
***
“Baiklah.. semuanya sudah mendengarnya bukan..?” Ma Liang yang mendengar kabar dari pelayannya merasa bahagia karen Shou Yan telah memenangkan pertandingan, meskipun ia sendiri sudah tahu akan hasilnya
“Haih.. Sudahlah, aku tidak mau taruhan lagi”
“Ayo kita pergi”
“Ayo..”
Belasan pria pergi dengan bergumam kesal, awalnya mereka mengira akan mendapatkan keuntungan besar karena berhadapan dengan seorang anak kecil
Alhasil, penjudi tersebut harus kehilangan puluhan keping, bahkan ada di antara mereka yang memakai uang istrinya untuk berjudi dan tentu saja, sesampainya di rumah sudah ada hukuman yang menanti
Kembali di sebuah kedai makanan, Ma Liang terus tersenyum sambil menghitung keuntungan yang ia dapatkan “Dengan uang ini.. aku bisa membelikan bunga untuk Nona Lung”
Bayangan Xiao Lung terlintas di benaknya, ketika memberikan sebuah bunga termahal di kota dan mengajaknya makan di sebuah restoran ternama “Nona Lung..” Gumamnya
Ada beberapa restoran yang menggunakan batasan usia agar tetap menjaga kepuasan pelanggan lainnya, namun dengan kekuatan uang itu bukanlah lagi masalah
Belum selesai membayangkan, terdapat seorang gadis dengan penutup kepala menghentakkan tangannya di atas meja
Seketika Ma Liang tersadar “Haih... bisakah kau tidak menggangguku sebentar saja..?”
“Kalau begitu.. berikan uangku”
“Uang..?” Ma Liang berfikir sejenak dan tersadar jika ada satu orang yang memenangkan taruhan “Ah.. kau rupanya” Ucapnya dengan nada pelan
“Sepuluh.. sebelas..” Ma Liang menghitung kepingan uang di atas meja sambil meneteskan air mata, hasil dari taruhan sudah ia rencanakan untuk membelikan Xiao Lung hadiah serta membawanya makan malam, namun semua di hancurkan oleh gadis di hadapannya “Nona Lung”
Mendengar Ma Liang mengucapkan nama seorang gadis, penjudi yang memenangkan taruhan tiba-tiba menanyakan sosok tersebut
“Lung..!? Siapa dia..!? Seorang gadis..!?” Ucapnya sambil memukul meja hingga patah
Ma Liang yang kaget segera menaikkan lengan bajunya dan meninggikan suaranya berharap dia segera pergi “ Siapapun dia, itu bukan urusanmu..!?”
“Oh.. benarkah..?” Gadis tersebut membuka penutup kepalanya dengan kedua matanya yang melotot ke arah Ma Liang, sebenarnya ia ingin menutupi identitasnya sampai akhir namun keadaan telah memaksanya
Ma Liang menelan ludahnya saat melihat seseorang yang tidak asing “Chu’er...!? Ke-kenapa ada di sini..?”
“Kenapa..? Tentu saja untuk membawamu...!?” Setelah mengatakan tujuannya, ia menarik telinga Ma Liang dengan keras
Aduh.. duh.. duh..
“Ku-kupingku...!” Ma Liang meronta kesakitan sambil memegang kupingnya yang seakan mau copot
“Ayo pulang..!? Bukankah selepas ayah pergi bertugas kau di minta untuk berlatih..!?” Ucap Ma Chu dengan nada kesal
“Ba-baiklah.. tapi lepaskan dulu tanganmu”
“Lepaskan..? Baik”
Ma Liang bernafas lega karena telinganya masih utuh, namun rasa tenang itu tak berlangsung lama ketika ia merasakan kesakitan yang lebih parah “aaww.. aaaww.. Kenapa kau tarik yang satunya”
“Ini untuk membuatmu jera..!” Ma Chu menyeretnya keluar ruangan sambil menarik kupingnya
“Tunggu Chu'er.. Bagaimana dengan uang kita..?”
__ADS_1
“Ah.. benar juga” Ma Chu mendapatkan kembali kakaknya namun ia juga tidak ingin jika uang hasil taruhan terbuang sia-sia “Kalau begitu.. pelayan..!”
“I-ya”
“Kumpulkan dan bawa pulang” Ucap Ma Chu sambil menunjuk kepingan emas dan perak yang berserakan di lantai “Dan setelah sampai di rumah.. temui ayah” imbuhnya
“Ba-baik Nona Muda” Pelayan keluarga Ma mengumpulkan uang taruhan dengan tangan yang bergetar, ia yang dari awal membantu Ma Liang mengumpulkan berita dari Ibu Kota juga ikut merasakan imbasnya
“Kenapa berhenti..!? Ayo jalan..!”
“Ba-baik.. aahh.. kupingku”
Sesampai di luar kedai makan, keduanya menjadi pusat perhatian serta di jadikan bahan tertawaan oleh siapapun yang melihatnya
***
Di Ibu Kota, terdapat enam murid sedang duduk bersama di meja makan sambil membicarakan sebuah rencana agar bisa keluar dan merasakan suasana malam
Karena Fan Cou belum kunjung kembali dari urusannya, mereka berniat untuk keluar sebentar sebelum Tetua kembali
Bagi Shou Yan itu adalah hal yang mudah mengingat keahliannya dalam mengendap-endap, namun tetap saja ia masih khawatir karena terakhir kali keluar Fan Cou menegurnya
“Ayolah adik.. bantu kami membuat alasan”
“Benar.. apa kau tega membiarkan kami pusing sendiri..? Apa itu yang dimakan adik seperguruan..?”
