Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 75: Berebut Tempat


__ADS_3

Yongheng tiba lebih dulu di Kuil Si Ming dibanding Feng Shang. Ketika dia memumbunyikan lonceng, seorang pelayan peri datang dan mempersilakan dia untuk masuk. Di dalam, Si Ming tampak sedang merapikan banyak sekali buku takdir.


"Dapat dikunjungi Dewa Agung Yongheng, aku Dewi Takdir Si Ming sungguh merasa terhormat. Apa yang membuat Dewa Agung sepertimu menginjakkan kaki di kuilku yang bobrok ini?"


"Kau selalu merendah, sama seperti gurumu. Aku datang untuk menanyakan sesuatu."


Si Ming menyimpan pekerjaannya terlebih dahulu dan bersiap mendengarkan pertanyaan yang akan diajukan Dewa Agung Yongheng. Si Ming ingin tahu apa yang ingin diketahui oleh dewa yang satu ini, hingga jauh-jauh datang kemari. Sekaligus ia ingin tahu apakah dia bisa membaca takdir darinya atau tidak, karena kebangkitannya begitu tiba-tiba.


Belum sempat Yongheng bertanya, lonceng kuil Si Ming kembali berbunyi. Pelayan perinya datang memberitahu bahwa ada tamu agung lain yang datang, dan dia adalah Maharani Feng. Si Ming kemudian mempersilakan sang dewi masuk.


"Si Ming! Kau harus menjawab pertanyaanku!" ucap Feng Shang. Lalu, dia tertegun saat dia melihat Yongheng yang juga tengah menatapnya.


"Mengapa kau di sini?" tanya Feng Shang.


"Seharusnya aku yang bertanya. Mengapa Maharani Feng datang kemari? Tidak mungkin kau mengikutiku, kan?"


"Siapa bilang? Aku datang untuk bertanya padanya. Jadi, Dewa Agung Yongheng, mohon keluar sebentar karena ini adalah rahasia pribadi Maharani Langit."


"Jadi, kalian datang untuk bertanya padaku?" potong Si Ming. Keduanya serentak menjawab, "Ya!"


"Kalian datang di waktu yang tidak tepat. Kalian lihat, pekerjaanku begitu banyak hari ini. Aku mungkin hanya bisa menjawab salah satu dari kalian," ucap Si Ming.


"Kau harus menjawabku. Aku datang lebih dulu," tegas Yongheng. Feng Shang mendelik.


"Si Ming, perintah siapa yang kau ikuti? Maharani atau Dewa Agung?" sergah Feng Shang.


"Kalau begitu, mari kita bertaruh. Siapa yang menang dia yang bisa bertanya," usul Yongheng.


"Siapa takut!"

__ADS_1


Si Ming melihat tanda-tanda peperangan di depan matanya. Dia memijat pelipisnya. Kedua dewa terhormat di hadapannya justru seperti anak kecil yang berebut permen, dan sialnya dialah yang menjadi permennya. Melihat situasi ini, Si Ming jadi lelah.


Feng Shang bersiap bertarung lagi dengan Yongheng. Baginya, tidak ada dewa manapun yang boleh mendahuluinya. Seharusnya Si Ming tegas dan menuruti perintahnya, karena mereka telah kenal selama puluhan ribu tahun. Yongheng ini meskipun dewa agung, tapi termasuk pendatang karena baru bangkit.


"Para dewaku yang terhormat, kurasa tidak perlu berkelahi. Kalian begitu agung, mana boleh merusak reputasi kalian sendiri? Beberapa hari lagi jamuan langit, kalau berita perkelahian Maharani dan Dewa Agung sampai tersebar, apa kata dunia? Lagipula apa kalian tidak melihat kuilku yang bobrok ini? Tempatku ini tidak akan sanggup menerima konsekuensinya," cegah Si Ming.


Feng Shang menurunkan kesiagaannya. Begitu pula dengan Yongheng. Benar, tidak boleh ada keributan di saat seperti ini. Apalagi bagi dewa terhormat seperti mereka.


"Lalu apa kau punya solusi?" tanya Yongheng.


"Suit saja. Siapa yang menang dia yang berhak bertanya."


Feng Shang dan Yongheng kemudian bersuit. Sayangnya, Feng Shang kalah. Yongheng mendapat kesempatan untuk bertanya. Feng Shang keluar dengan ekspresi yang tidak mengenakkan karena kesal. Baik, dia akan menunggu tidak peduli seberapa lama pun itu.


"Baiklah. Dewa Agung, apa yang ingin kau ketahui?"


