Return: Of The Dragon Legend

Return: Of The Dragon Legend
Ch. 59. Arti Cinta


__ADS_3

Da Bu mengajak Shou Yan untuk menemui seseorang di pusat kota, sesampainya di sana terlihat seorang wanita berumur sekitar 25-an tahun sedang berjualan pakaian


Shou Yan berdiri di belakang dan hanya melihat Da Bu sedang menawar harga pakaian, tak selang lama percakapan keduanya berakhir dengan Da Bu membeli sebuah pakaian sutera


Keduanya terdiam sejenak sebelum akhirnya Shou Yan bertanya pada Da Bu terkait bekal yang dia bawa


“Ara.. Ada adik tampan di sini.. apa dia adikmu..?”


“Itu.. benar Chang'er”


Alis Shou Yan terangkat sebelah saat Da Bu berbohong pada gadis mempunyai rambut hitam panjang


Menanggapi tatapan Shou Yan, Da Bu mengirimkan sinyal dengan mengedipkan sebelah matanya namun Shou Yan mengira itu adalah tanda untuk memberikan bekal pada gadis di hadapannya


“Untukku..? Terima Kasih adik kecil” Ucap Chang En sambil mencubit pipi Shou Yan


“Shuama...Shama..Nona"


Da Bu menepuk jidatnya saat sadar bahwa Shou Yan tidak menangkap maksudnya “Mungkin aku sudah gila karena meminta bantuan pada seorang bocah” Batinnya


Chang en membuka sedikit penutup bekal tersebut dan melihat makanan kesukaannya, dengan berbaik hati ia menawarkan pada Da Bu dan Shou Yan untuk ikut memakannya bersama


Da Bu hanya menanggapinya dengan mengangguk, sedangkan Shou Yan orang paling bersemangat di antara keduanya karena bisa memakan makanan yang sepertinya enak


“Siapa namamu adik kecil..?”


“Namaku Shou Yan, dari Sekte Pedang Bulan Nona”


“Ara.. sopan sekali, ayo kita makan di luar kota, disana pemandangannya cukup bagus loh” Chang en menggapai tangan Shou Yan dan menggandengnya menuju bukit di belakang kota


Da Bu ikut bersama keduanya namun hanya memandang Chang en dari belakang “Entah kenapa, aku menyukai senyuman itu” Batinnya


Di belakang kota terdapat sebuah bukit dengan rumputnya yang hijau, ketinggiannya melebihi dinding kota dan seseorang dapat melihat seluruh isi kota dari tempat ini


Hampir enam menit Shou Yan tiba di bukit tersebut dan Chang en mengeluarkan kain besar dari cincin dimensi, untuk di jadikan alas “Tada.. aku juga membawa teh daun merah”


“Whhhoaaa.. apa itu enak Nona..?” Shou Yan baru pertama kali melihatnya dan mencium aroma harum yang keluar dari kendi teh


Shou Yan duduk berada di dekat Chang En, sedangkan Da Bu berada di hadapannya sambil tersenyum kecut saat keduanya saling berbicara


Chang En tak lupa untuk mengeluarkan gelas dan menuangkannya “Ini untuk Yan'er.. dan ini untuk Da'gege”


“Terima Kasih Nona..”


“Terima Kasih Chang’er..”


Da Bu ingin memuji saat sesudah meminum teh daun merah buatan Chang en, namun kalimatnya terhenti di tenggorokan ketika seseorang berbicara terlebih dahulu


“Ini enak sekali Nona.. boleh minta tambah..?” Ucap Shou Yan sambil menyodorkan gelasnya yang sudah kosong


Shou Yan tak berhenti minum dan meminta tambah sampai ia di hentikan Chang en di gelas ke tiga “Minuman ini dapat menyegarkan tubuh tapi.. bukankah kita harus menghabiskan ini dulu..?”


