Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 63: Bernostalgia


__ADS_3

Atmosfer kantor Xize terasa sangat berbeda hari ini. Kantor yang biasanya riuh karena obrolan karyawan tentang temannya yang dimarahi atasan mendadak seperti ajang bisik-bisik tetangga. Jiwa-jiwa gosip karyawan mendadak seperti hilang seketika.


Bukan apa-apa sebenarnya. Itu terjadi karena atasan utama mereka, sang presdir, tampak sangat berbeda hari ini. Meskipun penampilannya seperti biasa, tetapi aura yang terpancar begitu berbeda. Wajah itu masih sama, tetapi ekspresi dan pancaran matanya sama sekali bukan milik atasan mereka. Seolah-olah, pria yang duduk di kursi presiden direktur adalah orang lain.


Alih-alih membicarakan, mereka lebih memilih bungkam. Para karyawan mengikuti saran Zhang Bi yang menyuruh mereka tak banyak bertanya jika tidak ingin kehilangan gaji. Padahal, lidah mereka terasa sangat gatal ingin bicara.


Shen Yi yang telah menjadi Yongheng merasa bosan. Di istananya dulu, tepatnya di Laut Timur, dia tidak pernah sebosan ini. Dia biasanya dikelilingi dewa-dewi bawahan, yang melaporkan ini itu seputar keadaan di kerajaan laut. Ia bisa jalan-jalan menikmati keindahan kerajaannya yang paling damai di Tiga Alam.


Yongheng menghiba, menata kembali ingatan sebelum ia mengorbankan diri dan jatuh dalam tidur abadi. Seingatnya, Tiga Alam saat itu hanya dihuni beberapa ratus dewa. Entah seperti apa keadaan Tiga Alam sekarang. Entah kekuatan besar apa yang telah menahan inti jiwanya hingga ia bisa bangkit walau di dunia yang berbeda.


Jika bukan karena ia bertemu Maharani Langit, ia mungkin sudah pergi mencari jalan pulang sendiri. Ratusan ribu tahun lalu ketika pertemuan para dewa dengan Kaisar Langit pertama berlangsung, ramalan tentang kelahiran Maharani Langit yang ditakdirkan membuat geger Tiga Alam.


Zaman itu masih zaman dewa kuno, ketika para dewa sejati sepertinya masih berusia puluhan ribu tahun. Bisa dibilang, usia pemerintahan di Alam Sembilan Langit baru seumur jagung bagi para dewa kuno sepertinya. Dewa peramal takdir mengatakan ramalan kelahiran Maharani Langit dengan suara bergetar.


Saat itu langit tertinggi bergemuruh dan burung-burung surgawi beterbangan. Dewa peramal takdir mengangkat kedua tangannya ke udara, memberitahu semua dewa bahwa seorang maharani dari ras feniks api biru akan lahir suatu saat nanti. Alam Sembilan Langit tak akan lagi dipimpin oleh seorang dewa.


Tak ayal, berita ramalan itu menyebar luas ke Tiga Alam. Banyak dari makhluk abadi yang menangkapi dan menyandera dewa-dewi dari ras feniks api biru, sampai keberadaannya menjadi misterius. Mungkin, dewa agung dari ras itu membawa pergi semua rakyatnya ke suatu tempat yang tersembunyi agar tidak dijadikan sandera oleh yang lain.


Kaisar Langit, Chang Yuan, marah besar. Dia menghukum dewa-dewi yang menyandera ras feniks api biru. Ketika ada yang membuat mereka celaka atau terluka, Kaisar Langit menghukum mereka di altar pembunuh dewa, lalu mereka dengan terpaksa kehilangan kedewaan mereka dan menghilang secara perlahan.


Itulah sebabnya mengapa feniks api biru menjadi legendaris dan misterius. Keberadaan mereka tidak diketahui bahkan setelah puluhan ribu tahun berlalu sejak ramalan diumumkan. Bisa jadi mereka masih ada, atau bisa jadi mereka membekukan diri dan memendam inti jiwa di suatu tempat.

__ADS_1


Lalu, Yongheng menata ingatan saat peperangan besar antara kaum dewa dengan suku iblis. Kekacauan terjadi di mana-mana. Lebih dari separuh Tiga Alam mengalami kerusakan. Raja Iblis memimpin perang melawan kaum dewa yang dipimpin Kaisar Langit. Kaisar Langit bersama tiga puluh ribu tentara surgawi menahan serangan suku iblis dan menahan mereka di perbatasan Alam Sembilan Langit dan Alam Iblis.


Pada saat itu, banyak yang mengharapkan kehadiran Maharani Langit yang ditakdirkan. Seluruh makhluk di Tiga Alam yang tidak berdosa menumbuhkan harapan, berharap perang kedua suku segera berakhir, atau seseorang bisa mengatasi kekacauannya. Peperangan benar-benar mengerikan.


