Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 66: Musuh Lama


__ADS_3

Xiang Sun benar-benar marah atas kehendak langit. Musuh yang menyegelnya selama ratusan ribu tahun di lembah itu kini bangkit lagi dan berdiri dengan gagah di depannya. Dendam ratusan ribu tahun itu tidak akan pernah hilang, seolah-olah peperangan besar tersebut baru saja terjadi kemarin. Masih jelas dalam ingatannya ketika Yongheng mengalahkannya dan menyegelnya dengan mengorbankan inti jiwanya sendiri.


Mengapa dia bisa bangkit? Mungkinkah pertanda yang dulu pernah dirasakannya adalah ini?


Xiang Sun tidak pernah menyangka kalau musuh manusianya ternyata musuh dewanya. Selama ini dia tidak pernah merasakan apapun, tidak pernah mempunyai firasat kalau Shen Yi adalah Dewa Agung Yongheng. Kini, dia sangat ingin membunuhnya. Akan ia balaskan pengurungan selama ratusan ribu tahun itu hari ini!


"Tidak kusangka musuh lamaku bisa bangkit. Kupikir kau sudah musnah di Alam Ketiadaan," ucap Xiang Sun. Jiwa manusianya benar-benar lenyap, dia benar-benar bangkit menjadi Raja Iblis.


Yongheng terkekeh remeh. Tempramen Raja Iblis memang tidak pernah berubah. Angkuh, sombong, juga merasa diri paling hebat. Ambisi itulah yang menghancurkan dirinya dan juga rakyat suku iblis. Akibat peperangan itu, suku iblis menjadi terasing dan dijauhi semua makhluk. Dunia mereka bahkan terisolasi dan hidup seperti tak ada di dunia. Tetapi,  raja mereka justru tidak pernah berubah.


"Kau berani menyakiti Maharani Langit yang ditakdirkan. Kukira kau masih ingin dikurung dalam segel itu!"


"Bodoh! Kalian semua, matilah!"


Xiang Sun menyerang Yongheng dan Feng Shang. Ketiga orang itu lalu bertarung di ruang bawah tanah. Badai semakin besar. Yongheng menyerang dari sisi kiri, sementara Feng Shang menyerang dari sisi kanan. Pertarungan itu cukup imbang karena Xiang Sun lagi-lagi menyerap energi hidup makhluk bumi untuk memulihkan kekuatannya. Feng Shang dan Yongheng terus berusaha menyerang Xiang Sun tanpa henti.


Kekuatan keduanya seperti tak ada habisnya. Raja Iblis yang berwujud Xiang Sun tampak tak gentar sedikitpun meski tubuhnya sudah terluka. Tidak, dia tidak bisa kalah hari ini. Dendam ratusan ribu tahun tidak bisa berakhir begitu saja. Dia tidak akan kembali dengan tangan kosong. Setidaknya, salah satu dari mereka harus mati jika ia tidak bisa menghabisi keduanya.


Pada jeda ketika ketiganya sama-sama mengukur kekuatan sihir, Xiang Sun tiba-tiba menyeringai. Ia sudah menemukan senjata yang bagus untuk mengecoh Dewa Agung Yongheng dan Maharani Feng. Bukan senjata berbentuk fisik, tetapi senjata lain yang ketajamannya bisa langsung membunuh jiwa seseorang. Xiang Sun sedikit mundur, lalu kembali tertawa.


"Yongheng, kau mungkin penasaran siapa dirimu sebelum kau bangkit, bukan?"


Feng Shang melihat gelagat aneh Xiang Sun. Kewaspadaannya meningkat, lalu mengarah pada sebuah kecurigaan. Xiang Sun ingin membongkar siapa diri Yongheng sebelum bangkit untuk mengacaukannya! Tidak bisa, itu tidak boleh terjadi! Pertarungan ini belum berakhir. Feng Shang tidak akan membiarkan Xiang Sun mendapat kemenangan dengan memanfaatkan situasi!

__ADS_1


"Tidak, jangan dengarkan dia!" seru Feng Shang. Namun terlambat, Yongheng sudah tertegun lebih awal. Rasa penasarannya lebih besar daripada keinginan melenyapkan sang iblis. Xiang Sun melihatnya sebagai kesempatan. Akhirnya, Yongheng terpancing olehnya.


"Maharani, apa kau tidak akan menceritakannya?" Xiang Sun malah berbalik menyerang Feng Shang. Yongheng ikut menatap Feng Shang, namun perempuan itu memalingkan wajahnya ke samping.


"Sepertinya Maharani terlalu sungkan. Yongheng, apa kau tahu kalau kau telah merebut seseorang darinya?"


"Katakan dengan jelas!" seru Yongheng.


