
Di pagi buta, Sekte Pedang Bulan di sibukkan dengan Tamu Terhormat yang akan segera datang
Seluruh murid di kumpulkan menjadi satu di tengah arena, kejadian seperti ini sangat biasa bagi mereka yang sudah lama menjadi Murid Sekte namun tidak dengan angkatan Shou Yan
Saat semua murid sudah terkumpul, datang para petinggi sekte ke atas podium
Seperti biasa, Jiang Qe mengawali pidato dengan panjang lebar sebelum menuju topik pembicaraan sampai membuat semua murid menguap karena mendengarkan cerita yang sama, dimana setiap kali membuka acara ia selalu menggunakan kalimat berulang
Shou Yan yang melihat Ma Liang berada di sampingnya, membuatnya ingat akan kejadian kemarin “Senior Ma, kemarin kau ada di mana..? Dan kenapa meninggalkanku sendirian..!?”
Jantung Ma Liang berdegup kencang saat Shou Yan bertanya akan kehadiran yang tiba-tiba menghilang “A-aku kembali menemui ayahku untuk membicarakan sesuatu dan saat aku kembali kau sudah tidak ada”
Shou Yan menatapnya curiga sampai akhirnya ia memberikan sesuatu dari cincin dimensi “Ini.. aku kembalikan”
Ma Liang menangkap sebuah kantong kulit lalu ia mencoba melihat isinya “Ini kan..? Permata merah..?”
“Tenang saja.. isinya masih sama dengan sebelumnya” Shou Yan mengangguk pelan, ia tidak jadi menggunakannya karena untuk membeli bunga Keabadian sudah ada Yue Ying yang meminjamkannya permata merah
Shou Yan bisa saja menukarkan permata merah milik Ma Liang menjadi kepingan emas namun itu bukanlah sifatnya
“Baiklah.. aku terima kembali”
Shou Yan terkejut saat kantong kulit yang berada di tangan Ma Liang telah menghilang dalam sekejap, ia memperhatikan jari manisnya dan menemukan sebuah cincin dimensi “Senior Ma.. kau mempunyai cincin dimensi..?”
“Hmmm.. Tentu saja.. bukankah tadi aku sudah bilang bawah kemarin aku berbicara pada ayahku..?”
Ma Liang memamerkan cincin barunya di hadapan Shou Yan “Aku tidak bisa membiarkanmu keren sendirian bukan..?”
“Iya..iya.. baik”
Menurutnya cincin yang di pakai oleh Ma Liang berbeda dengan miliknya, cincinnya berwarna hijau sedangkan temannya berwarna biru “Mungkin ekonomi keluarganya masih kesulitan” batin Shou Yan
“Tapi.. jika memang kesulitan, kenapa dia berani meminjamkan permata merah padaku..?” Shou Yan berfikir sambil menyilangkan kedua tangannya
“Jadi.. bagaimana kau mengembalikannya..?”
Lamunan Shou tersadarkan saat Ma Liang bertanya mengenai hutangnya pada Yue Ying “Entahlah.. mungkin aku akan menjalankan misi”
“Hei kalian..!! Perhatikan jika seseorang sedang bicara” Jiang Qe tidak bisa membiarkan satu orangpun menyelanya
“Ba-baik” Ucap kedua secara bersamaan
“Lagi-lagi kena teguran” Batin Shou Yan
“Syukulah.. Junior Shou tidak bertanya lebih lanjut” Batin Ma Liang. Ia sempat berfikir bahwa Shou Yan akan bertanya mengenai alasan membawanya ke Rumah lelang “Mungkin Nona Ying tidak memberitahunya”
Selepas Jiang Qe berpidato hampir dua jam, barulah ia menyerahkan topik utama pada Liu Shan.
Liu Shan batuk pelan saat ia menyadari Jiang Qe telah menyerahkan sesuatu yang merepotkan namun ia tidak punya pilihan lain selain meneruskan hal yang penting mengingat dirinya adalah Ketua Sekte Pedang Bulan bagian cabang
Berbeda dengan wakilnya, Liu Shan lebih suka untuk langsung menunjuk topik utama “Mungkin ada beberapa di antara kalian yang sudah mengetahuinya alasan kalian di kumpulkan di sini pagi-pagi sekali”
“Jadi akan ku jelaskan lagi.. tujuan kalian di kumpulkan di sini adalah untuk menyambut kedatangan Patriak dari Sekte Pedang bulan”
“Patriak..? Bukankah Tuan Liu adalah pemimpin sekte..?” Shou Yan bergumam pelan
Ma Liang yang mendengar gumaman dari sahabatnya, membuat tingkah sok tahunya kumat “Haih.. aku tidak percaya jika junior tidak mengetahuinya..”
