
Perjamuan langit telah selesai beberapa hari kemudian. Biarpun begitu, bukan berarti semua tamu dewa sudah kembali ke tempat asal mereka masing-masing. Ada sebagian dewa yang menetap lebih lama di Istana Langit untuk mendisukusikan sesuatu dengan maharani, atau dengan dewa yang lainnya. Itu sudah biasa terjadi mengingat mereka berasal dari tempat yang berbeda dan tidak bisa berjumpa setiap hari.
Setelah perjamuan selesai, Aula Fuyao kembali difungsikan sebagai aula pengadilan dewa. Tidak menunda tugas, satu hari setelah acara selesai Feng Shang langsung mengadakan pertemuan dewa. Ia ingin mendiskusikan perihal Lembah Shansui yang beberapa waktu lalu mengalami pergerakan aneh. Semua orang menatapnya dengan serius.
"Menurutku, segelnya harus segera diperkuat lagi. Kita tidak bisa mengambil resiko yang bisa menyebabkan Raja Iblis keluar dari sana," usul Dewa Xie Guichan, dewa dari Gunung Zhuimeng. Dia adalah salah satu keturunan dewa kuno. Rambutnya sudah memutih, tapi wajah dan tubuhnya seperti dewa muda berusia puluhan ribu tahun.
"Segel itu sudah kuat. Maharani memperbaikinya dan mengawasinya setiap saat. Menurutku, pergerakan itu disebabkan oleh faktor lain," timpa Dewa Zhu Ye, dewa dari Lembah Longtian.
Feng Shang merenung sejenak. Semuanya terlalu aneh. Di ingatan samarnya, dia juga seperti melihat sosok Raja Iblis di dunia itu, tetapi sangat tidak jelas karena dia langsung mengalami sakit kepala yang luar biasa. Entah itu hanya perasaannya saja, atau mungkin itu benar-benar berhubungan dengan dia dan Yongheng.
"Usulanmu bagus," ucap Feng Shang kemudian. "Aku akan memperkuatnya kembali. Dewa Agung Yongheng, maukah kau membantuku?"
Yongheng tersenyum tenang, lalu mengangguk. Ia tahu maharani tidak seceroboh itu. Meski punya kekuatan kuat, tetapi Yongheng mempunyai kekuatan yang lebih kuat darinya. Dia adalah dewa agung, tentu saja mewarisi kekuatan Dewa Leluhur. Semua dewa menatap padanya, ada kekaguman terselip di hati mereka. Sebelumnya, mereka tidak bisa melihat dengan jelas seperi apa Dewa Agung Yongheng, seorang dewa dari zaman kuno yang bangkit secara ajaib karena Yongheng selalu tidak ada di tempatnya.
"Tentu saja, Maharani," ujar Yongheng.
"Satu hal lagi. Tidak ada yang diperkenankan meminta pengampunan atas nama Sui Jin," tegas Feng Shang. Lantas, dia kemudian meninggalkan Aula Fuyao, diikuti Yongheng.
Keduanya tiba di Lembah Shansui. Tepat di mulut gua, keduanya berdiri berdampingan. Feng Shang sedikit tidak nyaman begitu mengingat hari itu, ketika dia pertama kali bertemu Yongheng di sini. Kekuatan luar biasa milik Yongheng membuat segel ini menguat sebelum ia periksa. Feng Shang sedikit menggeser posisinya, membuat Yongheng keheranan.
__ADS_1
"Aku tidak akan memakanmu," ucap Yongheng.
"Aku tahu. Aku hanya tidak ingin terkena efek dari gelombang kekuatan segel ini," ujar Feng Shang. Sebenarnya, dia sedang mengelak.
"Kalau begitu, mari kita mulai."
Feng Shang dan Yongheng mulai memperkuat segel. Gelombang kekuatan dari dalam segel memantul, dan mereka berhasil menghindarinya. Terdengar suara erangan yang mengerikan bergema dari dalam gua, membuat siapapun merinding jika mendengarnya. Kecuali Feng Shang dan Yongheng. Erangan itu serupa teriakan kesakitan yang bercampur kemarahan. Semakin lama, erangan itu semakin keras terdengar.
"Sialan! Feng Shang, Yongheng, aku tidak akan pernah melupakan dendam ini! Aku bersumpah akan menghancurkan Alam Sembilan Langit dan Laut Timur!" seru suara dari dalam. Itu suara Raja Iblis yang dikurung. Sudah ratusan ribu tahun berlalu, akhirnya Yongheng kembali mendengar suara musuh lamanya.
"Raja Iblis, rupanya kau masih mengenalku," ucap Yongheng.
