba di rumah Shen Yi beberapa jam yang lalu. Helikopter yang membawanya sudah pergi sejak lama. Feng Shang segera menempatkannya di taman bunga, memisahkannya dengan kotak kaca yang berkilau.
Sekilas, orang mungkin hanya menyangka ini adalah anggrek langka biasa. Tetapi bagi Feng Shang, anggrek ini adalah salah satu benda langit yang memiliki kekuatan spiritual. Anggrek ini memiliki asal-usul yang misterius, sama misteriusnya dengan kemunculan cermin Baimeng.
Malam kian larut ketika Feng Shang selesai memasang formasi penstabil kekuatan spiritual di bawah kotak kaca itu. Ia melihat bulan sedang bersinar terang dan bintang sedang bertaburan.
Seharusnya sekarang adalah musim semi. Di Alam Sembilan Langit, musim semi selalu dijadikan momen ketika para dewa-dewi mencari jodohnya di kuil Yue Lao, bertanya pada Dewi Sansheng dan meminta seuntai benang merah.
Feng Shang dulunya juga hanya seorang pelayan peri tingkat rendah. Sebelum identitas aslinya terbongkar, ia bekerja di Istana Zi Ming, istana tempat Dewa Air tinggal.
Dewa Air itu bernama Yang Shu, seorang dewa tampan yang tidak memiliki istri dan sudah melajang selama puluhan ribu tahun. Parasnya tampan hingga memikat hati banyak dewi dan peri wanita.
Hanya Feng Shang satu-satunya pelayan peri yang diperbolehkan melayani Dewa Air secara langsung. Ia mengantarkan makanan dan pakaian Dewa Air Yang Shu setiap hari, merapikan kamar, meja, mengirim pesan dan membersihkan halaman sekitar kamar utama. Itu membuat para pelayan peri lain merasa iri dan tidak terima.
Di sana, Feng Shang diperlakukan tidak adil oleh para pelayan peri. Mereka sering menindasnya ketika Dewa Air tidak ada. Bahkan ketika ia dikirim ke Laut Timur dan dijadikan pelayan di sana juga terjadi ketika Dewa Air sedang keluar istana.
Ia baru dibawa kembali ke Alam Sembilan Langit setelah tiga tahun berlalu, tepat ketika ia hampir saja mati karena dijadikan sasaran pertarungan pangeran dan putri dari Laut Timur.
Tidak banyak hal baik yang terjadi saat itu. Feng Shang hanya bisa menaruh sakit hatinya sendirian.
Setelah ia menjadi Maharani Langit dan penguasa Tiga Dunia, tidak ada yang berani menindasnya lagi. Barulah Feng Shang merasa hidupnya benar-benar pantas dinikmati.
Mengingat hari-hari itu membuatnya rindu akan sesuatu yang disebut rumah. Istana Langit, Istana Fengyun adalah rumahnya. Ia rindu akan ocehan Yue Ming yang setiap hari merecokinya dengan berbagai perkataan terkait aturan dan jadwal pekerjaan, atau menasehatinya agar ia tak pergi sembarangan.
Feng Shang tidak tahu bagaimana situasi di Alam Sembilan Langit sekarang, tetapi ia berharap semoga semuanya tetap baik-baik saja.
"Baiklah, mari kita coba seberapa besar kekuatanku yang telah pulih."
Feng Shang memfokuskan dirinya di tengah formasi feniks. Aura spiritual memusat padanya, masuk ke dalam tubuhnya seperti biasa. Aura itu kini bercampur dengan cahaya berwarna emas, yang kemungkinan merupakan aura spiritual yang tersisa saat Shen Yi berada di sini kemarin.
Saat kekuatan campuran itu masuk ke dalam tubuh Feng Shang, tanda feniks api biru di dadanya becahaya dan Feng Shang merasakan panas yang luar biasa.
Untuk menahan agar ia tidak kesakitan akibat rasa panas itu, Feng Shang merapalkan sebuah mantra sihir. Namun, tubuh manusia setengah dewanya tidak mampu menahan pertemuan kedua kekuatan.
