
Zi Ji mengamati Yodo dari atas sampai bawah namun tidak menemukan celah apapun, ia merasa bahwa pertandingannya akan segera berakhir setelah merasakan aura pembunuh yang keluar dari lawannya
Zi Ji mengeluarkan keringat dingin setelah melihat uap panas di sekitarnya tubuh lawannya “Diam lah” Batinnya sambil memegang tangan kanannya yang masih bergetar
Meski nanti akan menjadi yang terakhir, ia akan mengeluarkan segala kemampuannya sehingga tidak mempunyai rasa penyesalan
Zi Ji menghela nafas panjang dan mengeluarkan seluruh energi yang tersisa, ia melompat dan mengambil kembali senjatanya “Bersiaplah..!”
Yodo tersenyum sinis setelah mendengarkan ucapan yang tak berarti “Seharusnya aku yang bilang”
Zi Ji menggunakan ilmu meringankan tubuh dan dengan cepat berada di belakang Yodo, ia mengangkat pedang dan menyerang tepat di punggung lawan
“Sungguh sia-sia”
Bersamaan dengan itu, tubuh Zi Ji menjadi sangat berat dan terjatuh sekaligus kalimat tersebut menjadi tanda berakhirnya pertarungan pertama
Fan Cou berdiri dari duduknya setelah melihat sebuah jurus yang dulu pernah menjadi penyebab kekalahannya “Orang itu.. mengajarkan teknik miliknya” Batinnya
Kemarahan sekaligus kesesalan terlihat dengan nafas berat dan kepalan tangannya yang semakin keras
Sejak awal Shou Yan sudah menyadari keanehan pada Tetua Fan namun ia lebih memilih untuk tidak terlalu banyak memikirkannya
Tetapi Teknik yang Yodo keluarkan telah membuatnya menjadi semakin tidak terkendali “Tetua Fan..?”
Fan Cou terkejut saat Shou Yan sedang menatapnya penuh heran, setelah menghela nafas panjang ia kembali duduk dan menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan
“Itu adalah Teknik andalan Fei Gu.. Palu Halilintar”
“Palu Halilintar...!?” Tanya semua muridnya secara bersamaan
Meski dari kejauhan Fan Cou dapat melihat dengan jelas ketika Zi Ji berada di belakang lawan, Yodo mengubah Tenaga dalamnya menjadi bentuk Palu dan ia berbalik menyerang dengan sangat cepat sehingga menimbulkan serangan telak
Menurutnya jurus tersebut belum sempurna, sebab ia pernah melihat dengan jelas Fei Gu menggunakannya tiga kali lebih cepat dari yang Yodo tunjukkan sebelumnya
Selepas menjelaskan semuanya, ia lalu memberikan arahan pada tujuh muridnya “Kalian harus berhati-hati”
“Baik Tetua Fan”
__ADS_1
Bao Yu tersenyum ejek ketika mendengar Tetua Fan terlalu memuji orang lain, sedangkan di sebelahnya sudah ada salah satu murid jenius di Sekte
“Lihatlah Tetua Fan.. aku akan mengalahkan jurus miliknya dalam satu gerakan” Batin Bao Yu sambil menyilangkan kedua tangannya
Hu Tao menghampiri kedua peserta tersebut setelah merasakan hawa pembunuh yang semakin pekat keluar dari dalam tubuh Yodo “Sedang apa kau..? Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, pertandingan telah berakhir”
Yodo menghiraukan imbauan wasit dan masih ingin menyerang lawan yang sudah terkapar tak berdaya
Dengan cepat Hu Tao berada di antara keduanya sambil menahan senjata yang tidak terlihat “Simpan Palumu.. atau akan ku hancurkan..!”
Para penonton bergumam ketika Hu Tao mengatakan hal yang tidak masuk akal, beberapa di antaranya bahkan mengatakan dia sudah gila karena berbicara ingin menghancurkan senjata tetapi di tangannya tidak ada apapun
Hu Tao dapat mendengar bisikan penonton namun menghiraukannya. Menurutnya, hal tersebut biasa terjadi pada seseorang yang tidak mempunyai ilmu bela diri ataupun di ranah suci ke atas
Meski ada beberarapa di antara para pendekar yang dapat menjelaskan situasi saat ini melalui pengalaman mereka di dunia persilatan
“Kendalikan dirimu...!”
