Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 23: Semut Tidak Tahu Diri


__ADS_3

Pameran benda kuno di bagian barat Kota Cheng bertempat di gedung pribadi Keluarga Meng. Pameran ini selalu diadakan tiga tahun sekali dan biasanya berlangsung sangat meriah.


Tetua keluarga Meng selalu meminta cucunya untuk mempersiapkan pameran dengan sangat baik, hingga semua detail yang ada bisa ditampilkan kepada publik.


Keluarga Meng adalah keluarga terkaya keempat di Kota Cheng. Bisnisnya merambat hingga ke luar negeri, produknya juga tersebar di banyak negara.


Selain keluarga Feng, Shen dan Xiang, keluarga Meng adalah kandidat terbaik yang digadang-gadang akan menjadi keluarga terkaya dengan reputasi terbaik di seluruh Kota Cheng.


Tamu yang diundang ke pameran ini adalah para pengusaha kaya dan tokoh terkenal di dunia. Karena berlangsung tiga tahun sekali, dalam satu kali pameran, tamu yang datang bisa sampai ribuan. Mereka datang dari seluruh pelosok negeri. Mereka punya akses tersendiri yang menjadikan mereka tamu istimewa.


Tidak heran juga. Mungkin, itu dikarenakan benda-benda yang dipamerkan di sini semuanya menarik. Dalam setiap pameran, Keluarga Meng selalu memamerkan dan melelang benda-benda antik yang berasal dari seluruh dunia. Harganya begitu fantastis bahkan hanya untuk sebuah cawan kecil saja.


Enam tahun lalu, tiga keluarga besar di Kota Cheng hampir saja berkelahi. Mereka memperebutkan sebuah sendok perak yang katanya berasal dari dua abad millennium lalu.


Seorang pengusaha kaya kemudian berhasil membawanya pulang setelah bertarung harga. Tak tanggung-tanggung, harga sendok perak yang sebenarnya tidak seberapa terjual seharga lima ratus juta.


“Tidak heran, Keluarga Meng memang berbeda.”


Feng Shang menatap sekumpulan manusia berpakaian rapi dan tampak mewah yang sedang berkerumun di tengah ruangan. Cahaya lampu keemasan menyinari gedung itu, menjadikannya seperti sebuah berlian yang gemerlap di siang hari. Alunan musik terdengar, mengiringi setiap perbincangan tidak tentu yang dilontarkan oleh mereka.


“Direktur Feng, saya ke belakang sebentar. Ada laporan yang masuk ke email saya,” ucap Jingjing, lalu sekretaris itu pergi setelah mendapat anggukan Feng Shang.


Diam-diam, Feng Shang menganalisis gedung megah ini. Benda-benda yang dipamerkan pada pameran kali ini memang tampak berbeda. Kotak-kotak kaca yang disinari lampu keemasan berjajar rapi, memanjang dari pintu masuk hingga ke lorong paling ujung. Kotak-kotak kaca itu juga menempel di dinding, tersimpan di meja, juga tersimpan di beberapa bagian lain sehingga orang bisa dengan mudah melihatnya.


Ada aura familier yang masuk ke dalam sistem spiritual tubuhnya. Padahal ia masih lemah, tetapi aura itu begitu kuat. Seolah-olah, aura itu telah menemukan seseorang yang pernah menjadi pemiliknya. Feng Shang otomatis berjalan mengikuti sumber aura.


Feng Shang kemudian melihat sebuah cermin berbentuk sehelai daun disimpan di dalam lemari kaca. Cahaya mengkilat muncul sesaat ketika matanya menatap ke cermin itu.


Bingkainya berwarna putih, berpola dedaunan dan bunga aprikot yang dipahat dengan sangat rapi. Samar-samar, Feng Shang sepertinya mengenali cermin tersebut.


“Pecahan cermin Baimeng?” ucapnya pelan.