"Yongheng, kebangkitanmu membawa bencana! Kau adalah dewa yang tidak tahu apa-apa!"
Setelah segelnya berhasil diperkuat, Feng Shang dan Yongheng mengela napas lega. Setidaknya segel ini tidak akan goyah untuk enam puluh ribu tahun ke depan. Formasi yang melindunginya sudah dipasang hingga tujuh puluh lapis, dan setiap lapisannya setara dengan sepuluh ribu tahun kultivasi.Tidak mudah dihancurkan. Belum lagi formasi luarnya berjumlah tujuh, yang mata formasinya tersembunyi di tempat rahasia.
"Maharani, mari kembali."
"Ya."
__ADS_1
Tepat setelah itu, sebuah angin kencang tiba-tiba bertiup. Feng Shang dan Yongheng terlempar jauh, lalu terjatuh di Hutan Yinshen. Hutan itu adalah hutan tempat tinggal suku siluman yang lain. Kehidupan di sana persis seperti kehidupan manusia. Siluman-siluman yang tunduk pada Raja Siluman beraktivitas di sana dan menjalani kehidupan seperti biasa.
Mereka tidak semuanya jahat. Banyak dari para siluman itu memiliki hati yang baik. Satu hal yang pasti, mereka semua tunduk pada raja dan Maharani Langit. Kalau bukan karena belas kasih Maharani Langit, mereka sudah musnah sejak dulu. Itu disebabkan karena perburuan dan pembantaian besar-besaran yang terjadi empat puluh ribu tahun yang lalu.
"Sial, aku malah terdampar di sini," gerutu Feng Shang. Beberapa siluman yang melihat menatap mereka dengan heran. Lalu mereka menengok ke atas, dan berpikir, "Dewa dan Dewi dari Istana Langit yang mana ini?"
Feng Shang tidak terlalu suka keramaian. Hutan ini meskipun disebut hutan, nyatanya tidak seperti itu. Hutan Yinshen sama seperti pasar di tengah kota, menjadi sebuah tempat pusat aktivitas. Siluman-siluman berlalu lalang bersama anak-anak dan keluarga mereka. Feng Shang bersiap untuk terbang kembali, namun Yongheng mencekal lengannya.
"Karena sudah di sini, mengapa kita tidak jalan-jalan sebentar?"
"Aku bukan pengangguran. Aku harus segera kembali ke Istana Fengyun," tolak Feng Shang. Yah, meskipun bukan itu alasan utamanya.
"Kau jarang bersantai. Selagi ada kesempatan, ayo bersenang-senang sebentar."
Feng Shang menunjukkan keengganannya, namun Yongheng tidak mempedulikannya. Dia menarik lengan Feng Shang dan membawanya menyusuri keramaian Yinshen. Dulu, hutan ini tidak seramai ini. Yongheng ingat saat zaman belum berubah, hutan ini hanyalah sebuah hutan tempat berlatih yang nyaman. Itu beralih fungsi setelah peperangan besar berakhir.
Yongheng membawanya mengunjungi tempat-tempat yang indah dengan pemandangan yang menakjubkan. Alam Sembilan Langit memang indah, tapi Feng Shang tidak benar-benar menikmatinya seperti ini. Hari-harinya hanya dipenuhi kesibukan mengurus Tiga Alam dan para dewa. Yah, mungkin bisa disebut rekreasi sebentar saat Yongheng membawanya kemari.
Yongheng juga membawanya mengunjungi tempat-tempat makan dan menikmati hidangan dari suku siluman. Makanannya lezat dan unik. Feng Shang menghabiskan beberapa piring makanan dan dia sangat puas. Yongheng turut senang karena akhirnya dia bisa membuat Maharani Feng tidak bermuka masam dan dingin seperti biasa. Di sini, dia bisa melihat Feng Shang cerah wajahnya dan senyumnya sering tersungging.
__ADS_1
"Maharani, kau cantik ketika tersenyum," ucap Yongheng. Feng Shang salah tingkah. Dia menyembunyikan rona merah di wajahnya dengan membalikkan badan, berpura-pura menikmati hidangan sendirian. Melihat itu, Yongheng tersenyum karena menurutnya Feng Shang sangat lucu saat tersipu. Lain kali, dia harus sering memujinya.
Sementara itu, di Istana Langit, Yue Ming ketar-ketir mencari keberadaan Feng Shang. Tidak biasanya dia pergi selama ini. Ini sudah hampir malam, tetapi Feng Shang tak kunjung kembali. Yue Ming menanyakannya kepada para dewa, dan mereka hanya menjawab, "Maharani pergi bersama Dewa Agung Yongheng ke Lembah Shansui untuk memperkuat segel Raja Iblis."