Tubuh Feng Shang mulai bereaksi, sayap birunya kembali muncul dan mengepak, menimpulkan angin yang menggoyangkan tumbuhan di taman bunga.
Tubuh Feng Shang tiba-tiba mengecil, lalu ia berubah ke wujud aslinya. Feng Shang berubah menjadi seekor burung feniks berwarna biru, yang tingginya seukuran dengan burung kalkun.
__ADS_1
Padahal, di Alam Sembilan Langit ukurannya bisa menyamai Istana Fengyun, sangat besar tergantung kehendaknya. Namun, ia justru berubah menjadi burung feniks yang kecil di sini.
"Tubuh setengah dewa sialan ini malah membuatku seperti dikutuk," gerutu Feng Shang. Aneh juga, pikirnya. Kalau tubuh ini tidak kuat, seharunya pingsan karena dua kekuatan yang berbeda beradu. Tapi, kenapa ia malah berubah jadi burung feniks kecil?
"Apa mungkin aku salah merapal mantra?" tanyanya sendiri.
Feng Shang mencoba mengingat. Ternyata benar, ia salah merapal mantra. Yang ia ucapkan tadi bukan mantra sihir penahan panas, tetapi mantra sihir pengubah bentuk. Mantra ini digunakan untuk mengubah benda ke bentuk lain, fungsinya untuk menyembunyikan atau mengelabui.
Sihirnya bekerja selama tujuh hari tujuh malam dan akan hilang setelah waktu berlalu. Itu artinya, Feng Shang akan tetap berada di dalam wujud ini selama tujuh hari ke depan.
Ia merutuki kecerobohannya sendiri.
Feng Shang terkejut saat pintu kaca taman terbuka. Refleks, ia langsung terbang, lalu bertengger di atas kotak kaca. Ia melihat Shen Yi berdiri di ambang pintu, melihat sekeliling seperti sedang mencari sesuatu. Pandangan mata pria itu lalu tertuju kepadanya. Feng Shang tahu situasi, ia tidak bisa mengeluarkan sihir untuk memperdaya pria itu.
"Kenapa ada ayam di sini?" tanya Shen Yi.
Ayam? Aku ini burung feniks, bodoh! Feng Shang berteriak di dalam hatinya.
Shen Yi mendekat ke arah kotak kaca, lalu meraih tubuh Feng Shang yang sudah berubah menjadi burung feniks kecil. Pria itu memperhatikannya dengan saksama, lalu berucap, "Dari mana datangnya ayam biru ini?"
Shen Yi ingat ia tidak memelihara binatang di sini. Di taman bunga ini, hanya ada bunga dan sejumlah rerumputan dan pohon. Selain ikan di kolam air mancur, Shen Yi tidak memelihara apapun lagi. Kenapa ayam ini ada di sini? Kenapa warnanya biru? Apa ayam ini adalah ayam yang dipelihara Feng Shang?
"Apa perempuan itu pulang ke rumah Keluarga Feng?"
Shen Yi kemudian membawa Feng Shang yang dikira ayam keluar dari taman bunga. Shen Yi tanpa sadar mengelus bulu feniks Feng Shang yang lembut dan bersih. Tubuh itu mengeluarkan aura spiritual yang bisa membuat siapapun merasa nyaman. Shen Yi membawanya ke ruang tengah, lalu meletakannya di atas meja.
"Ayam biru, apa kau peliharaan perempuan bodoh itu?" tanya Shen Yi.
Feng Shang mengepakkan sayapnya dan mematuk tangan Shen Yi sampai pria itu meringis. Shen Yi mengusap punggung tangannya, berharap rasa sakitnya berkurang.
"Kau pemarah juga, sama seperti pemilikmu. Kalau begitu, kuberi kau nama Xiao Shang saja, oke?" ucap Shen Yi sambil mengelus bulu kepala Feng Shang.
"Xiao Shang? Usiaku jauh lebih tua darimu, Shen Yi bodoh!" ucap Feng Shang dalam suara feniksnya, yang tidak dapat dimengerti Shen Yi.
"Karena bulumu sangat lembut dan bersih, aku mengizinkanmu ikut bersamaku."
