Return: Of The Dragon Legend

Return: Of The Dragon Legend
Ch. 108. Babak Utama II


__ADS_3

“Kalian tetap berada di sampingku dan jangan berpencar”


“Baik Tetua”


“Hm... Baguslah” Gumam Fan Cou sambil mengamati sekitarnya, ia hampir tidak percaya arena latihan prajurit mampu di ubah menjadi arena pertandingan dalam satu malam “Mereka pasti bekerja keras untuk acara ini”


Di lihat dari bentuknya, jumlah bangku penonton lebih sedikit namun arena pertandingan memiliki luas yang dua kali lebih besar daripada sebelumnya


Kenyataan itu terbantahkan ketika melihat ratusan penonton berusaha untuk tetap masuk meski tidak mendapatkan jatah kursi, hingga akhirnya panitia memberikan ruang bagi mereka dengan  berdiri di samping arena lapangan


Fan Cou melebarkan kedua matanya ketika melihat para petinggi Sekte maupun kerajaan telah hadir di Podium Utama “Ketua Liu..? Dan.. Jiang Qe..? Begitu ya.. kalian memutuskan untuk turun langsung”


Di tengah Podium Utama terdapat tiga kursi megah yang berlapiskan kain sutra kuning, sedangkan di samping kanan dan kiri terdapat beberapa kursi biasa yang nanti akan di isi oleh beberapa orang penting, tak berselang lama datanglah tiga sosok dengan memakai baju kehormatan lalu duduk di kursi tengah


“Ayah kenapa aku harus memakai gaun ini..?” Meski Mei Hwa menyukai berbagai baju dengan kualitas tinggi, namun setelah bertemu dengan Shou Yan, ia lebih suka memakai pakaian biasa, persisnya pakaian rakyat jelata


“Itu sangat di perlukan Hwa'er.. banyak tamu penting yang menghadiri Babak Utama ini”


“Tapi ayah..”


“Sudahlah putriku.. hanya sebentar saja, bahkan kau lebih cantik jika memakainya”


“Benarkah..? Kalau begitu aku suka memakai pakaian sutra” Mendengar kalimat dari ibunya membuat Mei Hwa menjadi lebih percaya diri, jika sewaktu-waktu Shou Yan melihat kearahnya maka bisa membuatnya kagum dengan gaun yang dia pakai


“itu..” Sun Qian menepuk jidatnya ketika tidak mampu membujuk putrinya dan lagi-lagi istrinya lah yang bisa membuat Mei Hwa menurut “Haih.. anak serta ibunya sama saja” Batinnya


“Hormat pada Yang Mulia” Ucap salah satu petinggi Sekte sebelum akhirnya di ikuti oleh sosok lainnya “Hormat pada Yang Mulia Sun, semoga langit memberikan keberkahan”


“Ah.. Patriak Jian Yong.. Silahkan duduk” Sun Qian menerima hormat mereka, lalu mempersilahkannya untuk duduk di tempat yang sudah di siapkan, begitu juga dengan Petinggi Sekte lainnya “Ketua Liu, Jiang Qe.. silahkan duduk”


Tak berselang lama datang seorang gadis muda dengan kelopak mata yang agak kebiruan “Hormat pada Yang Mulia”


Sun Qian menoleh dan menanggapi hormatnya “Terima kasih Nona Yue Ying.. jika bukan karena bantuan dari Asosiasi Wangjin mungkin acara tahunan ini akan mengalami kesulitan”


“Yang Mulia Sun terlalu memuji, bisa menjadi sponsor dari Turnamen Tunas Muda adalah kebaikan dari Yang Mulia”


“Haiyo.. Kau memang pandai berbicara.. ah, silahkan duduk.. kita bisa dengan luas menonton pertandingan dari sini” Ucap Sun Qian sambil mengarahkannya di bangku sebelah kiri


“Terima Kasih Yang Mulia” Yue Ying serta rombongannya mengikuti arahan Sun Qian lalu duduk sambil melihat ketengah arena. “Eh.. Tuan Muda Shou..?”


