
“Apa maksudmu..?” Shou Yan menangkis pukulan dari pria tersebut sambil menanyakan tujuan dari tindakannya
Melihat senyuman yang menghiasi wajahnya, Shou Yan berfikir bahwa apa yang dia lakukan hanya sebatas menguji kemampuannya
Keduanya bertukar beberapa jurus sampai akhirnya keluar dari kerumunan, Shou Yan memutuskan untuk berbicara padanya agar segera menyudahi pertarungan yang tidak ada artinyaa
Shou Yan menendang pria di hadapannya dan bergerak mundur “Harus ku akui, kemampuan Senior memang hebat” Ucapnya sambil memberikan hormat “Mohon dapat memberikan Junior jalan”
“Tentu saja” Ucapnya sambil membusungkan dada, namun di balik senyumannya terdapat satu hal yangmengganjal di pikirannya “Dia sama sekali tidak terlihat kelelahan”
Yodo teringat sebuah kalimat yang pernah di ucapkan oleh gurunya, bahwa kekuatan bisa membantumu menemukan lawan yang tangguh
Ia memandang Shou Yan dengan penuh bangga karena menganggapnya sebagai orang pertama yang mampu menandingi kecepatannya, kecuali sang Guru “Siapa namamu..?”
Shou Yan terdiam sejenak sebelum memberitahukan identitasnya “Nama junior adalah Shou Yan dari Sekte Pedang Bulan”
“Pedang Bulan..? Aku tidak pernah mendengarnya” Gumamnya, bertahun-tahun ia bergabung di sekte namun sama sekali tidak mendengar jika ada aliran tersebut “Apa kau berasal dari Sekte besar..?
“Tidak Senior, Sekte kami berada jauh dari Ibu Kota” Menurutnya, tempat yang bisa di sebut rumah, tidak termasuk dari Sekte Besar maupun Menengah
Meski sudah mempunyai ratusan murid tidak semerta bisa menjadikannya menjadi besar, banyak hal yang menjadi penyebabnya salah satunya adalah kurangnya perhatian Raja terhadap Sekte Cabang
Shou Yan ingin bertanya lebih lanjut namun ia mengingat bahwa batas pendaftaran akan selesai dan jika tidak segera mendaftar, takutnya akan mendapatkan masalah untuk kedepannya “Terima Kasih Senior atas bimbingannya tapi.. aku harus segera pergi”
Yodo melihatnya pergi dengan tergesa-gesa, tetapi saat hampir sampai di depan gerbang ia mengurangi kecepatannya dan berjalan seperti sedang memikul beban berat “Apa yang sedang dia lalukan..?”
Lamunannya terpecah ketika seseorang memegang pundaknya “Bagaimana..?”
Yodo menoleh dan melihat pria yang tidak asing “Guru...” Ia memberikan hormat sebelum menjelaskan kemampuan dari lawannya, “Dia cukup kuat, tapi tidak terlalu cepat untuk mengimbangi langkahku, Guru”
“Haih.. selepas pulang nanti,, kau harus lebih banyak berlatih” Pria tersebut sempat melihat kemampuannya yang hanya bisa bertahan dari serangan muridnya
Namun siapa sangka bocah yang sempat di anggap muridnya lemah, sebenarnya belum mengeluarkan seluruh kemampuannya “Coba kau perhatikan langkahnya”
__ADS_1
Yodo terkejut atas ungkapan tersebut dan mencoba melihat kaki Shou Yan sesuai arahan dari sang Guru, ia menajamkan mata dan hanya melihat sebuah kain yang membelit di kaki
“Itu bukanlah kain biasa, tapi di dalamnya terdapat sebuah besi”
“Apa, Besi..!?”
“Sepertinya dia hanya tidak ingin membuat masalah” Ujar pria tersebut sambil mengelus janggutnya
Yodo menatap kedua tangannya sambil mengepalkan tangan dan bergumam pelan “Apa aku masih lemah..!?”