Shen Yi membawa Feng Shang ke lantai atas, ke kamarnya yang besar. Pria itu berganti baju di depannya, membuat Feng Shang seketika menutupi matanya dengan sayapnya.
Ekornya yang panjang bergerak, pertanda bahwa Feng Shang tidak senang. Menurutnya, Shen Yi ini terlalu tidak senonoh. Bagaimana mungkin ia berganti baju di depannya? Walaupun saat ini wujudnya seekor burung, tetapi itu tetap tidak pantas.
__ADS_1
Apa manusia selalu tidak senonoh seperti ini?
Shen Yi berbalik sembari mengancingkan kemeja putihnya. Dadanya terlihat bidang dan lebar, berisi tanpa lemak bertumpuk. Pria itu rajin berolahraga di tengah kesibukannya sebagai presdir. Beberapa waktu ini Shen Yi meliburkan diri, otot-otot yang susah payah ia bentuk jadi agak kendor.
Shen Yi mengernyit saat melihat tingkah laku ayam biru jelmaan Feng Shang. Pikirnya, ayam biru itu seperti seorang gadis yang malu melihat tubuh seorang pria. Ayam biru itu sungguh ajaib, seolah-olah ia mengerti semua perkataan manusia.
"Ayam biru, apa kau malu?" tanya Shen Yi.
Feng Shang terbang ke pangkuan pria itu, lalu mengepakkan sayapnya tanda protes. Feng Shang juga menggoyangkan ekornya, membuat Shen Yi kebingungan.
"Aku bukan ayam!" teriak Feng Shang meski suaranya hanya diterjemahkan sebagai suara seekor burung.
"Apa yang dikatakan ayam biru ini?"
"Aku bukan ayam, Shen Yi bodoh!" teriaknya lagi. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya bunyi "kwaak-kwaak-kwaak".
"Apa mungkin kau marah karena menyebutmu ayam? Lalu, kau ini apa?"
Feng Shang terbang ke sisi ranjang, lalu mematuk ponsel Shen Yi dan membawanya kepada pria itu. Feng Shang berucap, "Kau cari di sini!"
"Kau menyuruhku mencari di internet?"
Feng Shang menganggukkan kepalanya. Shen Yi walaupun bingung kemudian mengetikkan sesuatu, lalu memotret Feng Shang. Di mesin pencari itu, muncul gambar serupa dengan bentuk tubuh Feng Shang yang sekarang, namun berbeda warna.
"Jadi, kau burung feniks?" tanya Shen Yi. Sekali lagi Feng Shang mengangguk mengiyakan.
Shen Yi tertawa kecil. Ternyata makhluk berbulu ini bukan ayam, tapi burung feniks. Yang ia herankan ialah mengapa burung ini bisa dipelihara oleh Feng Shang, padahal yang ia tahu burung ini adalah burung spesies langka yang hampir dinyatakan punah oleh pemerintah Kota Cheng.
Warnanya juga berbera. Kebanyakan burung feniks berwarna merah, sampai sering dibuatkan sketsa atau animasinya yang diibaratkan seperti api. Burung yang bertengger di pundaknya sekarang berwarna biru, mungkinkah spesies yang jauh lebih langka daripada feniks biasa?
Kalau begitu, Feng Shang begitu hebat sampai bisa mendapatkan burung seperti ini.
"Karena kau begitu pintar, aku akan membantumu menjagamu sampai perempuan itu kembali," ujar Shen Yi.
Feng Shang tak punya pilihan lain. Ia menurut ketika Shen Yi membawanya masuk ke dalam mobil, lalu meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi. Feng Shang tidak pernah tahu kalau keberadaannya akan memicu perhatian dari banyak orang nanti.
...***...
...Aduh, kayaknya cuma di depan Shen Yi ya Feng Shang jadi polos, sampai salah ucap mantra lagi. Nah, episode-episode berikutnya akan menampilkan adegan-adegan yang bisa mempererat kedekatan pasangan yang satu ini, tapi dengan cara yang unik. So, stay tune terus, sampai jumpa di episode berikutnya! ...
__ADS_1
...Salam hangat dari Otor, hehe... ...