
“J-jangan tinggalkan aku Yan’gege, tidakkk…”
“Aduuh” Mei Hwa terjatuh dari tempat tidurnya lalu bangun sambil memegang keningnya yang sudah memerah “Haih,, kenapa aku akhir-akhir ini bermimpi tentang Yan’gege”
Setelah terbangun Mei Hwa merapikan tempat tidurnya dan beranjak keluar yang mana di depan pintu kamar terdapat dua dayang yang akan selalu memenuhi keperluannya
Di depan pintu sebelah kiri terdapat seorang wanita dengan rambut pendek sebahu dengan umur sekitar tiga puluh-an tahun, sedangkan di sebelah kanannya terlihat wanita yang hampir seumuran namun dengan rambut yang lebih panjang
“Selamat Pagi Tuan Putri”
“Huuuagi bibi Dong.. bibi Cai..” Mei Hwa membalas sapaan dengan menutup mulutnya yang sedang menguap
Melihat Mei Hwa yang hendak mandi membuat kedua dayang tersebut dengan sigap mengambilkan segala keperluannnya namun di hentikan oleh gadis yang rambutnya masih berantakan
“Tapi Tuan Putri..?”
“Sudah kubilang, aku bisa sendiri” Tanpa menunggu jawaban dari para dayang ia lalu bergegas ke kamar mandi, kedua dayang saling memandang sebelum akhirnya mengikuti dan berjaga di depan pintu Pemandian
Pemandian istana berbentuk kolam dengan air yang hangat serta tumpukan batu yang mengelilinginya
Di mana hanya keluarga kerajaan yang di ijinkan untuk menggunakannya, tentu dengan empat prajurit yang menjaga di setiap sudut luar ruangan dan puluhan prajurit yang berlalu lalang selama dua puluh empat jam secara bergantian
Selepas Mei Hwa memasuki pemandian, barulah kedua dayang tersebut saling berbisik “Hei.. apa kau merasa ada sesuatu yang aneh dengan Tuan Putri..?” tanya Cai Xin
“Tentu, apa kau merasakannya juga..?” jawab Dong Xin
Kedua dayang yang siap siaga melayani Tuan Putri adalah dua saudari yang dulu pernah Sun Qian selamatkan akibat peperangan yang terjadi puluhan tahun lalu
Dong Xin memegang dagu dengan jari telunjukkan sambil memiringkan kepala “Ahh, aku baru ingat, Tuan Putri berubah sejak kembali dari kota kecil bernama Changnan..?
“Entahlah” Cai Xin mengangakat kedua bahunya sebelum mengungkapkan isi pikirannya “Apa mungkin,, pria bernama Shou Yan itu penyebabnya..?”
“Lelaki yang selalu di ceritakan oleh Tuan Putri..? Bocah bermarga Shou itu hanyalah orang desa, jadi tidak mungkin”
***
Saat Mei Hwa kembali ke istana, Mei Yueyin yang pertama kali berlari dan memeluk erat putri gadisnya mengigat hanya dialah harta satu-satunya yang dimiliki
Berbeda dengan Sun Qian yang hanya tersenyum saat melihat istrinya dapat tersenyum kembali “Syukurlah Hwa’er, kau kembali dengan selamat” Ia menghampiri dan mengelus kepala Mei Hwa
“Apa kau tahu bunda, sekarang aku sudah mempunyai sesuatu yang berharga” Mei Hwa tersenyum manis dengan pipi yang sedikit memerah
“Oh,, benarkah..? bisa kau ceritakan lebih banyak padaku..?”
“Tentu bunda”
Mei Yueyin menggandeng tangan anak gadisnya lalu menuju kamar untuk bisa mendengarkan cerita, menurutnya ini adalah senyuman terindah yang pernah Mei Hwa tunjukkan
__ADS_1
Melihat istrinya yang akan melepas rindu dengan Mei Hwa, Sun Qian membiarkan keduanya dan memilih untuk bertanya lebih lengkapnya pada Guan Ju
“Jadi.. bisa kau jelaskan semuanya padaku..? Jendral Guan”
“Ba-baik Yang Mulia” Guan Ju berkeringat dingin saat melihat tatapan tajam dari Sun Qian, sudah lama ia tidak melihat wajah yang begitu serius terpancar dari wajah pemimpinnya itu
Sudah bertahun-tahun ia mengabdikan diri pada negara dan sudah kali kedua ini Sun Qian memperlihatkan wajah seriusnya “Mungkin ini memang situasi yang gawat” batinnya
Kembali pada perbincangan Mei Yueyin, melihat putrinya yang bercerita tanpa berhenti sedikitpun membuat rasa khwatir di dadanya menghilang “Apa memang dia sangat kuat..?”
“Tentu Bunda, dia bahkan tidak pernah takut sedikitpun ketika menghadapi bahaya sekalipun dan..”
Mei Yueyin tersenyum tipis saat mendengarkan cerita yang telah di sampaikan Mei Hwa “Perasaan ini,, sama seperti yang kurasakan dulu ketika bertemu dengan Qian” batinnya, Senyuman itu berubah ketika Mei Hwa bercerita lebih jauh “Kau menyentuhnya..!?”
