Return: Of The Dragon Legend

Return: Of The Dragon Legend
Ch. 104. Akhir Babak Kedua


__ADS_3

“Haih.. kau terlalu ceroboh, menggunakan racun sebanyak itu.. apa kau ingin membunuhnya..?” Hu Tao membantu Wang Sang untuk duduk sambil melihat tangan kanannya yang mulai berwarna hijau


“Tuan Hu.. aku hanya menggunakan seluruh kemampuanku” Ucap Wang Sang sambil terbatuk-batuk, ia lalu memegang dadanya yang masih terasa sakit, ketika melihat tangannya terkena racun dia menjadi panik “Tanganku..? Bagaimana bisa..?”


“Kau tidak usah khawatir, racun yang kau gunakan tidak sekuat yang kau kira” Hu Tao memiliki pengalaman yang cukup banyak jika berhubungan dengan racun, dan menganggap racun dari Belalang Sembah tersebut tidaklah kuat


Hu Tao mengeluarkan botol kecil dari cincin dimensi lalu memberikan sebuah pil penangkal racun pada Wang Sang “Minumlah.. ini bisa menahan racun agar tidak menjalar ke tubuhmu”


Wang Sang menerimanya dan tak perlu waktu lama efek dari obat tersebut mulai bereaksi “Ini..” Dia melihat telapak tangan kanannya dan benar saja, racun itu berhenti mengalir dan terhenti di pergelangan tangannya


“Tuan Hu.. siapa anda sebenarnya..? Apa kau Hu Tao si Dewa obat itu..!?” Pengetahuan yang dimiliki oleh Wang Sang bisa terbilang luas karena telah lama tinggal di Ibu Kota


Melihat seorang anak muda yang mengetahui jati dirinya, Hu Tao menganggap Wang Sang sebagai murid penting di dalam Sektenya dan mungkin dia mempunyai latar belakang yang tidak biasa


Wang Sang tiba-tiba berdiri dan memalingkan mukanya sambil menaruh kedua tangannya di belakang punggung


“Kau salah orang.. aku hanyalah orang tua biasa” Hu Tao menepis kebenaran yang pemuda itu sampaikan, selain mantan dari salah satu Ketua di Sekte Palu Langit ia juga memiliki ilmu pengobatan dan sudah lama meninggalkan gelar Dewa obat.


Semenjak keahliannya dalam meracik obat, Sekte mulai kedatangan banyak musuh, karena telah tersebar di dunia persilatan bahwa Tabib Hu mempunyai resep untuk awet muda


Mengetahu hal tersebut, Yang Mulia Sun mendatangi Sekte Palu Langit dan memintanya untuk menjadi salah satu petinggi di kerajaan. Karena tidak ingin menjadi beban di Sekte, ia kemudian menerimanya dan sampai saat ini tidak ada lagi yang berani mencari keberadaannya


“Ah.. mereka datang” Hu Tao melihat pihak tabib lainnya sudah berdatangan dan membiarkan mereka menanganinya “Cepatlah sembuh dan jangan sia-siakan bakat yang kau miliki” Ia memberikan nasihat agar pemuda tersebut, kelak tidak mendatangkan masalah bagi Sektenya di kemudian hari


Betapa lemahnya Hu Tao saat itu dan membuatnya harus bersembunyi dibawah naungan para Tetua lainnya karena tidak mampu melawan musuh yang begitu banyaknya


Saat Wang Sang melihatnya sedang merenung, ia hanya bisa mengucapkan beberapa kalimat dan tidak bertanya lebih lanjut “Terima Kasih Tuan Hu..”


“Hm...” Hu Tao mengangguk pelan sambil melihat Wang Sang di bawa ke ruang perawatan, kemudian ia melanjutkan tugasnya sebagai wasit sekaligus pembawa acara “Hari ini adalah hari yang menyenangkan karena dapat melihat generasi muda begitu berbakat dan..”


Belum selesai berucap, para penonton sudah dapat menebaknya jika tadi adalah pertandingan terakhir dari babak kedua dan memutuskan untuk pergi meninggalkan stadium, menghiraukan sang wasit yang masih berbicara panjang lebar


Melihat penyampaiannya yang kurang mendapatkan perhatian, Hu Tao segera mengakhiri kalimatnya dan memberikan hormat “Terima Kasih sudah hadir..”

