
Selepas kepergian Gurunya, Shou Yan terduduk merenung mengingat pertemuannya dengan Lu Ming sangat singkat
Lu Ming meninggalkan tiga pesan sesaat sebelum menghilang, pesan pertama ia ingin dunia persilatan mengetahui sosok Lu Ming melalui murid pertamanya bernama Shou Yan, bisa di katakan ingin menjadikannya jagoan nomer satu di dunia persilatan
Pesan kedua ialah mengingatkan Shou Yan Untuk menemui Orang Tuanya meski ia sendiri tidak begitu tahu kapan dan dimana ia harus mencari kedua orang tuanya
Pesan terakhir yang Shou Yan terima adalah agar ia mampu menghentikan Badai Kehancuran yang akan segera datang “Lalu kapan hari itu akan datang..?” Shou Yan merasakan kebingungan dari pesan Lu Ming yang begitu tiba-tiba “Guru..” batinnya, dengan menatap langit berharap ia mendapatkan petunjuk
Shou Yan menghelas nafas panjang sebelum memikirkan langkah selanjutnya “Apa yang harus aku lakukan”
Lamunan Shou Yan tersadarkan saat mendengar suara geraman dari balik semak di seberang sungai “Siapa disana..!?”
Dengan meningkatkan kewaspadaannya, Shou Yan berniat melemparkan sebatang pohon yang sempat di jadikan bahan latihan namun niatnya terhenti ketika melihat pria yang sudah tidak asing lagi “Senior Ma..!?”
“Adu duhh..’’ Ma Liang tersadar dari keadaan pingsan sambil memegang kepalanya yang masih pusing karena mencoba mengingat sosok yang pernah melintas di atas kepalanya “Apa aku sedang bermimpi..?”
Ma Liang mencoba mengingat situasi namun lamunannya di pecahkan oleh suara yang dia kenal, ia mencari sumber suara yang telah memanggil namanya dan menemukan seorang bocah sedang melambaikan tangan ke arahnya
“Adi- “ Ma Liang batuk pelan sebelum mengubah nama panggilannya, meski terasa dekat akan tetapi ia masih bisa merasakan malu “Junior Shou..?” Ma Liang ikut melambaikan tangannya dengan sedikit tatapan haru, mengingat keadaan Shou Yan baik-baik saja
“Tunggulah di sana..” Ma Liang mencoba menghampiri Shou Yan dengan menyeberangi sungai, sesekali jempol kakinya menyentuh air sungai untuk memastikan suhu dingin yang dapat ia tahan
Tanpa ragu ia menerjang aliran sungai untuk bisa bertemu dengan teman dekatnya, meski tinggi sungai hanya sebatas lutut namun ia merasa dinginnya air telah merasuk di setiap tulangnya
Shou Yan mengangkat alisnya saat mengetahui Ma Liang menyeberangi sungai tanpa mempedulikan pakaiannya yang basah. Sesampainya di pinggir sungai Shou Yan mengulurkan tangannya “Senior Ma”
Ma Liang yang melihat uluran tangan dari Shou Yan merasa jika dia memang teman terbaiknya “Terima Kasih Junior Shou” Sesampainya di daratan Ma Liang baru menyampaikan niatnya
“Junior Shou, apa kau baik-baik saja..?” Ma Liang memegang kedua pundak Shou Yan sambil melihat tubuh Shou Yan dari atas sampai bawah untuk memastikan tidak ada bekas luka kecuali di pelipisnya terdapat luka goresan yang sudah mulai kering
__ADS_1
“Junior, kita harus bergegas” Selepas memastikan keadaan Shou Yan, ia kembali mengingatkan bahwa sebentar lagi matahari akan terbit dan ujian kedua berakhir
Jika sampai pagi para peserta tidak berada di titik perkumpulan maka bisa di pastikan akan gugur dalam ujian kedua ini
Sambil menjelaskan situasi Ma Liang membereskan tenda milik Shou Yan dan memasukkannya ke dalam tas kulit yang dia punya.
Shou Yan yang melihat niat baik dari temannya mencoba membantu membereskan tendanya dan tak lupa untuk mematikan api unggun serta menaburinya dengan tanah agar api tidak menyebar ke dalam hutan
“Apaaaaa..!!”