Shou Yan melihat ke arah yang sama dengan Chang En “Baiklah Nona.. aku tidak sabar melihat isi dari bekal itu”


Chang En mengeluarkan sebuah piring dan sendok kayu dari cincin demensi miliknya, Shou Yan yang melihatnya hanya menggelengkan kepala


“Mungkin,, semua isinya adalah keperluan dapur” Batin Shou Yan


“Tentu saja,, bahkan aku pernah memasukkan tengku masak dalam cincinku” Ujar Chang En dengan nada lembut

__ADS_1


Shou Yan menggaruk hidungnya karena malu, ia sempat berfikir jika Chang En bisa membaca pikiran


“Aku bukannya membaca pikiran, tapi kau bisa menyebutnya dengan intuisi wanita”


Shou Yan membisu seribu bahasa saat gadis di hadapannya bisa menebak jalan pikirannya


“Sudahlah,, ayo kita makan” Ucap Chang En sambil tersenyum


Shou Yan melihat ayam bakar dengan sayuran hijau menyelimutinya membuat cacing di perutnya berpesta “Selamat makan..”


Shou Yan menikmatinya dengan lahap, berbeda dengan Da Bu yang hanya diam sambil melihat makanan di atas piringnya “Chang.er.. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu..?”


Chang En menghentikan makannya saat Da Bu ingin menanyakan sesuatu “Apa itu Da'gege...?”


“Bukankah.. kita sudah mengenal lama..?” Da Bu ingin menjelaskan niatnya dengan bekal sebagai bahan pembicaraan namun di setiap kesempatan Shou Yan selalu mengambilnya


“Da'gege.. katakan saja apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan..?” Chang En sadar jika Da Bu sudah memainkan jari kelingkingnya pasti ada sesuatu yang ingin dia katakan


“Itu.. Makananmu enak sekali”


“Benarkah..? Kau bahkan belum mencobanya” Ucap Chang En sambil menunjuk sendok kayunya yang masih bersih


“Te-tentu saja akan kulakukan..” Da Bu dengan cepat menghabiskan makanan di atas piringnya “ Hini swungguh enak”


“Pelan-pelan.. atau kau akan tersedak” Chang En tersenyum tipis saat melihat Da Bu memenuhi mulutnya dengan makanan


“Uhug- uhug-..”


Ucapan Chang En terbukti benar, Da Bu menepuk dadanya dan berharap makanan yang tersangkut akan larut ke dalam perut


“Da’gege.. cepat minumlah” Chang En mengulurkan gelasnya


Da Bu mengambil gelas dan meminumnya “Akhinya.. aku bisa bernafas lega”


Mata Da Bu tertuju pada Chang En yang menunduk dengan kedua tangan di depan dadanya. “A-aku akan mencuci piring dulu” Ucapnya sambil mengumpulkan piring kotor dan bergegas pergi ke belakang


Da Bu ingin mengucapkan sesuatu namun tidak mendapatkan kesempatan karena Chang En yang sudah terlihat menjauh “ Apa aku sudah menyinggungnya..?” Batinnya


Memang di belakang bukit terdapat sebuah aliran sungai dan Da Bu sendiri berniat untuk menemaninya membersihkan piring sambil mengutarakan perasaannya


“Mungkin aku menyerah saja..” Ucap nya dengan nada lesu


“Menyerah karena apa Paman..?” Shou Yan yang melihatnya tidak bersemangat membuat hatinya tidak tega


Da Bu melihat ke arah Shou Yan sejenak lalu kembali menunduk “Kau masih bocah dan kau tidak tahu akan perasaanku”


Shou Yan menuangkan teh di gelas lalu meminumnya “Aku memang tidak tahu perasaanmu Paman, tapi apakah itu ada hubungannya dengan pakaian barumu..?”