"Kau telah merenggut kekasihnya! Apa kau sebagai seorang dewa agung bahkan tidak menyadari ini?"


Ucapan Xiang Sun membuat Yongheng terdiam cukup lama. Pantas saja sikap Maharani Feng belakangan ini begitu menyebalkan. Seperti ada jarak yang sangat jauh yang memisahkan ia dengan maharani. Bahkan sejak ia membuka mata pertama kali, wajah sang maharani begitu tidak bersahabat. Maharani juga suka marah-marah padanya.


Ternyata, itu karena ia telah merebut seseorang yang berharga darinya. Kebangkitannya telah membuat seseorang menghilang: dirinya sebelum bangkit. Yongheng tidak punya ingatan ketika dirinya menjadi manusia. Wajar jika dia tidak mengetahui apapun. Seseorang yang begitu dihargai Maharani Langit pastilah seseorang yang telah menggetarkan hati perempuan itu.


"Maharani Feng, apa perkataannya benar?" tanya Yongheng.


Xiang Sun menggunakan kesempatan itu untuk menyerang kembali. Sihirnya berhasil membuat Yongheng terpental beberapa meter, menabrak tembok beton dan jatuh di lantai. Tatapan Feng Shang menjadi tajam kembali. Ekspresinya lebih gelap dari sebelumnya, aura menakutkan itu menguar sesaat setelah melihat Yongheng terlempar. Kurang ajar!


Mereka melanjutkan pertarungan. Di sela-sela serangan, Yongheng berkali-kali bertanya perihal kebenaran dari ucapan Xiang Sun. Feng Shang menjadi sangat kesal.


"Jika kau ingin mati, teruslah bertanya! Aku tidak akan meladenimu!" seru Feng Shang sembari terus menyerang Xiang Sun.


Tidak bisakah dewa menyebalkan ini hilang saja? Ayolah, situasinya tidak tepat. Tugas pentingnya adalah mengalahkan Xiang Sun terlebih dahulu. Kalau Yongheng terus merecokinya dengan pertanyaan bodoh, mereka bisa kalah dan terluka.

__ADS_1


Kekuatan Xiang Sun perlahan melemah. Energi hidup yang diserapnya tak mampu lagi membentuk kekuatan baru untuk menahan serangan Feng Shang dan Yongheng. Yang satu adalah maharani, yang satu lagi adalah dewa agung. Kekuatan besar mereka tidak sebanding dengan kekuatan dirinya yang mengandalkan esensi dari makhluk hidup di bumi. Dia butuh tubuh aslinya untuk menyatukan kekuatan.


Xiang Sun kemudian menggunakan sihir ilusi untuk melarikan diri. Kabut tebal di ruang bawah tanah berhasil membawanya lari dari serangan Feng Shang dan Yongheng. Mengetahui Xiang Sun sudah kabur, Feng Shang mendengus. Raja Iblis ternyata seorang pengecut! Reputasinya selama ratusan ribu tahun hanya kabar burung saja!


"Maharani, aku membutuhkan penjelasan," tiba-tiba Yongheng berdiri di sampingnya.


"Tidak ada yang perlu kujelaskan," tolaknya. Ia kembali bersikap dingin.


"Katakan yang sejujurnya. Apa manusia fana itu bernama Shen Yi?"


"Jika kau mengetahui jawabannya, untuk apa bertanya?"


"Apa dia begitu berharga bagimu?"


"Menurutmu?"


"Tapi, mengapa kau membangkitkanku?"


Bodoh, umpat Feng Shang. Dewa Agung Yongheng ternyata sangat bodoh!


"Kau ingin dunia ini hancur jika aku tidak membangkitkanmu?"


Benar juga, pikir Yongheng. Feng Shang adalah Maharani Langit, pemimpin Tiga Alam. Dia punya tanggungjawab besar di manapun dia berada. Keselamatan Tiga Alam, atau mungkin bumi adalah yang terpenting untuknya. Dia bahkan merelakan orang terkasihnya demi menyelamatkan bumi dari kekacauan. Mengorbankan seseorang yang dikasihi pasti sangatlah menyakitkan.

__ADS_1


"Jangan bertanya lagi. Kita masih harus menemukan si bedebah Xiang Sun itu!" tukas Feng Shang. Tentu saja dia tidak ingin Yongheng terus menerus menanyakan tentang Shen Yi.


Seakan mengerti, Yongheng tak bertanya lagi. Dia mengikuti Feng Shang keluar dari ruang bawah tanah. Badai mulai mereda, tapi Kota Cheng sebagian besar porak poranda. Feng Shang memijat pelipisnya. Sepertinya kemarahannya telah mendatangkan badai bencana untuk Kota Cheng. Kalau begini, bukan hanya Xiang Sun yang mengacaukan kota, tapi juga dirinya.


__ADS_2