Return: Of The Dragon Legend

Return: Of The Dragon Legend
7. Ch. Teh Jahe Merah


__ADS_3

Setelah Guo An mengalahkan Topeng Merah darI Organisasi Bayangan Hitam, ia menggendong Shou Yan yang sedang tak sadarkan diri menuju rumah.


Berbeda dengan Guo An, Guan Ju bahkan harus repot kembali ketempat pertempuran awal dan membawa kereta kuda untuk membawa Mei Hwa.


Meski seorang Jendral, menyentuh Tuan Puti tanpa ijin adalah Hukuman bahkan saat Mei Hwa tak sadarkan diri Guan Ju tetap mematuhi aturan istana.


Sesampainya di rumah, Guo An meletakkan Shou Yan di atas tempat tidur, sambil menunggu Shou Yan siuman ia memasak ramuan obat herbal di dapur rumahnya, sampai terdengar suara pintu terbuka “Tuan jendral kah ? “


“Maaf Tuan Pendekar jika saya menggangu” Guan Ju membungkukkan badan dengan hormat


“Panggil saja aku Guo An” sambil mempersilahkan duduk di meja dapur, tempat biasa ia dan Shou Yan menikmati makan.


Guan Ju menyambut baik Guo An untuk duduk bersama di meja makan “Tuan Guo ini,,” merasa tidak enak dengan Guo An karena telah melibatkan cucu kesayangannya dalam konflik Bangsawan.


“Jendral Guan tidak perlu menjelaskan semuanya” Guan An mengerti tentang konflik bangsawan adalah hal biasa, karena Shou Yan bertindak dengan keinginannya sendiri ia pun tidak mempermasalahkannya “ Silahkan nikmati


dulu teh ini jendral Guan” Guo An menuangkan teh jahe merah.


Guan Ju memegang gelasnya “ Terima kasih Tuan Guo, kalau boleh bertanya bagaimana Tuan bisa tau nama saya?”


“Siapa yang tidak tau dengan Jendral hebat dari kerajaan Sun” Guo An pernah mendengar tentang karir Guan Ju yang berhasil menghancurkan satu kelompok pemberontak hanya dengan satu malam.


“Tuan terlalu memuji” Guan Ju menyerahkan gelasnya untuk bersulam dengan Guo an, Guo An tentu menyambut niat baiknya.


“Teh yang tuan sajikan sungguh terasa akan rasa teh bercampur dengan jahe merah, cocok untuk mengobati luka dalam” Guan Ju merasakan teh yang terasa segar dari tenggorokan sampai ke pencernaan.


“ Bagaimana dengan keadaan Tuan Putri?” Guo An bertanya untuk menghangatkan suasana.


“Tuan Putri sedang istirahat, semua berkat bantuan obat dari Tuan Guo” Guan Ju memberikan hormatnya, menandakan Guan Ju sangat menghormati pria sepuh di hadapannya.

__ADS_1


Selama satu jam lebih Guan Ju bercerita banyak hal tentang pengalaman Guo An di dunia persilatan dan sesekali bertanya tentang militer, menurutnya kondisi miiter di istana mengalami penurunan dengan datangnya isu kekacauan dari utara.


“Utara kah,, mungkin dia sudah mulai mencarinya” Guo An menghela nafas panjang, akan teringat kejadian lima tahun yang lalu.


Guan Ju hanya sedikit tersenyum karena tidak tau siapa yang Guo An maksut, dengan memberanikan diri ia bertanya “ siapa yang Tuan Guo maksud ? dan apa yang di carinya ?“


Guo An berdiri dan melangkah dari tempat duduknya, dengan menatap ke luar jendela Guo An hanya menjawab “ cahaya langit yang cerah, selalu ada awan yang menghalanginya”


Guan Ju memutar otaknya, semakin ia berfikir lebih jauh semakin pusing kepalanya “Maaf atas kurangnya pengetahuan saya Tuan” Guan Ju sedikit menunduk untuk menjawab ketidaktahuannya.


“ Tidak mengapa Jendral Guan” Guo An mengibaskan tangannya.


“Sebaiknya Tuan Guan cepat menemui Tuan Putri” Guo An mengingatkan ke pada Guan Ju


Meski dengan umur yang sudah sepuh, pendengaran Guo An masih tergolong sangat bagus, bahkan Guan Ju tidak mendengar jika ada suara gelas terjatuh.


