
Feng Shang belum bisa berubah wujud ke bentuk manusia karena ia baru empat hari menjadi burung feniks. Masih tersisa dua hari lagi sampai ia kembali ke bentuk manusia seperti biasa. Dengan wujud feniksnya, Feng Shang kesulitan melakukan sesuatu karena ia hanya punya dua kaki dan sepasang sayap yang tidak bisa digunakan untuk mengangkat sumpit dan sendok ketika makan.
Untung saja Shen Yi seperti mengerti, dia menyuapi Feng Shang dengan tangannya. Shen Yi sering berkata kalau burung feniks biru ini aneh, mirip seperti manusia. Jelas-jelas punya paruh, tetapi tidak mau mematuk makanan sendiri. Setiap kali ia berkata juga burung ini selalu beraksi seakan ia mengerti perkataannya.
Pagi ini, Feng Shang tengah menikmati suasana musim semi di taman yang ada di gedung Perusahaan Xize. Awalnya ia pikir gedung ini hanya sebuah gedung perkantoran formal yang dipenuhi unsur tak hidup. Ternyata, ada bagian dari gedung yang memuat unsur benda hidup, sebuah taman yang ditumbuhi bunga-bunga dan rerumputan hijau. Di taman ini juga terdapat air mancur dan beberapa kursi.
Konsepnya sama seperti taman bunga rumah Shen Yi. Tapi, tidak ada aura spiritual di sini. Feng Shang bertengger di atas sandaran kursi, menikmati ketenangan yang merasuk ke dalam pikirannya. Ia sudah bosan menyaksikan rutinitas kantor yang itu-itu saja setiap hari.
“Haish, mantra ini lama sekali waktu berlakunya. Aku benar-benar sudah bosan berada dalam wujud ini,” keluh Feng Shang.
Wujud feniksnya di dunia ini membuat ruang geraknya terbatas. Kalau di Alam Sembilan Langit, ukurannya yang besar membuatnya bebas di angkasa, menyusuri alam semesta sembari menikmati pemandangan di alam fana dari atas awan. Feng Shang tidak perlu khawatir dirinya akan jatuh atau menabrak sesuatu karena di Tiga Alam, tidak ada yang berani menghalangi jalan Maharani Langit. Sangat berbanding terbalik dengan dunia di bumi.
Akan tetapi, Feng Shang merasa sedikit nyaman karena ada Shen Yi di sisinya. Selama beberapa hari ini, pria itu selalu membawanya ke mana-mana. Tidak satu kalipun ia ditinggal pergi jika bukan karena keperluan mendesak. Shen Yi seperti seorang ayah yang melindungi anaknya.
Mata feniks Feng Shang melihat tiga orang pekerja masuk ke taman dengan mengendap-endap. Cara berjalan mereka seperti kepiting, miring juga tanpa suara. Kaki mereka berjinjit sedang mata mereka menatap waspada ke sekeliling, mengawasi keadaan sekitar.
Gerak-gerik mencurigakan itu disadari Feng Shang. Setelah ketiga pekerja itu masuk, mereka mengeluarkan sebuah kantong berwarna hitam yang muat untuk tubuhnya. Sebelum pekerja itu menangkapnya, Feng Shang lebih dulu terbang ke atas, ke dekat kaca pembatas antara taman dengan dunia luar.
Ketinggiannya mencapai sepuluh meter. Ketiga pekerja yang berniat jahat mengeluarkan semacam senjata yang telah diisi obat bius. Feng Shang kembali terbang ketika peluru jarum suntik dilesatkan kepadanya. Ketiga pekerja kembali mengejar.
“Tangkap burung itu! Tidak boleh gagal!” teriak salah satu pekerja. Sepertinya dia adalah ketuanya.
Feng Shang tidak tahu kenapa mereka ingin sekali menangkapnya. Seingatnya, di kantor ini ia tidak menyinggung siapapun. Para karyawan Shen Yi justru tidak berani menyentuhnya karena pria itu akan marah. Selama dia di kantor, Shen Yi bersikap posesif padanya, tidak membiarkan seorang pun menyentuh bulunya.
Lalu mengapa orang-orang ini malah ingin menangkapnya?
