Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 77: Binatang Iblis dan Cermin Langit


__ADS_3

Setelah meninggalkan Istana Fuyao, Feng Shang pergi ke tempat yang sepi untuk menyendiri. Perlu waktu baginya untuk menenangkan diri setelah pergolakan pikiran yang begitu panjang menghantuinya. Dia membawa beberapa kotak makanan, lalu duduk di sebuah pondok yang sangat sejuk. Di sekelilingnya terdapat air terjun yang jumlahnya ada tujuh dan sangat tinggi, tampak seperti tanpa ujung.


Itu bukan air terjun biasa. Air terjun itu sebenarnya adalah cemin langit yang sebenarnya. Hanya kekuatan murni milik para pemimpin surga yang mampu melihat dan menggunakan cermin itu. Cermin tersebut bisa menunjukkan kehidupan seseorang, juga bisa menjadi sebuah cermin penentu takdir. Namun, selama beberapa ribu tahun ini, Feng Shang menutup area itu karena menganggapnya sebagai tempat suci. Dia tidak membiarkan seorang pun masuk tanpa seizinnya.


Sambil menikmati semilir angin, dia memejamkan matanya perlahan. Sebuah suara geraman yang mengerikan terdengar. Ketika dia membuka mata, Feng Shang sedikit terkejut. Seekor banteng tanduk besi tampak bersiap menyerangnya dari sisi kiri. Feng Shang jadi kesal karena ketenangannya terganggu. Dari mana hewan ini berasal dan mengapa bisa masuk kemari?


Tiba-tiba dia merasa aneh. Alam Sembilan Langit bukanlah tempat untuk hewan siluman atau iblis. Jika hewan ini bisa masuk, itu artinya ada masalah yang terjadi yang menyebabkan makhluk buas ini bisa berkeliaran bebas. Feng Shang melompat saat banteng tanduk api menyerangnya, dia melayang di udara dan melemparkan serangan kembali.


"Sial, makhluk ini terlalu kuat," gumamnya sambil bertarung melawan banteng tanduk api. Karena makhluk ini adalah siluman, kekuatannya tidak bisa diremehkan. Apalagi usianya sudah tua, pasti telah melalui pelatihan yang sangat lama. Tanpa senjata khusus, orang yang berhadapan dengannya akan kesulitan.


Belum ada tanda-tanda ada yang kalah dalam pertarungan setelah setengah jam berlalu. Area itu sudah hampir hancur karena amukan banteng dan Feng Shang. Saat banteng tanduk api hampir melukainya, sebuah bayang langsung melintas dan membawanya menghindari serangan itu. Setelah mendarat, Feng Shang baru bisa melihatnya dengan jelas.


"Yongheng?" tanyanya dengan kejutan di wajahnya yang cantik. Yongheng tersenyum kecil sambil menurunkannya dari pelukan.


"Makhluk ini keturunan iblis. Dia bukan siluman biasa," ucap Yongheng.


"Meski aku tidak tahu mengapa dia bisa masuk, tapi kurasa perkataanmu benar. Banteng tanduk api ini cukup kuat," ujar Feng Shang.


"Kalau begitu, Maharani, bisakah kita bekerja sama?"


"Tentu, hanya sampai makhluk ini mati."


Kemudian, Yongheng membantu Feng Shang melawan banteng tanduk api. Tadinya Yongheng berencana pergi ke hutan persik, namun dia melihat kilatan cahaya yang aneh dari air terjun cermin langit. Dia terkejut melihat Feng Shang bertarung sendirian melawan seekor banteng tanduk api. Melihat kekuatan yang seimbang, dia lalu memutuskan untuk membantunya. Lagipula, itu rasanya lebih baik ketimbang terus duduk menonton pertunjukan di Aula Fuyao.