Sebagai dewa sejati, Yongheng maju sendirian. Dia memikul tanggungjawab bersama Kaisar Langit dan tiga puluh ribu tentara surgawi, beserta ratusan dewa lain. Kekuatannya adalah yang terkuat kedua setelah Kaisar Langit, yang membuatnya berdiri sejajar dengan sang pemimpin. Melihat peperangan terus berlanjut, ia lantas mengambil sebuah keputusan besar.


Yongheng menggunakan inti jiwanya sendiri untuk menghentikan peperangan. Katanya, inti jiwa seorang dewa agung memiliki kekuatan sangat besar. Yongheng menyerahkan takhta kerajaan di Laut Timur, meninggalkan Alam Sembilan Langit. Ia membinasakan dirinya sendiri dan berhasil menyegel Raja Iblis.


Kini, saat ramalan Maharani Langit menjadi nyata, takdir memberinya kejutan yang lain. Ia malah dibangkitkan di tempat yang tidak seharusnya. Mengenai mengapa ia di sini dan mengapa maharani di sini juga menjadi misteri takdir yang belum terpecahkan.


Selesai bernostalgia, ia keluar diam-diam dari ruangan kerja. Yongheng tak tahu arah, ia pergi ke manapun kakinya melangkah. Lorong-lorong panjang, tangga, lift, semuanya dilewati tanpa tahu ke mana tujuannya yang sebenarnya.


Sementara itu, beberapa menit setelah Yongheng pergi, Feng Shang baru tiba. Perempuan itu baru saja membeli makan siang untuknya dan untuk Yongheng. Dirinya terkejut mendapati Yongheng tak ada di ruang kerja, padahal dia sudah menyuruhnya duduk dan menunggu di sana dengan patuh.


"Bukankah Direktur Feng menyuruh Tuan tetap di dalam?"


"Bodoh! Kalau dia di dalam, untuk apa aku bertanya?"


Malas berdebat dengan manusia fana seperti Zhang Bi, Feng Shang segera meninggalkan ruang kerja. Feng Shang menyusuri setiap lorong, setiap ruangan yang mungkin dilewati oleh Yongheng. Dia seperti seorang ibu yang kehilangan anak kesayangannya.


"Mengapa seorang dewa agung bisa begitu merepotkan?" gerutu Feng Shang.

__ADS_1


Selama menjabat menjadi Maharani Langit, dia pernah bertemu berbagai macam dewa dengan sifat yang berbeda. Namun, dia tidak pernah menjumpai seorang dewa, apalagi dewa agung yang merepotkan seperti Yongheng. Dewa Agung Yongheng bukan hanya melanggar perintah dan tidak penurut, tapi juga menyebalkan.


Apakah karena dia adalah Shen Yi yang telah berubah?


Entahlah. Satu hal yang pasti dan diketahui oleh Feng Shang ialah fakta bahwa dia sekarang adalah Yongheng. Juga, fakta lain: dia menghilang dan membuat Feng Shang kesusahan mencarinya. Sebenarnya ke mana dia pergi?


Feng Shang kemudian menggunakan pendengaran maharani-nya, membuka segel itu untuk melacak keberadaan Yongheng. Sayang, cara itu tidak berhasil. Feng Shang tidak bisa menangkap suara langkah kaki dari pria itu.


"Sepertinya benar-benar harus menggunakan darah suciku," gumam Feng Shang. Ia baru ingat kalau di tubuh Yongheng terdapat darah suci miliknya, yang membuat dia terhubung dengan darah suci tersebut.


Ditambah dengan kekuatan sihirnya, Feng Shang mulai melacak keberadaan Yongheng. Tanda-tandanya mulai kelihatan dan petunjuknya muncul satu persatu. Feng Shang memejamkan mata, mencoba melihat ke mana arah langkah kaki itu pergi.


Dia melihat Yongheng melewati lorong, jalan, jembatan, dan tempat-tempat yang familier di ingatannya. Setelah beberapa saat, Feng Shang mendengus kesal. Ia berkat, "Mengapa kau ada di sana, Yongheng bodoh!"


Feng Shang segera pergi ke tempat Yongheng berada. Dengan limousin mewah milik Shen Yi, Feng Shang membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Mobilnya baru berhenti saat tiba di depan sebuah tower yang sudah dikelilingi banyak orang. Feng Shang menerobos kerumunan, kemudian kepalanya menengadah untuk melihat apa yang sebenarnya mau dilakukan oleh pria itu.


"Bodoh, apa yang sedang kau lakukan di atas sana?"


Orang yang diteriaki tidak menjawab. Feng Shang berdecak, kemudian bergumam, "Kalau kau bosan hidup, matilah. Kembalikan Shen Yi kepadaku."


"Kau! Apa yang ingin kau lakukan?" ulang Feng Shang.

__ADS_1


Namun, orang yang diteriakinya sekali lagi tidak menjawabnya.


__ADS_2