
Selepas mendapatkan penjelaskan dari Guo An, Shou Yan kembali ke tempat kediaman khusus murid dimana kediaman tersebut di bagi menjadi dua bagian satu kediaman murid laki-laki dan satu lagi kediaman murid perempuan yang di tengahnya terdapat kediaman milik para Guru dan Ketua sekte
Untuk kediaman murid laki-laki terdapat lima buah kasur di masing-masing kamarnya yang akan di tempati sepuluh orang mengingat jumlah murid yang di terima telah melebihi kapasitasnya
Sedangkan di kediaman perempuan terdapat lima kasur yang di tempati lima orang di setiap kamarnya, karena sekte yang di pimpin oleh Liu Shan hanyalah bagian dari cabang dan memiliki pendanaan terbatas
Setiap tahunnya sekte bagian cabang akan memgirimkan upeti sebesar lima puluh keping emas dan sebagai gantinya sekte utama akan memberikan kontribusi berupa sumber daya yang akan di konsumsi oleh para murid, guru dan Ketua Sekte
Pembagian sumber daya tentu berbeda-beda, mulai dari para murid yang hanya menerima ginseng hijau untuk meningkatkan ring tenaga dalam tubuh, sedangkan guru sekte akan mendapatkan ginseng biru dan para tetua sekte akan mendapatkan ginseng merah yang dapat meningkatkan seratus ring di setiap bahannya
Sesampainya Shou Yan ke kamar miliknya ia membuka pintu dan di kejutkan oleh beberapa orang yang akan menjadi teman sekamarnya “Senior Ma..!? Shou Yan menatap ke arah Ma Liang sebelum berganti melihat rekan yang lainnya “..dan siapa kalian..?” tunjuknya
Melihat kedatangan Shou Yan, Ma Liang yang awalnya duduk lalu berdiri dan di ikuti rekan yang lainnya. Ia menjelaskan pada Shou Yan tentang peraturan di kediaman laki-laki dan mengenalkannya pada setiap orang yang nantinya akan menjadi teman sekamarnya
“Tenang saja Junior Shou, mereka tidak akan menggangumu” Ma Liang mendongak ke atas sambil membusungkan dada
***
Sebelum kedatangan Shou Yan, ia telah menceritakan pada teman sekamarnya tentang bocah yang telah mengahkan segerombolan serigala ekor merah yang menurutnya dapat memakan manusia setingkat Pendekar bumi
Tentu saja cerita itu di susun oleh Ma Liang sendiri karena ia tidak ingin siapapun mengganggunya dan Shou Yan, ke sembilan rekan kamarnya tentu tidak percaya mendengar kebohongan darinya sampai ceritanya melibatkan para murdi sekte yang telah menyamar menjadi perampok
Delapan rekannya saling berbisik sebelum akhirnya mengangguk pelan dan bertanya lebih jauh dari Ma Liang “Tuan Ma, mungkinkah saat itu para murid sekte tidak serius untuk melukai kita..?”
“Tentu saja, namun bagaimana dengan Qiao Feng..? bukankah dia yang paling tahu akan hal itu..?” Ma Liang mencoba meyakinkan dengan melihat kejadian yang menimpa Qiao Feng
“Itu benar,, saat itu aku melihatnya memohon ketika bilah pedang menempel di lehernya”
“Bahkan dia sempat akan memberikan imbalan emas untuk ampunan nyawanya”
__ADS_1
“Haih,, aku tidak percaya jika Qiao Feng adalah seorang pengecut”
Semuanya mengangguk pelan sebelum Ma Liang melanjutkan bicara “Coba kalian lihat bocah bernama Shou Yan..? dia bahkan tidak ragu untuk menolong kalian bukan..?”
