Return: Of The Dragon Legend

Return: Of The Dragon Legend
Ch. 73. Sampai di Ibu Kota


__ADS_3

Badai laut yang menerjang mereka telah berhasil di lewati namun bukan berarti berbagai rintangan telah berakhir


Setelah Fan Cou membelah Gelombang dengan seluruh kekuatan menyebabkan tubuhnya menjadi lemas dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruangannya


Karena pedang pusaka miliknya telah menyerap aliran Chi sebagai ganti kekuatan yang di berikan


Ada beberapa pusaka yang memang membutuhkan bayaran berupa Chi dan ada juga diantaranya yang menyerap daya hidup penggunaannya


Sering kali Dunia Persilatan menyebutnya dengan sebutan Pusaka Bencana, bukan hanya merugikan lawan tandingnya tetapi juga bisa merugikan si pengguna


Namun tak sedikit pula yang menginginkan pusaka tersebut karena kekuatannya yang melebihi pemikiran manusia


Shou Yan yang melihat dengan kedua matanya sendiri hanya bisa tercengang, dengan kondisi Fan Cou yang masih terduduk lemas


Ia berfikir untuk memijat kedua pundaknya tapi Fan Cou menolak sebab itu tak banyak membantunya kecuali Shou Yan mampu menyalurkan energi Chi


“Kalau begitu biarkan aku..” Kalimatnya terhenti ketika Fan Cou mengarahkan telapak tangannya di wajah Shou Yan


“Aku tahu kau terlahir dengan tenaga dalam yang besar tapi.. kau tidak perlu melakukan hal yang tidak bisa kau lakukan”


Kesimpulan tersebut Fan Cou ambil dari tindakan Shou Yan yang mampu mengubah kobaran api menjadi sosok Naga Api, yang sebenarnya hanya bisa di lakukan oleh pendekar yang mempunyai ilmu tingkat tertinggi


Hal lainnya, Shou Yan mampu berdiri tegak di geladak kapal yang sebenarnya itu juga bisa di lakukan oleh seseorang yang sudah mencapai tingkat tertentu


Namun melihat tingkatan ranah yang Shou Yan alami saat ini, sulit mengatakan jika muridnya tersebut sudah mampu menguasai aliran Chi yang terdapat di setiap tubuh manusia


“Tapi Tetua Fan, aku bisa-“ Ucapan Shou Yan kembali di hentikan dan malah menyuruhnya untuk  membantu awak kapal yang sedang menata beberapa barang yang berantakan karena gelombang


Shou Yan ingin membantu Tetua Fan terlebih dahulu sebelum membantu awak kapal namun ia hanya bisa menuruti perintah


Beberapa rekannya sudah tersadar namun masih belum cukup kuat untuk berdiri kecuali Bao Yu yang masih terlelap


Melihat seorang bocah yang ingin mengangkat kotak kayu, salah satu awak kapal ingin membantunya “Sini nak,, biar aku bantu”

__ADS_1


“Tidak apa paman, biar aku saja” Dengan orang yang sedikit serta masih banyak yang harus mereka lakukan, Shou Yan lebih memilih untuk tidak merepotkan dan melakukannya sendiri


“Haup”


“Itu..” Pria yang sebelumnya menawari Shou Yan bantuan kini hanya berdiri mematung melihat seorang anak yang umurnya belum sampai delapan tahun bisa mengangkat sebuah barang dengan dua tangannya


“Jangan berdiri saja, cepat bantu yang lain” Nahkoda kapal menyuruh anak buahnya untuk tidak berdiri dan hanya memperhatikan seseorang yang telah membantu mereka


“Tapi kapten...? bukankah benda itu isinya jangkar baru kita..?” Ujar Awak kapal sambil menunjuk kotak kayu yang Shou Yan angkat


Nahkoda kapal menoleh dan memukul kepala pria di sampingnya “Dasar bodoh..! Apa kau pikir anak itu mampu membawa jangkar yang beratnya 300kg..?”


“Jangan cari alasan dan kembali bekerja..!”


“Ba-baik kapten”


Setelah Nahkoda kapal memerintahkan awak kapalnya untuk kembali bekerja, ia menoleh dan mendekati kotak kayu yang sebelumnya di bawa oleh Shou Yan “Apa mungkin..? Kotak ini berisi jangkar..?”