__ADS_1


“Mungkin aku harus meringkas kalimat penutupnya” Gumam Hu Tao sambil melangkah pergi dan meninggalkan arena


Di saat bersamaan, Shou Yan yang masih berada di bangku peserta dengan telanjang dada, hanya bisa berharap sambil menunggu para seniornya untuk meminjamkan baju cadangan, mengingat baju miliknya masih di pakai oleh gadis Song


Tak berselang lama, akhirnya Shou Yan melihat kelima seniornya datang sambil melangkahkan kakinya dengan angkuh “Apa yang terjadi pada mereka..?” Batinnya


“Adik.. kau memang hebat”


“Benar, aku bahkan tak mampu untuk menangkap sepasang pedang Pusaka itu”


“Pedang pusaka..?” Batin Shou Yan, ia menangkap maksud dari seniornya yang sedang membahas pertarungan antara gadis Song dengan Houi Fu, Shou Yan menggarruk hidungnya yang tidak gatal “I-itu hanya kebetulan”


Shou Yan batuk pelan sebelum meminta tolong pada rekan seperguruannya “Senior.. bisakah aku meminjam baju kalian yang tidak terpakai..?”


Selain tubuhnya yang mulai beku karena kedinginan, ia juga tidak ingin kembali ke penginapan sambil telanjang


Kelima Seniornya saling memandang sebelum menghampiri Shou Yan dan merangkul lehernya “Adik tidak khawatir.. kau bahkan lebih gagah tanpa memakai baju”


“Apa yang di katakannya memang benar.. Bagaimana kalau nanti malam kita beli saja di pasar..?”


“Ti-tidak usah Senior.. Lebih baik gunakan saja uang kalian untuk hal yang lebih penting” Shou Yan menolak tawaran tersebut karena beberapa alasan, terlebih uang di sakunya tidak lebih dari lima keping perak


“Uang..!?” Shou Yan menaikkan kedua alisnya sambil mengingat kembali dimana ia menaruh kepingan peraknya, sekilas ia teringat dengan aksinya yang memakaikan pakaiannya pada Song Qin


“Cerobohnya aku..” Batin Shou Yan sambil menyesal karena tidak menaruh uang di cincin dimensi


Shou Yan menunduk lesu karena uang hasil dari misi pertamanya harus bersama baju miliknya, melihat hal tersebut Senior lainnya berusaha untuk menghibur murid termuda di Sekte


“Haih.. pakailah dulu” Salah seorang rekan lainnya merasa iba dan mengeluarkan baju dari cincin dimensi lalu memakaikan baju Sekte cadangannya “Kau bisa kembalikan setelah mencucinya” Imbuhnya


Rata-rata murid di Sekte Pedang Bulan mempunyai cincin dimensi, meski ukuran ruangnya tidak sama dengan yang Shou Yan miliki


“Ini.. ?” Shou Yan ingin berterima kasih karena telah bersedia menolong namun di sisi lain ia juga merasa canggung. Sebab, pakaian milik seniornya dua kali lebih besar dari ukuran tubuhnya “Mungkin aku bisa menjadikannya selimut” Batinnya

__ADS_1


Karena empat Seniornya yang lain tidak bersedia meminjamkan baju, mereka mencoba menebusnya dengan merapikan pakaian yang Shou Yan kenakan


“Tidak usah Senior.. aku bisa melakukannya sendiri”


“Sudalah.. kau diam saja, gunakan sisa tenagamu untuk besok” Setelah berkata demikian, Salah seorang rekannya melihat sesuatu di balik punggungnya “Eh... Kau mempunyai tanda lahir yang aneh”


“Benarkah..? Coba lihat”


“Wah... Jelek sekali”


“Bahkan ukurannya lebih besar dari buah apel”


Shou Yan mulai risih ketika ia di jadikan bahan tertawaan oleh rekan seperguruannya dan memutuskan untuk segera kembali ke penginapan


“Eh.. adik.. kau mau kemana..?” Senior dengan ukuran tubuh yang gemuk ingin menghentikan langkahnya namun Shou Yan menghiraukannya


“Ini semua gara-gara kau..!?


“Aku..?”


“Coba kau tidak melihat tanda lahirnya.. mungkin dia tidak akan semarah ini”


“Dia..!? tertawa paling keras” Tunjuk ke salah satu rekan seperguruannya


“Apa kau bilang..? Kau lah yang tertawa paling keras, bahkan mengatakan tanda lahirnya jelek”


Keempat rekannya saling melemparkan tanggung jawab, hingga salah satu di antaranya menengahi pertengkaran mereka “Sudah hentikan..!”


“Ba-baik Kakak.. gara-gara kau kita di marahi”


“Itu kau..”


“Aku bilang cukup..! Hentikan pertengkaran kailian” Meski Ilmunya tidak lebih kuat dari Bao Yu dan Shou Yan namun Murid dengan tubuh gemuk tersebut memiliki ketegasan dan perhatian yang tidak di miliki oleh orang lain, sehingga ke-empat rekannya menaruh hormat terhadapnya

__ADS_1


Melihat situasi sudah mulai terkendali, barulah mereka memutuskan untuk menyusul Shou Yan karena malam sebentar lagi akan tiba


 


__ADS_2