Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 50: TKP


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, malam harinya Shen Yi menemani Feng Shang ke rumah lama Xiang Sun. Mobil mereka terparkir seratus meter dari pagar rumah yang telah hangus tersebut. Bau pembakaran menyengat, semakin dekat semakin bau. Untungnya, apinya sudah benar-benar padam. Ada garis polisi melintang di sana-sini. Di pagar yang sudah berubah hitam, terdapat tulisan “Dilarang Masuk”.


Shen Yi dan Feng Shang masuk ke dalam setelah memastikan tidak ada siapapun yang melihat. Begitu kaki mereka berpijak pada pekarangan rumah, bau hangus bercampur dengan bau lain yang sama menyengatnya. Shen Yi hampir muntah, tetapi Feng Shang kemudian memberinya kekuatan hingga pria itu bisa bertahan.


Feng Shang tidak tahu seperti apa rumah Xiang Sun sebelumnya. Akan tetapi, ia yakin kalau rumah itu tidak jauh berbeda dengan bangunan istana. Tampilan terkini rumah terbakar tersebut cukup menunjukkan itu. Rumah mewah tersebut kini hancur tak berbentuk, hanya menyisakan tumpukan arang dari furniture rumah tersebut.


“Xiao Shang, hati-hati,” peringat Shen Yi. Feng Shang mengangguk.


Keduanya memasuki bagian dalam rumah. Ternyata kebakarannya begitu parah. Feng Shang melangkahi beberapa bangkai barang yang hangus. Tepat ketika ia dan Shen Yi memasuki area yang diduga ruangan utama Kediaman Xiang, pemandangan yang tersuguh di sana semakin tak enak dipandang.


Feng Shang berjongkok di atas lantai marmer yang menghitam. Ia mencium jejak hawa iblis yang tertinggal meskipun baunya samar. Feng Shang mengenakkan sarung tangannya, kemudian mengambil sebuah barang hangus yang diduga merupakan aksesoris milik salah satu pelayan di rumah ini. Ia mendekatkannya, mencoba memperjelas bau dari benda tersebut.


“Shen Yi, senternya!” ucap Feng Shang. Shen Yi mendekat, kemudian menyorotkan lampu senter ke arah benda yang dipegang Feng Shang.


“Kau menemukan sesuatu?” tanya Shen Yi. Ia sebenarnya agak khawatir karena mereka masuk ke sini diam-diam.


“Ada jejak hawa iblis di sini. Tampaknya, dugaanku benar.”


“Kau yakin?”


Feng Shang mengangguk kembali. Ia melanjutkan penelusuran ke beberapa sudut rumah yang tinggal puing-puingnya saja itu. Ditemukan pula jejak hawa iblis yang lain. Feng Shang tidak bisa memastikan seberapa besar dan kuatnya hawa iblis di sini karena para korban sudah dievakuasi. Namun satu hal yang pasti, kejadian ini memang disengaja.


Shen Yi memperhatikan setiap pergerakan perempuan itu sambil terus waspada. Ini adalah rumah orang lain, yang kemungkinan tidak akan aman. Perempuan itu tahu ada masalah di rumah ini, namun dengan berani datang dan membuatnya ikut serta. Ia khawatir hawa iblis yang jahat itu kembali melukai Feng Shang. Ia lebih takut jika ternyata ini hanyalah jebakan yang dibuat Xiang Sun untuk menangkap Feng Shang.


Seakan tahu isi hati Shen Yi, Feng Shang berbalik sekejap dan memberitahu kalau semuanya akan baik-baik saja. Ia datang hanya untuk memastikan, tidak akan merusak TKP. Kalau kepastiannya sudah ada, maka mereka bisa segera pergi dari sini. Lagipula, ia sendiri tidak mau berlama-lama di tempat yang buruk ini.


Tepat di dekat tangga, Feng Shang berhenti. Sepertinya ia mencium jejak hawa iblis yang lebih kuat dibandingkan yang tadi. Saat ia mengikuti sumber tersebut, Feng Shang tanpa sadar sudah berada di tempat lain. Jejak hawa iblis terlah membawanya menuju tempat rahasia Xiang Sun, yang selama ini digunakan untuk berkomunikasi dengan iblis di dalam dirinya.


“Xiao Shang, sebaiknya kita kembali. Ini sudah sangat malam,” ucap Shen Yi. Semakin lama hatinya semakin tidak tenang.


Bagaimana tidak, mereka memasuki ruang bawah tanah dari rumah seorang iblis yang baru saja terbakar. Siapapun tidak akan berani memasuki area ini meski dihadiahi uang yang besar. Begitu masuk saja auranya sudah terasa sangat menyeramkan.


Bagaimana jika mereka tiba-tiba terjebak dan tidak bisa keluar?

__ADS_1


“Tenanglah. Aku berjanji, tidak akan terjadi apa-apa. Ayo,” ucap Feng Shang meyakinkan Shen Yi.


Perempuan itu menggamit lengan Shen Yi, membawanya menyusuri bagian dalam ruang bawah tanah tersebut.


Lampu senter tiba-tiba mati. Ruangan menjadi gelap, tidak ada satu objek pun yang terlihat. Shen Yi dan Feng Shang saling berpegangan erat. Kemudian, perempuan itu menggunakan kekuatannya, menciptakan sebuah bola cahaya berwarna biru. Kini, mata mereka bisa melihat beberapa objek dari jarak dekat.


