Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 79: Dia Tidak Seburuk Itu


__ADS_3

"Dewi, apa kau mau mencoba ini?" tawar seorang pedagang kepada Feng Shang. Pedagang itu menyodorkan sepasang gembok kepadanya.


"Benda apa ini?"


"Itu adalah gembok cinta. Kami suku siluman percaya dengan menguncinya bersama pasangan, maka takdir akan bersatu dan itu akan bertahan sampai puluhan ribu tahun."


"Aku tidak punya pasangan."


"Ah, begitu ya?"


Yongheng langsung bertindak. Dia merebut gembok itu sebelum Feng Shang menyerahkannya kembali pada si pedagang. Dengan raut tidak berdosa, dia memutuskan mengambil sepasang gembok itu dan memberikan beberapa keping batu kristal sebagai alat tukar. Si pedagang tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Mimpi apa dia semalam sampai bisa mendapatkan batu kristal yang sangat berharga.


"Untuk apa kau membelinya?" tanya Feng Shang.


"Menyenangkan seorang suku siluman, apa salahnya? Lagipula ini tidak seberapa. Kau ini, jangan jadi kaku hanya karena kau jadi Maharani," jawab Yongheng. Feng Shang melempar tatapan tak suka padanya. Kaku? Apa dia benar-benar kaku?


"Heh, kulihat kau mau memberikannya pada Sui Jin. Perkataanmu yang sebelumnya hanya alasan."


Yongheng berhenti sejenak, memutar badan lalu menatap Feng Shang. Feng Shang ikut berhenti dan memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan Yongheng. Pria ituterlihat pasrah akan perkataan Feng Shang yang tidak terduga. Padahal jelas-jelas mereka sedang berdua, mengapa harus menyertakan orang lain?


"Maharani, jangan selalu berprasangka. Itu buruk."


Yongheng lantas memberikan satu buah gemboknya pada Feng Shang dan memintanya menyimpannya meski dia menolak. Katanya, dia tidak percaya pada keajaiban seperti itu. Feng Shang lebih suka menghibur dirinya dengan takdir yang tidak terduga ketimbang mempercayakannya pada sebuah benda. Baginya itu sedikit konyol, tapi Yongheng tetap memaksanya.

__ADS_1


"Simpanlah. Anggap saja sebagai hadiah dariku."


Setelah mengatakan itu, Yongheng menarik tangan Feng Shang dan membawanya berlari. Feng Shang tampak kesulitan mengimbangi langkahnya karena tubuh Yongheng lebih tinggi dan kakinya lebih panjang. Belum lagi pakaiannya yang panjang, berkali-kali dia hampir terjatuh jika tidak menjaga keseimbangan. Hatinya menggerutu kepada Yongheng atas keberanian sikapnya yang menarik ini. Di Tiga Alam, mungkin hanya dia satu-satunya Dewa Agung yang memiliki sifat seperti ini.


Hutan Yinshen yang ramai menjadi semakin riuh tatkala awan di langit mereka berarak. Kebetulan, hari ini adalah hari perayaan. Semua orang ada di jalanan, menyaksikan berbagai macam pertunjukan. Feng Shang merasakan takjub, karena dia tidak pernah tahu kalau kehidupan suku siluman sebahagia ini. Kehidupan di sini begitu sederhana, namun semuanya begitu bahagia.


Melihat Feng Shang tersenyum kecil, Yongheng merasa senang. Akhirnya dia bisa melihat maharani yang selama ini dingin merasakan kebahagiaan kecil bersama suku siluman. Ia yakin selama ini Feng Shang tidak pernah tahu seperti apa kehidupan sebenarnya dari suku siluman.


"Apa yang membuatmu senang, Maharani?" tanya Yongheng pura-pura tidak tahu.


"Kebahagiaan mereka begitu sederhana. Aku tidak pernah menjumpainya di Alam Sembilan Langit."


Benar juga. Di Istana Langit, selain kepentingan yang mendasarkan kekuatan dan kekuasaan, tidak pernah ada yang seperti ini. Semua menteri dewanya hanya tersenyum ketika berhasil menyelesaikan tugas atau pada perjamuan-perjamuan besar. Selebihnya, Feng Shang hanya melihat wajah datar dan khawatir. Dia berpikir, para dewa mungkin terlalu kaku dan berwajah batu.


Untuk lebih menyenangkan Feng Shang, Yongheng mengajaknya bergabung bersama keriuhan itu. Awalnya Feng Shang menolak, namun setelah dipaksa akhirnya dia menerimanya. Lama kelamaan Feng Shang ikut menari dan bermain bersama mereka, hanyut dalam suasana bahagia yang begitu datang tiba-tiba. Dia berbaur bersama mereka, tertawa bersama-sama.


"Dia akhrinya tertawa," gumam Yongheng. Tidak sia-sia dia membawanya kemari. Yongheng sendiri sebenarnya tidak tahu mengapa dirinya tiba-tiba mengajak Feng Shang kemari padahal jelas dia tahu kalau wanita itu akan menolaknya. Namun, dia lebih tidak menyangka kalau tindakannya ternyata telah membuatnya perlahan mengenali sisi lain sang maharani yang selama ini tersembunyi.


