
Sudah tiga hari berlalu sejak penyerangan di kota Changnan, pasukan khusus raja atau biasa di sebut Pasukan Zirah Baja sudah menjaga di setiap sudut kediaman Fa, mengingat Mei Hwa masih berada di dalam ruangan
Di sisi ruangan Shou Yan berada, terdapat jenderal Guan Ju yang sedang menasehati Mei Hwa “Tuan Putri, kita harus segera kembali ke ibu kota” Guan Ju mendapatkan perintah untuk membawa Mei Hwa kembali ke istana dengan Pasukan Zirah Baja sebagai pembawa pesan dari Sun Qian sekaligus memberi bantuan ke kota Changnan
“Tapi..” Mengingat keadaan Shou Yan saat ini, ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja terutama dalam kondisinya yang masih belum sadar
“Ini adalah perintah dari Yang Mulia, mohon Tuan Putri segera bergegas” Guan Ju sekali lagi menegaskan untuk segera kembali ke istana, dengan bergeraknya pasukan Zirah Baja tidak menutup kemungkinan kepercayaan Sun Qian terhadap Guan Ju sudah mulai sedikit renggang
Mei Hwa meminta Guan Ju keluar dari ruangan karena ia membutuhkan waktu untuk berfikir, setelah lebih dari lima belas menit Mei Hwa keluar dan menemui Guan Ju “Persiapkan segalanya” dengan nada yang datar
“Baik Tuan Putri’’ Guan Ju mengerti perasaan Mei Hwa saat ini namun ia lebih mengutamakan kewajibannya karena saat dirinya menjabat sebagai jenderal, Guan Ju telah bersumpah untuk mengutamakan kepentingan Raja dan Negara melebihi kepentingan pribadinya
Selepas memberikan perintah kepada Guan Ju, ia memutuskan untuk melihat keadaan Shou Yan sebelum meninggalkan kota “Kakek, apa sudah ada kemajuan..?” Mei Hwa melihat Guo An masih membalut luka Shou Yan yang sudah agak tertutup
“Untuk saat ini masih belum,, Tuan Putri” Guo An sendiri bukanlah seorang tabib yang handal namun ia memiliki sedikit pengetahuan tentang penyembuhan dan keadaan Shou Yan saat ini, sudah di luar pemahamannya
“Yan’gege..” Mei Hwa duduk di sebelah Shou Yan dan memegang tangannya
Guo An yang melihatnya memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua “Yan’er.. kau harus segera sadar” batinnya sambil menutup pintu kamar. Guo An dapat mengerti akan kesedihan yang di alami oleh Mei Hwa, karena ia sendiri sudah pernah mengalami jauh sebelumnya
“Jika kau tidak punya sesuatu yang berharga, cari dan temukanlah.. mungkin ia ada di sampingmu” Guo An menghela nafas panjang sebelum melangkah ke dapur untuk mengambil obat
Xiao Lung yang melihat Guo An keluar dari kamar Shou Yan bergegas mengambil kain dan air hangat “Semoga ini cukup untuk membalas kebaikan Tuan Shou” Selama Shou Yan belum siuman, Xiao Lung selalu memandikannya saat tidak ada siapapun di ruangan
“Yan’gege.. Maaf jika adik tidak pernah berguna.. meski keadaan Yan’gege masih seperti ini, aku harus kembali ke istana” Mei Hwa menceritakan rasa sedih di hatinya, ia berfikir untuk menemani Shou Yan sampai keadaannya membaik namun dia sendiri tidak yakin untuk menolak perintah Raja
Meski begitu Mei Hwa masih berharap untuk kesembuhannya dan ia berjanji di hadapan Shou Yan untuk mengirim tabib terbaik dari istana untuk merawatnya
Selepas berjanji, Mei Hwa hendak keluar ruangan untuk bersiap meninggalkan kota sampai ia membuka pintu dan menemukan seorang gadis dengan mata sipit “Nona Lung..!?” Kedua matanya ingin keluar dari tempatnya saat melihat Xiao Lung membawa kain dan air hangat “Apa kau..?”