Feng Shang melihat sebuah cermin tua dengan aura yang familier. Ia mendekatinya, kemudian berdiri di depan cermin tersebut. Feng Shang merapal mantra sihir. Aura kelam dari cermin tua tersebut seketika sirna, menyisakan bingkai emas berbentuk naga yang terlihat bersahaja. Kernyitan di dahi Feng Shang membuat Shen Yi tak tahan untuk tidak bertanya apa yang sedang perempuan itu pikirkan.


“Apa kau mengenal cermin ini?”


“Ini cermin Tianmeng milik Alam Sembilan Langit. Benda ini hilang ribuan tahun lalu. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau benda ini muncul di tempat ini. Apa mungkin semuanya tidak sesederhana yang kupikirkan?”


“Maksudmu?”


“Hawa iblis muncul di bumi. Beberapa waktu lalu, benda-benda Alam Sembilan Langit ditemukan di bumi, termasuk cermin ini. Kemungkinan, benda-benda tersebut masuk ke bumi di waktu yang sama dengan masuknya iblis ke dunia ini,” tebak Feng Shang.


Jika itu benar, maka keberadaan hawa iblis ini pasti sudah ada sejak lama. Hawa itu masuk ke bumi, bersamaan dengan hilangnya benda-benda Alam Sembilan Langit. Ia menebak pasti ada semacam portal yang menyebabkan makhluk dan benda dari alam lain masuk ke bumi. Mungkin juga, termasuk dirinya dan Shen Yi.


“Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan pada cermin ini?”


Feng Shang dan Shen Yi menyusuri area lain ruang bawah tanah. Ada sebuah kotak yang menarik perhatian keduanya. Ketika didekati, terlihat kotak itu terbuat dari kayu. Anehnya, kotak kayu tersebut tidak terbakar. Feng Shang membukanya. Ia sedikit terkejut melihat isi dari kotak kayu tersebut: sebuah buku.


Lambang di buku tersebut adalah lambang Keluarga Feng. Tanpa ragu, ia membukanya, membaca tiap lembarannya dengan cepat. Feng Shang membaca buku setebal itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Shen Yi melongo, terkesima dengan kemampuan yang dimiliki perempuan itu. Tidak, itu tidak penting sekarang. Mereka harus segera keluar dari rumah ini.


“Rupanya begitu,” seloroh Feng Shang.


“Apanya yang begitu?”


“Akhirnya aku mengetahui alasan mengapa dia bisa tahu kalau Keluarga Feng memiliki keturunan berdarah suci. Buku ini menceritakan segalanya,” tambah Feng Shang. Ia menyodorkan buku tersebut pada Shen Yi. Pria itu membukanya, melihat-lihat beberapa halaman yang ternyata semuanya berkaitan dengan Keluarga Feng.


“Mengapa buku ini bisa ada di tempat Xiang Sun?”


“Aku rasa, ia mendapatkannya tanpa sengaja. Pantas saja dia tidak mau melepaskan Feng Ling dan terus menerus mengejarku.”

__ADS_1


“Apa Feng Ling juga memiliki darah suci? Tetapi, kakekmu hanya mengatakan kalau kau yang memiliki darah suci itu.”


“Dulu ya. Sekarang tidak. Aku sudah mengambil kembali darah suci itu.”


“Maksudmu, darah suci di tubuh Feng Ling adalah milikmu?”


“Ya. Tampaknya, takdir telah mengatur hal demikian.”


Shen Yi manggut-manggut. Perempuan ini memang luar biasa. Ia bisa mengenali barang miliknya yang berada di tubuh orang lain. Shen Yi justru merasa kalau ini ada kaitannya dengan garis keturunan Feng. Mustahil darah suci itu menetes di tubuh orang lain yang tidak memiliki hubungan darah dengan Feng Shang.


Malam kian larut. Feng Shang dan Shen Yi baru keluar setelah tiga jam berada di ruang bawah tanah. Mereka membawa pulang beberapa barang milik Alam Sembilan Langit yang tidak terbakar, menyembunyikannya di ruangan gaib yang hanya bisa diakses Feng Shang.


Di dalam mobil, Feng Shang terus berpikir. Dahinya sesekali berkerut.


“Apa setelah kau menyelesaikan urusanmu di bumi ini, kau akan kembali ke Alam Sembilan Langit?” tanya Shen Yi.


“Ya. Mengapa kau bertanya?”


“Ah, tidak. Aku hanya ingin tahu.”


Feng Shang jelas tahu kalau pria itu sedang menunjukkan ketidakrelaan secara tidak langsung. Wajah itu memberitahu kalau pria itu tidak ingin ia pergi. Feng Shang menyunggingkan senyum. Shen Yi tidak tahu jika ia pergi, maka pria itu juga akan pergi. Tidak ada yang meninggalkan dan ditinggalkan.


“Apa kau tertarik ikut bersamaku?” goda Feng Shang.


“Di Alam Sembilan Langit, ada banyak sekali peri yang cantik. Juga, terdapat ribuan dewi yang menawan. Jodohmu mungkin salah satu dari mereka,” godanya lagi.


“Xiao Shang, jangan menggodaku!”


“Mereka paling menyukai keindahan. Pria tampan sepertimu akan jadi idola baru, mengalahkan dewa-dewa yang terkadang sangat menyebalkan itu.”


Shen Yi mendengus. Apa perempuan ini tidak peka?


“Nanti kuperkenalkan kau pada mereka. Hidupmu pasti akan sangat bahagia,” goda Feng Shang lagi dan lagi.

__ADS_1


“Diam atau aku akan menabrakkan mobil ini ke pembatas jalan?” ancam Shen Yi.


Feng Shang berhenti bicara. Tentu saja ia tidak ingin Shen Yi mengalami kecelakaan lagi.


__ADS_2