Selesai dengan tarian, Feng Shang kini lebih terbuka dan berani. Dia bahkan berbincang dengan anak-anak suku siluman dan memberikan hadiah kecil kepada mereka. Hadiah itu berupa kepingan perak dan batu kristal yang bisa memberikan kekuatan setara dengan seratus tahun kultivasi. Feng Shang juga memberikan beberapa kipas bulu feniks kecil sebagai hadiah tambahan. Anak-anak itu bersorak gembira, melompat-lompat dan memeluk Feng Shang.


"Nak, dari mana kau mendapatkan kipas dan batu kristal ini?" tanya orang tua salah satu anak. Anak itu segera menjawab dengan senang, "Bibi Dewi itu yang memberikannya. Ibu, dia sangat baik!"


Orang tua itu lalu menoleh pada Feng Shan, namun Feng Shang kebetulan sedang melihat ke arah lain. Orang tua itu tertegun sesaat, lalu senyumnya perlahan terbit. Ternyata, dia mengenali Feng Shang. Saat Feng Shang kebetulan menoleh dan mereka bertatapan, orang tua itu segera membungkuk penuh hormat padanya. Feng Shang jadi terkejut, dia berpikir orang tua itu pasti mengetahui identitasnya. Feng Shang balas membungkuk, membuat orang tua itu seketika terkejut, lalu tersenyum bahagia.

__ADS_1


***


Feng Shang baru kembali ke Istana Langit setelah malam. Dia berpisah di gerbang Istana Fengyun dengan Yongheng, lalu masuk ke sana. Melihat kebahagiaan tak biasa ini, Yue Ming jadi curiga. Dia telah menunggu begitu lama, dan setelah yang ditunggu kembali, dia justru merasa aneh. Pasti sudah terjadi sesuatu antara maharani dengan dewa agung dari Laut Timur itu.


"Apa yang terjadi padamu sampai kau seperti ini? Tidak biasanya kau mengumbar senyum dan kebahagiaan di wajahmu," ucap Yue Ming. Alih-alih menjawab, Feng Shang mengabaikannya dan terus berjalan ke dalam ruangan pribadinya. Yue Ming mengikutinya.


"Maharaniku, ayo katakan. Apa yang terjadi antara kau dan Dewa Agung Yongheng?"


Yue Ming gemas dan ingin sekali mengetahui jawabannya. Mereka bilang Feng Shang dan Yongheng pergi ke Lembah Shansui untuk memperkuat segel Raja Iblis. Tetapi, tidak mungkin mereka kembali dengan raut bahagia bukan? Rasanya tidak masuk akal. Lembah Shansui bukanlah tempat yang bisa membuat dewa-dewi bahagia, juga tidak akan pernah ada hal seperti itu.


Akan tetapi, tidak peduli berapa kali dia bertanya, Feng Shang tetap tidak menjawabnya. Dia mengabaikannya dan lebih memilih sibuk menggoreskan tinta di kertas. Entah apa yang sedang ditulisnya itu. Yue Ming hampir tidak bisa menahan diri dan ingin memaksanya menceritakannya. Maharani yang seperti ini menurutnya lebih imut dan cantik daripada maharani dengan sikap dingin dan wajah tanpa ekspresi.


"Yue Ming," panggil Feng Shang.


"Ya?"


"Berikan ini pada Kaisar Siluman."


Feng Shang lantas melemparkan kertas itu kepada Yue Ming. Kertas itu berubah menjadi sebuah dekret Maharani Langit yang berisi pernyataan bahwa mulai sekarang, suku siluman boleh keluar dari Hutan Yinshen dan menjelajah kembali di lapis langit ketiga. Tentu dengan ketentuan bahwa mereka tidak boleh membuat kekacauan atau berbuat jahat. Feng Shang menyatakan bahwa dia akan mengawasinya secara langsung.


Yue Ming sangat terkejut. Selama ini, suku siluman hidup di Hutan Yinshen karena hukuman atas kesalahan mereka sendiri. Itu sebenarnya terjadi akibat banyaknya gangguan ditimbulkan oleh mereka karena berebut wilayah. Untung saja Kaisar Siluman bijaksana dan meminta mereka hidup seperti biasa. Kaisar Siluman menghukum mereka yang berbuat kacau. Kebanyakan suku siluman telah bertobat, karena mereka tahu batasan kekuatan di dalam diri mereka. Jika terus berbuat kacau dan berebut wilayah, mereka hanya akan binasa.


Agar tidak mengganggu, dia membatasi wilayah dan tidak memperbolehkan sukunya keluar dari sana. Itu juga sudah disetujui oleh Feng Shang beberapa puluh ribu tahun yang lalu. Kini dia tiba-tiba membebaskannya, itu merupakan sebuah kejutan yang sangat besar. Yue Ming menatapnya, lebih meminta penjelasan. Akan tetapi, Feng Shang malah melemparkan sekantong makanan enak kepadanya dan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Itu oleh-oleh untukmu. Pergilah, aku ingin beristirahat."


__ADS_2