Return: Of The Dragon Legend

Return: Of The Dragon Legend
8. Ch. Arti Nama


__ADS_3

***


“Di mana ini?” Shou Yan bangun dari tidurnya, namun pandangan Shou Yan yang sedikit kabur membuat berat kepalanya, saat pandangannya kembali normal ia hanya melihat di sekelilingnya terdapat lautan luas tanpa batas dan Shou Yan berada di tengahnya, sampai ia melihat sosok Naga besar muncul di hadapannya.


“Akhirnya bangun juga,,”


Di hadapan Shou Yan terlihat Sosok ular Naga emas dengan mahkota di kepalanya.


“Si-siapa kau ? jangan makan aku, dagingku tidak enak” Shou Yan jatuh terduduk dengan tangan kedepan, seakan tidak ingin di makan oleh sosok di depannya.


“Siapa juga yang akan memakanmu? ”


Shou Yan terkejut saat melihat mulut Naga di hadapannya bergerak “Kau bisa bicara ?”


“Tentu saja, kau pikir makhluk suci sepertiku bisa kau samakan dengan manusia rendahan sepertimu?”


Shou Yan masih kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi “Hewan suci,,? Siapa kau sebenarnya ? dan dimana aku ? apa yang sebenarnya terjadi ? di mana-,,”


“Cukup,,! Kau membuatku pusing saja” Di hadapkan seorang bocah kecil membuat sosok Naga itu jengkel.


Meski berhadapan dengan Naga Suci yang ukurannya bahkan melebihi seratus kali panjang tubuhnya, Shou Yan tetap mencoba untuk tetap tenang “ah,, maaf Hewan Suci” Shou Yan memberikan hormatnya


“aih,, sudahlah, untuk saat ini yang terpenting adalah jangan gunakan teknik Naga Surgawi lagi atau,,”


“Aku akan mati?” Setelah mendengar kalimat itu, mata Shou Yan seakan keluar dari tempatnya.


Sou Yan sendiri tidak mengetahui kenapa ia bisa melakukan teknik Naga Surgawi, hanya saja teknik itu muncul di kepalanya “Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa kau sebenarnya? dan di mana ini sebenarnya?”


“Ka-u ber-da di ruang jiwa, dan aku ad,,lah,,”


Kepala Shou Yan kembali terasa berat, pandangannya mulai memudar sampai merasa ada seseorang yang memukul keningnya “Aduh,,”


Merasa jiwa Shou Yan mulai tidak stabil menandakan akan kesadaran Shou Yan di dunia fana. Naga Suci dengan Mahkota di kepala mengibaskan kumis Naganya untuk menyadarkan dari ketidak stabilan jiwanya “Hei,,


kau mendengarku? jangan gunakan teknik itu lagi sampai waktunya tiba, dan kembali ke duniamu”


“Duniaku ? apa aku sudah ma-“ belum selesai bicara, Shou Yan sudah di hempaskan keatas dengan ekor Naganya.


***


“Kenapa di akhirat ada gadis tomboy ini ?” Shou Yan berbicara dengan nada malas


“Benarkah,,?” Mei Hwa menghampir Shou Yan dengan tangan di belakang


“Aduh” Rasa sakit di pipi membuat ia sadar bahwa masih hidup.


Mei Hwa yang kesal karena secara tak langsung, Shou Yan sudah mengatakan ia sudah mati.


“Bisakah sesekali kau tidak memukulku,,?” Shou Yan memegang pipinya yang memerah.


Terlintas di pikiran Shou Yan, menghadapi musuh di ranah Bumi tahap dua lebih mudah daripada menghadapi pukulan Mei Hwa, yang ada hanya membuat Shou Yan menghembuskan nafas terakhir.


“Kalau begitu rasakan ini juga,,”


Shou Yan tak bisa menghindar jika pukulan yang ia terima, hal yang bisa ia lakukan hanyalah memejamkan mata, namun Shou Yan merasakan hal yang berbeda.

__ADS_1


Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, rasa sakit yang di alami berubah menjadi sesuatu yang hangat sampai ia membuka mata “Ka-kau ?” Shou Yan memegang pipinya yang hangat.


“it-itu karena kamu telah menyelamatkanku” Mei Hwa berlari meninggalkan Shou Yan dengan menutup mukanya yang memerah


Sesampainya di kamar, Mei Hwa lompat ketempat tidur dan menyembunyikan kepalanya di bawah bantal “Apa yang kulakukan?” Dengan memegang bibirnya membuat Mei Hwa teringat ketika ia menempelkan bibirnya ke pipi Shou Yan. Rasa malu yang ia rasakan terasa dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


Guan Ju melihat Mei Hwa keluar dari kamar Shou Yan dan berlari menuju kamar dengan kedua tangan menutupi wajahnya, menduga telah terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan, ia memutuskan untuk bertanya pada Shou Yan “Tuan Muda,, apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Tuan Putri?”