Sebelum berangkat Da Bu mengganti baju kerja dengan pakaian terbaiknya dan itu semua ia lakukan untuk mendapatkan perhatian dari Chang En


“Mungkin aku tidak pantas untuknya”


“Tentu saja pantas”


Melihat ucapan itu keluar dari mulut seorang bocah tidak membuatnya lebih baik “ Kau tidak tahu akan Arti Cinta, jadi.. diamlah”


“Apa Paman Cinta pada Nona Chang..?”


“Aku tidak cinta padanya tapi sangat Mencintainya” Meski Shou Yan melihatnya dengan tatapan kosong, Da Bu menceritakan kisah awal pertemuannya dengan Chang En

__ADS_1


Bahkan hal-hal yang bisa membuatnya jatuh cinta, mulai dari kebaikan Chang En bahkan sampai kecerobohannya


“Apa Paman berbohong..?”


“Apa kau pikir wajahku ini tampang seorang pembohong..!?” Da Bu menatap Shou Yan dengan tajam “Sudahlah.. aku akan meminta maaf padanya” imbuhnya


Saat Da Bu berbalik, ia melihat seorang gadis sedang meneteskan air mata “Chang’er..!?” Dia lalu menatap ke arah Shou Yan yang sedang tersenyum padanya “Kau..!?”


“Da’gege..” Chang En memeluk erat tubuh Da Bu, ia tidak menyangka akan mendapatkan pengakuan yang serupa dengan perasaannya “Kenapa kau lama sekali”


“Chang’er.. jangan-jangan kau..?”


“Aku juga mencintaimu” Ucapnya sambil meneteskan air mata


“Chang’er.. sejak kapan kau berada di belakangku..?


“Emmm.. sejak kau mengatakan Arti Cinta” Ucapnya dengan senyuman yang menghiasi wajah


Ia berniat mencuci piring namun ia lupa akan jalan menuju sungai dan kembali untuk bertanya pada Da Bu. Saat itulah ia mendengar percakapannya dengan Shou Yan


“Itu berarti .. kau hampir mendengar semuanya..!?” Da Bu teringat ketika Shou Yan bertanya tentang perasaannya pada Chang En “Apa dia merencanakan semuanya..?”


Da Bu melepaskan pelukannya dan mencoba bertanya pada Shou Yan, namun di belakangnyanya hanya terdapat kendi teh tanpa kehadiran Shou Yan


Saat tersadar, Shou Yan sudah setengah jalan menuju kota


“Terima Kasih atas semuanya.. dan besok jangan lupa datang ketempatku..!” Teriaknya pada Shou Yan


Shou Yan berbalik dan memberikan hormat nya “Cinta kah..? Entah apa itu namun.. perasaan mereka begitu hangat” Batinnya


Setelah melihat Da Bu dan Chang En saling tersenyum bahagia, membuat Shou Yan meninggalkan keduanya dan berlatih sambil berjalan menuju kota


“Itu kan..!” Mata Da Bu melebar ketika Shou Yan menunjukkan gerakan yang tidak asing


“Ada apa Da'gege..?”


Da Bu menatap Chang En sejenak sebelum kembali melihat ke arah Shou Yan “Gerakan itu adalah Teknik 17 Tapak Naga..”


“17 Tapak Naga..?”


“Benar.. itu adalah jurus yang hanya di kuasai oleh Kaisar Ming” Da Bu tersenyum lembut


“Akhirnya.. pak tua itu menepati janjinya” Batinnya


**//**


Mungkin beberapa pembaca akan merasa aneh jika membaca novel ini karena penuh akan roman dan sedikit action..


Itu semua adalah strategi marketing :v..


atau bisa di sebut bumbu cerita..


Tujuan membuat karya ini adalah karena hobi dan bercita-cita agar bisa naik ke manga,komik dan bahkan bisa naik ke layar kaca Seperti halnya anime/donghua


Meski halu, tapi menarik jika memang benar terjadi.. :D


NB: Dalam beberapa Chapter kedepannya akan muncul "Dark scene"..


Well... nantikan aksi Shou Yan ya... ;-)

__ADS_1


__ADS_2