
Gedung kantor Perusahaan Xize dihebohkan dengan adanya seekor burung berwarna biru berbulu indah. Selama dua hari ini, Shen Yi membawa burung feniks jelmaan Feng Shang ke kantor. Feng Shang dengan patuh bertengger di pundaknya, atau bertengger di meja ketika pria itu sibuk mengurusi pekerjaannya.
Feng Shang selalu memperhatikan Shen Yi setiap waktu. Setelah mengamati, ia biasanya akan mengoceh, lebih tepatnya menceramahi Shen Yi yang menurutnya sangat lambat. Feng Shang membandingkan cara kerja Shen Yi dengan caranya bekerja, dan itu memang berbeda.
Sebagai seorang presdir, Shen Yi memang tegas, namun terkadang ia suka terburu-buru. Hobinya memarahi direktur lain dan mengomel pada Zhang Bi, lalu melemparkan setiap berkas yang dirasa salah olehnya. Itu terjadi berulangkali, bahkan bisa sampai lima kali dalam sehari.
Hari ini, Feng Shang juga dibawa ke kantor kembali. Shen Yi membawanya ke ruang pertemuan para direktur, yang merupakan acara penting rutinan yang diadakan oleh Xize. Kali ini, Shen Yi mengundang tiga puluh direktur perusahaan mitra dan sepuluh anggota dewan direksi Xize. Bertempat di lantai empat belas, pertemuan itu berlangsung dengan pembahasan seputar perkembangan perusahaan dan rencana ke depan.
Dari dekat jendela, Feng Shang duduk diam seperti patung. Para direktur yang hadir sempat bertanya mengapa Presdir Shen membawa seekor burung ke dalam ruangan, tetapi kemudian mereka dibuat diam setelah Zhang Bi memberitahu kalau burung itu adalah peliharaan Direktur Feng yang sengaja dititipkan kepadanya.
Para direktur juga mengenal Feng Shang. Kabar bisnis baru-baru ini memberikan informasi kalau Lingjing mempunyai seorang direktur utama yang baru dan terjadi pembaharuan besar-besaran di perusahaan tersebut. Mereka juga mendengar berita tentang kejadian di pameran Keluarga Meng, tentang Direktur Feng memberi pelajaran pada para penindasnya.
Lingjing adalah perusahaan besar. Citra Feng Shang sebagai direktur baru yang ketat dan tegas telah menimbulkan pandangan bahwa sosoknya adalah wanita muda yang hebat dan berbakat. Para direktur tidak berani bertanya lebih jauh mengapa Direktur Feng menitipkan hewan peliharaannya kepada Shen Yi dan apa hubungan di antara mereka. Karena selama ini, mereka tidak tahu kalau Feng Shang tinggal di rumah Shen Yi.
Tentu saja, mereka tidak berani menyinggung Xize apalagi Lingjing. Perusahaan mereka tak sebesar Lingjing dan Xize, jadi tidak boleh mencari masalah. Feng Shang yang mengetahui itu jadi ingin tertawa, ternyata nyali beberapa manusia di bumi begitu kecil. Pantas saja bisnis mereka jarang ada yang berkembang, mereka sendiri tidak mau mengambil resiko.
Pertemuan itu diakhiri dengan tepuk tangan dan MoU antar perusahaan. Para direktur lantas bergegas keluar dari sana, menuju tempat makan yang telah disediakan perusahaan. Feng Shang kembali bertengger di bahu Shen Yi, mengibaskan ekornya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berucap, “Aku bosan,” dalam suara burung.
Shen Yi baru saja mendudukkan dirinya di kursi empuknya, namun tiba-tiba suara seorang wanita yang cukup keras terdengar semakin dekat.
“Presdir Shen!” teriak wanita itu.
Dari balik pintu, seorang wanita memakai longdress biru muda berjalan masuk sambil menenteng sesuatu. Rambutnya digerai panjang dan wajahnya dipolesi sedikit make up. Bibirnya tipis, alisnya melengkung berwarna cokelat dan pipinya sedikit berwarna merah muda. Cukup natural dan cocok dengan postur tubuhnya yang ramping.
Shen Yi waspada. Raut wajahnya seketika berubah datar tatkala wanita itu menghampiri mejanya. Shen Yi sangat ingin punya kesibukan sekarang hanya untuk menghindari wanita ini. Feng Shang dalam wujud burung feniksnya memperhatikan dengan saksama, menelisik dan mengira-ngira siapakah wanita ini. Ia tidak pernah melihatnya sebelumnya.
“Xixi, Kenapa kau kemari?” tanya Shen Yi ketus.
Mu Xixi, wanita bergaun biru muda yang cantik itu, adalah putri dari Direktur Mu Lingzhi, salah satu direktur perusahaan yang bekerja sama dengannya. Shen Yi dan Mu Xixi pernah satu sekolah saat sekolah menengah dan berada di angkatan dan kelas yang sama. Mereka berpisah ketika sekolah di perguruan tinggi, lalu bertemu kembali beberapa tahun yang lalu.