Mendengar Gadis tersebut mengatakan nama yang tidak asing, Sun Qian langsung memastikannya “Tuan Muda..? Apa Nona kenal dengan peserta Shou itu..?”


“Hamba mengenalnya Yang Mulia, bisa di katakan kami mempunyai hubungan yang dekat”


Sun Qian terdiam sejenak setelah mengetahui Sue Yu dengan jelas mengakuinya “Bukan hanya Hwa'er, jendral Guan, Nona Yue bahkan dua saudara Xin juga mengakuinya.. Siapa Sebenarnya Shou ini..?” Batinnya


“Yang Mulia..?”

__ADS_1


“Ah.. tidak apa-apa, kita lanjutkan saja melihat pertandingan” Sun Qian mengalihkan pandangannya ke tengah arena sambil terus memikirkan siapa Shou Yan sebenarnya, ia menduga bahwa ada keluarga besar yang berada di belakangnya “Mungkinkah.. dia dari keluarga bangsawan..? Tapi itu tidak mungkin” Batinnya sambil mengelus dagu


Di bangku petinggi Sekte terdapat pembicaraan antara Patriak Jiang dengan Liu Shan, keduanya membicarakan rencana Fan Cou yang telah memberikan informasi mengenai gerakan aneh di Ibu Kota


“Ketua Liu.. apa kau sudah mempersiapkan segala sesuatunya..?”


“Tentu Patriak.. Sudah ada seratus murid dari ranah Langit yang telah berjaga di dermaga”


“Dermaga..?”


“Benar Patriak”


“Kami menyuruh para murid untuk berjaga di sana, mengingat itu adalah satu-satunya jalur transportasi laut yang di miliki oleh Ibu Kota” Jiang Qe ikut memberikan tanggapan mengenai pembicaraan di antara keduanya


“Ide bagus.. ta-.. argh.. kau bau minuman..?” Jian Yong hendak memberikan masukan namun tertunda karena hembusan nafas yang di keluarkan oleh Jiang Qe berbau anggur


“Maaf Patriak, semua salahku karena..”


***


“Haih.. hari masih pagi, kau masih saja minum”


“Mau bagaimana lagi..? Kita sudah lama tidak berkunjung ke Ibu Kota, jadi apa salahnya menikmati sebuah anggur..? Tak banyak, hanya satu gentong saja”


Salah satu penginapan di Ibu Kota di lantai dua terdapat Liu Shan serta Jiang Qe yang masih memegang sebuah anggur si sebelah tangannya


“Apa kau yakin rubah kecil itu mampu memenangkan Turnamen..?”


“Tentu saja, Murid Pedang Bulan tidak ada yang lemah” Liu Shan menepis keraguan Jiang Qe sambil membusungkan dadanya


“Kalau memang begitu.. Kenapa hanya satu orang yang berhasil lolos ke babak utama..?” Ucap Jiang Qe sebelum melanjutkan minumnya


Liu Shan tersedak ludahnya sendiri ketika Jiang Qe membalikkan ucapannya, ia batuk pelan sebelum akhirnya menjawab “Itu semua karena latihan yang mereka lakukan belum maksimal”


“Apa kau ingin menghinaku..?” Seketika Jiang Qe merespon keras ketika mendengar ucapan yang terasa panas di telinganya “Mereka semua dalam didikanku selama satu minggu, sebelum kau memutuskannya untuk mengikuti Turnamen”


“Adik Jiang.. Bukan itu maksud ucapanku”


“Lalu apa..? kau ingin mengatakan Guo An salah dalam memberikan latihan..!?”