"Aku pergi menemui Maharani Feng sebelum ini untuk meminta maaf atas nama Laut Timur. Tanpa sengaja kipas bulu feniksnya jatuh."


"Lalu kalian mengambilnya?"


Yongheng mengangguk.


"Ada ingatan milikku tapi sepertinya bukan datang seperti gelombang. Kepalaku sakit, dan Maharani sepertinya mengalami hal yang sama. Kupikir ini ada hubungannya dengan kebangkitanku. Sepertinya ada dunia lain yang menjadi tempat penebusanku selama ratusan ribu tahun ini, dan aku melihat Maharani Feng ada di sana."


Si Ming mendengarkan dengan saksama. Takdir maharani yang baru bisa tertulis setelah turun ke alam fana tampaknya ada kaitannya dengan kebangkitan sang dewa. Pantas saja selama ini buku takdirnya selalu hancur saat ditulis.


"Apa kau punya catatan takdirku?"


Meski tidak yakin, Si Ming mencarinya dan ketemu. Dia menyerahkan buku takdir itu kepada Yongheng. Setelah menerimanya, Yongheng membentangkan buku takdirnya namun dahinya malah mengernyit.

__ADS_1


"Kosong? Mengapa tidak ada catatan perjalanan sebelum kebangkitanku?"


"Aku hanya pengatur takdir manusia dan dewa biasa. Takdir dewa sejati sepertimu, itu bukan kuasaku. Takdir dewa sejatimu sama seperti takdir Maharani Feng. Tidak dapat diketahui dan tidak dapat ditulis. Tidak tepat kau bertanya padaku, karena aku tidak tahu jawabannya."


"Lalu mengapa Maharani Feng ada di sana bersamaku? Bisakah kau menunjukkan buku takdirnya padaku?"


Si Ming terperangah. Takdir maharani sangat rahasia, tidak ada makhluk yang boleh mengetahuinya. Apalagi, buku takdirnya baru bisa terbentuk beberapa hari yang lalu.


"Sepertinya itu tidak pantas. Jika buku takdir pemimpin langit diperlihatkan, maka perubahan mungkin akan terjadi. Dewa Agung, mengapa kau tidak membiarkannya saja dan menunggu sampai itu terungkap dengan sendirinya?"


"Si Ming, sekali ini saja," mohon Yongheng.


"Dewa Agung Yongheng, jangan mempersulitku. Aku masih punya pekerjaan yang harus kuselesaikan."


"Bagaimana jika kedua takdir itu berhubungan dengan keselamatan Tiga Alam? Apa kau sanggup menghadapinya?" ucap Yongheng. Si Ming langsung terdiam. Setelah lama berpikir, dia menyerah. Si Ming menyerahkan buku takdir Feng Shang kepada Yongheng.


Akan tetapi, Yongheng harus kecewa. Di buku takdir Feng Shang hanya ada catatan bahwa perempuan itu menjalani pemulihan di dunia fana. Selebihnya tidak ada. Tampaknya kemisteriusan takdir itu benar-benar nyata.


"Dewa Agung, takdir langit tidak bisa diprediksi. Jika benar kebangkitanmu berhubungan dengan penebusan Maharani Feng, maka takdir kalian terhubung. Pada saatnya nanti, semua misteri itu akan terungkap. Hanya saja aku tidak tahu apakah itu adalah takdir yang baik atau justru sebaliknya," tutur Si Ming.


Perkataan Si Ming ada benarnya. Yongheng terlalu terburu-buru mengetahui takdirnya, padahal dirinya baru saja bangkit. Masih banyak hal di dunia ini yang harus dipelajari. Ini bukan dunia dewa kuno seperti dahulu. Yongheng perlu menahan diri agar jawaban yang ia inginkan bisa datang tepat pada waktunya.


"Kau benar. Aku mungkin terlalu terkejut dengan semua ini."


"Dewa Agung, keberadaan segala hal di dunia selalu mempunyai alasan. Kau dapat bangkit setelah inti jiwamu hancur ratusan ribu tahun, itu adalah takdir. Jika itu aku, inti jiwaku mungkin sudah akan lenyap setelah cukup beristirahat di Alam Ketiadaan."


"Hanya Chang Yuan yang berkuasa di sana. Rasanya memang sudah sangat lama sekali," ujar Yongheng. Ia malah teringat pada kawan lamanya, Dewa Chang Yuan yang menjadi Kaisar Langit pertama.


Setelah yakin tidak menemukan jawaban di kuil Si Ming, Yongheng kemudian pergi. Dia melangkah dengan pemikiran linglung. Yongheng bahkan tidak menyadari kalau ia masuk ke istana yang salah.

__ADS_1


__ADS_2