Entahlah. Feng Shang tidak punya waktu untuk memikirkan jawaban. Ia sibuk menyelamatkan diri. Di sini, dia tidak bisa menggunakan sihir karena akan menyebabkan keributan besar. Orang-orang akan berlari ketakutan dan pasti terjadi kekacauan.
Dia bersembunyi di tumbuhan merambat yang lebat. Tetapi, ketiga pekerja itu berhasil menemukannya. Feng Shang terpaksa kembali terbang, melayang seperti layangan yang putus di udara. Satu jam berlalu, aksi kejar-kejaran itu masih berlangsung. Ketiga pekerja jahat tadi belum menyerah juga.
__ADS_1
Saat Feng Shang lengah, peluru jarum suntik menembus sayapnya. Beberapa detik kemudian, dia terjatuh dan tidak sadarkan diri. Obat bius bekerja padanya dalam bentuk ini. Ketiga pekerja itu langsung memasukannya ke dalam kantong hitam besar, lalu membawanya ke luar dari taman.
“Burung ini sangat menyusahkan. Kalau bukan karena bos meminta hidup-hidup, aku akan langsung mencekiknya sampai mati,” ucap salah satu pekerja yang kelelahan.
“Kalau bos minta hidup ya hidup. Kalau dilanggar, kau yang akan mati!” seru pekerja yang lain.
Ketiga pekerja itu memasukkan kantong hitam ke dalam kardus besar, kemudian mendorongnya menggunakan kereta lori yang sering digunakan untuk mengangkut barang ke gudang. Di gerbang, penjaga keamanan mencegat, bertanya apa isi dari kardus tersebut. Ketiga pekerja itu menjawab bahwa isinya adalah barang kadaluarsa yang tidak dibutuhkan lagi oleh perusahaan.
Feng Shang dibawa ke sebuah bangunan yang letaknya di pinggir Kota Cheng. Dari luar, bangunan itu adalah sebuah gedung yang dikosongkan. Pintu pagarnya macet dan harus didorong sekuat tenaga. Jika di malam hari, gedung ini adalah rumah hantu yang dipenuhi aura mistis.
Ketiga pekerja itu memindahkan Feng Shang ke sebuah kandang besi yang sempit. Efek obat bius habis dan Feng Shang membuka matanya. Samar-samar ia melihat ketiga pekerja itu memunggunginya, berbicara dengan seorang wanita bergaun pendek yang duduk di sebuah kursi.
“Kerja bagus. Apa orangnya sudah datang?” tanya wanita itu. Suaranya begitu familier di telinga Feng Shang.
“Seharusnya sebentar lagi, Nona. Apa Nona yakin ingin menjualnya kepada orang itu?” tanya si pekerja tadi.
“Tentu. Aku ingin dia lenyap selamanya!”
“Sudah sadar ternyata? Burung sialan, siapa suruh kau membuatku terusir dan mempermalukanku!” seru Mu Xixi berapi-api.
“Wanita gila! Cepat lepaskan aku!”
Mu Xixi tertawa melihat berontaknya Feng Shang. Menurutnya, burung sialan ini seharusnya langsung disuntik mati saja. Tapi, Mu Xixi tidak bisa melakukannya karena burung ini ternyata sangat berharga. Berdasarkan penyelidikannya, burung biru ini adalah feniks yang sangat langka. Spesiesnya hampir punah, harganya sangat tinggi. Sekalian saja ia jual dengan harga fantastis.
Siapa suruh burung ini merendahkannya. Gara-gara burung ini, Shen Yi mengusirnya dan membuatnya menjadi bahan tertawaan karyawan Lingjing. Mu Xixi mengadu pada ayahnya, tapi ayahnya malah berbalik memarahinya. Mu Xixi akhirnya menyuruh tiga orang preman untuk menyusup ke kantor Xize, memberi suntikan pembius dan memerintahnya menangkap burung feniks ini.
Mu Xixi tidak takut ketahuan. Ia bisa mengkambinghitamkan ketiga preman ini. Kalau Shen Yi berhasil menemukan pelakunya pun, pria itu tidak akan mendapat apapun karena burung ini sudah dibawa pergi oleh pemilik barunya. Di dalam kamus seorang Mu Xixi, seekor hewan juga termasuk musuh jika berani berebut hal yang dia suka.