Yodo baru berhenti setelah mendengar suara di pikirannya “Guru..!?” ia menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk menenangkan diri
Hu Tao melihat pemuda di hadapannya telah menarik kembali tenaga dalamnya lalu meninggalkan lapangan pertandingan tanpa mengucapkan sepatah kata pun
Meski itu pertama kalinya ia melihat teknik tersebut, ia bisa saja menghancurkannya dengan menyelimuti senjata buatan Yodo dengan Tenaga dalam serta di gabung dengan hawa murni yaitu Chi
Namun tugasnya sebagai wasit adalah menjadi penengah dalam pertandingan bukan untuk ikut campur dalam pertandingan kecuali hal itu menyangkut nyawa seseorang “Haih.. generasi muda memang penuh semangat” Gumamnya
“Ayo cepat mulai pertandingannya”
“Tunjukkan pada kami hiburan Kalian”
Para penonton menjadi tidak sabar setelah melihat pertarungan yang bisa mereka nikmati, namun tujuan di adakan Turnamen ini bukanlah untuk menjadi bahan pelepas penat melainkan memilih anak yang berbakat agar ketika sudah waktunya, mereka bisa menjadi bagian dari negara dan bertarung atas nama keadilan
“Keadilan kah..?” Hu Tao berdiam diri setelah mendengar salah satu penonton menganggap turnamen ini sebagai hiburan, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, demi untuk membuat kedamaian yang bisa mereka rasakan saat ini
Hu Tao memperhatikan Raja Sun sebelum kembali melihat peserta yang di tubuhnya di kelilingi banyak luka
Setelah beberapa saat, datang pihak Tabib untuk membawa peserta yang terluka agar kembali ke dalam ruangan untuk bisa di rawat lebih lanjut
__ADS_1
Sun Qian bisa merasakan tatapan heran yang telah di arahkan padanya, tentu ia tahu akan maksud Hu Tao sebab kedamaian yang mereka rasakan bisa terjadi karena hasil dari peperangan di masa lalu
Sun Qian tersenyum tipis, dalam makna banyak yang telah berkorban untuknya dan negara demi menciptakan kebahagiaan yang bisa di rasakan oleh banyak orang
“Suamiku..”
Lamunannya tersadar setelah tangannya di pegang oleh seseorang, dia menoleh dan menemukan senyuman iba dari istrinya “Jangan khawatir.. tidak akan ku biarkan siapapun merusak kedamaian ini”
Keduanya saling bersentuhan kening dan menghiraukan ratusan ribu penonton yang ada di depan mereka kecuali satu orang yang berani menegurnya
“Apa ayah dan bunda sudah selesai..? Bisakah aku kembali saja, di sini sungguh membosankan” Ujar Mei Hwa sambil menghentakkan kakinya beberapa kali
Sun Qian sadar kasih sayangnya terhadap ibu Mei Hwa terkadang suka lepas kendali dan menghiraukan semuanya, ia batuk pelan lalu menanggapi keluhan dari putrinya
“Hwa’er.. ini baru pertandingan pertama, apa kemarin masih belum cukup bermain keliling istana..?”
“Bunda..?” Mei Hwa meratap ke ibunya karena merasa ayahnya tidak mengerti akan kekesalannya
“Sabar anakku.. ini juga termasuk bentuk kewibawaan kita sebagai seorang pemimpin di Negeri ini”
“Pokoknya aku ingin pergi”
“Hwa’er..!?” Sun Qian berteriak cukup keras lalu melihat ke arah istrinya untuk mengejar dan membujuknya
Mei Yueyin menangkap maksud dari suaminya dan mengejar Mei Hwa. Bersamaan dengan itu Hu Tao mengumumkan pertandingan selanjutnya dan saat mendengar nama yang tidak asing, anak gadis tersebut menghentikan langkahnya dan melihat ke tengah arena
“Pertandingan kedua.. silahkan peserta selanjutnya untuk memasuki arena”
Dua murid dari Sekte yang berbeda menaiki arena dan saling mengenalkan diri
“Shou Yan.. Sekte Pedang Bulan”
“Zong Li... dari Sekte Seribu Bambu”
Keduanya memberikan hormat sebelum wasit memberikan aba-aba sebagai tanda di mulainya pertandingan
__ADS_1