Mu Xixi menyukai Shen Yi dan terus mengejarnya selama bertahun-tahun. Karena ia adalah putri seorang direktur, sifat manjanya kerap kali membuat Shen Yi jengah. Gara-gara wanita itu, Shen Yi pernah disalahpahami sebagai pria brengsek dan hampir dipukuli hanya karena dia menolak ajakan klab Mu Xixi.
Meski selalu ditolak mentah-mentah, Mu Xixi dengan tidak tahu malu selalu datang untuk merecokinya. Merasa bersalah, Direktur Mu kemudian mengirim putrinya ke luar negeri, namun Shen Yi tidak tahu kalau ia telah pulang ke Kota Cheng. Bahkan juga ikut bersama ayahnya menghadiri pertemuan para direktur.
__ADS_1
Mu Xixi bermuka dan berkantong tebal. Wanita itu sering membuat Shen Yi tidak nyaman karena perilakunya begitu menyebalkan. Mu Xixi mendeklarasikan hubungan yang sebenarnya tidak pernah terjadi antara dia dengan Shen Yi, membuat rumor mencuat dan mempengaruhi reputasi Shen Yi. Kini, wanita itu malah datang kemari.
“Sudah lama tidak bertemu. Shen Yi, kau semakin tampan!” ucap Mu Xixi gembira.
Kalau Feng Shang dalam wujud manusia sekarang, ia pasti sudah muntah. Perkataan Mu Xixi terdengar begitu menjijikan di telinganya. Sejak dulu, wanita itu harus pandai menjaga kehormatan, baik itu di alam khayangan atau alam fana. Wanita pantang menyatakan perasaan terang-terangan dan sangat tidak boleh berkata sembarangan. Wanita yang satu ini, sepertinya tidak mengenal prinsip.
“Menjijikan,” ucap Feng Shang.
Shen Yi memasang wajah batunya. Sungguh, ia muak. Diliriknya Zhang Bi, tapi sekretaris sekaligus asistennya itu malah mengedikkan bahu.
“Aku tanya untuk apa kau kemari?” Shen Yi mengulang pertanyaannya.
Mu Xixi malah tidak terpengaruh. Wanita itu menatap burung biru yang bertengger di bahu Shen Yi, lalu penasaran. Mu Xixi memperhatikannya, mencoba menyentuhnya. Feng Shang seketika mematuk punggung tangan Mu Xixi dengan keras hingga kulit wanita itu berubah merah. Shen Yi merasa kesal dan marah, lalu berucap dengan tegas, “Jangan menyentuh barangku!”
Feng Shang alergi terhadap sentuhan orang asing. Bulunya yang lembut dan indah tidak bisa dikotori oleh tangan tangan tidak bersih yang telah menyentuh banyak kekotoran. Maharani Langit memang tidak bisa disentuh sembarangan. Bulu dan kulitnya sangat berharga, jauh lebih berharga dibandingan kotak-kotak emas di manapun.
Feng Shang refleks mematuk tangan Mu Xixi karena ia juga ingin memberi wanita itu pelajaran. Feng Shang menunjukkan bahwa Shen Yi bukanlah orang yang bisa sembarangan digoda. Biarkan wanita itu tahu kalau dirinya tak lebih dari wanita rendahan yang menggunakan segala trik untuk menggoda pria.
“Shen Yi, mengapa kau memelihara burung jelek ini? Lihat, punggung tanganku sakit dipatuk oleh paruhnya!” rengek Mu Xixi. Feng Shang mendecih, ia berkicau memarahi Mu Xixi.
Dapat dilihat kalau Mu Xixi terpancing emosi. Ia meletakkan bingkisan di meja dengan kasar, kemudian keluar dari ruangan Shen Yi dengan langkah besar dan dihentak-hentakkan. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menatap aneh, bertanya-tanya apa yang sudah ia lakukan hingga Presdir Shen mengusirnya keluar.
Mu Xixi sangat marah. Ia merasa direndahkan, bahkan kalah oleh seekor burung jelek yang tidak diketahui jenisnya. Di luar negeri ketika ayahnya mengirimnya, tidak ada orang yang berani padanya. Mereka akan mendekatinya dan berusaha menjadi temannya. Tetapi Shen Yi, setelah bertahun-tahun berlalu pun tetap tidak bisa didekati. Hatinya sungguh keras.
Sementara itu, Shen Yi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Pertemuan para direktur membuatnya kelelahan, ditambah lagi dengan meladeni Mu Xixi yang selalu mengejarnya selama bertahun-tahun. Shen Yi hanya ingin hidup damai dan menikmati pekerjaannya. Tidak bisakah ia mendapatkan itu walau hanya sebentar saja?
“Xiao Shang, menurutmu apa aku harus menikah supaya Mu Xixi tidak mengangguku lagi?”