Setelah mengatur nafas dan menenangkan jantungnya, Shou Yan berdiri dari tempat tidur dan menjawabnya “ Tidak ada paman” sambil memberikan hormat


“Mohon untuk tidak memaksakan diri, kondisi Tuan Muda belum sepenuhnya pulih” Guan Ju mengarahkan Sou Yan untuk kembali istirahat.


Di samping tempat tidur Shou Yan terdapat meja bundar yang terbuat dari kayu dengan tiga kursi di sekelilingnya, Setelah Guan Ju mengarahkan Shou Yan untuk tetap istirahat, Guan Ju menarik satu kursi di dekatnya dan duduk di sebelah Shou Yan.


“Tidak apa Paman, dan mohon jangan terlalu sopan padaku Paman” Untuk seorang  anak kecil mendapatkan rasa hormat dari orang yang lebih tua sungguh membuat Shou Yan tidak nyaman.


“Tidak mengapa,, jika Tuan Muda tidak menolong waktu itu,,” Sebelumnya Guan Ju merasa bersalah karena melibatkan anak kecil masuk dalam pertempuran bahkan hampir membuat anak yang tak berdosa menjadi korban.


Selepas Guan Ju menceritakan kejadian yang menimpanya, Shou Yan di tawarkan untuk berkunjung ke ibu kota untuk mendapatkan hadiah dari Raja Sun dengan begitu, rasa bersalah dan rasa terima kasih Jendral Guan Ju akan terbayarkan.


“Paman, itu rasanya,,” Kekhawatiran menghantui hati Shou Yan, dengan pergi ke ibu kota berarti harus meniggalkan Guo An sendirian “Terima Kasih paman atas tawarannya, saya sudah cukup dengan keadaan saat ini”


imbuhnya


Guan Ju terkejut seakan tidak percaya, bagi siapapun di dunia ini jika di tawarkan hadiah, kebanyakan akan menerimanya bahkan meminta lebih. Sesaat setelah perbincangan mereka berdua, muncul sosok orang tua datang


ke kamar Shou Yan


“Yan’er,, kau sudah bangun?” Guo An datang dengan membawa mangkuk di tangannya.


“Tuan Guo” Guan Ju memberikan hormat


“Kakek membawakanmu obat, minumlah sehingga besok tubuhmu akan segar kembali” Guo An meletakkan mangkuk obat di atas meja “Tuan Guan, hari sudah malam, mungkin Yan’er butuh istirahat”


Jenderal Guan Ju melihat Guo An dan Shou Yan secara bergantian“Tentu Tuan Guo, maaf sudah mengganggu istirahat Tuan Muda” Guan Ju memberikan salam sebelum kembali ke kamarnya.


Saat Guo An dan Jendral Guan Ju meninggalkan ruangan, terdapat sedikit perbincangan yang terjadi di antara ke duanya “Aku tidak melarangmu berterima kasih Tuan Guan, namun aku tidak akan membiarkan Yan’er


menjadi alat negara”


Guo An merasa apa yang di lakukan Jendral Guan Ju adalah hal wajar, namun insting sebagai seorang pendekar memberitahu bahwa ada niat tersembunyi di dalam tindakannya.


“Maaf Tuan Guo, Saya tidak berani,,”


Hawa di udara menjadi dingin saat Guo An membelakanginya dan sedikit mengeluarkan hawa pembunuh, suasana menjadi canggung di antara mereka, Guo An menarik hawa pembunuh sebelum kembali ke kamar untuk istirahat tanpa memberikan hormat.


Guan Ju berkeringat saat merasakan hawa pembunuh yang keluar dari tubuh Guo An “ Gelar Pendekar Sembilan Jari ternyata bukan isapan jempol biasa” Guan Ju menghel nafas sebelum kembali ke ruangannya.


Sampai tengah malam, Shou Yan masih tidak bisa tidur dan berfikir mencari udara segar di halaman akan membuatnya sedikit merasa nyaman. Dari kejauhan terdapat seorang gadis kecil yang sedang duduk sambil mengayunkan kakinya dan melihat pohon sakura.


Terlihat mata yang cerah dengan kulit putih serta rambut yang panjang “Tuan Putri?” Shou Yan mendekat dan menyapa


“Sudah Kubilang, panggil aku Tuan Putri Mei Hwa” Mei Hwa melirik Shou Yan sejenak sebelum kembali melihat pohon sakura “ Bagaiman keadaanmu?”