Tujuan dari sang Guru mengikut sertakan para muridnya ialah untuk mendapatkan pengalaman bertarung, selama di dalam Sekte Yodo disebut sebagai anak yang jenius dalam generasinya
Di mulai seni latihan bela diri maupun teknik berpedan, hanya saja setiap latih tanding ia selalu menang dan itu cukup buruk untuk pengalamannya, jika hanya mengandalkan kemampuan bertarung dari para murid lain
“Kuatkan dirimu, saat pertandingan nanti kau bisa mengeluarkan seluruh kemampuanmu” Menurutnya, bertarung di atas arena dapat membuat kemampuannya keluar daripada hanya berlatih di dalam Sekte
“Baik Guru”
“Kalau begitu cepat lah, sebelum mereka menghalangi jalan” Ujarnya sambil melihat ke arah belakang yang masih terdapat ratusan manusia sedang mempercepat langkahnya
Saat selesai memberikan lampiran tersebut ia melihat gumpalan asap berdebu dari jalan utama “Apa yang terjadi di sana...?” Gumamnya
Tak berselang lama, asap tersebut menghilang dan bersamaan dengan itu, muncul Shou Yan dari kejauhan yang masih berjalan dengan beban di kedua kakinya “Dia tidak menyerah rupanya”
Shou Yan melihat ke-enam Seniornya yang masih menunggunya dari depan gerbang, setelah melangkah cukup lama barulah ia sampai dengan nafas yang terengah-engah
Tak sedikit yang memandang rendah Shou Yan, karena mereka mengira fisiknya terlalu lemah untuk berjalan yang jaraknya hanya beberapa puluh meter, termasuk Bao Yu yang menertawakannya dari dalam hati
“Adik.. duduklah, akan aku ambilkan formulirnya” Salah satu Seniornya meminta agar Shou Yan untuk duduk dan beristirahat sejenak, meski tidak terlalu jauh tetapi dengan hukuman yang dia terima tentu membuatnya sedikit lelah
“Terima kasih Senior” Shou Yan tersenyum lembut ketika beberapa Seniornya berbuat baik dan perhatian terhadapnya, meski perbuatan tersebut baru ia rasakan setelah menginap di tengah hutan
“Apa kalian sudah mendaftarkan diri..?”
__ADS_1
Ketujuh murid tersebut menoleh dan mendapati Fan Cou sedang memandangi mereka dengan tangan di belakang, “Sudah Tetua Fan” Ucapnya secara bersamaan
Fan Cou mengangguk pelan sebelum menyuruh para muridnya untuk segera masuk ke dalam namun langkanya terhenti ketika merasakan hawa pembunuh dari arah belakang
Shou Yan yang berjalan paling belakang merasakan suatu ke anehan pada tubuh Fan Cou, ia melihat tangannya bergetar dengan sedikit mengeluarkan keringat “Tetua Fan..?”
“Oh.. ternyata sekarang kau sudah menjadi Tetua rupanya”
Fan Cou berbalik dan menemukan seseorang yang dulu pernah ia lawan “ Fei Gu..!?”
Shou Yan melihat ke arah yang sama dengan Fan Cou dan menemukan pria dengan luka di mata kirinya “Apa dia yang Tetua Fan maksud..?” Batinnya
“Kita bertemu lagi, wahai Rival ku..!”
Shou Yan menepuk jidatnya ketika menemukan pemuda yang sempat menyerangnya “Kau lagi...”
Semalam Shou Yan merasa tidak sedang bermimpi buruk namun entah kenapa pagi ini, ia selalu mendapatkan kesialan terutama sosok yang sedang tersenyum lebar kearahnya
Keduanya sama-sama menghadapi seseorang yang merepotkan, bahkan beberapa penduduk di sekitarnya bisa melihat bayangan serigala dari pihak Fei Gu sedangkan kelinci di sisi Fan Cou
Kejadian ini mengundang banyak perhatian karena mereka telah berdiri lama di tengah gerbang dan itu membuat siapapun tidak berani untuk menegurnya
Karena perselisihan di antara para Pendekar adalah hal yang sangat menakutkan bagi orang biasa, terutama era dunia persilatan yang mulai bergejolak
Murid yang lain telah berjalan jauh di depan tetapi Bao Yu merasakan ada sesuatu yang kurang, ia mencarinya dan menemukan Fan Cou tengah berhadapan dengan pria tinggi yang memiliki luka
“Tetua Fan..? Dan... cih,, dia lagi” Pikirannya di penuhi banyak pertanyaan, kenapa di setiap kejadian selalu melibatkan Shou Yan “Apa istimewanya bocah lusuh itu” Gumamnya
Mendengar kalimat tersebut membuat Yodo bergerak cepat dalam kedipan mata“Siapapun tidak berhak mengejeknya..!” Meski terasa samar, ia merasa geram jika seseorang membicarakan Shou Yan tanpa tahu kekuatan yang sesungguhnya
Bao Yu bergerak mundur ketika melihat sosok pria yang secara tiba-tiba berada tepat di depannya, saat hendak mengeluarkan pedangnya terdapat sebuah tangan yang ikut memegang senjatanya dan membisikkan suatu kalimat
“Melihat gerakanmu.. kau tidak lebih cepat dari seekor kucing”
__ADS_1
Melihat Bao Yu terdesak, ke-lima rekannya mulai mengepung Yodo dengan bilah pedang yang sudah menyentuh kulit lehernya “Jangan remehkan kami..!”