Patriak adalah sebutan seorang pemimpin di dalam sekte atau suatu organisasi dan pemimpin dari Sekte Pedang Bulan yang sebenarnya adalah Jian Yong
“Jian Yong..? Aku tidak pernah mendengarnya” Pernyataan dari Ma Liang membuatnya sedikit penasaran akan sosok Patriak ini
“Memangnya apa yang kau tahu..?” Ma Liang sudah menduganya bahwa Shou Yan tidak cukup pengetahuan untuk mengetahui tentang dunia persilatan
“Patriak Jian Yong ini tinggal di ibu kota, dan akan berkunjung di sekte cabang setelah diadakannya perekrutan Tahunan” imbuhnya
Shou Yan mulai sedikit mengerti akan sosok Patriak ini dan mencoba untuk mendengarkan penjelasan dari Liu Shan lebih jauh
“Semuanya.. persiapan segalanya untuk menyambut kedatangan Patriak Jian Yong”
“Baik Ketua” Ucap semua murid secara bersamaan
__ADS_1
Melihat murid yang mulai membubarkan diri, Guo An mulai mempertanyakan sesuatu pada Liu Shan “Apa kau yakin akan menyambut mereka..?”
“Entahlah senior,, tapi ini mungkin yang terbaik untuk semuanya” Liu Shan pergi meninggalkan podium saat selesai berbicara pada Guo An
Untuk kali ini Jiang Qe setuju dengan pernyataan dari Guo An, meski hanya bagian dari cabang sekte, mereka tidak bisa seenaknya bertingkah pada siapapun di tempat ini
“Lalu.. apa kau ingin menghancurkan mereka..?” Ucap Guo An sambil memejamkan mata
Melihat kemampuan pria sepuh di sampingnya, Jiang Qe yakin jika Guo An mampu menandingi Patriak Jian Yong
Namun itu hanya berlaku untuk mereka berdua “Aku tidak yakin Senior, tapi.. pengorbanan adik Yie Jie tidak akan kubiarkan sia-sia” Jiang Qe pergi meninggalkan Guo An sambil mengeluarkan hawa pembunuh
“Haih.. Masih saja tidak bisa mengontrol emosi” Guo An berbicara sambil mengelus janggutnya
Setelah satu jam mempersiapkan segalanya, seluruh murid berjejer rapi mulai pintu masuk sampai menuju ke Aula Utama untuk menyambut rombongan dari ibu kota
“Patriak telah tiba..” Ucap salah satu murid
Muncul tiga sosok dari balik gerbang, seorang pria sepuh dengan umur sekitar 60-an tahun memasuki pintu sekte terlebih dahulu di susul dua orang lainnya
“Ayah.. apakah kita akan menginap disini..?” Ujar seorang bocah berumur sekitar 9 tahun-an
“Tentu saja Bai'er... Aku harap kau tidak cepat bosan” Seorang pria dengan pakaian bangsawan serta mempunyai umur sekitar 30-an tahun
“Baik ayah”
“Bai’er.. Zang'er.. sedang apa kalian..? Ayo cepat masuk..!?”
“Baik kek”
“Baik Ayah”
“Semua murid.. memberi hormat pada Patriak” Ucap seluruh murid sambil menundukkan kepalanya
Ketiganya berjalan menuju Aula Utama dan di sambut oleh petinggi sekte cabang “Hormat pada Patriak” ketiganya menunduk di hadapan Jian Yong
“Terima kasih Ketua Liu” Jian Yong tersenyum kecut saat melihat seorang pria sepuh berdiri di dekat Jiang Qe.
“ Mungkin sebaiknya Ketua Liu merekrut pemuda yang berbakat, bukan seorang pria jompo” Ucapnya sambil mengacuhkan Ketiganya
“Senior..?”
“Karena perbedaan umur, sudah sewajarnya untuk yang muda agar menghormati yang lebih tua” Ujar Liu Shan
Jian Yong mengangguk pelan lalu berjalan menujuk ke ruangan, bersamaan dengan petinggi sekte cabang mereka duduk saling berhadapan dengan Jian Nong duduk di kursi utama dan paling mewah
“Aku tidak suka basa-basi.. Aku dengar ketua Liu meloloskan ratusan murid di tahun ini..?”
“Benar Patriak, semua laporan sudah saya kirimkan sebelumnya”
Jian Yong bukannya tidak membaca laporan yang telah Liu Shan kirim jauh dua tahun lalu namun ia sengaja bertanya sekaligus memberi peringatan pada Liu Shan agar tidak sembarangan menerima murid
“Junior mengerti Patriak” Ucap Liu Shan sambil memberikan hormat
Jiang Qe mendengus kesal saat Patriak mencoba mencari kesalahan dari Liu Shan “Lagi-lagi seperti ini..!” Batinnya
Bai Yong mulai mencari seorang gadis yang tidak hadir dalam pertemuan “Hei Ketua, di mana Adik Xiao Lung..?”
“Ahh.. Tuan Muda tidak perlu khawatir, Lung'er sedang tidak enak badan dan sedang beristirahat di kamarnya”
“Benarkah..? Aku tidak sabar ingin menemuinya” Bai Yong pergi menemui Xiao Lung di ruangannya
Jiang Qe mulai lepas kontrol saat ada bocah yang tidak mempunyai sopan santu terhadap yang lebih tua “Dasar bocah..!”