“Burung sialan, kau tidak akan bisa lepas dari kandang besi ini. Daripada membuang tenaga, lebih baik kau tidur dan tunggu pemilik barumu datang menjemputmu!” seru Mu Xixi.
__ADS_1
Feng Shang semakin marah. Siapa dia? Dia adalah Maharani Langit, penguasa Alam Langit! Manusia kecil seperti Mu Xixi bahkan tidak pantas memanggil namanya, apalagi memperlakukannya seperti hewan liar! Meskipun sekarang wujudnya adalah seekor burung, tetapi dia adalah feniks spiritual yang masih bisa membunuh selama ia mau!
“Manusia sampah! Beraninya kau menghina seorang Maharani Langit?”
Meski yang terdengar hanyalah suara burung, Mu Xixi merasa burung ini sedang memakinya. Ia memegang leher Feng Shang, lalu tertawa. Napas Feng Shang tersengal, sedang kemarahannya berada di ubun-ubun. Dia mulai mengumpulkan kekuatan sihirnya, matanya yang biru berubah menjadi merah.
Mu Xixi merasa telapak tangannya seperti terbakar. Ia melepas cekalannya, kulitnya memerah. Pada saat itu, Feng Shang mengumpulkan sihirnya pada satu titik di tubuhnya, tepat di jantungnya. Setelah semuanya siap, kekuatan itu meledak, menciptakan sinar biru yang begitu bercahaya.
Ada tekanan besar yang menimpa gedung itu. Area sekitar bergetar, angin besar bertiup menerbangkan debu. Mu Xixi terpental sejauh dua meter ke depan, meringis karena pantatnya berbenturan dengan lantai. Debu yang beterbangan masuk ke matanya, membuatnya perih.
Saat ini, Feng Shang telah berubah menjadi seekor burung feniks raksasa. Sayapnya besar dan ia menatap tajam pada Mu Xixi. Di ruangan yang luasnya tak seberapa, Mu Xixi seperti seekor semut kecil di mata Feng Shang. Kemarahannya belum mereda, kekuatan sihir di tubuhnya naik berkali-kali lipat.
“Monster! Burung itu adalah monster!” teriak Mu Xixi ketakutan.
“Cepat! Bunuh monster mengerikan itu!” teriaknya lagi.
Ketiga preman tadi mengeluarkan senjata dari balik pakaiannya, bersiap menyerang Feng Shang. Belum sampai senjatanya menyentuh satu helai bulu Feng Shang, dia meniupkan api dari mulutnya, membakar pakaian ketiga preman tersebut. Karena panas, mereka lari terbirit-birit, menjatuhkan diri di kolam air yang sangat kotor.
Feng Shang terbang mendekati Mu Xixi. Paruhnya yang tajam terpisah beberapa sentimeter dari wajah wanita itu. Feng Shang menatap tajam, ingin sekali ia membunuh sampah ini dan menghancurkan tubuhnya hingga berkeping-keping, membakarnya menjadi abu.
“Sampah kecil, apa sekarang kau takut?”
Pada wujud itu, Feng Shang bisa mengeluarkan suara manusianya. Tubuh Mu Xixi bergetar hebat, ketakutan setengah mati. Burung yang ia kira feniks ternyata monster mengerikan yang bisa berbicara. Mu Xixi tidak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu. Ia hanya bisa bergerak ke pojok, berusaha bersembunyi.
Feng Shang tetap bisa melihatnya. Mata feniksnya masih menatap tajam Mu Xixi, kemarahannya belum mereda. Mu Xixi sudah ketakutan hingga jadi orang bisu. Kesombongannya lenyap seketika, keberaniannya menghilang seiring datangnya malam.
Pada detik berikutnya, Mu Xixi jatuh pingsan. Api biru di sekitar gedung membara, merambat dari satu bagian ke bagian yang lain. Semakin lama, api itu semakin membesar. Gedung kosong di pinggiran kota terbakar. Nyala apinya seperti lilin raksasa di tengah kegelapan.
Akibat sihir yang tidak terkendali, kekuatan Feng Shang berbalik menyerang tubuhnya. Energi Feng Shang terkuras, ia berubah wujud menjadi feniks kecil seperti semula. Samar-samar, ia melihat seseorang berlari ke arahnya sebelum ia memejamkan mata.
__ADS_1
...***...