“Tentu tidak.. yang ingin kukatakan adalah mereka masih punya banyak waktu untuk menjadi lebih kuat” Liu Shan berusaha menjelaskannya dengan rinci, ia tidak mengistimewakan Shou Yan namun tidak di pungkiri juga bahwa dia memiliki bakat bela diri yang langka


“Baik.. baik.. Aku tidak menyangkal kalau Shou mampu menuju ke Babak Utama dengan kemampuannya” Jiang Qe memilih mengalah dan menerima pendapat dari Liu Shan


“Sudah waktunya” Liu Shan melihat ke luar jendela dan menemukan banyak penduduk yang bergegas menuju Arena pertandingan “Adik Jiang..?” Ujarnya sambil menatap Jiang Qe penuh makna


“Iya.. aku tahu” Jiang Qe menghabiskan sisa araknya dengan sekali minum lalu bangkit dari tempat duduknya “Ayo berangkat”

__ADS_1


***


“Begitulah ceritanya..”


“Dasar tukang minum, kau bahkan tidak tahu tempat dan waktu” Jian Yong terus mengomel sambil menutupi hidungnya dengan lengannya


“Sekali lagi.. maafkan dia Patriak, aku akan lebih tegas lagi dalam menegurnya” Liu Shan sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda penyesalan, sebelum akhirnya ia melihat Jian Yong mengibaskan tangannya “Terima Kasih Patriak” Imbuhnya


“Cih.. dasar tidak tahu malu” Jiang Qe mengumpat pada Liu Shan karena selalu merendahkan diri sendiri di hadapan Jian Yong, yang sudah jelas selalu memanfaatkan Sekte cabang


Suara Teriakan penonton menggema di udara setelah di mulainya pertandingan pertama di Babak Utama


“Ho.. anak muda itu berhasil juga rupanya” Jian Yong bergumam pelan sambil melihat Shou Yan berdiri di tengah arena


“Patriak mengenalnya..?” Ucap Liu Shan


“Tidak.. tapi aku lah yang memberikannya dorongan agar ikut dalam Turnamen”


“Apa..!?” Liu Shan hampir tidak percaya jika keputusannya mengikutsertakan Shou Yan termasuk bagian dari langkah Jian Yong


“Patriak Jian, apa yang sebenarnya kau rencanakan..?”


“Aku..? Tidak ada.. hanya saja jika dia berhasil memenangkan Turnamen, aku akan membatalkan pertunangan antara Bai Yong dengan Xiao Lung” Jian Yong tersenyum lebar sambil mengelus janggutnya


“Kau..!?” Liu Shan ingin mengumpat keras namun itu tidak ada gunanya karena dadu sudah terlanjur di lempar


“Pertunangan..!?” Mei Hwa yang menguping percakapan keduanya, ia menjadi lebih bersemangat dalam mendukung Shou Yan agar mampu memenangkan pertandingan


Mei Hwa memang tidak terlalu tahu akan arti dari kata tersebut, namun setelah banyak membaca buku di perpustakaan Istana, ia sadar jika kalimat Bertunangan adalah sepasang kekasih yang kelak akan menjadi suami istri


“Yan’gege..!! Ayo semangat,, dan tendang saja dia ke luar arena..!”


Seketika teriakan Mei Hwa mengundang banyak perhatian termasuk Shou Yan, bahkan ada pembicaraan di lingkungan penonton yang mengatakan Turnamen telah di atur, itu terbukti dari tindakan Putri Raja Sun


“Hwa'er..?” Shou Yan melihat ke podium utama sambil bergumam pelan


“Lihatlah.. Sang Putri sudah memberikan dukungan, jadi jangan permalukan dirimu.. pangeran” Imbuh Yodo sambil mengeluarkan kuda-kudanya


“Aku tidak punya rencana untuk mempermalukan diriku.. karena aku akan mengalahkanmu dengan cepat”


Keduanya saling menatap tajam sebelum akhirnya memberikan hormat dan memperkenalkan diri. Wasitpun mengangkat tangannya sebagai tanda di mulainya pertandingan “Babak Utama... Di mulai..!”


“Tapak Besi”


“Tapak Halilintar”


Kedua tapak saling bertemu dan mengakibatkan guncangan yang hebat dari tengah arena, siapapun yang merasakannya pasti akan mengatakan itu gempa, namun bagi seorang pendekar itu adalah benturan dua tenaga dalam yang tinggi

__ADS_1


 


__ADS_2