Shou Yan memegang kepalanya sambil melirik ke arah Bao Yu, bukan karena pusing tetapi memikirkan sebuah cara agar kelima rekannya mengurungkan niat dan tidak jadi pergi
Bao Yu yang duduk di sudut ruangan mengabaikan pandangan penuh makna dari Shou Yan. Menurutnya, rencana yang mereka buat hanya akan menyusahkan diri sendiri dan ia tidak mau terlibat di dalamnya
“Bagaimana kalau kita beralasan pergi ke pasar untuk membelikan adik pakaian..?”
“Benar kakak, itu malah seperti memberitahukan kalau kita berbohong”
“Adik..? Kenapa kau diam saja..? Kita mengajakmu kemari bukan untuk menonton”
Shou Yan terdiam sambil menunduk, ternyata tempat duduknya yang menghadap ke pintu memberikannya keberuntungan “Ada tetua..” Bisik Shou Yan
“Apa..? Nangka muda..? Nanti Kakak yang teraktir”
“Bicaralah dengan keras”
Dengan dorongan dari Seniornya, Shou Yan mengambil sumpit di sebelahnya dan menaruhnya di atas meja dengan ujung mengarah ke pintu
“Pintu..? Tentu kita akan keluar lewat sa-“ Salah seorang rekannya melihat apa yang Shou Yan lihat, agar tidak memperpanjang masalah ia kemudian berdiri dan menyapa
“Hormat pada Tetua Fan” Ucapnya dengan nada keras
Ke-enam murid lainnya tersadar dan ikut memberikan hormat termasuk Bao Yu yang semenjak tadi hanya duduk sambil merenung
“Hm...” Fan Cou yang telah berdiri lama di tengah pintu, hanya bisa tersenyum kecut sambil melihat ketujuh muridnya
Ia sadar jika berdiam diri di dalam penginapan hanya akan mendatangkan kebosanan, Fan Cou melirik ke arah sudut ruangan dan menemukan Bao Yu sedang menyendiri
“Haih.. sudahlah.. anggap aku tidak mendengarnya” Ujar Fan Cou sebelum ikut duduk bersama para muridnya “ Bao.. kemari dan duduk bersama kami”
“Shou.. ambilkan aku minum”
__ADS_1
“Ah.. baik Tetua” Dengan sigap Shou Yan mengambil tempat air minum di dapur, sedangkan Fan Cou memberikan motivasi pada Bao Yu dan ke-enam muri lainnya
“Bao.. kau sudah berusaha keras, anggaplah ini sebagai pengalaman buatmu” Selain mendapatkan juara dan mengharumkan nama sekte, para murid juga akan mendapatkan pengalaman bertarung dimana kelak di dunia persilatan mereka akan membutuhkannya
“Baik Tetua” Ucap Bao Yu
“Kalian juga.. teruslah berlatih dengan giat” Fan Cou tidak meninggalkan murid lainnya untuk memberikannya dorongan semangat
“Baik Tetua”
Setelah beberapa menit Shou Yan datang membawakan ketel serta gelas untuk Fan Cou minum, dan tak lupa untuk Seniornya yang lain
“Silahkan Tetua..” Shou Yan menuangkannya lalu melakukan hal yang sama untuk rekannya “Silahkan Senior”
“Aku degar.. kalian ingin keluar membeli baju untuk Shou Yan..?” Ucap Fan Cou sambil melirik ke arah muridnya secara bergantian
Ketujuh muridnya saling memandang sebelum akhirnya Shou Yan memutuskan untuk berbicara “Benar Tetua.. Karena suatu kejadian, aku harus memakai pakaian milik senior dan mereka mempunyai rencana untuk membelikanku baju”
“Mohon Tetua tidak memarahinya” Shou Yan memberikan hormat lalu di ikuti rekan seperguruannya “Mohon Tetua Fan memberikan ijin” Imbuh mereka
Melihat Bao Yu yang ikut membungkuk demi orang lain, Fan Cou tersenyum lembut sambil menyuruh mereka untuk menghentikan tindakan yang sopan ini “Melihat kebaikan kalian.. aku akan menginjinkannya tapi dengan syarat”
“Syarat..?” Para murid saling memandang sebelum menatap Fan Cou dengan rasa penasaran
“Aku akan ikut bersama kalian..” Ujar Fan Cou dengan bangga
Shou Yan yang mendengarnya merasa lega “Benarkah..? Kalau begitu Tetua Fan akan mentraktir kita..? Ayo kita pergi..” Imbuhnya, sebelum akhirnya mengajak rekannya yang lain untuk segera keluar
“Hm.. apa..?!? Tunggu..!?” Fan Cou ingin menghentikan kesalahpahaman di antara mereka namun semua sudah terlambat ketika ketujuh muridnya melangkah pergi dengan cepat
Dengan terpaksa Fan Cou harus merelakan tabungannya, namun kali ini ia tidak menyesal mengingat hubungan ke-tujuh muridnya menjadi lebih erat, terutama Bao Yu dengan Shou Yan
“Aku harap.. kedamaian ini berlangsung selamanya” Batin Fan Cou sambil melihat ke arah langit
**//**
Bagi yang tidak tahu arti “ketel/ceret” ialah alat sejenis poci yang terbuat dari logam dan biasanya di gunakan untuk mendidihkan air dengan tutup, cerat dan gagangnya
Dukung karya kami dengan..
1.like
2.vote
3.bintang 5 (kalau ada bintang 7) :v
4.hadiah
dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar
Happy malam minggu..
__ADS_1
Xiexie