Ia ingat, pada zaman dewa purba, setelah Dewa Leluhur menghilang, muncul cermin Baimeng yang berasal dari kristalisasi sisa kekuatan Dewa Leluhur.


Cermin ini memiliki kekuatan sihir yang luar biasa, mampu menunjukkan prediksi masa depan. Kemudian, cermin itu pecah ketika perang besar antara Alam Sembilan Langit dan Alam Iblis. Pecahannya tersebar ke Tiga Alam dan tidak bisa ditemukan dengan mudah.


Feng Shang melihatnya beberapa kali di buku. Penguasa Langit yang ditakdirkan bisa mengenali pecahan tersebut secara langsung dan merasakan auranya.


Pecahan cermin Baimeng memiliki kekuatan sihir, itu adalah bahan terbaik untuk membuat cermin Baihuang. Meski Feng Shang tidak tahu mengapa pecahan cermin Baimeng bisa sampai ke bumi, tetapi ia membutuhkannya. Feng Shang mendekat, memastikan reaksi dari cermin berbingkai putih itu.


Sebelum ia berhasil menyentuh kotak kacanya, ia sudah dihentikan dengan teriakan seseorang yang sangat melengking.


Ketika Feng Shang berbalik untuk mengetahui siapa wanita yang sudah berani berteriak padanya, ia melihat seorang wanita berambut hitam mengenakan dress ungu muda berdiri tak jauh darinya. Tangannya memegang segelas minuman saji, menatap Feng Shang dengan remeh.


“Kau wanita yang dibawa pulang Presdir Shen, bukan?” tanya wanita tersebut. Dia adalah Xin Lan, putri seorang pengusaha terkenal di Kota Cheng.


Feng Shang tidak berminat menjawabnya. Prinsipnya ia pegang teguh: tidak boleh berbicara dengan orang asing, terutama wanita. Sudah jelas sekali kalau wanita ini datang bukan dengan niatan yang baik. Sorot matanya menyiratkan kebencian yang mendalam, seolah-olah ia telah lama bermusuhan dengan Feng Shang.


“Hah! Sombong sekali! Hanya wanita peliharaan Presdir Shen, tetapi sudah searogan ini?” ucap Xin Lan lagi.

__ADS_1


Suara Xin Lan sengaja dikeraskan, hingga orang-orang di sana berbalik menatap Feng Shang. Di ruangan pameran tersebut, Feng Shang berubah menjadi satu-satunya objek perhatian yang lebih menarik daripada benda-benda antik ini. Beragam tatapan dan tanggapan tertuju padanya, membuat Feng Shang lama-lama risih.


“Jadi, dia adalah perempuan yang dibawa Presdir Shen dari Pulau Yonghe itu?” tanya yang lain.


“Kudengar sekarang ia tinggal di rumah Presdir Shen. Apa mungkin dia adalah kekasihnya?”


“Omong kosong! Presdir Shen terlalu murni, bahkan punya pacar pun tidak pernah. Bagaimana mungkin wanita biasa ini adalah kekasihnya! Kalau disandingkan dengan Nona Besar Feng Ling atau Direktur Jiang, itu baru pantas!”


“Benar juga. Dia pasti menggunakan trik untuk memikat Presdir Shen!”


Semakin lama semakin banyak komentar yang terlontar dari mulut tidak terkendali itu. Feng Shang bisa mengabaikan perihal ketidaktahuan mereka akan identitasnya, tetapi ia tidak suka ketika mereka terus memojokannya dan mengaitaknnya dengan Shen Yi.


Mentang-mentang dia dibawa pulang oleh Shen Yi, mereka sudah bisa mengatainya seperti itu?


Mereka tak tahu kalau Feng Shang bukan orang yang mudah ditindas. Kalau mau, ia bisa meratakan gedung ini sekarang juga walau kekuatannya belum pulih.


Feng Shang tidak melakukannya karena itu akan sangat merepotkan. Makhluk bernama polisi pasti akan mendatanginya kembali dan menginterogasinya, seperti saat ia membawa taksi ugal-ugalan dan menabrakkanya di parkiran gedung Xize.