“benar”
“iya benar”
“Dan saat itu, akulah yang merencanakan untuk melawan sambil menolong kalian” Untuk kali ini ia tidak berbohong dan membanggakan diri meski semua yang di katakan sebelumnya adalah kebohongan
“Ingatlah untuk tidak melupakan kebaikan dari Shou Yan”
“Baik Tuan Ma” rekan kamarnya serentak memberikan hormatnya
“Eitss,, aku akan ijinkan kalian untuk memanggil Shou Yan dengan sebutan Tuan” Ma Liang membelakangi dengan tangan di belakang “Tapi kalian harus memanggilku dengan.. Tuan Muda” Ma Liang berbalik lalu duduk bersila dengan kedua tangan melipat di dada
Jika memanggilnya dengan sebutan Tuan masih bisa di terima namun jika memanggilnya Tuan Muda akan sulit di terima oleh rekan kamarnya mengingat sesama murid tidak harus saling formal
Daripada teman dekat alangkah pantasnya jika di sebut rekan, karena Ma Liang sendiri pernah memanfaatkan Shou Yan dalam pertandingan melawan Xiao Lung agar dia dapat menjual tiket yang lumayan mahal dengan menyebarkan rumor anak Langit melawan Dewi Sekte
“Ba-baiklah Tuan Muda Ma” Semua orang memberikan hormatnya sebelum ikut duduk di hadapan Ma Liang untuk mendengarkan cerita hebatnya sampai mereka mendengar suara pintu yang terbuka
***
“Berikan hormat pada Shou Yan” Ma Liang meminta rekan kamarnya untuk melakukan perintahnya
“Hormat kami untuk Tuan Shou”
“Tuan..?” Alis Shou Yan terangkat saat mendengarnya, mungkin sebutan itu masih bisa ia terima namun akan aneh jika mendengar sebutan dari orang yang lebih tua darinya
__ADS_1
Shou Yan mencoba menjelaskan jika sebutan yang mereka ucapkan terhadapnya hanya akan membuatnya malu dan alangkah baiknya jika memanggilnya dengan panggilan biasa
“Itu..” Salah satu rekan kamarnya menghentikan ucapannya sambil melihat ke arah Ma Liang dengan maksud meminta penjelasan
Ma Liang yang menangkap maksud dari pandangan tersebut memutuskan untuk berbicara “Ahemb.. Begini Junior Shou, mereka hanya ingin menghormatimu, jadi.. terima sajalah”
“Hormat apanya..? aku hanya ingin di perlakukan seperti teman, bukan sebagai tuan” Selama ini Shou Yan tidak mempunyai teman kecuali Mei Hwa, Ma Liang dan Xiao Lung. Bahkan ia tidak bisa mengatakan bahwa Xiao Lung
akan menganggapnya teman
Ma Liang mecoba memutar otaknya agar Shou Yan dapat menerima panggilan Tuan sampai ia melihat tatapan tajam dari bocah di hadapannya
“Tunggu dulu,, kenapa harus kau yang menjelaskan semuanya..?” Shou Yan dapat melihat ada sesuatu yang di sembunyikannya
“Ah tidak,, baiklah jika kau tidak menginginkannya” Untuk menghindari kecurigaan dari Shou Yan, ia mengarahkan setiap rekan kamarnya untuk mengganti sebutan Tuan menjadi Junior
“Hormat kami Junior”
“Junior..?” Meski agak canggung tetapi itu lebih baik daripada menyebutnya dengan Tuan
Shou Yan menatap penuh arti ke arah Ma Liang karena ia berfikir jika pemuda di hadapannya pasti mempunyai rencana dari semua yang telah ia lakukan “Aku akan membiarkan Senior berwibawa tetapi jika lebih dari ini maka..” Bisik Shou Yan sambil menunjukkan kepalan tangan pada Ma Liang
Ma Liang menelan ludahnya sendiri saat mengetahui peringatan dari Shou Yan, ia sendiri pernah melihat kepalan tangan kecil itu mampu menghancurkan pedang milik murid sekte sewaktu di Gunung Fengdu “A-aku tidak akan memanfaatkanmu lagi”
“Lagi..!?”
“Eto.. ahemb.. maksudku sudah kewajiban seorang teman untuk saling membantu” Ma Liang memukul pelan dadanya dengan penuh percaya diri
“Haih.. Baiklah senior, bisakah aku beristirahat sekarang..?” Shou Yan menatap sipit sebelum berjalan ke arah kasur yang dekat dengan jendela “Aku pilih yang ini” batinnya, Tanpa menunggu jawaban ia lalu menempatinya dan menaikkan selimut
__ADS_1
Kedelapan rekan lainnya saling memandang satu sama lain sebelum mengikuti Shou Yan untuk beristirahat mengingat besok adalah hari pertama mereka menjadi muris sekte, kemudian di susul oleh Ma Liang yang sudah menguap