Liu Shan yang duduk di sampingnya dapat merasakan amarah yang keluar dari tubuh Jiang Qe dan mencoba menahannya “Tenanglah Junior Jiang” bisiknya
Jian Yong merasakan hal sama dengan Liu Shan dan ikut memperingatinya agar tidak melakukan hal bodoh “Aku harap ketua Liu tidak lupa akan pertunangan cucu kita”
“Tetntu saja ingat Patriak... mohon maaf jika Junior Jiang telah menyinggung Patriak”
Mereka saling membahas tentang perkembangan sekte, namun di sisi lain Bai Yong sampai di ruangan Xiao Lung
__ADS_1
“Lung’er.. Bai'gege telah datang..!” Teriaknya sambil mengetuk pintu
Xiao Lung berpura-pura untuk batuk karena ia tidak menginginkan kehadiran Bai Yong “Maaf Tuan Muda,, aku sedang tidak enak badan jadi tidak bisa menemui Tuan Muda”
Bai Yong yang tidak percaya akan ucapan Xiao Lung lalu mendobrak pintu kamarnya, mengingat alasan itu telah sering dia katakan
Mata Xiao Lung terbuka lebar saat mengetahui Bai Yong memaksa masuk, dengan cepat ia mengambil pedang dan menghunuskannya “Aku harap Tuan Muda tidak melakukan hal yang aneh”
Bai Yong tertawa keras saat mendengar ancaman dari seorang gadis yang dulunya amat penurut “Mari kita bermain seperti dulu lagi”
Melihat Bai Yong ikut menghunuskan pedangnya, Xiao Lung menyiapkan kuda-kuda dan mengeluarkan Teknik yang telah Shou Yan ajarkan
“Pedang Pembelah Langit”
Tebasan Xiao Lung membentuk pisau angin yang mengarah pada Bai Yong. Dalam sekejap, serangan Xiao Lung membuatnya keluar ruangan bahkan terdorong beberapa meter
“Aku tidak percaya, dulu seorang gadis yang lemah bisa menjadi kuat dalam beberapa tahun” Bai Yong menyeringai lebar “Pantas menjadi istriku” Imbuhnya
Melihat Bai Yong masih berdiri kokoh membuatnya sedikit gemetar, terlintas sejenak di pikiran Xiao Lung bahwa benar yang di katakan oleh Shou Yan “Teknik ini belum sempurna” batinnya
Untuk seorang bangsawan, menikah di umur yang dini merupakan hal yang wajar namun Xiao Lung sama sekali tidak menyukainya karena ia ingin menikah dengan pria yang di cintai
“Cinta akan datang dengan seiringnya waktu dan aku mempunyai segalanya”
“Tapi kau jelek..!”
Ucapan Xiao Lung membuat Bai Yong naik darah dan menyerangnya dengan serius, Xiao Lung ikut menyerang secara bersamaan.
Pertarungan terjadi sampai ke halaman rumah, belasan jurus telah di keluarkan Xiao Lung namun dengan tenaga yang terkuras membuatnya harus bertahan
Beberapa sobekan di baju membuatnya sedikit lemas dan serangan terakhir dari Bai Yong membuat pakaian tengahnya terbuka
“Kyaa..”
Tanpa pikir panjang Xiao Lung menutupinya dengan kedua tangannya “Dasar bejat”
Mendengar kalimat yang terucap dari mulut Xiao Lung membuatnya kembali marah “Mungkin.. dengan goresan di wajah akan membuatmu lebih penurut” Ujarnya sambil tersenyum lebar
Xiao Lung ingin melawannya namun ia terlalu malu untuk menggerakkan tangannya, ketika jarak ujung pedang dua senti hampir mengenai wajahnya, Xiao Lung hanya pasrah sambil memejamkan mata
Saat keputusasaan menghampiri, muncul sosok bayangan di pikirannya “Yan’didi”
Clinkk
“Lelaki sejati tidak akan melukai seorang wanita”
Sejenak Xiao Lung mendengar suara yang tidak asing lalu mencoba untuk membuka matanya, betapa terkejutnya saat ia melihat punggung pria tersebut “Yan’didi..!”
“Tenanglah Lung'jiejie..”
“Di sini... biar aku selesaikan” Ucapnya sambil menyerahkan pakaiannya untuk menutupi tubuh Xiao Lung “Baiklah Tuan Jelek.. Tunjukkan jika kau seorang pria”
“Kau...!!”
Keduanya saling menatap tajam sebelum akhirnya bergerak maju secara bersamaan
“Pukulan api”
“Tapak Besi”
**//**
Halo semuanya,,
Semoga sehat selalu untuk para pembaca☺️..
Chapter kali ini adalah yang terpanjang sejak di episode pertama..
Melihat banyaknya pembaca membuat kami merasa semangat untuk memberikan kisah yang menarik..
Kami akan sangat berterima kasih jika semuanya dapat memberikan like,vote, dan share ke teman kalian agar mereka tahu kehadiran Shou Yan yang akan mengguncang dunia
__ADS_1
Jika ada saran/kritik yang ingin kalian sampaikan terkait karya kami, silahkan tulis di kolom komentar :)
Jangan tanya lebaran sama siapa,, hati ane masih kosong.. sama seperti dompet ane.. :'(