“Baiklah Tuan Guo, terima kasih atas minuman hangatnya” Guan Ju memberikan hormat dan pamit meninggalkan Guo An sendirian, yang sedang memasak obat untuk Shou Yan.


Langkah Guan Ju terhenti saat ingin menegakkan posisi duduk Mei Hwa, karena aturan istana melarang lelaki siapapun menyentuh putri raja kecuali lelaki yang berdarah pangeran, dan hanya mengambil gelas baru untuk


tempat Mei Hwa minum.


Seperti membaca pikiran Guan Ju yang sedang bingung dengan keadaannya Mei Hwa berbicara pelan “ Jendral Guan tidak perlu bingung, jika ingin membantuku,, aku persilahkan ” dengan sedikit senyuman.


“Maaf Tuan Putri aturan yang di tetapkan oleh Yang Mulia akan tetap saya jaga” Guan Ju sedikit menjauh dari Mei Hwa dan memberikan hormat.


“Apa kau tau Paman,, Tangan seorang pria ternyata hangat” Mei Hwa melihat telapak tangan kirinya, teringat akan Sou Yan yang memegang erat tangannya meski dalam pertempuran.


Mengingat terakhir kali Shou Yan memegangnya bahkan memeluknya membuat pipi Mei Hwa berubah merah seperti tomat “Apa yang ku pikirkan? dengan pria lusuh itu” Mei Hwa menutupi wajahnya untuk menyembunyikan

__ADS_1


rasa malu.


Mendengar Mei Hwa memanggilnya paman, berarti suasana hatinya sedang bagus. Saat tidak ada siapapun terkadang Mei Hwa memanggil Guan Ju dengan sebutan paman, karena selalu melindungi kemanapun ia pergi dan sudah menganggap sebagai keluarganya sendiri.


“Hangat? Berarti Tuan Putri sudah,,?” Guan Ju sedikit memiringkan kepala, terheran dengan apa yang terjadi antara Mei Hwa dan Shou Yan.


Mei Hwa melihat Guan Ju dengan senyuman hangat, membuat pikiran Guan Ju berpikir kemana mana bahkan sampai Guan Ju berfikir sampai kesana.


“Paman,,!! Aku hanya berpegangan tangan dengan Shou Yan, tidak seperti yang paman pikirkan!” Mei Hwa membuang muka dengan wajah cemberut.


Perasaan Guan Ju seperti tersambar petir, tidak menyangka ekspresi wajahnya dapat dibaca oleh Mei Hwa “Maaf Tuan Putri,, saya tidak berani” dengan badan sedikit gemetar.


Mei Hwa teringat akan sesuatu “ Shou Yan ?? di mana dia Paman !?” mata Mei Hwa terbuka lebar saat tau Shou Yan tidak terlihat.


“lelaki yang Tuan Putri maksud sedang istirahat di kamar sebelah da-,,”


Sebelum Guan Ju selesai berbicara, Mei Hwa turun dari tempat tidurnya dan bergegas menemui Shou Yan karena khawatir akan keadaannya.


Guan Ju yang melihat tingkah laku Mei Hwa hanya menggelengkan kepala, banyak pangeran dari negeri lain untuk mengajaknya dansa saat pesta bangsawan, dan Mei Hwa selalu menolaknya sehingga di juluki sebagai Putri Tak tersentuh.


Hari ini Guan Ju seperti mendapat pencerahan, julukan hanyalah sebuah hiasan, dan hari ini kenyataan itu di patahkan oleh bocah lusuh dari desa.


“Sugguh beruntung kau Shou Yan” Guan Ju menghela nafas panjang dan berjalan pelan menemui Shou Yan.


Mei Hwa yang berlari dengan berteriak memanggil nama Shou Yan membuat langkah kaki yang berisik, bahkan Shou Yan yang sedang tidur menjadi terbangun “ aduh,, suara berisik apa ini” Shou Yan terbangun dengan memegang kepalanya yang akan pecah.


Suara teriakan ini terlihat familiar di ingatan Shou Yan “ Aku punya firasat buruk tentang ini” sampai ia melihat gadis kecil sedang membuka pintu kamarnya.


“Sho-,, ah pria lusuh,,!?” Mei Hwa menyebut Shou Yan dengan pria lusuh karena mengingat pakaian yang ia pakai saat pertama kali bertemu.

__ADS_1


 “Kenapa di akhirat ada gadis tomboy ini ?” Shou Yan berbicara dengan nada malas.


__ADS_2