“Jangan-jangan dia datang setelah merayu Presdir Shen? Itu menunjukkan bahwa wanita ini adalah orang miskin yang ingin kekayaan.”


“Benar juga. Aku belum pernah melihat wanita tak tahu malu seperti dia!”


Ucapan mereka begitu keterlaluan dan tak enak didengar. Di bumi ini, ternyata ada makhluk yang jauh lebih munafik dan manipulatif daripada sekumpulan pelayan peri dan dewa-dewi yang iri hati. Hanya karena perkataan seseorang, yang lain dengan mudahnya terpengaruh dan malah ikut menambahkan keruh.


“Berisik!” bentak Feng Shang disertai tatapan Maharani Langit-nya.


Ada ketakutan yang menjalar perlahan ke dalam hati. Sosok wanita di tengah-tengah mereka entah mengapa terasa begitu mengerikan setelah berbicara. Semua organ tubuh mereka dengan patuh langsung terdiam, seperti rakyat yang menyaksikan keagungan raja mereka dari kejauhan. Hanya dengan satu kata, dunia seakan berhenti berputar.


“Presdir Xiang, apa kau merasakannya?” tanya sekretaris Xiang Sun.


Kebetulan, Xiang Sun juga hadir di pameran tersebut. Duplikat dirinya mengatakan kalau di pameran tersebut akan ada benda berharga yang tidak boleh jatuh ke tangan orang lain. Ia menyaksikan adegan drama itu dari lantai atas.


“Bukankah kau juga melihatnya? Dia bukan wanita biasa,” ucap Xiang Sun.


Sesuai dugaannya, Feng Shang memiliki keistimewaan. Darah suci klan dewi di tubuhnya berhasil membuatnya tampak menawan dan berwibawa, memiliki keagungan tersendiri yang membuat Xiang Sun semakin tidak sabar ingin mendapatkannya.


Ia pernah melihat hal serupa terjadi kepada Feng Ling beberapa tahun lalu. Xiang Sun pernah melihat keagungan seperti itu ketika Feng Ling melawan beberapa mantan kekasih Xiang Sun yang datang ke kantornya. Bisa dikatakan, sebenarnya ia tidak sabar ingin mendapatkan sepasang sepupu tersebut.


Feng Shang menatap dingin pada Xin Lan. Xin Lan memiliki ketakutan di hatinya, tetapi ia tidak mau kalah. Sikapnya berubah menjadi searogan biasa, namun dengan tekanan yang agak menurun.


Xin Lan tidak bisa melepaskan wanita ini begitu saja. Presdir Shen adalah incaran pria idamannya. Ia tidak bisa membiarkan wanita rendahan yang tidak jelas asal-usulnya berdampingan bersama Presdir Shen.


“Kau pikir aku tidak mampu membeli benda ini?” tanya Feng Shang sambil menyeringai. Xin Lan refleks menjawab, “Kalau begitu, buktikan!”


“Bukankah hanya bertaruh harga? Apakah perlu omong kosong sebanyak itu?”


Mereka yang tadi terdiam dibuat terkesima. Lalu, haluan hati mereka perlahan berubah, berbalik menuju Feng Shang dengan banyak keraguan menyertainya.


Wanita itu hanya mengeluarkan beberapa kata, tetapi mereka yang ada di sana seperti sedang mendengarkan seorang dewi berbicara dengan kemuliaannya.

__ADS_1


Feng Shang memberikan tekanan besar pada mental Xin Lan dan yang lain ketika mengatakan itu. Ia seorang Maharani Langit, tidak pantas bertaruh dengan seekor semut kecil yang tidak tahu diri.


Tetapi karena ia ingin sekalian memberikan pelajaran pada wanita kurang ajar itu, Feng Shang memilih menemaninya bermain-main sebentar.