Feng Shang mematuk tangan Shen Yi. Menurutnya, menikah itu bukan solusi. Meskipun Shen Yi menikah, bukan tidak mungkin Mu Xixi tetap mengejarnya. Lagipula, jika ingin menikah, wanita mana yang mau menikahi seorang presdir sepertinya? Saingannya saja sudah seorang Mu Xixi, belum lagi Direktur Jiang Li, belum lagi wanita-wanita yang tidak diketahui identitasnya, yang mengagumi Shen Yi dari jauh.
“Menurutku lebih baik kau mengebiri diri sendiri saja,” ucap Feng Shang dengan suara burungnya.
Entah mengapa Shen Yi merasa kalau burung ini sedang mengejeknya. Feng Shang diletakkan di meja, lalu Shen Yi memegangi kepalanya dan menatapnya dengan dahi berkerut. Matanya yang tajam menelisik ke dalam mata burung Feng Shang, menembus hingga ke jantung hati. Feng Shang mencoba melepaskan diri, hawa panas di dalam tubuhnya kembali bereaksi.
__ADS_1
Feng Shang mengibaskan ekornya hingga mekar, lalu terbang mengelilingi ruang kerja Shen Yi. Hawa panas di tubuhnya barulah sedikit berkurang. Seharusnya ia tahu kalau setiap kali mata mereka saling menatap dengan tajam, reaksi tubuh akan kambuh dan ia seharusnya bisa mempersiapkan diri.
“Hah, tingkahnya sama persis seperti Feng Shang,” ujar Shen Yi.
Pria itu masih bersandar di kursinya, memperhatikan burung feniks biru terbang seperti cacing kepanasan. Namun, kepakkan sayap itu mengeluarkan aura spiritual, hingga ruangan terasa sejuk dan nyaman meskipun AC dimatikan. Feng Shang terbang tak tentu arah, hampir menabrak pintu. Pintu itu terbuka, menampilkan sosok Zhang Bi yang baru kembali dari lantai bawah. Ia terkejut saat wajahnya hampir saja ditabrak kaki Feng Shang.
“Bagaimana?” tanya Shen Yi.
“Tuan, Nona Feng tidak datang ke kantor Lingjing selama dua hari ini,” jawab Zhang Bi.
Shen Yi memijat keningnya. Perempuan itu pergi tanpa pamitan, membuat Shen Yi sedikit khawatir. Ia mengira Feng Shang pulang ke rumahnya dan pergi ke kantor. Tetapi nyatanya perempuan itu tidak ada di sana. Kalau dia tidak di rumah dan di kantor, ke mana dia pergi? Shen Yi khawatir perempuan itu tersesat, karena ia tahu Feng Shang tidak pandai menghafal jalan.
Ia khawatir perempuan itu dalam masalah besar. Di Kota Cheng ini, Keluarga Feng dan Lingjing punya banyak musuh. Xize juga punya banyak musuh. Tidak menutup kemungkina musuh-musuh itu berkomplot untuk mencelakai atau menjatuhkan ia dan Feng Shang. Shen Yi masih bisa menghadapinya, tetapi jika Feng Shang sendirian di luar sana, ia takut perempuan itu tidak akan lolos.
“Presdir Xiang juga berkali-kali datang mengirimkan hadiah,” tambah Zhang Bi.
“Hadiah? Apa dia menginginkan Feng Shang?” tanya Shen Yi dengan nada bicara yang naik satu oktaf.
“Saya tidak tahu, Tuan. Sekretaris Jingjing sudah berkali-kali mengusirnya, bahkan sempat terjadi pertengkaran antara Presdir Xiang dengan Nona Feng Ling.”
Feng Shang dalam wujud burungnya hanya mendengarkan dengan saksama. Menarik, ternyata ada kejadian seperti ini saat dirinya tidak ada. Sayang sekali dia tidak bisa menonton drama dan keributan itu. Kalau dia ada di sana, dia bisa menambahkan sedikit bumbu sampai pertengkaran itu jadi lebih menarik dan lebih seru.
Raut wajah Shen Yi terlihat tidak senang. Hatinya tidak suka jika ada orang lain yang mencoba mendekati Feng Shang tidak peduli apapun alasannya. Terlebih lagi pria itu adalah Xiang Sun, rivalnya selama bertahun-tahun. Ia yang sudah tamat tabiat saingannya tidak mau Feng Shang jatuh ke tangannya.
“Xiang Sun terlalu banyak bermimpi!”
“Lalu, selanjutnya apa, Tuan?”
“Cari Feng Shang! Bahkan jika harus mengelilingi seluruh dunia, kau harus menemukan perempuan bodoh itu!”
Nadanya sangat tegas dan tanpa komentar. Dalam sekejap, Zhang Bi sudah lari terbirit-birit. Padahal, itu bukan pekerjaannya. Mencari Feng Shang seharusnya menjadi tugas bawahan Shen Yi yang lain. Tetapi karena kesetiaannya, Zhang Bi mau-mau saja disuruh.
“Shen Yi bodoh, kau tidak akan menemukan aku di manapun!” ucap Feng Shang, sembari kembali bertengger di pundak Shen Yi.
__ADS_1
...***...