Feng Shang menerima bantuan Yongheng. Meski agak canggung karena bertarung berdua, tetapi bukan keputusan yang tepat mengalahkan makhluk ini sendirian. Bukannya dia tidak mampu, hanya saja kerusakannya akan semakin parah jika banteng tanduk api ini tidak segera ditaklukkan. Feng Shang khawatir banteng ini akan merusak aura di sekitar cermin langit dan mempengaruhinya.

__ADS_1


Keduanya lantas menyatukan kekuatan dan menyerang secara bergantian. Yongheng beberapa kali mencuri pandang pada Feng Shang, memperhatikan setiap gerakan serangan yang dilancarkan oleh wanita itu. Kekuatannya memang besar dan dia sangat lincah. Menurutnya, kemampuan itu sangat baik untuk seorang dewi sepertinya.


"Gunakan formasi!" seru Feng Shang. Sadar akan itu, Yongheng langsung membentuk sebuah formasi dan berhasil menahan banteng tanduk api untuk sementara. Ketika kesempatan datang, Feng Shang menggunakan kipas bulu feniksnya untuk menyerang. Jarum-jarum yang keluar dari kipas itu berubah menjadi anak panah berkecepatan tinggi. Dalam seketika, banteng tanduk hitam itu langsung mati.


Feng Shang kemudian mengubahnya menjadi tiga buah anak panah yang sangat tajam. Dia memberikan satu anak panah kepada Yongheng, dan dua anak panah lainnya menjadi miliknya. Kening Yongheng megernyit karena wanita itu mengubah banteng tanduk hitam tanpa bertanya padanya. Padahal, yang mengalahkannya adalah mereka berdua.


"Ah, aku harus mengganti anak panahku. Jadi, kau dapat satu," ucap Feng Shang seakan mengerti kebingungan Yongheng. Yongheng menggelengkan kepalanya heran. Rupanya, Maharani Feng selain dingin juga suka mengambil keputusan sendiri.


"Kau selalu mengambil keputusan sendiri, tidak pernah berubah," ujar Yongheng. Perkataan itu mengejutkan Feng Shang. Apa katanya tadi?


"Mengapa kau berkata seolah kau telah mengenalku sebelumnya?" tanya Feng Shang. Dia merubah raut wajahnya menjadi serius. Dia pikir, Yongheng pasti tahu sesuatu.


"Ah, aku hanya menebaknya."


"Maharani, kembalilah. Para dewa sedang menunggumu."


"Tidak mau."


"Mengapa?"


"Sangat membosankan. Kau yang harusnya pergi. Temani muridmu sebelum dia dikirim ke Kuil Yue Lao sore ini," tukas Feng Shang.


"Dia hanya seorang dewi muda. Hukumanmu sepertinya terlalu keras untuknya."


"Kau mewakili Laut Utara untuk meminta pengampunan atas dirinya?" tanya Feng Shang. Dia tak suka ada yang meragukan pemberian hukuman. Itu sudah diputuskan. Tidak ada yang bisa mengubahnya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu. Aku tahu hubunganmu dengan Laut Timur kurang baik. Tapi, kau tidak seharusnya melibatkan Laut Utara."


"Kau pikir aku melakukannya karena dendam lama terhadap kerajaanmu? Dewa Agung Yongheng, tidakkah menurutmu kau terlalu banyak berpikir? Sui Jin melanggar aturan dan tidak mau mengaku. Jika kau tidak suka, kau boleh menemaninya di Kuil Yue Lao."


Setelah mengatakan itu, Feng Shang pergi tanpa mendengarkan penjelasan Yongheng. Dia sangat marah karena Yongheng baru saja memprovokasinya. Dewa Agung Yongheng begitu menyebalkan. Mengapa dia tidak menghilang saja sekalian?


Yongheng menatap kepergian Feng Shang dengan matanya yang pasrah, lalu dia menghela napas panjang. Ya, itu memang kesalahan Sui Jin dan dia tidak bermaksud memintakan pengampunan pada Feng Shang. Yongheng hanya ingin tahu seberapa keras hati wanita itu, dan seberapa dingin dirinya yang sebenarnya. Dengan kata lain, dia sengaja memprovokasinya untuk mengujinya. Ternyata, hatinya benar-benar keras.


