
Shou Yan menolak untuk di bantu karena mengumpulkan kayu sudah menjadi kebiasaannya waktu masih tinggal berdua dengan Guo An, Ia memungut kayu kering dan menjadikan satu
“Tu-tuan Muda, apakah anda sudah yakin itu sudah semuanya..?”
“Benar Tuan Muda, biarkan kami bantu membawakannya”
Kedua pengawalnya tidak ingin Shou Yan membawa tumpukan kayu sendirian. Menurut mereka, membantu seorang bocah sudah menjadi kewajiban bagi orang dewasa
“Sudah kubilang, aku bisa sendiri” Ucap Shou Yan sambil berjalan kembali ke tenda dengan tumpukan kayu di pundaknya
Kedua prajurit tersebut saling memandang sebelum mengikutinya dari belakang “Baiklah Tuan Muda”
Fan Cou mendirikan tenda di tepi sungai, karena malam hampir tiba semua sudah siap lebih cepat dari yang di perkirakan dan tinggal menunggu Shou Yan
Tepat Matahari terbenam, Shou Yan muncul dari balik pepohonan dengan membawa apa yang telah di tugaskan padanya
“Maaf menunggu lama” Shou Yan menurunkan tumpukan kayu lalu menghela nafas panjang “Butuh waktu lama untuk mengumpulkannya” Imbuhnya sambil mengelap keringat di keningnya
“Itu..”
Suasana menjadi hening sejenak setelah Shou Yan membawakan tumpukan kayu yang besarnya dua kali lebih tinggi dari ukuran tubuhnya
Beberapa saat kemudian muncul dua prajurit yang hadir di belakangnya dengan nafas yang terpatah-patah
Ketua pasukan tentu menjadi geram ketika melihat prajurit terbaiknya membiarkan seorang anak yang umurnya baru tujuh tahun untuk memikul beban sendirian“Kemari kalian..!”
Dua prajurit tersebut mengikuti Kolonel untuk menjauh sejenak dari Fan Cou serta muridnya yang lain
“Bodoh kalian..! membiarkan Tuan Muda membawa tumpukan kayu sebesar ini..!?” Kolonel yang melihat kelalaian prajuritnya telah membuatnya murka, terutama saat mereka muncul dengan nafas yang tidak teratur
Seharusnya Shou Yan yang kelelahan karena telah membawa tumpukan kayu yang ukurannya hampir seperti sapi dewasa, bukan prajurit yang tidak membawa apapaun kecuali sebuah tombak di sebelah tangannya
“Maaf Kolonel, kami sudah mencoba mengingatkan Tuan Muda agar mau berbagi beban pada kami tapi..”
“Benar Kolonel, bahkan Tuan Muda berlari meninggalkan kami di belakang”
Kolonel memandang ke arah Shou Yan lalu kembali melihat dua prajurit yang ada di hadapannya, kerutan di kening pria tersebut menjadi terlihat jelas
“Apa kalian pikir aku bodoh, ha..!?” Ia tidak percaya jika prajurit yang bertahun-tahun telah terlatih serta mempunyai latar pendidikan militer akan berbohong dan membuat alasan untuk menutupi kesalahan
“Tiga bulan kedepan, gaji kalian akan ku tahan”
__ADS_1
“Baik Kolonel” Ucap keduanya dengan nada lesu
Saat Ketua Pasukan hendak pergi untuk melanjutkan patroli, datang seseorang dari belakang yang meminta maaf padanya, ia menoleh dan menemukan Shou Yan sedang menundukkan kepala
“Tuan Muda..!?” Ia meminta agar Shou Yan menaikkan wajahnya karena menurutnya itu bukanlah kesalahannya “Jangan membuatku malu lebih dari ini” Imbuhnya
Shou Yan hanya ingin mengatakan jika para prajuritnya tidak melakukan kesalahan ataupun kebohongan dan ia berani bersumpah tersambar petir jika berani berbohong
Dia juga mengatakan bahwa Tetua Fan serta rekannya yang lain tidak keberatan dengan kayu sebanyak itu
Jika mengenai dua prajurit yang sampai terakhir kali, itu karena dirinya memutuskan untuk mempercepat langkahnya dan tidak ingin terlalu lama dalam hutan mengingat hari sudah semakin gelap
Mendengar penjelasan dari Shou Yan, kolonel memaafkan dua prajuritnya serta menarik kembali hukuman yang seharusnya mereka dapatkan. Setelahnya, kolonel kembali menugaskan keduanya untuk berjaga terlebih dahulu
“Baik Kolonel..!” Jawab keduanya dengan semangat
Melihat atasannya telah pergi, barulah keduanya berterima kasih pada Shou Yan karena sudah bantu menjelaskan kejadian yang sebenarnya
Shou Yan mengangguk pelan sebelum ikut membantu rekannya yang sedang membuat api namun selalu gagal
“Untunglah Kolonel tidak jadi menahan gaji kita”
“Itu benar.. jika tidak, pacarku akan minta putus karena tidak jadi membelikannya hadiah”
“Ba-baik..!”