__ADS_1
“Ah maaf Tuan Putri, saya tidak mendengar apapun” Xiao Lung menolak kenyataan bahwa ia sudah mendengar pembicaraan Mei Hwa dari balik pintu
“Mendengar..?” Mei Hwa menaikkan alis saat Xiao Lung berbicara seolah mendengar curhatannya pada Shou Yan
“Ah,, tidak,, maksudku Tuan Putri kenapa menagis..?” Xiao Lung mencoba utuk mengalihkan pembicaraan
“Aku tidak menangis tetapi terkena debu” Mei Hwa lupa untuk mengusap air matanya, dia meminta Xiao Lung untuk merawat Shou Yan selama ia tidak berada di sisi Shou Yan, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Setelah menjauh beberapa meter dari kamar Shou Yan ia melirik kearah Xiao Lung yang sedang memasuki kamar Shou Yan “ Nona Lung, mungkinkah kau..?” Batinnya, Mei Hwa mengepalkan tangan dan berniat untuk tidak kalah dari rival barunya “Aku tidak akan menyerah”
“hhuuff, untung Tuan Putri tidak menanyakan hal ini” Xiao Lung melihat kain dan baskom yang berisikan air hangat yang di bawanya dan meletakkannya di atas meja dekat Shou Yan
“Maaf Tuan Shou, hanya ini yang bisa saya lakukan” ia mulai membuka setiap pakaian Shou Yan dan mulai membasahi kain dengan air hangat sebelum akhirnya mengusapkan di seluruh bagian tubuh Shou Yan
Setelah selesai memandikan Shou Yan, ia hendak berdiri namun ada sesuatu yang menyentuh tangannya “Terima Kasih nona Xiao”
Meski Shou Yan tidak sadarkan diri tetapi ia mendengar perkataan Mei Hwa dan Xiao Lung, untuk menghormati mereka Shou Yan lebih memilih untuk tidak mengungkapkannya dan lebih mengutamakan untuk berterima kasih
“Tuan Shou, mohon untuk tidak memaksakan diri” dia melihat Shou Yan yang hendak berdiri namun masih belum bisa bangkit dari tidurnya, dengan sigap ia membantu Shou Yan “Pakai pundakku Tuan Shou”
“Maaf merepotkan Nona Lung” Shou Yan masih belum mampu untuk berjalan sendiri namun hal yang paling ia sesalkan adalah betapa lemahnya dirinya “Aku harus menjadi lebih kuat lagi..!” batinnya
Xiao Lung mengantarkan Shou Yan untuk menemui Mei Hwa, saat masih tak sadarkan diri ia mendengar bahwa Mei Hwa akan meninggalkan kota Changnan dan tidak baik jika harus berpisah dengan kondisi yang seperti ini “Aku harus menemuinya” Batin Shou Yan
“Yan’er,,?” Guo An melihat keadan cucu satu-satunya telah sadar dan membuatnya ingin memeluknya namun terhenti saat melihat seorang gadis sedang membantunya jalan “oh,, nona Lung ternyata” Guo An mengelus janggutnya yang sudah memutih dengan sedikit senyuman
Meski Guo An tidak melihat jelas dalam pertarungan beberapa hari kemarin namun ia telah mendengar banyak hal tentang Xiao Lung, seorang gadis cantik yang jenius akan bakat beladirinya dan bahkan menjadi seorang guru sekte di usia yang masih muda
“Tuan Guo” Xiao Lung menyapa dengan menundukkan kepalanya, di sisi lain wajahnya memerah karena menanggapi arti dari senyuman pria sepuh di hadapannya
__ADS_1
“Kakek, maaf sudah membuat khawatir” Shou Yan masih harus banyak berbenah atas semua kesalahannya dengan belajar lebih keras lagi di bawah bimbingan Guo An
“Tidak mengapa Yan’er” Guo An hanya mengangguk pelan sebelum mempersilahkan mereka untuk menemui Mei Hwa “Dasar anak nakal..” batinnya
“Kalian jaga di belakang kereta, dan kalian berempat berada di samping kanan dan kiri dan..” Guan Ju mengarahkan Pasukan Sun dengan Pasukan Zirah Baja di bagian paling Depan
Dari dalam kereta Mei Hwa hanya terduduk lesu saat mengetahui akhir dari perpisahannya dengan Shou Yan “Segera berangkat Jenderal Guan” ia memerintahkan Guan Ju untuk bergegas karena takut mengingat akan keadaan Shou Yan
“Mungkin Tuan Putri harus melihat ini” Guan Ju menunda perintah Mei Hwa karena melihat dua sosok yang tak asing sedang berdiri di tengah pintu rumah
“Apa maksudmu Jendral Guan..?” Mei Hwa melihat keluar dari jendela kereta miliknya dan melihat ke arah yang sama dengan Guan Ju “Yan’gege..!” Mei Hwa membuka pintu kereta dan berlari ke arah Shou Yan
“Hwa’er.. “ Mata Shou Yan berkaca air mata saat melihat senyuman dari gadis di hadapnnya sebelum wajah Shou Yan berubah menjadi waspada “Tu-tunggu Hwa’er aku masih belum..”
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Mei Hwa sudah melompat ke arah Shou Yan dengan niat memeluknya “Hwa’er..aku ti-dak bisa bern-fas” leher Shou Yan terasa tercekik saat Mei Hwa memelukan dengan erat
“Maaf Yan’gege,, aku tidak sengaja”
“Tidak mengapa Hwa’er, ini bukti bahw-..” Sebelum Shou Yan selesai menyelesaikan kata-katanya, ia merasakan sesuatu yang lembut bibirnya
“Jangan pernah lupakan ini..” Mei Hwa menatap Shou Yan sebelum menatap Xiao Lung, mengingat ini adalah ciuman pertamanya “Aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu..” batinnya
Mei Hwa kembali berlari dan masuk kedalam kereta mewah miliknya dengan wajah yang memerah seperti tomat, Guan Ju yang melihatnya sudah kehabisan kata-kata lagi, terutama Xiao Lung yang hanya berdiri dengan sedikit warna kemerahan di pipinya
“Tuan Shou,, Tuan Shou,,!?” Xiao Lung yang melihat wajah Shou Yan dengan tatapan kosong mencoba untuk menyadarkannya
“Ah,, iya Hwa’er,,?” Shou Yan menoleh ke arah Xiao Lung seakan ia adalah Mei Hwa
“Aku bukan Tuan Putri, dia telah pergi denga keretanya” Xiao Lung menjelaskan pada Shou Yan sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Shou Yan sendirian
__ADS_1