“Be-benar bunda”
“Ijinkan bunda bertanya Hwa’er, apa dia seorang pria..? dan apa dia pernah menyentuhmu..?”
Mei Hwa menunduk malu dengan sedikit menunduk sebelum akhirnya mengangguk pelan “Hhhmm”
Alis Mei Yueyin terangkat saat ia baru menyadari sosok yang di ceritakan Mei Hwa adalah seorang pria dan yang lebih ia khawatirkan ialah pria itu sudah menyentuhnya
“Ingat Hwa’er,, entah pria itu menyentuh rambutmu ataupun memegang tanganmu jangan biarkan orang lain tau tentang ini termasuk ayahmu..!?”
“Ba-baik bunda” Mei Hwa dapat mengerti kenapa ibunya melarang untuk menceritkan pada orang lain karena itu bisa menyebabkan masalah baginya dan Shou Yan
“Hwa’er,, kenapa dengan wajahmu..? apa sedang tidak enak badan..?”
“Ti-tidak bunda, aku sehat kok”
Dengan hati yang cemas Mei Yueyin menempelkan tangannya di kening putrinya “Ini.. kau demam, kita harus panggil tabib”
***
Cai Xin menduga jika Mei Hwa mempunyai hubungan khusus dengan Shou Yan “Apa mungkin Tuan Putri telah.. jatuh cinta..!?”
Dong Xin ingin menanggapi saudarinya namun tidak mengeluarkan kata-kata, bersamaan dengan itu ada suara timba kayu yang terjatuh
Keduanya saling memandang sebelum melihat ke dalam pemandian dan ketika membuka pintu, mereka di kejutkan dengan Mei Hwa sedang berdiri tepat di balik pintu “Tu-tuan putri..?”
“Sudah ku bilang, jika aku tidak mempunyai hubungan apapun terhadap Yan’gege” Mei Hwa melangkah dan meninggalkan kedua dayangnya
Dong Xin dan Cai Xin saling menatap heran sebelum kahirnya mengikuti Mei Hwa di belakangnya, selama keduanya mengikuti dari belakang tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Mei Hwa sampai Cai Xin berusaha
mencairkan suasana
“Tuan Putri.. selepas mandi pagi, bagaimana kalau kita berkeliling istana..?”
__ADS_1
“Baiklah”
Mei Hwa mulai berbicara ketika keluar dari ruangan dan menghirup udara segar “Pemandangan di kota sangat indah kalau di lihat dari sini”
“Benar Tuan Putri, semua keindahan ini adalah hasil dari perjuangan Yang Mulia” jawab Cai Xin
“Tanpa Yang Mulia, semua ini tidak akan pernah tercapai” sambung Dong Xin
Untuk sesaat Mei Hwa hanya berdiri dan menatap ke arah kota dan Cai Xin dapat merasakan aura kesedihan yang terpancar dari tubuh Mei Hwa “Kenapa Tuan Putri selalu menatap ke arah kota..? apa ada sesuatu di sana..?
“Bukankah.. itu arah tempat kota Changnan..?” Meski Dong Xin sudah lama menjadi dayang namun pengetahuannya dalam membaca arah angin memang menjadi suatu kelebihannya
Sambil melihat kota ia mencoba untuk bertanya tentang apa yang selama ini dia rasakan “Bibi Dong.. Bibi Cai.. bolehkah aku bertanya..?”
“Iya Tuan Putri” jawab keduanya secara bersamaan
“Kenapa dadaku terasa sesak saat memikirkan Yan’gege..?” Ucap Mei Hwa dengan tangan menyentuh dada sebelah kiri
“Maaf Tuan Putri, mungkin itu adalah penyakit Rindu” jawab
Cai Xin
Dong Xin yang tidak terlalu tahu tentang dunia Cinta namun ia juga seorang wanita yang pernah merasakan kerinduan “Bagaimana jika Tuan Putri menemui Pemuda itu..?”
Mendengar ucapan dari Dong Xin, Mei Hwa menoleh dan menatapnya tajam
“Ma-maaf Tuan Putri, hamba tidak bermaksud lain tapi..?” Dong Xin berlutut sambil meminta maaf
“Tapi..?”
“Sudah dua tahun berlalu sejak Tuan Putri kembali dari kota Changnan, mungkin dengan menemuinya dapat membuat perasaan Tuan Putri jadi lebih baik”
“Bibi Dong..!”
Dong Xin menjadi gugup saat Mei Hwa mengeraskan suaranya, bersamaan dengan itu Cai Xin ikut berlutut agar mendapatkan maaf dari Mei Hwa karena saudarinya telah berbicara lancang “Mohon Tuan Putri memaafkan saudari hamba”
“Apa yang kalian lakukan..? Itu adalah ide yang sangat bagus” Mei Hwa menghampiri dan memeluk keduanya “Untuk itulah aku bangga memanggil kalian bibi”
“Terima kasih Tuan Putri” jawab keduanya secara bersamaan
Mei Hwa melepaskan pelukannya lalu berbalik menatap kota dengan berteriak keras sambil mengepalkan tangannya ke atas “Yoshh,,, tunggu aku Yann’gege..!”
**
“Hachi..”
“Kau kenapa..? pilek..?” tanya Ma Liang pada Shou Yan yang tengah bersiap untuk latihan
__ADS_1