Shou Yan menutup kedua telinganya ketika mendengar teriakan keras berada di dekatnya “Bisakah kau mengecilkan suaramu..?” Ia melihat Ma Liang sedang terpaku melihat isi tas kulit miliknya
“Ba-bagaimana kau mendapatkan ini..? Ma Liang mengeluarkan Pakaian berbahan sutra yang dia temukan dan menunjukannya pada Shou Yan
“Itu..” Shou Yan menggaruk pipinya sambil berfikir untuk mecari sebuah alasan “Aku tidak bisa mengatakan kalau pakaian ini pemberian dari Nona Lung” Batinnya
“Junior..! apa jangan-jangan kau..? Mencurinya..!?” Ma Liang menyipitkan matanya dan menatap tajam ke arah Shou Yan
“Oh benarkah..? bukankah tas kulit ini di berikan oleh Sekte..? dan saat itu” Ma Liang mengitari Shou Yan sambil memegang baju sutra yang dia curigai sebagai pemberian dari Xiao Lung
Sebelum Shou Yan mengeluarkan kata-kata, keduanya di sadarkan oleh teriakan yang berasal dari tengah hutan
Shou Yan yang pertama kali menyadari keanehan yang terjadi dengan melihat kobaran asap memenuhi langit
Ma Liang ikut melihat ke arah yang sama dengan Shou Yan “Itu.. tempat berkumpulnya para peserta..!”
Keduanya saling memandang sebelum bergegas menuju ke sumber asap tersebut. Ma Liang menaruh kembali pakaian sutra milik Shou Yan ke dalam tas kulitnya dan melemparkannya pada Shou Yan “Kau berhutang penjelasan padaku”
Shou Yan menangkap tas kulit miliknya dan menjawab pertanyaan Ma Liang dengan mengangguk pelan, keduanya sadar jika situasi saat ini bukanlah hal yang tepat untuk berdebat mengingat ada hal yang harus di utamakan
__ADS_1
Shou Yan hendak berlari namun terhenti ketika melihat Ma Liang sedang menyeberangi sungai “Apa yang kau lakukan..? kita harus cepat”
“Aku tahu..” Ma Liang mengacuhkan Shou Yan karena menurutnya menyeberangi sungai adalah langkah tercepat untuk sampai ke tepi sungai
Shou Yan menepuk jidatnya saat mengetahui kecerobohan Ma Liang sedang kumat “Aku tunggu di tempat perkumpulan” Shou Yan melanjutkan langkahnya
Ma Liang menaikkan alisnya saat mengetahui Shou Yan tidak ikut menyeberangi sungai namun melewati jembatan yang tak jauh dari tempat mereka berada “Ada jembatan..!?”
Pemuda dengan kipas kayunya mulai mengutuk Shou Yan saat mengetahui ada jembatan kayu yang masih kokoh dan dapat dia gunakan
“Kumpulkan harta benda dan makanan yang kalian punya..!” Suara pria dengan pakaian hitam serta kain hitam yang menutupi setengah wajahnya
“Siapa kalian..!?” Qiao Feng menunjuk muka pria berbaju hitam yang sedang mengarahkan para peserta untuk mengumpulkan harta dan makanan yang mereka punya
“Oh,, ada bocah yang ingin mengantarkan nyawa rupanya” Pria baju hitam tersebut menghunuskan pedangnya tepat di leher Qiao Feng “Aku sangat suka bocah bodoh sepertimu” bisiknya di telinga Qiao Feng
“A-apa mau kalian,,? Aku akan bayar kalian, ayahku punya banyak kepingan emas” Qiao Feng menelan ludahnya sendiri saat bilah pedang berjarak satu senti dari lehernya
“Berapa harga kepalamu, hah,,?”
“A-aku punya sepuluh keping emas, ji-jika kurang aku bisa meminta ayahku untuk menambahnya” Tubuh Qiao Feng menjadi gemetar saat sebuah pedang menempel di lehernya, ia melirik di sekitarnya dan berharap jika ada seseorang yang mau menolongnya
“Aku tidak mau uangmu, bocah..!” Pria berbaju hitam tersebut menyarungkan kembali pedang nya dan mendorong Qiao Feng kearah peserta lain yang sedang berkumpul jadi satu dan saling berdesakan
Pria berbaju hitam itu menghampiri rekannya yang menjadi ketua dari kelompok tersebut “Lapor senior, peserta sebanyak ini.. tidak memiliki keberanian”
“Lapor senior, jumlah peserta yang berhasil kita kumpulkan hanya 298 orang”
Pria berbaju hitam dengan tinggi hampir dua meter tersebut mengelus dagunya ketika mendengar laporan lainnya “Menurut Ketua Liu, ada 300 peserta yang lolos tetapi..”
__ADS_1
Ia mengira jika ada dua orang yang kabur dan meninggalkan peserta yang lain“ Atau mereka sedang mengawasi kita..” Pria tersebut lalu menatap ke arah pohon yang berjarak sepuluh meter darinya “Keluarlah..”