Fan Cou serta muridnya membuat sebuah barisan lingkaran dengan api unggun di tengahnya, namun sampai saat ini belum juga menyala
Ia selalu mendapatkan misi dan sering kali tidur di penginapan, jadi Fan Cou menyerahkan tugas membuat api pada muridnya
Kelima murid yang lain menyerah untuk membuat api, karena memang sulit membuat api dari gesekan kayu
Tinggal giliran Bao Yu yang masih belum menyerah, sesekali ia mengeluh tapi bukan karena ketidakmampuannya namun kayu yang di bawa Shou Yan menjadi alasannya
Dua rekannya yang tahu akan hal itu, mencoba untuk menggagalkan rencananya namun Bao Yu selalu menghalangi niat mereka
“Maaf senior Bao, kayu yang ku bawa memang kering dan aku sudah memilihnya dengan benar”
Shou Yan berfikir ada sesuatu yang telah Bao Yu rencanakan untuknya, ia melihat murid yang lain sedikit agak menjauh dan tidak berani menatap ke arahnya
Dia sadar jika Seniornya itu memang tidak suka dengan dirinya namun bukan berarti ia bisa menindas murid yang lain ataupun mengancam mereka
__ADS_1
Shou Yan mengambil dua batang kayu utuk di jadikannya percikan api, ia ikut merasa kesal ketika teman seperguruannya tertindas
Bao Yu melihat kemarahan sudah terlihat di wajah Shou Yan, perlahan ia mundur sambil menunggu munculnya api dan ia bersiap melemparkan sesuatu
Setelah beberapa kali percobaan dengan saling menggesekkan kayu di kedua tangannya, Shou Yan melihat asap tipis mulai muncul
Bao Yu sudah menyiapkan bubuk mesiu itu untuk pamer kehebtan di hadapan Tetua Fan, namun ketika menyadari Shou Yan ikut andil dalam Turnamen
Ia memutuskan untuk memberikan Shou Yan sedikit pelajaran agar sadar diri dan tidak selalu mencari muka di hadapan para Tetua
“Berhasil” Shou Yan perlahan mendekatkan api tersebut ke tengah tumpukan kayu yang lain
Bao Yu menunggu waktu yang tepat lalu menaburkannya
Tiba-tiba angin datang dan membuat api tersebut menjadi lebih besar, para murid berlari dan menjauh kecuali Shou Yan yang masih berdiam diri
Karena di dalam Api tersebut ia melihat sebuah desa yang terbakar, para penduduk berlarian sambil meminta pertolongan Langit namun teriakan mereka menjadi sebuah penderitaan
Wanita maupun laki-laki bahkan terdapat anak kecil, semuanya di bunuh oleh segerombolan orang yang tidak ia kenal
Saat mencoba memfokuskan kepada salah seorang yang memimpin penyerangan tersebut, dia merasakan wajahnya semakin panas
“Tuan Muda..? Tuan Muda..!?”
Teriakan yang Shou Yan dengar menyadarkannya dari lamunan, bersamaan dengan itu wajahnya hampir masuk ke dalam kobaran api dan dengan sepontan ia menggunakan tapak Naga ke tujuh
Energi Chi mengalir ke telapak tangan Shou Yan dan membuat pusaran angin
Kobaran api tersebut menyatu dengan angin yang di buat oleh Shou Yan lalu seketika berubah menjadi Naga api yang mengarah ke Langit sebelum akhirnya menghilang menjadi percikan api kecil
Semua mata tertuju pada Naga Api tersebut sebelum akhirnya melihat ke arah Shou Yan
Setelah melihat Shou Yan melakukan hal yang luar biasa, barulah Fan Cou teringat sebuah kalimat yang Guo An ucapkan beberapa waktu lalu
“Kembalinya Legenda Naga"
__ADS_1