Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 88: Takdir Lampau Maharani Langit


__ADS_3

"Saudari?" tanya Feng Shang tanpa sadar. Saudari? Dari mana datangnya saudari?


Ji Nuo tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan keterkejutan dan ketidakpercayaan di hatinya. Ramalan itu mengatakan bahwa jika Maharani Langit yang ditakdirkan telah ditemukan, maka dunia yang indah akan kembali. Ji Nuo ingin bergegas untuk mengonfirmasi keaslian identitas Feng Shang, karena dia tahu ada yang harus dia sampaikan.


"Kita bicara di tempat lain. Ikut aku."


Ji Nuo membawa Feng Shang ke Istana Kekaisaran. Saat tiba di istana milik Ji Nuo, dia meminta Feng Shang untuk mengembalikan waktu. Semuanya kembali normal seolah tidak ada kejadian apa-apa. Ji Nuo menutup jendela dan pintunya rapat-rapat, lalu menyuruh orang-orang berjaga di luar istana. Ini sangat penting, manusia tidak boleh mendengar apa yang akan mereka bicarakan beberapa saat lagi.


"Kau tahu ramalan tentang Maharani Langit yang ditakdirkan?" tanya Ji Nuo. Feng Shang dan Yongheng mengangguk. "Aku menyaksikannya secara langsung," ucap Yongheng.


"Kau menyaksikannya secara langsung? Kalau begitu, identitasmu seharusnya juga tidak biasa, bukan?"


"Dia Dewa Agung Yongheng," seloroh Feng Shang. Yang dia inginkan sekarang sebenarnya adalah mengetahui cerita apa yang akan dibawakan oleh Ji Nuo.


"Takdir macam apa ini? Maharani Langit dan Dewa Agung turun ke alam fana bersama-sama?" decak Ji Nuo tak percaya.


"Sudahi basa-basinya. Ceritakan apa yang membuatku punya saudari seperti yang kau katakan itu."


"Baiklah. Begini, ini ada kaitannya dengan kejadian setelah pengucapan ramalan tahun itu." Ji Nuo menahan napas, bersiap menceritakan rahasia besar klan feniks api yang terkubur selama ini.


Pada saat itu, tepatnya lima ratus tahun setelah ramalan diucapkan, Permaisuri Dewa Tinggi Feng Yao melahirkan seorang putri setelah bersusah payah. Di malam kelahirannya, tanda-tanda keagungan muncul di langit istana dan menggemparkan suku feniks api. Dewa Tinggi Feng Yao yang saat itu menjadi raja suku feniks mulai khawatir. Sebagai dewa tinggi, dia jelas tahu bahwa nasib putrinya yang baru lahir terikat dengan Tiga Alam.

__ADS_1


Ia juga tahu bahwa perburuan terhadap sukunya bukanlah main-main. Tahun itu, sudah banyak anggota sukunya yang hilang tanpa jejak dan makhluk abadi lain seringkali datang tanpa diundang dan mengacau. Para makhluk abadi yang tidak tahu malu itu menculik banyak bayi dan wanita suku feniks. Dewa Tinggi Feng Yao marah dan membicarakannya kepada Kaisar Langit, Dewa Chang Yuan.


Kemudian turun perintah bahwa siapapun yang mengganggu suku feniks api akan dihukum berat, terutama bagi mereka yang mengacau di wilayah tinggal suku feniks api biru. Namun, tetap saja ada yang tidak patuh dan diam-diam datang kembali. Dewa Tinggi Feng Yao sangat murka, di sisi lain dia juga khawatir kalau takdir putrinya diketahui oleh para bedebah gila itu.


Pada akhirnya, dia membuat suatu keputusan besar. Malam itu, Dewa Tinggi Feng Yao mengumpulkan semua orang di istana. Ia menyegel kekuatan alam pada diri putrinya, mengubahnya menjadi dewi kecil dengan kekuatan spiritual rendah dan menidurkan roh primordialnya. Dewa Tinggi Feng Yao menggunakan separuh hidupnya untuk menyegel putrinya itu, dan dia sangat terpukul karena telah menunda kehidupan putrinya selama ribuan tahun.


Setelah peristiwa penyegelan, bayi itu dibawa pergi diam-diam dan dibesarkan di suatu tempat. Sejak itu pula suku feniks api biru mulai menghilang dan lenyap. Sebelum hilang, Dewa Tinggi Feng Yao memberitahu bahwa putrinya akan kembali kepada jati dirinya ketika dunia mendapat sedikit kedamaian. Kebetulan, tiga ratus tahun kemudian terjadi peperangan besar antara suku langit dengan suku iblis dan Dewa Agung Yongheng telah menyegel Raja Iblis dengan inti jiwanya.


