
Feng Shang mengotak-atik laptop milik Shen Yi. Berbekal ingatan yang dia lihat dari Shen Yi, Feng Shang akhirnya bisa menyalakan laptop tersebut dan menemukan drama yang tadi ditonton oleh Shen Yi. Tidak tanggung-tanggung, drama tersebut ternyata memiliki panjang episode hingga 56 episode, yang di setiap episodenya berlangsung selama empat puluh lima menit.
Klik.
Dia menekan tombol yang menunjuk episode pertama. Awalnya, Feng Shang ingin langsung mematikannya lagi karena plotnya kurang menarik dan membosankan. Namun, setelah cukup lama menonton, dia merasa ceritanya cukup membuat penasaran dan alurnya berkembang.
Feng Shang memutuskan untuk menonton semua episode drama tersebut hingga selesai. Sesekali dia tertawa ketika melihat adegan yang lucu, juga marah dan mengacak-acak bantalan kursi ketika melihat adegan yang menyebalkan. Lalu, sampailah dia pada episode ketika sepasang dewa-dewi bermesraan di bawah pohon kehidupan setelah menjalani cobaan di dunia fana.
“Benar-benar tidak senonoh!” ucapnya sambil menutup mata dengan jari, tetapi dia merenggangkan jari-jari itu dan matanya tetap mengintip adegan dewasa tersebut.
Belum sampai tamat 56 episode, laptop itu tiba-tiba mati. Feng Shang menekan tombolnya berkali-kali, tapi tetap tidak menyala. Akhirnya, dia membawa laptop tersebut ke taman bunga, mengeluarkan sihir kehidupan dengan harapan benda itu bisa menyala kembali.
Nihil. Sudah berjam-jam lamanya, laptop tersebut tetap tidak menyala.
“Apa benar-benar sudah tidak bernyawa?” tanyanya kepada udara. Karena kesal, akhirnya Feng Shang menggunakan sedikit sihirnya untuk membuat lubang, lalu mengubur laptop tersebut dan menanami bunga di atasnya. Selesai dengan itu, dia naik ke lantai atas, ke kamarnya untuk beristirahat.
“Rumah ini istimewa, terutama taman bunga itu. Ada kekuatan spiritual besar yang tersembunyi di sana. Siapa sebenarnya Shen Yi itu? Mengapa dia bisa memilih rumah ini sebagai tempat tinggalnya?”
Feng Shang menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia terus berpikir mengapa di dunia bernama bumi ini, yang hanya dihuni oleh manusia fana, kekuatan sihirnya tiba-tiba pulih.
Menurut informasi dari Zhang Bi dan ingatan Shen Yi, di bumi tidak ada yang namanya sihir. Itu hanya sebuah mitos takhayul yang dibuat-buat oleh manusia karena ketakutan.
Sesuatu bernama teknologi jauh lebih sakti daripada sihir. Di sini, kepercayaan terhadap dewa dan dewi memang ada, tetapi hanya segelintir orang yang masih mempraktekannya, yang kebanyakan para penatua dan keturunan keluarga kerajaan. Mereka sendiri tidak tahu apakah itu nyata atau tidak.
Padahal, jelas-jelas kekuatan Feng Shang pulih. Ini jelas membuktikan bahwa sihir di dunia ini ada. Jika tidak, tidak mungkin Feng Shang yang menjelma menjadi manusia bumi memiliki kekuatan sihir seperti itu.
“Dunia ini aneh. Aku harus segera mencari cara untuk kembali ke Alam Sembilan Langit. Tempat ini terlalu aneh,” gumamnya lagi.
Feng Shang menjentikkan jarinya ke udara. Seberkas sinar biru kemudian memancar memenuhi ruangan yang gelap, lalu terbang ke langit-langit kamar. Sinar itu membentuk gugusan bintang-bintang yang sangat mirip dengan bintang di langit, tetapi dalam ukuran kecil.
Perempuan itu menggunakan kekuatannya untuk menciptakan ilusi langit. Dia sengaja melakukannya agar dia tidak lupa dari mana dia berasal. Gugusan bintang buatannya seperti mengerti sang tuan, karena mereka terus bersinar dan sesekali berkedip sepanjang malam.
Saat Feng Shang hendak memejamkan mata, dia dikejutkan dengan munculnya seberkas sinar keemasan yang memancari dari luar ruangan. Feng Shang segera bangun, lalu mencari sumber sinar tersebut. Rasanya sangat familier, Feng Shang seperti pernah melihat sinar itu di Alam Sembilan Langit.
__ADS_1
Cahaya itu berasal dari dalam kamar Shen Yi. Ketika dia melihatnya, cahaya keemasan membentuk gelombang seperti aurora, melayang di atas tubuh Shen Yi lalu perlahan masuk ke dalam tubuh pria itu. Mata Feng Shang membelalak tak percaya.
Bagaimana… Bagaimana bisa manusia seperti Shen Yi memiliki cahaya keemasan yang setara dengan kekuatan sihir sepuluh ribu tahun?
“Shen Yi, siapa kau sebenarnya?” tanya Feng Shang sembari menilik wajah Shen Yi. Feng Shang semakin penasaran terhadap dunia ini, terutama misteri tentang Shen Yi yang menurutnya sangat aneh.
“Cahaya keemasan ini merasuk ke dalam tubuhnya, seharusnya dia bereaksi. Setidaknya, cahaya ini akan membuatnya kepanasan atau kedinginan. Mengapa dia tampak baik-baik saja?” Feng Shang kembali bertanya-tanya. Feng Shang juga memikirkan ketika kekuatannya tiba-tiba tumbuh setelah bertemu dan bersentuhan dengan pria itu.
“Jika ada cermin Baihuang, aku mungkin bisa mengetahui misteri kehidupannya sebelum ini.”