Yongheng jadi penasaran sebenarnya kehidupan seperti apa yang telah dijalaninya selama ini. Hati itu seakan telah mati dan tidak ada kepedulian sama sekali terhadap seseorang. Yongheng mengeluarkan sebuah bulu feniks api biru milik Feng Shang yang tadi jatuh dari kipasnya. Kemudian, dia melemparkannya ke cermin langit dan dengan kekuatannya, dia membuka tabir cermin itu.


Terjadi reaksi yang menakjubkan di air terjun itu. Sebuah bayangan lantas menampilkan pemandangan sebuah istana megah yang terlihat tidak asing. Di sana, Yongheng melihat beberapa dewa kenalannya tengah berkumpul. Dari istana itu, dia tahu kalau mereka adalah suku feniks api biru. Mungkinkah ini adalah keluarga Feng Shang?


Yongheng lalu melihat seorang bayi dengan sinar yang sangat terang dibawa masuk ke aula. Setelah berbicara beberapa kata, dewa yang paling agung menggunakan kekuatannya dan mengubahnya. Sinar itu hilang, dan bayi itu tampak seperti bayi dewi biasa. Yongheng bisa melihat raut kesedihan di wajah dewa tersebut, dan yang lainnya menundukkan kepalanya.


"Dia...Putri Dewa Tinggi Feng Yao?"


Yongheng ingat, Feng Yao adalah raja suku feniks api biru terakhir. Pada zaman itu, ramalan tentang Maharani Langit yang ditakdirkan telah terdengar ke seluruh penjuru. Tampaknya, Dewa Tinggi Feng Yao telah mengetahui kalau putrinya memiliki takdir tersebut. Bukan hanya itu, dia pasti juga sudah tahu kalau perburuan besar-besaran dan pembantaian terhadap sukunya akan segera tiba. Itu sebabnya dia mengubah putrinya menjadi dewi biasa, lalu menyegel auranya dan menidurkannya selama beberapa ribu tahun.


Setelah masa kuno berakhir, bayi itu baru terbangun kembali dan tumbuh menjadi dewi biasa. Namun, kehidupan yang dilihat Yongheng tidak menunjukkan bahwa dia melalui hidup yang baik. Justru sebaliknya, sangat sulit. Yongheng jadi mengerti mengapa Feng Shang memiliki hati yang sangat keras dan sikapnya sangat dingin. Semuanya terbentuk karena kehidupannya diwarnai dengan penindasan dan penghinaan.


Sayangnya, gambaran kehidupan itu berhenti sampai identitasnya diketahui dan dia diangkat menjadi Maharani Langit dengan upacara yang sangat agung. Setelahnya, cermin itu tidak menampilkan apa-apa dan kembali menjadi air terjun seperti biasa. Padahal, Yongheng belum puas menghabiskan rasa penasarannya.


"Dia memiliki kekuatan untuk menggunakan cermin langit ini. Lalu mengapa dia tidak menggunakannya untuk mengetahui asal-usulnya sendiri?" tanya Yongheng. Dia dengar, Maharani Feng tidak tahu asal-usulnya sendiri. Padahal dia bisa saja menggunakan cermin ini, tetapi itu tidak dilakukan.


Terlepas dari semua itu, Yongheng memutuskan tidak akan mencari lebih jauh. Saat ini keinginan terbesarnya hanya mengungkap kebenaran atas kebangkitannya dan hubungannya dengan Feng Shang. Dia menatap anak panah dari banteng tanduk api di tangannya, lalu tersenyum kecil. Entah apa yang ada di pikirannya, tetapi sepertinya dia mendapatkan sesuatu kesan yang baik.

__ADS_1


__ADS_2