Imbuhnya sambil menoleh kearah Shou Yan yang masih membantu merapikan barang, untuk meyakinkan rasa penasarannya ia mencoba mengangkat kotak tersebut


“Aahhh,, punggungku...” Ucap Nahkoda kapal sambil berteriak kesakitan dengan memegang punggungnya “Kotak sialan..!” Imbuhnya sambil mengumpat keras


Shou Yan yang pertama kali mendengar teriakannya karena tempatnya yang berdekatan “Biarkan kami yang merapikannya, kakek istirahat saja”


Ia menuntun pria sepuh tersebut untuk duduk dan beristirahat di dekat Fan Cou, setelahnya Shou Yan kembali membantu merapikan barang yang tersisa


“Kau memiliki murid monster,, Tetua Fan” Bisik pria sepuh tersebut


Kedua alis Fan Cou terangkat saat Nahkoda tersebut mengetahui namanya, ia memang menyewa kapal ini namun dia tidak pernah memberitahukan nama sebelumnya


“Ahh.. maaf jika tidak sopan” Ia menjelaskan pada Fan Cou bahwa sebelum mereka menyewa kapalnya, telah datang seorang pria tua dengan tongkat giok di tangan dan memintanya untuk membantu seseorang yang berasal dari Sekte Pedang Bulan


“Pria tua..? Tongkat giok..? Siapa dia Tuan..?” Jika itu mengenai Sekte Pedang Bulan, bisa di katakan ada seorang Tetua yang mengawasinya secara diam-diam

__ADS_1


Nahkoda tersebut mengangkat kedua bahunya sambil mengulang kalimat yang ia dengar terakhir kali “Bantu Cucuku”


“Cucu..!?” Fan Cou mengerutkan keningnya, ia melihat ke-enam murid yang masih mencoba menyeimbangkan tubuh mereka sebelum kembali melihat Shou Yan “Siapa yang orang itu maksud..?”


“Tunggu dulu.. kau bilang muridku monster..?” Fan Cou kembali menatap dengan heran


“Haih.. baru sadar sekarang..!?” Nahkoda kapal tidak menyebutkan nama, namun pandangannya tertuju pada seorang anak yang masih terlihat sehat bugar “Masa muda yang indah”


Setelah mengatakan hal demikian, ia lalu meninggalkan Fan Cou yang masih di penuhi rasa penasaran


Dengan informasi yang minim ia bisa menyimpulkan bahwa orang yang mengawasinya telah tahu akan sifatnya yang perhitungan soal uang “Ketua Liu Shan..!?”


“Tetua Fan..!? Kita sampai..!!” Teriak Shou Yan sambil menunjuk puluhan Kapal yang sudah terbaris rapi di tepi dermaga


Fan Cou berpindah dari tempatnya dan melihat Shou Yan sedang berdiri di ujung kapal sambil berteriak lebih keras “Ibu kota, Aku datang..!”


“Haih.. dasar bocah” Fan Cou yang sudah mendapatkan kembali staminanya hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku yang Shou Yan tunjukkan, itu mengingatkan kembali masa lalunya saat pertama kali ke Ibu Kota


“Jangan hanya berdiri,, cepat bangunkan para seniormu” Fan Cou menghampiri Shou Yan dan memintanya untuk menyadarkan serta mengumpulkan murid yang lain


“Baik Tetua Fan”


Setelah melihat Shou Yan menjauh, ia kembali melihat ke dermaga dan memfokuskan pandangannya “Bukankah itu.. kapal yang sebelumnya..?”


Meski masih puluhan meter jaraknya, Fan Cou bisa melihat satu kapal yang telah rusak parah, jika itu di sebabkan oleh Badai seharusnya kondisi kapal tidak seperti apa yang dia lihat


Dari goresan serta panah yang tertancap di dinding kapal, itu membuktikan bahwa Kapal tersebut telah di serang “Perompak kapal..? Atau mungkin..?” Gumam Fan Cou smabil mengelus dagunya


Fan Cou berfikir dan menghubungkan semua kejadian menjadi satu, mulai dari pria tua dengan tongkat serta kondisi kapal yang mungkin di serang oleh perompak


“Jika saja aku memutuskan untuk naik ke kapal yang lebih besar mungkin.. akan membahayakan nyawa para murid” Batinnya


“Tunggu dulu, nyawa murid..!?” Fan Cou melihat ketujuh muridnya dan menduga bahwa semua seperti sudah terencana

__ADS_1


Beberapa tahun terakhir ia tidak pernah mendengar adanya perompak di benua selatan namun sekarang telah terjadi, bersamaan dengan Turnamen di ibu kota serta keberangkatannya


“Perompak ataupun pembunuh bayaran.. jika berani menyentuh para murid” Fan Cou melipatkan tangannya dan bergumam keras “Akan ku layani mereka..!”


__ADS_2