Saat masa kuno berakhir maka itulah waktu terbangunnya putrinya. Ia akan kembali pada jati dirinya ketika usianya setelah terbangun mencapai tiga puluh ribu tahun. Jika dipikir dan diingat kembali, takdir Feng Shang sebagai Maharani Langit juga terungkap ketika usianya mencapai tiga puluh ribu tahun.


"Feniks api biru memang musnah. Itu bahkan tercatat dalam sejarah," tutur Yongheng. Dia telah mengetahui latar belakang keluarga Feng Shang terlebih dahulu. Melihat ekspresi wajah Yongheng, Feng Shang langsung bertanya, "Kau sudah mengetahuinya, bukan?"


"Ya. Aku mengetahui asal-usulmu ketika kau meninggalkan bulu feniksmu di cermin langit."


"Aku lahir tiga ratus tahun lebih awal darimu. Dewa Tinggi Feng Yao juga ayahku, kita ini hanya berbeda ibu."


"Kenapa hanya kau yang masih hidup?" tanya Feng Shang.


"Saat ayahanda membawa pergi semua suku feniks api biru, aku sedang berada di Langit Ketujuh. Ketika pulang, istana kosong dan semua orang telah pergi. Sampai sekarang aku tidak pernah menemukan mereka kembali. Mungkin itu sebabnya orang-orang menyebut bahwa suku feniks api biru telah musnah."


Jika begitu, kini Feng Shang bisa mengerti mengapa dirinya tiba-tiba menjadi Maharani Langit. Soal ramalan dan cerita Ji Nuo, dia tidak meragukannya. Hanya saja di hatinya selalu ada yang terasa mengganjal. Sampai saat ini, Feng Shang belum tahu mengapa ada dirinya dalam versi lain di dunia lain dan mengapa ia bisa terikat dengan Dewa Agung Yongheng. Latar belakang keluarganya jelas tidak berhubungan dengan suku di Laut Timur yang menjadi suku utama Yongheng.

__ADS_1


Feng Shang menyembunyikan rasa penasarannya akan teka-teki lain hidupnya dari Yongheng dan Ji Nuo. Bagaimanapun, ini bukan saat yang tepat untuk mengungkap misterinya. Meskipun dia bisa mengetahui rahasia hidupnya kapan saja, tetapi ketika rahasia hidup itu diungkapkan oleh orang lain, rasanya terdengar begitu heroik dan memilukan. Ternyata sebuah suku telah dikorbankan untuk menjaga takdir seorang Maharani Langit.


Feng Ji Nuo juga tidak ingin melanjutkan lebih jauh. Tahun-tahun yang mengerikan itu telah berlalu sangat lama, tapi bekasnya masih ada. Ia senang karena akhirnya saudarinya telah sampai kepada takdirnya, namun ia juga sedih karena mengingat betapa besar pengorbanan yang harus dilakukan untuk mempertahankannya. Bertemu dengan Feng Shang merupakan sebuah hadiah besar. Tadi, ia belum tahu identitasnya dan hanya merasakan aura kedewaan yang samar. Ia khawatir kalau Feng Shang dan Yongheng adalah mata-mata suku siluman atau iblis yang ingin berulah. Itulah sebabnya ia berbalik dan pergi.


"Ah, cerita keluarga membuatku sedikit terharu," canda Ji Nuo sambil berpura-pura mengusap air mata dan menyusut ingus.


"Ngomong-ngomong, mengapa kau menjadi permaisuri manusia?" tanya Feng Shang. Ia tahu ini saatnya mengalihkan pembicaraan.


"Aku menikahinya karena tidak ada kerjaan. Siapa yang menyangka dia bisa mendatangkan begitu banyak masalah untukku!" Nada bicara Ji Nuo kini terdengar kesal.


"Kudengar dia menginginkan gadis muda dan sangat suka berganti wanita setiap malam," seloroh Yongheng.


"Bedebah sialan itu! Sekarang gadis-gadis di tempat ini ketakutan. Aku ingin sekali memotong burung si cabul itu!"


"Yah...Itu karena di dalam dirinya ada sosok lain yang menguasainya," ujar Feng Shang. Ji Nuo menatap meminta penjelasan.


"Sosok lain?"


"Suami manusiamu dirasuki bayangan Raja Iblis," tukas Yongheng. Ji Nuo mendongak. Apa katanya tadi? Raja Iblis? Ji Nuo kini dapat menebak tujuan Maharani dan Dewa Agung datang ke alam fana.


"Kalau begitu, mengapa kita tidak segera menangkapnya? Aku sudah muak melihat bedebah itu bersenang-senang dengan wanita!" Ji Nuo berapi-api. Bagaimana tidak, selama ini dia harus bersabar dan berpura-pura menjadi istri dan permaisuri yang baik, sementara suami manusianya yang menjadi kaisar malah sibuk bermain dengan ratusan wanita.

__ADS_1


Bedebah sialan itu!


__ADS_2