“Presdir Xiang, Direktur Feng menginginkan cermin itu. Apa Anda juga akan ikut bergabung?” tanya sekretaris Xiang Sun.


Xiang Sun terkesiap, tidak menyangka kalau wanita itu juga menginginkan cermin incarannya. Terpaksa ia harus bergabung dan bertaruh harga.


Kurang dari sepuluh menit, orang-orang berkumpul di ruang pameran. Mereka ingin menyaksikan pertarungan harga yang akan terjadi beberapa saat lagi.


Siaran langsung ini dimoderatori oleh pengurus besar Keluarga Meng, lalu diliput oleh beberapa wartawan berita Kota Cheng. Mereka yang hadir menjadi pemirsa sekaligus saksi, menunggu siapakah yang akan berhasil membawa pulang jackpot berupa cermin antik berusia ribuan tahun.


“Dua ratus juta!” tawar Xin Lan.


“Lima ratus juta!” tawar Xiang Sun. Feng Shang menoleh, lalu menyeringai kecil.


“Delapan ratus juta!” tawar Feng Shang. Ia kemudian mendapat komentar, “Takutnya kau tidak punya uang sebanyak itu.”


Xiang Sun yang berdiri di sampingnya tertawa kecil. Orang-orang bodoh ini tidak tahu siapa wanita yang mereka remehkan. Kalau tahu, seluruh bisnis keluarga di Kota Cheng bisa bangkrut dan hancur mengingat Lingjing adalah perusahaan yang sangat besar, apalagi sekarang dibantu oleh Xize yang notabenenya merupakan perusahaan perbankan paling besar dan paling berpengaruh di Kota Cheng. Meskipun Xiang Sun tidak suka, tetapi ia harus mengakuinya.


“Kita buktikan saja,” ucap Feng Shang ringan. Wajah Xin Lan berubah merah.


“Satu milyar!” Xin Lan menawar kembali.


“Satu setengah milyar!” ucap Xiang Sun.


Tawar menawar berhenti. Harga tertinggi berhenti pada angka satu setengah milyar yang diajukan oleh Xiang Sun. Harga ini sudah terlalu tinggi untuk sebuah cermin kuno yang tampak biasa.


Mereka sama sekali tidak mengerti mengapa Presdir Xiang yang terkenal pelit mau mengeluarkan biaya sebanyak itu.


“Apakah ada yang ingin mengajukan harga lagi?” tanya pengurus besar Keluarga Meng.


“Hei, wanita rendah! Apa uangmu tidak cukup untuk mengajukan harga yang lebih tinggi lagi?” ejek Xin Lan. Feng Shang mendecih, dia pikir wanita itu sedang mengatai dirinya sendiri.


“Sepuluh milyar!” ucap Feng Shang.


Xiang Sun dan Xin Lan terbelalak. Sungguh, mereka sama sekali tidak menyangka kalau Feng Shang akan mengajukan harga lagi, malah lebih tinggi dan tidak mungkin dilampaui. Pengurus besar Keluarga Meng lalu mengumumkan kalau transaksi sukses dengan harga tertinggi sebesar sepuluh milyar.


“Siapa sebenarnya wanita itu?” tanya orang-orang yang menyaksikan proses tawar menawar harga tadi. Kemudian, pertanyaan mereka segera terjawab dengan adanya teriakan dari arah belakang.


“Direktur Feng! Akhirnya saya menemukan Anda!” seru Jingjing.


“Direktur Feng?” tanya mereka tak percaya.


Feng Shang hanya tersenyum dingin.


...***...


...Haloooo!!! Hehe, untuk hari ini segini dulu yaa. Otor mau hibernasi dulu buat ketemu sama Feng Shang & Shen Yi, mau nanyain mereka kapan bisa main bareng di dunia modern, kali aja mau ketemu sama pembaca mereka yang setia ini. Jadi, jangan dilupain dulu ya! Sampai jumpa di episode berikutnya!...

__ADS_1


__ADS_2