Shou Yan duduk di dekat Mei Hwa dan ingin mengobrol dengannya “Sudah lebih baik”

__ADS_1


Setelah beberapa waktu keduanya hanya duduk tanpa mengucapkan kata-kata, Shou Yan memutar otak kecilnya untuk bisa menghangatkan suasana “Tuan Putri Mei Hwa kenapa tidak tidur?”


“Aku tidak bisa tidur karena banyak nyamuk disini”


Shou Yan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena merasa tidak nyaman membuat seorang Putri tidur di rumah yang tak layak.


Mei Hwa yang melihat Shou Yan bertingkah seperti tidak enak hati, ia mencoba untuk menghangatkan suasan dengan bercerita tentang kehidupan bangsawan dan betapa sulitnya menjadi seorang Putri Raja.


Shou Yan menangkap maksud Mei Hwa, dengan bercerita akan dapat membuat suatu topik untuk di bicarakan, ia memutuskan untuk mengikuti alur dengan mendengarkan gadis kecil itu menceritakan kisahnya.


Shou Yan terkadang mengangguk pelan sampai ia terkejut


dengan kalimat yang keluar dari mulut Mei Hwa “Apa,,? kau lebih tua dariku?”


“Bisakah kau tidak menyebutku tua? Aku hanya lahir satu tahun lebih cepat darimu, dan kau harus memanggilku Hwa jie jie” Mei Hwa menunjuk hidung Shou Yan


“Hwa jie jie,,? Rasanya aneh, bagaimana kalau Hwa’er”


Mata Mei Hwa melirik Shou Yan dengan heran “Hwa’er,,? Aku lebih tua darimu” dengan menunjuk kepala Shou Yan


Meski Shou Yan lebih muda satu tahun dari Mei Hwa, namun dia lebih tinggi lima senti darinya “karena aku lebih tinggi darimu maka aku panggil kamu Hwa’er” Shou Yan menggunakan tinggi badannya untuk menguatkan


pendapatnya.


“Terserahlah,,” Mei Hwa memalingkan wajah dengan sedikit senyuman, entah kenapa serasa nyaman saat ia di panggil Hwa’er.


“Kalau begitu, aku akan memanggilmu Yan’gege,,”


Shou Yan mengangguk pelan, dengan suasana yang sudah bagus, Shou Yan bertanya sedikit tentang nama “Apa Hwa’er tau arti nama pohon sakura ini?”


Dengan jari telunjuk menempel di bibirnya, Mei Hwa menjawab dengan setengah hati “Tentu Saja ini pohon sakura”


Jawaban Mei Hwa memanglah benar namun pohon sakura yang tumbuh di daratan ini, mempunyai nama lain dari jenis pohonnya.


“Nama lain?” Mei Hwa sedikit memiringkan kepala penuh heran


“Nama lain dari pohon ini adalah,,” Shou Yan melihat dan menunjuk tubuh Mei Hwa


“Apa Yan’gege ingin bilang kalau aku dari pohon!?” Darah Mei Hwa naik saat telunjuk Shou Yan megarah ke dirinya.


“Kenapa kau selalu berfikiran buruk tentangku?” Shou Yan menyipitkan matanya, tak habis pikir bahwa Tuan Putri yang di hormati banyak orang bisa berfikir dangkal “Yang aku maksud adalah pohon sakura ini mempunyai nama yang sama denganmu”


Mei Hwa memutar otaknya karena masih belum mengerti apa yang di maksud Shou Yan, wajah Mei Hwa berubah saat Shou Yan menjelaskan arti namanya “cantik dan keindahan”


Shou Yan mengangguk pelan, “Pohon sakura Mei Hwa ini bisa tumbuh di dua musim juga,,” saat menjelaskan panjang lebar Mei Hwa hanya terdiam dan menunduk” Hwa’er,, kenapa wajahmu memerah ? apa kamu sakit?”


“Dasar Yan’gege baka(bodoh),,,”


“Aduh,,”


Mei Hwa bangkit dari duduknya dan berlari sambil menutupi wajahnya dan tak lupa memberikan Shou Yan pukulan.


“Kenapa ia suka sekali memukulku..?” Niat hati Shou Yan hanya menjelaskan bahwa pohon sakura yang tumbuh di daratan ini mempuayai sebuah makna. Namun yang ia dapatkan bukanlah sebuah pujian, melainkan pukulan telak di perutnya.


“Semoga obat yang kakek buat masih ada,,” Shou Yan ikut berdiri dan berniat mengambil sisa obat di dapur, Untuk terakhir kalinya Shou Yan berfikir bahwa melawan Pendekar Bumi tahap dua lebih mudah di hadapi daripada menghadapi pukulan Mei Hwa.

__ADS_1


__ADS_2