Merasa tidak ada yang perlu diperhatikan lagi, Feng Shang kemudian kembali ke kamarnya.
...***...
Keesokan harinya, Shen Yi marah-marah kepada Zhang Bi dan mengobrak-abrik ruang tamu. Dia sedang mencari laptopnya yang hilang entah ke mana. Padahal, jelas-jelas kemarin malam masih ada di atas meja. Tidak mungkin ada pencuri yang masuk tanpa diketahui lagi!
“Kalau kau tidak berhasil menemukannya, aku akan memotong satu tahun gajimu!” seru Shen Yi pada Zhang Bi.
Zhang Bi menghela napas. Ia menyesal sudah datang kemari pagi-pagi. Kalau tahu akan mendapat omelan dan menjadi sasaran kemarahan atasannya, lebih baik Zhang Bi langsung pergi ke kantor saja. Zhang Bi selalu menjadi kambing hitam setiap kali Shen Yi kesal atau marah karena pekerjaan atau ketika suasana hatinya tidak baik.
Feng Shang menjawab dengan acuh tak acuh,
“Benda itu mati. Aku sudah menguburnya di taman.”
Shen Yi langsung tak bisa berkata apa-apa. Zhang Bi menganga, memperlihatkan mulutnya yang terbuka. Berlebihan, pikir Feng Shang. Hanya sebuah benda mati saja mengapa harus seribut itu? Bukankah benda itu sudah tidak bisa digunakan sekarang?
“Di mana kau menguburnya?” tanya Shen Yi dengan nada bicara yang agak naik.
“Di taman bunga.”
“Bodoh! Cepat bawa aku ke sana!” pinta Shen Yi tak sabar.
Feng Shang menunjukkan tempat laptop Shen Yi dikubur. Zhang Bi segera mengambil cangkul, lalu membongkar kuburan laptop Shen Yi dengan tergesa-gesa. Kemarahan Shen Yi sudah di ambang puncak, dia hendak memarahi Feng Shang dan mengusirnya dari rumah. Tapi, perempuan itu malah berjalan menuju ayunan, duduk di sana dan menonton kegiatan Zhang Bi dengan wajah datar.
__ADS_1
Laptop Shen Yi berhasil ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Semua bagiannya dipenuhi tanah dan basah karena semalam Feng Shang menyiramnya setelah diberi bunga.
Laptop itu segera dievakuasi ke dalam, dibersihkan dengan lap dan tisu basah hingga tanah-tanah yang menempel hilang. Zhang Bi menyambungkan laptop dengan kabel charge, tapi laptop itu tidak mau menyala.
“Perempuan sialan!” umpat Shen Yi.
Laptop berlogo apel digigit sudah tidak tertolong. Mati total karena kebodohan dari seorang Feng Shang. Membeli yang baru bukan masalah, tetapi isi laptop tersebut yang membuat Shen Yi tidak bisa melepasnya. Di dalam laptop tersebut terdapat berkas-berkas penting perusahaan yang harus dia periksa hari ini.
Feng Shang menjentikkan jarinya untuk menyentil kepala Shen Yi dengan kekuatan sihirnya. Tidak terima dengan umpatan yang dilontarkan pria itu, dia ingin membalasnya dengan menoyor kepalanya dari kejauhan. Tapi, belum sampai mengeluarkan kekuatan, Shen Yi tiba-tiba sudah berada di depannya dan membuatnya terkejut.
“Apa yang kau lakukan pada laptopku?”
“Menguburnya. Jika tidak, dia akan menjadi bangkai,” ucap Feng Shang tanpa merasa berdosa.
“Dia mati karena kehabisan baterai. Kalau ingin hidup, charge saja! Mengapa kau malah menguburnya? Lihat! Sekarang sudah benar-benar mati!”
Feng Shang mengedikkan bahunya. Ini bukan salahnya. Salahkan baterai laptop itu yang tidak punya masa hidup lebih lama.
“Oh. Aku tidak tahu.”
Shen Yi mengusap wajahnya dengan kasar. Perempuan ini, selain kata ‘aku tidak tahu, oh,’ tidak punya kata lain yang bisa menjelaskan mengapa dia melakukan ini padanya.
Shen Yi terlalu meremehkan wanita ini! Dia harus baik-baik mengajarinya agar Feng Shang tidak merusak semua yang dimilikinya kelak!
Karena terburu-buru, Shen Yi memerintahkan Zhang Bi untuk membawa laptopnya yang mati ke toko tempat ia beli, lalu mencari seseorang untuk membongkarnya.
Shen Yi meminta Zhang Bi untuk menyelamatkan procesornya. Meskipun dia memiliki cadangan dokumen, tetapi semua berkas yang ada di dalam laptop mati sangat penting. Shen Yi tidak rela kehilangan begitu saja.
“Kau tunggu saja! Aku akan mengajarimu baik-baik nanti!” seru Shen Yi sambil berlalu pergi.
Feng Shang menatap kepergian Shen Yi yang marah dengan helaan napas. Sungguh, dia tidak tahu kalau laptop mati sebenarnya masih bisa dihidupkan kembali. Di Alam Sembilan Langit, kalau ada tumbuhan yang mati tetapi tidak memiliki roh spiritual, Yue Ming biasanya langsung menguburnya atau dia mengirimnya ke dunia fana.
Memanfaatkan waktu selama Shen Yi pergi ke kantor, Feng Shang kembali tertidur di taman bunga. Tidak, dia tidak sedang tertidur. Dia sedang bermeditasi dan berlatih, mengumpulkan kekuatan spiritual untuk memulihkan seluruh kekuatannya. Masa bodoh jika Shen Yi masih marah padanya!
__ADS_1
...***...